Surat Dariku
By: Nina Kurnia
Dewi
Hari keenam di awal Agustus
2012
Dari pengagummu yang pengecut....
Hai kau! Apa kabarmu? Baik bukan?
Tentu saja kau baik. Gadis itu bersamamu saat ini. Benar bukan? Kau sedang
bercanda dan bercengkrama dengannya? Kau sedang tersenyum bersamanya? Aku sudah
menduganya.
Lalu bagaimaa kabar gadis yang
sedang bersamamu? Aku bisa menjamin dia luar biasa baik. Kau tahu? Dia sudah
lama memimpikan untuk bersanding denganmu. Dan kini mimpinya telah terwujud.
Aku ikut tersenyum mengetahuinya.
Kau! Pemilik mata sipit dengan
kulit putih! Dengarkan aku! Aku benci memohon. Namun kali ini, aku akan
melakukannya.
Aku mohon padamu, pergilah dari
hidupku. Ajak bayang-bayangmu menghilang ke ujung dunia. Aku tak ingin
melihatmu lagi. Sudah cukup kau menggoreskan luka itu di hatiku! Sudah cukup
kau membuatku berlinangan air mata! Sudah cukup kau membuatku merintih menahan
rasa sakit!
Jangan beri harapan kepadaku jika
kau tak akan pernah mewujudkannya. Jangan tersenyum dan bermanis-manis kepadaku
jika bukan aku yang kau inginkan. Jangan memujiku atau meninggikanku jika kau
ingin menjatuhkanku.
Pergilah kau...
Bersama dirinya.
Tertanda
Aku




