Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2012

Dalam Diam

Dalam Diam
By: Nina Kurnia Dewi


Aku tersenyum samar melihat senyum yang mengembang di bibir pemuda itu. Senyuman sempurna yang begitu mempesona. Membuncahkan kebahagiaan tiada tara, meski bukan aku yang menciptanya. Tentulah! Memang siapa aku hingga mampu mencipta senyum di bibirnya? Sedang dia tak pernah mengenalku.
Jiwaku tergelitik saat terbesit kata mengenal di otakku. Bagaimana bisa? Menatapku saja begitu jarang dilakukannya. Jika pun dia menatapku, bukan tak mungkin hanya sebuah ketidaksengajaan. Sekali lagi, aku tersenyum. Bukan senyuman bahagia melainkan senyuman dengan sejuta luka.
"Dewi?" alunan suara itu membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Kudapati seorang gadis berkaca mata berdiri di hadapanku.
"Ya?"
"Temenin ke perpus," rengeknya seperti biasa.
"Yelah! Gue lagi mager Nona Gita!"
Gadis itu mengernyit. Manik matanya mengikuti sorot mataku tertuju.
"Bukan mager. Cuma lagi keasyikan mandangin kakak kelas XII," godanya kemudian…

Pengagum Rahasia

Pengagum Rahasia By: Nina Kurnia Dewi


Tiga puluh menit, dan aku masih saja duduk terpaku di sini, gazebo taman belakang sekolah. Seiring berhembusnya angin sore, sosok pemuda rupawan itu kembali hadir memenuhi seluruh rongga kepalaku. Menyisakan setetes kepedihan yang begitu kelam. Teramat menyesakkan.
"Wi!!" suara itu mengalun begitu saja. Membuyarkan anganku tentangnya.
"Eh, Gita? Ada apa?" tanyaku datar.

Gadis manis berkacamata itu duduk tepat di sampingku.

"Harusnya gue yang tanya ngapain lo di sini? Sendirian lagi!" katanya ketus.

Aku tersenyum tipis.

"Gak papa kok. Belom niat pulang aja,"

"Hah? Lo gila Wi? Udah jam lima ini Wi!!" serunya seraya menunjuk sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Aku tak berkata. Hanya menanggapi celoteh gadis itu dengan senyuman samar.

"Lo mikirin dia lagi kan?"

"Dia siapa?" aku balik bertanya.

"Gak usah menafik Nona Dewi! Gue bukan bayi yang bisa lo t…

Tombak Lara

Tombak tertancap tegap
Menikam relung hati
Melukai nurani

Kian dalam...
Memicu lara jiwa
Mencipta rintihan nestapa
Menyulut bara tangis sengsara

Dalam...
Lebih dalam dan teramat dalam
Ujung tanpa dosa
Menyibak tirai kegetiran
Mengupas lapis-lapis kekecewaan

Lara hati
Tersimpan dalam bisu
Mengalirkan rinai kepekatan
Menyayat segumpal daging pengendali sukma

Kian jauh dan dalam
Menerjang batas akhir
Meluluh lantakkan puing-puing harapan
Mengacuhkan tangis kesakitan

Membutakan
Menulikan
Menbisukan

Tombak ditikamkan
Bara api dinyalakan
Menyongsong bagaskara pulang
Ratu malam tersenyum samar
Kepalsuan terbongkar
Menorehkan sejuta lara tanpa obat penawar

Bertahan

Bertahan By: Nina Kurnia Dewi

Bertahan...
Berdiri di kesunyian
Membesitkan luka dan harapan

**
Ini tentangnya dan masih tentang dirinya. Tentang aku dan dia. Tentang rasa indah yang samar-samar tumbuh lebih dari yang kumau. Rasa yang menikam nurani. Melukai lubuk hati. Bersemanyam di dasar jiwa. Membesitkan sejuta harapan dan lara. Teramat menyesakkan dada.
Aku tak pernah tahu alasanku bertahan. Mempertahankan rasa ini. Tetap bertahan di balik hatinya yang beku. Yang tak pernah tahu bahwasanya aku menunggu dirinya dalam diamku. Dalam sepi aku memujanya. Tanpa kata, namun menggetarkan jiwa.
Kusebut namanya dalam doa. Tak pernah lupa, selalu kutitipkan pesan tatkala aku bercengkrama dengan bintang-bintang. Bukan pesan yang puitis atau romantis. Hanya lantunan kata yang realistis.
Aku bukan penyair yang mampu merangkai kata menjadi puisi indah untuk dirinya. Bukan cerpenis yang handal mengolah kata-kata menjadi sebuah cerita. Bukan pula pianis yang mampu menciptakan melodi-melodi sempurna untuk d…

Ungkapan dari Hati

Awal Juli yang kelam, 2012 di pojok ruang itu



Sekedar mengungkapkan apa yang berkecamuk di kepalaku. 

Berawal dari sebuah perkenalan dengan dirimu yang tak pernah kuduga, rasa itu tumbuh begitu saja.  Menerjang batas-batas tak terjamah. Menorehkan berjuta harapan dan kelaraan hati yang teramat dalam.  Sebuah perasaan bodoh yang harusnya tak pernah kumiliki. Sangat bodoh!! Karena perasaan ini, aku rela membuang waktuku yang berharga hanya untuk memikirkanmu. Hanya untuk memandang senyuman palsumu yang tak pernah kau tujukan kepadaku.


Rasa itu tumbuh kian dalam. Menikam sanubari. Tertancap tegap di dasar hati. Tak urung jua pergi, walau kerap ku maki-maki. Aku heran. Entahlah... rasa ini kian dalam. Bahkan saat aku tahu kamu tak pernah ada untukku, aku tak pernah berniat melepas rasa ini.


Keherananku kian menjadi. Tiap kali aku berusaha membenci dan menghapusmu, membenci dan menghapus rasa itu, tikamannya semakin dalam. Sangat dalam. Sangat menyakitkan. Walau tak ada tetes-tetes yang darah k…