Skip to main content

Pengagum Rahasia


Pengagum Rahasia
By: Nina Kurnia Dewi



Tiga puluh menit, dan aku masih saja duduk terpaku di sini, gazebo taman belakang sekolah. Seiring berhembusnya angin sore, sosok pemuda rupawan itu kembali hadir memenuhi seluruh rongga kepalaku. Menyisakan setetes kepedihan yang begitu kelam. Teramat menyesakkan.

"Wi!!" suara itu mengalun begitu saja. Membuyarkan anganku tentangnya.

"Eh, Gita? Ada apa?" tanyaku datar.

Gadis manis berkacamata itu duduk tepat di sampingku.

"Harusnya gue yang tanya ngapain lo di sini? Sendirian lagi!" katanya ketus.

Aku tersenyum tipis.

"Gak papa kok. Belom niat pulang aja,"

"Hah? Lo gila Wi? Udah jam lima ini Wi!!" serunya seraya menunjuk sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Aku tak berkata. Hanya menanggapi celoteh gadis itu dengan senyuman samar.

"Lo mikirin dia lagi kan?"

"Dia siapa?" aku balik bertanya.

"Gak usah menafik Nona Dewi! Gue bukan bayi yang bisa lo tipu!" katanya sedikit membentak.

Aku diam. Hatiku membenarkan ucapan gadis manis yang sudah menjadi sahabatku sejak lima tahun lalu itu.

"Lo pengecut Wi!"

"Bukan urusan lo!"

"Jelas urusan gue! Lo pikir gue tahan melihat sahabat gue nahan rasa sakit gara-gara dia nggak mau ngugkapin apa yang ada di hatinya. Gara-gara dia cuma jadi pengagum rahasia di balik topeng dan nggak pernah mau menunjukkan wujud aslinya!" kata Gita panjang lebar.

Aku hanya diam. Tak menanggapi perkataannya.

"Dewi! Lo nggak bisa kayak gini terus," katanya memohon.

Hanya kutundukkan kepalaku. Memandangi ujung sepatuku yang nampak kotor.

"Dia harus tau Wi! Lo harus bilang ke dia!" ujar gita menggebu-gebu.

"Gue gak bisa!" sergahku cepat.

"Kenapa?"

"Menyalahi kodrat!"

"Nggak Wi! Ini wajar!"

"Wajar buat lo!"

"Gue nggak mau kehilangan lo Wi! Kehilangan senyum lo yang selalu bisa bikin gue bahagia," ratap Gita.

Aku terenyuh.

"Maaf Git," balasku singkat.

"Lo harus berani!"

"Itu kelemahan gue,"

"Kalo gitu lo harus buang rasa itu!"

"Yang itu juga," kataku seraya menatap mata sipitnya.

"Gita! Biarin gue mengikuti alur yang ditulis Tuhan. Gue percaya takdir Git. Gue mohon. Ini yang gue pilih. Maaf kalo gue ngecewain lo. Gue balik dulu," kataku mendiamkannya seraya beranjak dari hadapan gadis itu.

Kutinggalkan dia begitu saja di tempatnya. Tiap langkahku terasa begitu berat. Aku terus berjalan dalam diam, mengikuti alur cerita Tuhan.

***

Diam...
Tak berkata
Pasrah...
Menerima...
Tiap alur cerita yang dituliskan Tuhan

**

Rasa sesak mendiamkanku di sudut ruang pribadiku. Aku mendesah pelan. Selalu seperti ini tiap bayangan pemuda itu hadir. Lima tahun, sejak kali pertama aku menatap mata elangnya, hingga detik ini, aku masih menjadi pengagum rahasianya. Sungguh miris.

Aku membenarkan perkataan Gita kemarin sore. Aku memang pengecut. Aku memang hanya mampu mengaguminya di balik topeng. Mencuri tiap informasi tentangnya. Menyebut namanya dalam sujudku tiap lima waktu, tanpa pernah sekalipun dia mengetahuinya. Namun biarlah. Aku bahagia melakukannya. Meski tak hanya setetes air mata yang kujatuhkan.

***END***

Comments

  1. muehehe sekuel dong kaka :P hehe
    cie dah, lo emang pinter nulis yang beginian-_-v
    cie dewi cie muehehe :$

    ReplyDelete
  2. ya deh entar kalo ada ide ya kak -_-"
    kan emg style tiap org beda. gue bisanya nulis yang genrenya ginian ._.
    dewi!? -_-"

    ReplyDelete
  3. wkwkwk iya gue tau kok. iyakan lo emang bakat kalo genrenya gini u,u iya dewi wkwkw

    ReplyDelete
  4. haha bisa aja lo kak. bakat apaan juga? -_-"
    dewi kenapa!? (w`A`)w

    ReplyDelete
  5. so nice dan penuh makna, salam kenal ya xD

    ReplyDelete
  6. @ Pengagum Bintang tang tang tang : bakat jahat *eh! kan ngenes mulu kasian wk. dewi nama lo hhh-_-

    ReplyDelete
  7. @alice YGK: salam kenal juga ;)

    @Awi Metalisa: gue ga bakat jahat *fitnah* ya terus napa kalo nama gue?

    ReplyDelete
  8. Pengagum bintang tang tang tang : huuu nggak mau ngaku lo wakwak -_- ya kalo nama lo.... kode *eh!

    ReplyDelete
  9. Awi Metalisa: Iya deh gue emang jahat #jleeeb -_- kalo kode kenapa? Kode apa? Kode ATM bukan? Kalo iya boleh kasih tau gak kode ATM lu berapa? -_-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. kode ATM? adanya pin ATM kaliii :P

      Delete
    2. lah biarin deh ngasal :p pentingkan kode -_- apaan dah ini maksudnya

      Delete
    3. Hahaha kode yang buat dia belom tapi -_-

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…