Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

(Mungkin) Bahagia adalah Melupakanmu

(Mungkin) Bahagia adalah Melupakanmu By: Nina Kurnia Dewi
“Namun tak kau lihat            Terkadang malaikat            Tak bersayap            Tak cemerlang            Tak rupawan            Namun kasih ini            Silakan kau adu            Malaikat juda tahu            Siapa.... yang jadi.... JUARANYA”
           Suara merdu Dewi Lestari menggema memenuhi sudut-sudut ruanganku. Aku semakin terisak lembar-lembar tissue berserakan disekelilingku. Sudah kucoba untuk tidak menangisi ini, membiarkannya menjadi angin lalu. Namun rupanya aku gagal. Cairan bening ini tetap menetes dari pelupuk mataku, bahkan semakin deras, tak kunjung mengering. Walau kusadar jika ini tak berguna. Tak akan mengubah segalanya. Air mata hanya mengisyaratkan betapa lemah dan rapuhnya aku.            Aku mmang lemah. Bukan hanya lemah, namun juga rapuh dan lapuk. Kau tahu apa penyebabnya? Satu kata, tiga huruf yang sekarang tak ada artinya lagi bagiku. KAU. Kau yang menjadikan aku begini. Aku baik-baik saja sebelum had…

Syair Cukup tuk Aku dan Kamu

Syair Cukup tuk Aku dan Kamu By: Nina Kurnia Dewi
Ketika aku mulai merasa, sesuatu yang kau rasa, dan kita sungguh benar merasa, apa yang kusebut rasa.
Saat rasa itu ada, dengar nyanyian getaran dada, kita pun turut merasa ada, meski mata tak jua lihatnya ada.
Mata takkan mampu melihatnya, tak mampu jua merasanya, terlebih tak mampu memilikinya, karna hati yang menciptanya.

Mencipta rasa indah antara kita, seindah bias intan permata, dengan nama seindah cinta, meski harus tanpa kata.
Kata takkan ungkap segalanya. makna indah dirangkaiannya, karena kata hanya lisannya, sedang hati yang menciptanya.
Aku takkan memintamu, mengungkap rasa dihatimu. simpan dala-dalam disanubarimu, hingga yang tahu, cukup aku dan kamu.

Cukup Aku dan Kamu

Cukup Aku dan Kamu By: Nina Kurnia Dewi
   Kembali kubuka lembar-lembar lusuhku. Berharap sisa selembar saja untuk guratan penaku. Kumulai lagi monologku yang sebenarnya hanya aku yang boleh tahu. Merenungi segalanya. Mengupas ingatanku dan merangkainya menjadi sebuah kata. Kata lugu yang bermakana (bagiku).    Aku kembali terdiam dan merenungi segalanya. mengapa kisah ini harus ada? Kisahku dan dirimu yang memang lama kutunggu.... namun... ah, sudahlah. Lupakan semua. Itu akan lebih baik, daripada seorang pemilik hati terluka.    Aku tersenyum hambar. Tak habis pikir bagaimana rona merah jambu itu turut tumbuh dihatiku? Sedang aku tak memintanya. Aku juga tak pernah menginginkannya. Dan aku juga tak memiliki alasan untuknya.    Sejenak kuberpikir, sedikit meragu tentang dirimu. Apa rasa dihatimu benar adanya? Karena lisanmu tak pernah berkata. Namun aku kembali tersadar. Lisan terlalu hina tuk ungkap semua. Rasa itu. Karena hati yang menciptanya dan dia pula yang harus menyibaknya.    Namu…

Ceritaku, kamu, dan dia (My Own Way to Love You)

Ceritaku, kamu, dan dia

(My Own Way to Love You) By: Nina Kurnia Dewi
      Kubuka lembar-lembar bukuku. Mencari bagian kosong disela-selanya. Kutuangkan semuanya. Isi hati dan pikiranku. Segala kegundahan dan kegalauanku. Segurat senyum pahit terbentuk dibibirku ketika teringat semua. Semua tentang aku, kamu, dan dia. Yang semula baik-baik saja.       Lem

My First Veil

My First Veil By: Nina Kurnia Dewi “Arrghh, it’s so hot!!” kataku seraya melepas dan melempar jilbab putih yang melekat dikepalaku. Kubaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Oh... bagaimana bisa aku melakukan ini? Bagaimana mungkin aku bisa beradaptasi dengan berbagai hal dalam waktu yang singkat? Bahkan hal ini tidak pernah kupikirkan sebelumnya! Kulepas seragam putih abu-abuku dan segera kukenakan T-shirt dan short skirt kesayanganku. Aku ingin melepas penat dengan berjalan-jalan disekitar kompleks ini. Siapa tahu aku akan mendapat teman baru. Aku berhenti sesaat sebelum keluar kamar memandang pantulan bayanganku yang tertangkap oleh cermin disebelah pintu. Tiga puluh menit yang lalu aku adalah sosok jilbaber yang berpakaian serba panjang. Lalu bagaimana dengan sekarang? Ah apa peduliku. Memang siapa yang akan betah memakai jilbab dan berpakaian serba panjang itu disaat cuaca panas seperti ini? Kalau bukan karena permintaan Mom, pasti aku juga tidak akan memakainya. Aku memang lemah jika…