Skip to main content

Ceritaku, kamu, dan dia (My Own Way to Love You)


Ceritaku, kamu, dan dia


(My Own Way to Love You)
By: Nina Kurnia Dewi

      Kubuka lembar-lembar bukuku. Mencari bagian kosong disela-selanya. Kutuangkan semuanya. Isi hati dan pikiranku. Segala kegundahan dan kegalauanku. Segurat senyum pahit terbentuk dibibirku ketika teringat semua. Semua tentang aku, kamu, dan dia. Yang semula baik-baik saja.
      Lembaran yang tadinya kosong kini mulai terisi oleh beberapa bagian alfabet. Lembaran tak berdosa yang kupaksa turut merasakan apa yang kurasa. Karena kurasa hanya dia yang mampu merasa apa yang aku rasa. Meski dia hidup tanpa nyawa.
      Mulai kutuangkan ceritaku. Ceritaku, kamu, dan dia. Jujur dengan sepenuh hatiku. Au merasa berdosa padamu. Teramat. Hingga kupikir saat ini aku tak pantas menerima kebaikan hatimu. Karena rasa salah itu makin membelenggu hatiku. Andai kamu tahu betapa besar penyesalanku. Dan andai kutahu seberapa dalam aku menggoreskan luka itu dihatimu. Luka yang sebenarnya tak patut kamu rasakan. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata itu telah keluar dari bibirku. Dan aku tahu, itu keluar dari hati terdalamku.
      Setetes air mata luruh dari pelupuk mataku. Menyisakan bekas air pada kertas-kertas lusuhku. Rasa sakit itu tiba-tiba ikut tumbuh dihatiku. Saat wajahmu tergambar jelas dibenakku. Tak bisa kupungkiri. Aku tidak akan pernah bisa setegar dirimu jika aku berada diposisimu. Aku bahkan tak yakin jika aku mampu tersenyum diatas luka itu. Dan aku sungguh tahu jika kamu juga merasakan hal itu. Jika kamu menyembunyikan rasa sakit luka itu dibalik senyuman manismu.
      Aku tak akan pernah marah padamu jika sekarang kamu menjaga jarak denganku. Karena aku tahu, penyebabnya adalah luka itu. Luka yang dengan tanpa dosa telah kugoreskan dihatimu. Dan kali ini ak sudah tak bisa menahan tangisku. Bukan karena dia atau apa. Tapi karenamu. Karena luka hatimu itu.
      Menyesal!!! Itu kata yang sanggup diucapkan hatiku. Bukan hanya diucapkan dan dilantunkan. Namun juga dirasakan. Dan tahukah kamu mengapa aku merasa begitu teramat menyesal? Bukan tak lain karena luka itu kini aku tak pernah sekalipun mampu mencipta sebuah pelangi dibibirmu. Selalu orang lain yang melakukannya untukmu. Tak lagi seperti dulu.
      Senyuman pahit kembali tergurat dibibirku. Membayangkan betapa luka itu kini sedang membelenggumu. Mengutuk betapa kejinya aku yang telah menorehkannya diatas hatimu. Namun maafkan aku. Aku tak ingin menjadikan itu sebagai suatu kebohongan besar yang kelak ketika kamu mengetahuinya, kamu justru akan merasakan luka yang lebih dalam daripada ini.
      Satu hal yang harus kamu tahu. Walau kini aku tak lagi mampu membuatmu tersenyum layaknya teman-temanmu, bukan berarti kini aku tak lagi menyayangimu. Hatiku masih sama seperti dulu. Masih menyayangi dan mengasihimu. Meski tak seperti yang lainnya. Because I have my own way to love you. Dan tak ada orang lain yang memberikan itu padamu.
      Aku memang tak menampakkan kasih sayangku padamu. Lagi-lagi tak seperti yang lainnya. Aku memang lebih banyak diam padamu. Karena dalam diam aku mampu memahami dan megertimu. Dan karena itu juga, kini aku lebih mengenalmu daripada kamu mengenal aku. Aku memang diam. Namun bukan hanya diam. Seperti yang orang lain kerjakan. Karena kamu tidak tahu sesuatu yang ada padaku. Yang tak ada padamu. Yang membuatku mampu menyayangimu dengan jalanku.
      Satu hal lain yang juga perlu kamu tahu. Aku tak pernah sungguh menginginkannya dalam hidupku. Dia hadir tiba-tiba tanpa kuminta. Memberiku harapan fana. Dan aku pernah sekali terbuai olehnya. Namun kini dia menghilang tiba-tiba juga. Meninggalkanku yang masih sibuk mnyelami buaian rasanya. Akupun yak tahu mengapa. Namun tetap ada rasa yang berbeda. Andai aku tak pernah mengenal dia. Mungkin rasa ini takkan pernah ada. Namun untuk satu ini aku tak ingin menyesalinya. Akan kucoba tersenyum diatasnya.
      Sebuah seyuman tulus kini tergurat dibibirku seiring dengan kututup lembaran-lembaran lusuhku. Kutarik nafas panjang seraya memejamkan mataku. Semoga ini menjadi akhir bahagia Ceritaku, kamu, dan dia :)

***END***

Ceritaku, kamu, dan dia
Memang pernah ada
Dan akan selalu ada

Namun yakinlah
Itu akan mempunyai kisah berbeda diakhirnya
Bukan seperti sekarang yang kita rasa



Comments

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…