Skip to main content

Cukup Aku dan Kamu


Cukup Aku dan Kamu
By: Nina Kurnia Dewi

   Kembali kubuka lembar-lembar lusuhku. Berharap sisa selembar saja untuk guratan penaku. Kumulai lagi monologku yang sebenarnya hanya aku yang boleh tahu. Merenungi segalanya. Mengupas ingatanku dan merangkainya menjadi sebuah kata. Kata lugu yang bermakana (bagiku).
   Aku kembali terdiam dan merenungi segalanya. mengapa kisah ini harus ada? Kisahku dan dirimu yang memang lama kutunggu.... namun... ah, sudahlah. Lupakan semua. Itu akan lebih baik, daripada seorang pemilik hati terluka.
   Aku tersenyum hambar. Tak habis pikir bagaimana rona merah jambu itu turut tumbuh dihatiku? Sedang aku tak memintanya. Aku juga tak pernah menginginkannya. Dan aku juga tak memiliki alasan untuknya.
   Sejenak kuberpikir, sedikit meragu tentang dirimu. Apa rasa dihatimu benar adanya? Karena lisanmu tak pernah berkata. Namun aku kembali tersadar. Lisan terlalu hina tuk ungkap semua. Rasa itu. Karena hati yang menciptanya dan dia pula yang harus menyibaknya.
   Namun aku tak ingin kau melakukannya. Menyibak semua. Memetik ranum sakura yang tubuh dihati kita. belum saatnya untuk kita berdua. Jangan memaksa! Cukup diam dan berpura-pura jikalau kita tidak merasa. Rasa indah, namun kadang menyesakkan dada. Wajahmu terngiang dibenakku. Tak ada yang istimewa. Namun tatapanmu, terasa berbeda. Walau haya saling tatap tanpa kata, getaran itu tak jua sirna. Behkan kian membara. Membelenggu jiwaku yang mulai lara.
   Kadang aku berpikir, mengapa ada yang berbeda? Setelah kita mulai merasa? Mengapa tak seperti dulu? Atau mungkinkah ini garis takdir sang Maha Pencipta? Yang juga telah mencipta rasa itu dihati kita? tak perlu kau jawab.aku sudah mengetahuinya.
   Sebenarnya aku lelah. Berpura-pura dan berpura-pura. diam dan diam. Seperti tak saling kenal. Namun apa boleh dikata, kita harus berpura-pura. berpura-pura tidak merasa, walau rasa itu menggetarkan jiwa. Mencoba diam dan mengunci rasa itu dalam-dalam didasar sanubari. Jangan kau buang! Cukup kau simpan dalam-dalam. Hingga tak ada yang mengerti. Cukup aku dan kamu.
***END***

Comments

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…