Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2012

Selayang Surat Untukmu yang Pernah Mengisi Hatiku

Aku disini.... sendiri. Namun tak benar-benar sendiri. Rasa itu, menemaniku disini. Rasa kagumku kepadamu, yang kian lama berubah menjadi benci.
Sebenarnya bukan benci. Namun, harus kupaksa nuraniku untuk menyebutnya demikian, agar aku mampu melupakanmu.
Dulu... aku hampir saja berhasil melakukannya. Hampir, ya, hampir saja. Kala itu aku tak lagi merindukan pesa singkat darimu. Bahkan lebih dari itu, aku mampu mengacuhkanmu.
Lalu kau kembali datang, saat sanubariku sedang bimbang. Menghadapi problematika kehidupan.
Kau datang saat aku tak mempunyai pilihan lain selain menjadikanmu tempat pelarian. Dan lagi-lagi aku harus terbiasa menjalani hari dengan bayang-bayangmu yang bergelanyut dibenakku.
Dan seperti biasanya, sekali lagi kau menghilang tanpa jejak. Meninggalkanku tanpa permisi.
Dan tentu aku kembali merindukanmu. Namun aku harus melupakanmu. Kurasa cukup mudah kali ini, karena aku pernah melakukannya, dan sekarang aku hanya perlu mengulanginya.
Dan aku berhasil *hampir*, ya, aku hampi…

Lihat dengan Hatimu Part 5

Lihat dengan Hatimu Part 5 By: Nina Kurnia Dewi
                Ify merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tangannya meraih benda elektronik hasil peradaban manusia yang tergeletak bebas dimeja kecil sebelahnya. Dengan isak-isak kecil dia memainkan jemarinya diatas keypad handphonenya, mengetikkan sebuah pesan singkat kepada seseorang diseberang sana. To: Gabriel Stevent Damanik A. Help me ಥ_ Dia lantas menyimpan benda itu dibawah bantal selagi menunggu balasan dari Gabriel. Gadis itu menatap nanar langit-langit kamarnya. Isakannya kini terdengar makin jelas dan cairan bening itu menjadi semacam aliran sungai dipipinya.                 “Sesingkat inikah?” bisiknya parau. Sebagian hatinya memang sama sekali tak menginginkan hal ini, karena sungguh rasa cintanya kepada Alvin sama sekali belum memudar. Hanya saja dia ingin menjaga perasaan sahabatnya, Via. Samar-samar dia merasakan getaran dibawah kepalanya. Dia segera meraih sumber getaran itu. Gabriel Stevent Damanik A. is calling Dengan ceka…

Lihat dengan Hatimu Part 4

Lihat dengan Hatimu Part 4 By: Nina Kurnia Dewi
Alvin modar-mandir didepan UGD. Sesekali mata sipitnya memandang pintu ruangan yang belum terbuka sejak sejam yang lalu itu. Kegundahan yang amat sangat menyelimuti hatinya. Sementara Ify hanya duduk terpaku dikursi tunggu seraya mengamati polah pemuda itu. Perkataan sahabatnya masih terngiang ditelinganya. Dan melihat tingkah Alvin, tentu dia tak dapat menepis dugaan bahwa..... “Vin,” katanya lirih sembari mengerjapkan matanya untuk menahan luruhnya kaca-kaca bening yang mulai terbentuk di bola matanya. Alvin menghentikan langkahnya lantas duduk disamping gadis itu dan menatapnya. “Iya Fy?” katanya kepada gadis itu. Terdengar getaran disuaranya. Dan gurat kekhawatiran itu, bisa dipastikan semua orang mampu melihatnya. “Perkatan Via tadi...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Apa kamu juga?” lanjutnya dengan penuh penekanan dikata terakhirnya. Dia memalingkan wajahnya dari Alvin. Setetes air mata tak kuasa dia tahan agar tetap berada ditempatnya …