Skip to main content

Selayang Surat Untukmu yang Pernah Mengisi Hatiku

Aku disini.... sendiri. Namun tak benar-benar sendiri. Rasa itu, menemaniku disini. Rasa kagumku kepadamu, yang kian lama berubah menjadi benci.

Sebenarnya bukan benci. Namun, harus kupaksa nuraniku untuk menyebutnya demikian, agar aku mampu melupakanmu.

Dulu... aku hampir saja berhasil melakukannya. Hampir, ya, hampir saja. Kala itu aku tak lagi merindukan pesa singkat darimu. Bahkan lebih dari itu, aku mampu mengacuhkanmu.

Lalu kau kembali datang, saat sanubariku sedang bimbang. Menghadapi problematika kehidupan.

Kau datang saat aku tak mempunyai pilihan lain selain menjadikanmu tempat pelarian. Dan lagi-lagi aku harus terbiasa menjalani hari dengan bayang-bayangmu yang bergelanyut dibenakku.

Dan seperti biasanya, sekali lagi kau menghilang tanpa jejak. Meninggalkanku tanpa permisi.

Dan tentu aku kembali merindukanmu. Namun aku harus melupakanmu. Kurasa cukup mudah kali ini, karena aku pernah melakukannya, dan sekarang aku hanya perlu mengulanginya.

Dan aku berhasil *hampir*, ya, aku hampir berhasil mengacuhkanmu -lagi-. Namun anehnya, rasa itu bukannya pergi justru kian membelengguku. Tapi TIDAK. Sekeras apapun itu akan kucoba. Berhenti mengagumimu, berhenti merindukanmu, dan berhenti berharap padamu.

Dan kau perlu tahu, mulai detik ini aku TAK LAGI menjadi pengagum rahasiamu. Jika kau ingin kita seperti dulu, mulailah dari awal dan jangan melakukan kebodohan yang sama.

Aku lelah, menjadi bagian tak berarti dalam kisahmu.

Untukmu,
yang pernah
mengisi hatiku,
dan tentu pernah
menggoreskan luka
diatasnya.

Comments

  1. pertamax amankan haha .

    mungkin semua rasa ini akan selalu tersimpan di hatiku sampai kapanpun, karna semakin dipaksakan semakin besar rasaku ini .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan syukurlah rasa itu sudah menghilang dari hati ini :D
      Ciee pertamax

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…