Skip to main content

Ungkapan dari Hati

Awal Juli yang kelam, 2012
di pojok ruang itu




Sekedar mengungkapkan apa yang berkecamuk di kepalaku. 

Berawal dari sebuah perkenalan dengan dirimu yang tak pernah kuduga, rasa itu tumbuh begitu saja.  Menerjang batas-batas tak terjamah. Menorehkan berjuta harapan dan kelaraan hati yang teramat dalam.  Sebuah perasaan bodoh yang harusnya tak pernah kumiliki. Sangat bodoh!! Karena perasaan ini, aku rela membuang waktuku yang berharga hanya untuk memikirkanmu. Hanya untuk memandang senyuman palsumu yang tak pernah kau tujukan kepadaku.


Rasa itu tumbuh kian dalam. Menikam sanubari. Tertancap tegap di dasar hati. Tak urung jua pergi, walau kerap ku maki-maki. Aku heran. Entahlah... rasa ini kian dalam. Bahkan saat aku tahu kamu tak pernah ada untukku, aku tak pernah berniat melepas rasa ini.


Keherananku kian menjadi. Tiap kali aku berusaha membenci dan menghapusmu, membenci dan menghapus rasa itu, tikamannya semakin dalam. Sangat dalam. Sangat menyakitkan. Walau tak ada tetes-tetes yang darah keluar.


Inginku, melupakanmu. Membuang rasa itu. Namun nampaknya Tuhan tak pernah menghendakinya. Dia ingin aku menyimpan rasa itu dilubuk hatiku. Walau Dia sangat tahu jika rasa itu melukaiku. Membelengguku. Aku tak akan pernah menyalahkan Tuhan. Dia Maha Benar. Tak pernah salah sedikitpun. Akulah yang salah karena terlalu ceroboh meletakkan hatiku di balik hatimu yang beku. 


Mungkin kau tak pernah tahu jika namamu selalu kusebut tiap kali aku mengadu, bersujud kepada Tuhan tiap lima waktu. Meminta-Nya membuka hatimu agar sekejap saja mau menatapku. Agar sedetik saja mau mengingatku. Namamu juga selalu menjadi topik utama saat aku berdialog dengan bintang-bintang penghias langit malam. Selalu saja kutitipkan pesan untukmu pada mereka. Terkesan aneh... atau bahkan benar-benar gila. Namun inilah aku. Pengagum rahasiamu yang begitu pengecut dan tak pernah mampu mengungkapkan 'rasa di hatinya' kepadamu.


Kau bintangku... Aku tak pernah tahu alasanku mengagumimu. Namun kau menyimpan beribu alasan untuk tetap kukagumi.


Aku akan menunggumu, hingga tak ada lagi alasan bagiku untuk mengagumi apapun. 



Layaknya bintang yang bersinar di tiap sudut langit malam... Kau hanya mampu kutatap dan kukagumi. Tak pernah mampu kumiliki.

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…