Skip to main content

Malam, Bintang, dan Hujan -Story for The Night Prince #2

Sebuah cerita dari pengagum bintang untuk pangeran malam di tengah rinai hujan......


Mega mendung perlahan mulai bergelayut di sisi-sisi langit, menepikan sinar matahari ke sisi lain. Butiran-butiran air turun dari singgasana terbesarnya. Mengusir kegersangan yang telah bersarang. Aku kembali menyibukkan diri dengan pena dan kertas. Mencari kata yang masih tersisa di otakku, merangkainya, sembari mendengarkan irama hujan yang mendamaikan berbaur dengan raungan mesin kendaraan yang lalu lalang.

Aku menyukai hujan. Namun, tak seperti aku mengagumi bintang. Karena nyatanya, terkadang kerap terdengar keluhan dari bibir ini kala hujan turun. Tak seperti bintang yang selalu membuatku tersenyum saat melihat kehadirannya.

Segurat senyum terbit di bibirku. Ketenangan yang disuguhkan hujan nampaknya ingin mengajakku singgah ke saat itu. Hujan ingin aku mengingatnya kembali. Kala aku tanpa sengaja menatap mata bening itu, dan senyumnya yang begitu menawan yang telah lama tak kupandang merekah di hadapanku. Jiwaku seakan terangkat. Beban yang menggelayuti pikiranku menguap entah kemana. Namun, hanya sesaat. Karena senyuman itu bukan untuk diriku.

Tetapi, entah bagaimana aku tak pernah kecewa kala melihat pelangi yang terbit di bibirnya, pun itu bukan untukku. Karena aku membutuhkannya. Meskipun aku tak berhak menikmatinya, karena orang lain yang memilikinya.

Aku tersenyum samar. Rasa sesak itu menyeruak tiba-tiba. Bagaimana mungkin aku mengagumi dan berharap pada seorang pangeran yang telah memiliki seorang putri dalam hatinya. Bahkan putri itu benar-benar sempurna dan aku tak akan sedikit pun bisa menyamainya.

Kuusap sebutir air yang terjatuh bebas di pipiku. Tak ingin menangisi hal serupa ini. Biarlah kisah ini mengalun tanpa air mata. Cukup dengan derai tawa. 

Untukmu Pangeran Malam, aku tak akan berharap lebih. Kehadiranmu di tiap mimpi di malam-malamku sudah lebih dari apa yang kuinginkan. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Sesederhana itu.

Pengagum Bintang 

Cerita sebelumnya baca di sini

Comments

  1. ahh,,, kalo ini bukan fiksi, gue saranin elu jadi PCs aja gan :D

    ReplyDelete
  2. gue rasa sah-sah aja, mau dia udah punya cewek atau ga, yang penting lo ga membuat orang sekitar terutama dia menjadi risih akan kehadiran lo.

    Yah begitulah, emang sangat sederhana. Cukup senyum aja udah bisa jadi stimulam buat hari esok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe gue gak pernah hadir disekitar dia *eh* cukup dalam diam, diam, dan diam (y)

      Ya sesederhana itu. Tapi jangan sebut gue PCS -_-

      Delete
    2. ya secara ga langusung lo ada disekitar dia meskipun diam-diam -_-

      gue ga nyebut lo PCS ya :P

      Delete
    3. Gue gak ada di sekitar dia ._. cuma kadang2 aja. Jadi gue bukan PCS. Gue secret admirer. Kan kata lo PCS itu lebih dari secret admirer -_-

      Delete
    4. tapi pernah kan?

      iya itu kalo presepsi gue. PCS sama secter adminer itu tergantung dari orangnya gimana presepsikannya :D

      Delete
    5. Kapan ya? Ah gapernah kok. Cukup dari kejauhan -__-

      Delete
  3. uwo uwo uwo, kayak poconggg juga pocong hahaha

    ReplyDelete
  4. Pas banget baca ini waktu lagi hujan..

    Uhuuu, bagus as always :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah situ hujannya -_- enak dong :3 dingin-dingin gimana gitu :D

      Makasih kakak (y)

      Delete
  5. Kata-kata.nya mengalir lancar seperti air . Semua.nya enak untuk di nikmati . Semua.nya tertulis begitu aja tapi keren banget Nin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti air dan selembut angin wkwkwk #Lol
      Makasih kak

      Delete
    2. Emang ANgin Lembut ya Nin *garuk-garuk kepala.

      Delete
  6. kasian *pukpuk*

    ini pasti nyata bukan fiksi.
    semoga lo bisa menemukan senyum yg lain :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau darimana kalo nyata? *eh
      Gamau nyari senyum yang lain (y)

      Delete
  7. Pertama Gue suka diksinya, puitis banget.

    kedua, biarlah sekedar mengagumi, kalau udah tau dia punya yg laen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kak. Tapi ini gak puitis amat kok hehe
      Ya.. biarlah begitu

      Delete
  8. seorang pemuja rahasia yaa. di depanya kita merasa bahagia melihatnya bahagia dengan orng lain. tapi di belakangnya hati ini remuk bagai hujan yg tak berujung, #anjir #nyesek sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah gak segitu remuk kok. Cuma nyesek aja :D ciee pengalaman wkwk

      Delete
  9. Pengen banget bisa nulis kayak gini, kan pengen buat novel. buat cerpen dulu kali ahh


    @rizalarable #srudukfollow
    owner Blog Sing Biasane

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ayo bikin novel bang :D entar kalo terbit aku dikasih gretongan *eh

      Delete
  10. ikut rame.. ah..
    http://forester-untad.blogspot.com/

    ReplyDelete
  11. wow...tulisannya cetar membahana...hehe

    aku juga pnyuka bintang lo...kita sama donk..!! (sok nyama2in)hihi

    ReplyDelete
  12. aku disini tetaplah menjadi pengagum hujan, karna hanya di bawah guyuran hujan ku bisa mengingatmu sepuasnya :D *intro*

    oh ternyata ini ya ceritanya, mengagumi lebih baik asalkan tidak terlalu mendalami :) *komen*

    moga lu bisa dapetin sasaran baru yg pas ya :D *closing*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciee pengagum hujan u,u

      Emang cuma mengagumi :D ah, gamau cari yang baru #pengakuanterlarang

      Delete
  13. berharap aku jd sang pangerannya...

    ReplyDelete
  14. Suka nich sama yang di ujung-ujungnya

    "Untukmu Pangeran Malam, aku tak akan berharap lebih. Kehadiranmu di tiap mimpi di malam-malamku sudah lebih dari apa yang kuinginkan. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Sesederhana itu."

    waw gitu....

    salam kenal ya nina.

    ReplyDelete
  15. wah mak jleb sekali baca cerita diatas..:) pemilihan kata-nya juga bagus kok..:) bakat jadi penulis nih..:)

    ReplyDelete
  16. http://coretannakdusun.blogspot.com/
    join balik ya.. aku anak baru nih..

    ReplyDelete
  17. eciat eciat.. uhmm.. tapi gue lebih suka hujan dari pada bintang.. bintang seakan jauh dan nggak akan pernah bisa gue raih :'3

    eh btw ngapain sih nangis buat seseorang yang nggak merduliin kita bahkan nggak nganggep kita ada? buang2 air mata aja sih~ *eh wkwk tp gue tau kok.. air mata itu kayak simbol jika seseorang nggak bisa kuat lama2 mendem perasaan itu sendirian :') tp masih ada temen dan sahabat lo kok :'3ajiee

    eh abaikan comment gue yang sok ini deh wkwk -_-v gue lg geje~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue lebih suka bintang mbar :') walau jauh gue yakin nanti bakalan ada jalan buat meraihnya :D

      Ah, gak nangis kok.. Gak nangis :) iyee entar kalo gak kuat gue cerita... ke ELO *eh-_-* komentar lo gak geje kok :* makasih :*

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…