Skip to main content

Quotes #2

Diambil dari novel "Bulan di Langit Athena"















Hidup adalah pergerakan pasti menuju kefanaan.

Dan, hidup laksana anak-anak ombak.

Dan kekecewaan terbesar adalah mausia yang tak dapat memaknai  nilai seorang ibu.

"Maka, kematian adalah hanya milik mereka yang tak mampu menoreh prestasi apa pun dalam sejarah hidupnya. Padahal, sebenarnya ia telah mati dalam kehidupannya."

"Maut hayalah sesi batasan waktu,"

"Lakukanlah sesuatu sekecil apa pun untuk kebahagiaan umat manusia agar kamu berbeda dengan mereka yang mengalami kematian dalam hidupnya."

Tapi, Tuhan tak pernah main-main dengan ciptaan-Nya.

Cinta adalah dialek ketuhanan. Tuhan bersemayam dalam cinta. Maka dalam keadaan apapun, ketika seseorang menyadari bersemayamnya Tuhan di dalamnya, pasti dia akan bahagia.

Comments

  1. aku suka yg ini :

    Tapi, Tuhan tak pernah main-main dengan ciptaan-Nya.

    ReplyDelete
  2. nice post :)
    ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

    ReplyDelete
  3. ini quotes yang cocok buat remaja..
    "Maka, kematian adalah hanya milik mereka yang tak mampu menoreh prestasi apa pun dalam sejarah hidupnya. Padahal, sebenarnya ia telah mati dalam kehidupannya."

    keren banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak :) memotivasi para remaja untuk berprestasi dan berkarya, bukan cuma bikin masalah sama ngabisin uang ortu aja *eh

      Delete
    2. semoga banyak baca komen lo yang di atas.
      jangan cuma ngabisin uang ortu *nancep banget

      Delete
    3. Iya kak -_- nancep juga di hati gue. Itu kerjaan gue tiap hari ya -_____-

      Delete
  4. salam kenal salam blogg energi

    ReplyDelete
  5. wah bagus juga kata2nya.

    Salam kenal

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…