Skip to main content

Setitik Luka


Setitik Luka
By: Nina Kurnia Dewi

Rasa ini kembali hadir, mengisi kisi-kisi kekosongan hati. Membuncahkan sejagad kebahagiaan, namun tetap melejitkan setitik luka kelam dan menyesakkan. Aku menengadah. Luka yang baru saja terkatup itu perlahan kembali terbuka, di kala lentera kebahagiaan baru saja dinyalakan. Masih belum lama. Baru sedetik yang lalu.

Baru saja, ketukan samar itu mampu membuka pintu yang telah lama tertutup. Baru saja, bias tujuh warna kembali hadir setelah cukup lama menghilang. Belum lama, dan mega mendung itu mengalir tak terbendung. Seakan tak berkenan memberikan kesempatan nurani ini menghirup irama kesyahduan.

Sakit, hadir tiba-tiba, menyeruak begitu saja. Diam, tak berkata, kala godam itu meluluhlantakkan rajutan asa.

Tombak-tombak kembali ditikamkan. Samurai-samurai kembali dihunuskan. Dan pedang-pedang itu berhasil menyayat hati terdalam.

Lagi, bintang-bintang itu kembali menjadi saksi gejolak segumpal daging pemegang kendali ini. Ini tentang rasa itu. Rasa yang berusaha kupendam. Rasa yang telah terlupakan, namun rupanya benihnya masih tertinggal.

Saat benih itu tumbuh perlahan dan rona itu muncul ke permukaan, mata sebilah pisau tergerak ingin menikam. Aku berjalan menjauh. Berusaha mengabaikannya.

Apapun, dia telah mendorongku melakukan perubahan besar!

Comments

  1. bagus kata-katanya, ehh .. btw kamu udah follow aku belum ya -.-

    ReplyDelete
  2. selamat kalao kamu udah menemukannya,hingga kamu bisa berubah karenanya. aku belum. hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menemukan bisa saja. Tapi bila yang ditemukan tak berkenan, sia-sia -_-

      Delete
  3. Replies
    1. Makasih :)
      Tapi jangan panggil kakak -_- kan kamu lebih tua -_-

      Delete
  4. keren banget pemilihan kata-katanya :)

    keep writing.
    ~kunjungan perdana hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyoba2 aja kok hehe :)

      Makasih buat kunjungannya :)

      Delete
  5. pasti nina suka buat puisi dengan aliran feminism prosaik ya, keren keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apaan itu feminism prosaik? Gue malah gak ngerti bang -_-

      Delete
    2. udah, janga peduliin orang itu nin, entah dia dapet bahasa planet itu dari mana

      Delete
    3. Tuh kan elo keknya suka beneran sama kak rinem :p

      Delete
    4. @zim : elu kalo homo jangan ama gua yak

      @nina : itu salah satu aliran puisi, aku tahunya dari seorang temen dan penulis dari jogja, ya pokoknya puisinya seperti sebuah alur cerita. trus pokoknya tentang keakuan

      Delete
    5. Hehe ini taunya juga baru ini. Soalnya aku kalo nulis ya apa yang aku pikirin ._. Gatau aliran2 gitu -_-
      Eh, kok pake aku-kamu ya? Aneh -_- wkwk makasih bang udah ngasih tau

      Delete
    6. mending sama nina aja daripada sama elu nem

      Delete
  6. Kak Nina puitis banget :')
    dan juga inspire banget. Kapan-kapan boleh dong kak diajarin :) hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ini masih belajar :D masih belom konsisten kok u,u

      Delete
  7. puitis banget..aku gak pandai ginian..
    aku juga sudah menemukannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ini masih belajar qaqa :3
      Yang ditemukan udah pergi kok. Lupakan

      Delete
  8. Postingan ini pas banget di baca kalo lagi hujan terus nginget kenangan sama mantan dulu :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa harus lagi hujan? Wkwk flashback ciee flashback :p

      Delete
  9. keren banget...
    gue aja ga bisa kayak beginian. Bahasanya matap penuh majas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boong banget lo kak ._. yg ada juga ini gaada apa2nya -_- lo kan mahasiswa sastra, pasti bisa yg lebih bagus u,u

      Delete
    2. gue cuma penikmat sastra, jadi gue tahu mana yang bagus dan yang kurang, tata bahasanya juga keren. Mending lo entar kuliahnya sastra juga atau kalo ga jurnalis, sayang kalo ga tersalurkan..

      Delete
    3. Hehe makasih deh kak :D
      Hmm pengennya juga gitu, tapi kemaren itu sama ortu dilarang -_- males bahas ah. Udah pernah sakit hati :O

      Delete
    4. kok gitu..
      itu juga berkelas lo, ga kalah sama jurusan yang lain.

      moga aja entar ortu lo ngebolehin. Beneran gaya tulisan lo keren.

      Delete
    5. Yah tanya aja sama mereka wkwk.

      Amiin O:) tapi gamau terlalu berharap *eh

      Delete
  10. Bagus banget :') Suka bacanya..
    Dulu saya suka nulis kayak gini juga..
    Tapi sekarang udah gak lagi..
    Entah kenapa TT.TT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih :D
      Kenapa gak lagi? Yah.. sayang dong

      Delete
  11. deuh anak2 be jago2 bikin ginian :)

    ReplyDelete
  12. Gaul deh loh ..
    Swer ..
    Gue ngebacanya Ъќ brasa "garing"
    Emang kata2 nya bagus ...
    Lanjutkan yaah ..;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe bang upilman lebih gaol :3
      Makasih bang :D

      Delete
  13. kata katanya berat gue baca habis pulang kuliah (--')
    bagus :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha kok berat padahal gaada bajanya lho :p

      Delete
  14. Wew kata2nya keren bgt, smpai2 ad yg gk sya ngrti.

    ReplyDelete
  15. setitik luka , gua suka bgt judulnya jleb abis .
    emang lu bakat bgt tulis kaya beginian, keep spirit ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cie pengalaman :p
      Gabakat-bakat amat kak :D makasih kakak juga :))

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…