Skip to main content

Yang Tak Teraba

Yang Tak Teraba
By: Nina Kurnia Dewi

Aku berjalan gontai menuju kamar. Ruang kecil yang selalu mejadi saksi bisu suka dukaku. Aku tersenyum miris. Keanehan yang sedari kemarin kurasakan kembali terjadi. Entah apa itu. Aku bahkan tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata.


Sungguh aneh. Walau ini bukan kali pertama aku mengalaminya, namun tetap saja membuatku gusar. Bagaimana tidak? Aku merasakan dua puluh lima persen otakku bekerja dibawah sadar. Memintaku melakukan hal-hal diluar yang aku inginkan. Bahkan tangan dan mataku terasa lemas. Seakan tak mampu menerima perintah dari otakku yang kukendalikan secara sadar.


Aku hanya duduk tak berdaya. Sesekali kupandangi ruangan lain dari pintu yang kubiarkan terbuka. Tiba-tiba saja rumah ini terasa begitu luas untuk kutinggali sendiri. Dan lagi, bulu romanku tiba-tiba saja berdiri. Segera kuraih handphoneku. Kuhubungi Ayah dan Bunda yang sedang berada entah dimana. Namun aneh, tak ada jawaban dari mereka.


“Mungkin lagi sibuk,” gumamku.


Aku segera bangkit. Berjalan keluar kamar menuju kulkas, mengambil kue kering dan segera kembali ke kamar. Aneh. Itu yang mampu kukatakan. Kakiku terasa sangat ringan namun berat untuk digerakkan.


Aku mendesah pelan. Kusebut asma Tuhan berulang kali, saat tiba-tiba bayangan-bayangan alam lain hadir menghantuiku. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanga kiriku.


“Jam lima sore. Mama sama Papa kemana sih?” desahku mulai khawatir.


Tiba-tiba saja aura ganjil itu terasa lagi. Dan kini, aku hampir tak dapat menguasai otakku. Ragaku terasa semakin ringan. Makin ringan. Manik mataku mengangkap sebuah bayangan gadis kecil yang melambai kepadaku. 


“Kamu siapa?” tanyaku lemah.


Kulangkahkan kakiku menghampiri gadis itu. Namun aku tak mampu menguasainya. Aku jatuh tersungkur. Pandanganku buram. Kulihat gadis itu menyeringai lebar dan menghilang menjauhiku. Kupegang kepalaku yang terasa berat. Bak dihantam godam. Dan lagi, dadaku terasa semakin sesak. Aku hanya merintih, namun sangat lemah. Suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Dan bibirku terasa kaku.


Aku harus bekerja ekstrim untuk mengatur nafasku yang terasa semakin berat. Belum lagi pandanganku semakin kabur. Semakin kukerapkan mengucap asma Tuhan di dalam hati. Ingin kuteriakkan, namun tak bisa.


“Ya Allah.... Ya Rab.... lindungilah... hamba,” lirihku terbata.


Kukerjapkan mataku berulang kali. Pandanganku semakin buram.


“Mungkinkah lampu-lampu itu kehilangan pendarnya?” gumamku dalam hati.


“Tidak. Tapi aku yang kini tengah berada di alam bawah sadar,”
***END***
   


Comments

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…