Skip to main content

Sepucuk Surat Untuk Bunda

Teruntuk Bunda,

Rinai air mata mendampingi jemariku
berdansa dengan pena
Diatas secarik lembar putih

Putih...
Seputih jiwamu
yang melahirkan dan merawatku
Seputih senyummu
Saat menyambut hadirku

Kau tahu Bunda?
Aku merindukan senyumanmu
Senyuman tulus dari dasar hatimu
Bukan hanya senyum palsu
yang tergurat tiap hari dibibirmu

Bunda...
Aku merindukanmu
Teramat jarang kita bercengkrama
Aku rindu padamu

Kau tahu Bunda?
Air mataku tak jua kering
saat teringat kita dahulu
Sesak dada ini...
Saat waktu menyinggahkanku
ke masa itu...
Saat kau tersenyum bersamaku
Saat kau membelaiku

Aku rindu Bunda...
Aku rindu padamu..

Aku memang tak bisa menuntutmu kembali seperti dulu
Karena nyatanya akupun berubah

Aku berubah karena tengah mencari jati diriku
Namun aku tak ingin kau berubah

Kau Bundaku..
Maafkan aku..
Yang teramat sering mengecewakanmu..

Dari puterimu... :)

Nina Kurnia Dewi

Comments

Popular posts from this blog

Lihat dengan Hatimu Part 1

Lihat dengan Hatimu Part 1 By: Nina Kurnia Dewi
Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini. Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.                 “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.                 “Pagi juga Vin!” Balasnya sem…

Lihat dengan Hatimu Part 2

Lihat dengan Hatimu Part 2 By: Nina Kurnia Dewi
“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.                 “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.                 “Dinner,” jawab Via datar.                 “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.                 “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.                 “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.                 “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.                 “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.                 “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab. “Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya. “Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasar…

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu Part 6 By: Nina Kurnia Dewi                 “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.                 “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.                 “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.                 “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.                 “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.                 “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.                 “Tapi kejadian dua bu…