Sabtu, 11 Agustus 2012

Hanya Sebatas Harapan


Hanya Sebatas Harapan
By: Nina Kurnia Dewi


Senyum itu kembali mengembang di bibirku kala kutatap namanya yang terukir di ponselku. Ya, satu pesan kembali kuterima darinya. Tak ada yang istimewa dari isinya. Namun, pengirimnyalah yang selalu membuat hati ini berdebar tak karuan, pemuda itu.

Bukan, dia bukan kekasihku. Dia adalah kakakku. Walaupun tak ada darah serupa yang mengalir di tubuh kami. Baginya, aku adalah adiknya, dan bagiku, dia adalah kakakku. Tempat berbagi suka duka. Tempat berbagi air mata dan tawa.

Ingatanku kembali tertuju pada kala itu. Saat awal mula aku berkenalan dengannya. Senyum manisnya mengembang begitu mempesona kala tangan kokoh itu menjabat tanganku. Suaranya yang merdu menggema, menyebut namanya dan menanyakan namaku. Aku masih ingat bagaimana aku tersipu malu saat dia memujiku. Terlebih lagi, kala dia menanyakan nomor ponselku. Jiwaku seakan terbang ke angkasa, mengelilingi jagad raya. Kebahagiaanku membuncah.

Tidak, aku tidak menyukainya. Aku tidak memiliki perasaan istimewa kepadanya. Namun itu dulu. Dulu.. saat aku masih mampu mengendalikan dan menekan perasaan ini. Saat ranum sakura itu belum bemekaran layaknya detik ini.

Aku hanya menganggapnya sebagai kakak, pada awal mulanya. Awalnya kukira perasaan bahagia itu tumbuh karena aku mendapatkan seorang kakak yang selalu memperhatikanku, mengingat statusku sebagai anak tunggal. Perhatian dan kasih sayangnya selalu membuatku merasa nyaman kala berada di sisinya. Pun perhatian itu hanya diberikannya melalui pesan-pesan singkat yang tiap hari dikirimkannya kepadaku.

Kami memang jarang bertatap muka. Pemuda itu tinggal di luar kota untuk melanjutkan belajarnya di perguruan tinggi. Sementara aku yang masih belum rampung mengenyam bangku sekolah menengah atas, tinggal di kota ini. Tempat kelahiranku, begitu juga dengan dirinya.

Awalnya aku tak pernah percaya jika perasaan istimewa tumbuh karena telah terbiasa. Aku selalu menyangkal jika nenekku berkata witing tresno jalaran soko kulino. Karena bagiku, benih sakura itu tersemat pada pandangan pertama. Love at the first sight, begitulah orang barat menyebutnya.

Namun kini, aku dipaksa untuk mempercayai perkataan wanita tua itu, nenekku. Sakura itu telah tumbuh melebihi batasan yang kuinginkan. Aku kalah. Aku ceroboh. Dan aku membiarkan perasaan itu tumbuh subur di dasar hatiku. Ingin kutebang dan kupangkas habis. Tapi tak bisa, akar-akar kokohnya menancap tegap. Tak pernah menbiarkanku membuangnya.

Witing tresno jalaran soko kulino. Aku tidak munafik. Perlahan rasa itu tumbuh dalam hatiku. Membesitkan sejuta harapan dengan sebuah lara yang kejam dan menyakitkan. Pesan singkat darinya selalu membuncahkan kebahagiaanku. Kini aku memiliki perasaan lain pada dirinya. Hanya satu hal yang selalu membuatku bisu dan tak mampu berkata, ikatan yang melingkari kami tak lebih dari sekedar kakak-adik.

Hanya kakak-adik. Tak lebih dari itu. Aku menyadarinya. Sadar juga bila akar kokoh yang tertanam di dasar hatiku melukaiku perlahan. Menyisakan bekas kepedihan yang terpendam.

Semakin aku berharap, akarnya menyeruak kian dalam. Menyayat hati yang tak berdaya. Mengalirkan darah tak kasat mata. Dan meninggalkan bekas luka, tanpa penawarnya.

Entah mengapa aku membiarkan harapan itu semakin meninggi. Aku membiarkan hati ini memiliki rasa itu pada dirinya. Meski aku tahu dia takkan pernah mengetahuinya. Dan, ini hanya sebatas harapan yang tak akan menemui titik akhir. Hanya harapan yang kugantungkan pada dirinya yang tak pernah tahu isi hati ini yang sebenarnya.

***END***

41 komentar:

  1. lalu, apa salahnya jika rasa itu menyeruak dari dalam dada...

    ^^

    *kunjungan subuh

    BalasHapus
  2. Salahnya, ketika adik kakakan gak boleh punya perasaan macam2 *ngasal -_-

    makasih udah kunjung

    BalasHapus
  3. gue ngerasa.. ini frontal._.v

    BalasHapus
  4. frontal ya kak? -_- maaf deh {} tapi ini cuma fiksi kok -.-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya iya iya wkwk ._.

      Eh siap2 gue mau ngomen all postingan lo ya? :p

      Hapus
    2. dih penyakitnya kumat deh =="

      Hapus
    3. Hahaha gatau deh -_- biasa anak lagi galo wkwk

      Hapus
  5. keren blog nya :D
    http://roy87.blogspot.com/
    http://ubuntu-roy.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya makasih :D

      Oke nanti kunjung balik

      Hapus
  6. dan sepertinya blog ini akan sering aku kunjungin. blogmu sama temanya dgn tema blogku, FIKSI.

    btw, aku follow blogmu ya.... ini kunjungan balik sekalian minta difollow back. :)
    salam kenal ya...

    www.ajavasisme.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih :) sama2 pecinta fiksi nih hehe :D

      Oke dalam proses follback ini. Makasih udah follow :)
      Salam kenal juga

      Hapus
  7. waduh makasih fiksinya udah nyindir aku bangeeet :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha yang nulis aja kesindir dikit :P

      Hapus
  8. ternyata fiksi (--')
    gue kira beneran.

    bagus bahasanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yey ._. gue berhasil berarti :D

      Jelek ini bang -_-" tapi makasih :D

      Hapus
  9. "Witing tresno jalaran soko kulino"

    Aku suka kata-kata ini :D

    Harapan itu harus tinggi karena semakin tinggi harapan semkain tinggi motifasi kita untuk menggapainya (^,^)b

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita berharap setinggi-tingginya dan berusaha mewujudkannya (y)

      Hapus
  10. Berani berharap berani nangung resiko :P
    Gue kirain cerita lo sendiri ... Hhee
    Bagus kook ...
    Ciyuus ..:P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang kasih harapan juga harus tau diri :p
      Haha tapi cerita fiksi pun gak lepas dari pengalaman pribadi (y)
      Makasih

      Hapus
  11. ungkapan "Witing tresno jalaran soko kulino." ini ibarat kencan buta sih, ehh bakan kawin buka. orng gak kenal di suruh ngumpul bareng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kagak juga -_- perumampaan lo aja bang yg terlalu tinggi

      Hapus
  12. hmmm lo menurut gue ngak mungkin bisa jadi kakak ade antara orang yang ngak sedarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakak-adek antara orang yang gak sedarah itu modus untuk menghindari kata HTS *eh

      Hapus
  13. witing tresno jalaran soko kulino pepatah jawa itu sering banget mampir di kisah percintaan gue, ntah karena faktor apa gue sampai saat ini masih belum tahu :|
    dan satu hal yang perlu (atau gak perlu ya? ah perlu aja deh) diketahui biasanya nih biasanya dari kakak-adek bisa jadi sayang-sayangan gituuuh. ya semacam metamorfosa lah #halah hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kak dit keknya pengalaman banget ya :') sering tuh kakak-adekan terus modus-modusan :p

      Hapus
  14. kakak ade ketemu gede, huh inget apa gitu ya ?
    mulut bisa bilang ini kakak ade, tapi hati gabisa bohong kalo pengen lebih dari kakak ade *curhat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keinget kak heni sama R. H. wkwkwk :p
      Cie curhat cie~

      Hapus
  15. seperti biasa, tulisnanya sellau bikin gue tenang bacanya, ga menjemukan.

    awalnya juga gitu, sok main kakak adekan, lama-lama juga demen. Bukan maunya sih tapi perasaan yang ngomong.

    Ga mungkin cuma fiksi, pasti ada pengalaman pribadi, jadi sedalem ini nulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lo pengalaman ya kak? Kakak adekan gitu? Terus lo modus-modusin? *eh

      Kalo bukan fiksi, kenapa juga gue beri label fiction? Pengalamannya dari sekitar gue :D

      Hapus
  16. "kakak"
    "iya ada apa dik"
    "kakak udah makan"
    "udah kok?"
    "kalo jadian ama adik kan belum kak?"
    "........................e e e e e gimana ya......"

    kayaknya kamu musti buat dialog ini ke dia hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaperlu susah payah gitu bang. Cuma fiksi doang :p

      Hapus
  17. yakin nih cuma fiksi ?????
    entar sakit loh batin nya :P

    BalasHapus
  18. inikah night prince itu hhahaha kakak-adik doang, no more!

    BalasHapus
  19. Perasaan emg gk bsa dslahkan. Apalagi it cnta, hm luar biasa nin fiksi. Sya kira bneran td.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe :D tapi cinta juga kerap membuat kesalahan kak :D

      Hapus
  20. cinta itu anugrah dari Tuhan yang maha kuasa, tidak ada yg bisa menghalanginya

    BalasHapus

Back to Top