Sabtu, 15 Desember 2012

Sebuah Pengakuan


Dan dialah yang mengajariku hakikat ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ yang sebenarnya.


Entahlah sudah berapa lama aku tak meneteskan air mata. Sensasi sesaknya sedikit asing bagiku saat ini. Hatiku terpilin. Aku ingin menangis. Namun air mata ini seperti mengering. Menguap. Dan rasa sesak itu menyeruak semakin dalam. Menggores dinding sanubari. Mengukir lara. Mengunci segenap indra.

Aku bisa melihat dia tersenyum di sana. Dan air mata ini memberontak, ingin keluar dari pesembunyiannya. Namun lagi-lagi seonggok karang menghadang alirannya. Dan aku terdiam di sini.

Kuadu jemariku dengan tuts laptop. Mengadukan apa yang kurasakan. Aku tak peduli diksi atau majas apa pun yang kugunaan. Aku hanya ingin bercerita tentang apa yang kurasa. Tentang dia, seorang wanita. Biarlah ini menjadi rajutan kata tanpa makna. Biarlah ini menjadi sebuah cerita yang sarat akan kehampaan. Karena alunan kalimat ini tak akan pernah mampu melukiskan kesucian jiwanya.

Wanita itu berdiri tegak di sana. Dengan segenap keyakinan dan ketegaran. Dia wanita yang begitu kuat. Penuh rasa sabar. Ketangguhan mengalir di tiap keping darah merahnya, berhembus bersama tiap oksigen yang dia hela. Dia adalah wanita terhebat sepanjang masa yang pernah kutemui.

Kupandang diriku. Aku merasa berdiri di kegelapan tanpa pegangan. Sudahkah aku membuatnya sedikit saja merasa bahagia? Belum. Sudahkah aku membuatnya tersenyum bangga? Belum. Lalu berapa kalikah aku mengecewakannya? Tak terhitung.

Ingatanku berputar. Penggalan masa itu hadir. Aku ingat saat itu air mata ini mengalir tanpa dapat dibendung. Saat itu, seorang guru datang terlambat ke kelasku. Dan dia memutarkan sebuah video singkat. Aku tak mengingat apa pun selain penggal-penggal kalimat ini:

Tuhan menitipkan kita kepada seorang malaikat yang berhati mulia.
Malaikat itulah yang akan merawat kita.
Dia yang akan melindungi kita dari panas serta hujan.
Dia yang akan berdiri di samping kita, kala kita susah maupun senang.
Malaikat itulah yang akan mempertaruhkan jiwanya untuk kita.
Dia yang akan mengajari kita mengenal Tuhan.
Dan malaikat itu adalah “IBU”

Sekiranya begitulah yang kuingat. Dan air mata itu mengucur. Ada yang berkata, bila air mata hanyalah sebuah simbol. Simbol dari rasa bersalah. Dan rasa bersalah bersalah tumbuh dari sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan, dan akan kuralat menjadi beribu kesalahan. Aku tak mengelak. Kesalahanku pada wanita itu memang tak dapat terhitung. Entah berapa kali aku membuatnya kecewa, berapa kali aku membuatnya meneteskan air mata, tak pernah sekalipun aku menghitungnya.

Aku kembali mengingat, saat aku menghadiri sebuah seminar emotional & spiritual building. Aku datang bersama sepupu perempuanku yang merupakan salah seorang panitia acara itu. Sesi terakhir acara itu adalah pertemuan orang tua. Dan orang tuaku sudah mengatakan bahwa mereka tidak dapat hadir karena ibuku sedang sakit. Rasa kecewa itu datang dan mengendap di dasar hatiku. Aku masih mengingatnya. Kala itu aku sedang memeluk seorang teman baruku. Kulihat beberapa wanita dan pria paruh baya melangkah pelan menuju ruang seminar. Sorot mata mereka nampak sedang mencari sesuatu. Dan aku tahu apa yang sedang mereka cari. Mereka mencari permata hati mereka. Dan setelah mereka menemukannya, mereka memeluknya, menangis bersama anak-anak mereka.

Dan saat itulah kekecewaanku memudar, berganti binar-binar kebahagiaan serta keharuan. Ibuku hadir. Aku menangis di pelukannya. Sejenak dia berhenti memelukku. Pandangannya beralih pada dua orang gadis yang tengah berpelukan. Seperti yang kuduga, orang tua mereka tak dapat hadir. Lantas, satu hal yang membuatku iri namun juga bangga, ibuku memeluk mereka satu per satu. Mengalirkan kehangatan seorang ibu pada mereka, dan kembali memelukku.

Kasih sayangnya tak ternilai, tak akan terbalaskan oleh apa pun. Seperti yang dikatakannya pada suatu hari saat aku duduk di sampingnya, “Kasih sayang seorang ibu dan segala pengorbanannya, tak dapat dibayar oleh apa pun. Walaupun kamu berbakti kepadanya dari kamu lahir sampai ibu meninggal.”

Dia adalah wanita yang mengajariku sesuatu yang sangat berharga. Dia mengajariku makna kehidupan. Dan dialah yang mengajariku hakikat ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ yang sebenarnya. Dia tak pernah mengharapkan aku datang kepadanya, lantas meminta maaf bila aku melakukan sebuah kesalahan. Baginya, kata maaf tak berarti lebih bila tak diiringi dengan suatu perubahan. Kata maaf akan sia-sia bila kesalahan yang sama masih dilakukan. Dan dia, ibuku, akan lebih menghargai bila aku sadar dan berubah setelah melakukan kesalahan, daripada meminta maaf kepadanya dan hanya sekedar ‘maaf’.

Dia yang mengajariku hakikat kehidupan. Untuk apa kita hidup di dunia. Dia selalu berkata bila kehidupan dunia hanyalah sarana yang menentukan nasib kita kelak. Apakah Firdaus akan berpihak pada kita, atau justru Jahannam-lah yang menyambut kita dengan nyala apinya. Dan dia tak akan pernah tinggal diam bila aku meninggalkan kewajiban lima waktuku untuk bersujud kepada-Nya.

Dia yang selalu mengingatkanku untuk selalu berusaha dan menerima. Berusaha dengan segenap kemampuan kita, dan selanjutnya menerima apa pun yang Tuhan berikan pada kita. Dia tak pernah bosan mengingatkanku, bila hidup hari ini adalah persiapan untuk kehidupan esok hari. Apa pun yang kita lakukan hari ini harus memberi manfaat di esok hari.

Aku kembali termenung di sudut ruangan. Aku sadar, aku bukan replika dirinya semasa muda. Aku tak memiliki ketegaran dan kekuatan yang cukup hanya sekedar untuk menjadi imitasi dirinya. Aku selalu tersentuh bila mengingat semuanya. Semua yang dilakukannya, yang diraihnya hingga saat ini hanya untuk satu tujuan. Dia tak ingin anak-anaknya merasakan pahitnya hidup yang pernah dirasakannya dulu. Dan perlahan, aku mulai merasa tak pantas. Aku selalu mengecewakannya. Banyak harapan yang digantungkannya kepadaku dan masih janji yang kuberikan kepadanya. Bahkan nyatanya semua fasilitas yang diberikannya kepadaku kerap membuatku melupakan apa yang seharusnya aku lakukan.

Ada satu hari yang selalu kubenci namun juga kurindukan kehadirannya. Tanggal satu Syawal, hari kemengangan umat Islam. Sebuah hari yang memang selalu kutunggu, namun ada beberapa bagian yang tidak pernah kusukai. Aku selalu mengangis. Air mata itu selalu saja merobohkan pertahanan diriku setiap pagi seusai Shalat Ied. Tak pernah ada kata maaf yang terucap setiap aku sungkem kepadanya. Hanya kucuran air mata yang membasahi pipiku dan dia selalu paham apa maksudnya. Namun aku benci hal itu. Menangis di hadapan orang tua terutama Ibu. Karena aku tak pernah ingin terlihat lemah di hadapannya. Aku ingin mereka melihatku sebagai seorang pribadi yang tegar dan kuat.

Aku sadar, tak jarang aku mengeluhkan sikap ibu kepadaku. Dia adalah pribadi yang memegang teguh pendiriannya. Tak mudah memaksakan pendapat kepadanya, tak mudah untuk membuat dia menyetujui apa yang aku mau. Sosok pribadi yang protective. Namun dia juga seorang penyayang. Di balik larangannya, selalu ada maksud tersembunyi yang dilandasi oleh kekhawatiran. Dan naluri keibuannya tak pernah salah.

Aku menertawai diriku sendiri. Dulu, saat pemikiranku masih dangkal. Saat rasa iri atas sikap ibu yang kadang membedakan antara aku dan adikku kubiarkan menguasai sanubariku, kerap aku menagis sendu di kamar hanya karena sikap ibu yang kurasakan sebagai kesalahan. Kurasa akulah yang benar. Dulu aku pasti merasa tertekan. Aku merutuki sikap ibu seakan-akan aku bisa hidup tanpa dia. Dan justru akulah yang melakukan kesalahan besar.

 Aku pernah membaca sebuah buku, dan ada potongan kalimat yang mengusik hatiku. Dalam dialog antar tokohnya, si Penulis berhasil membuat rasa sesak bersarang di hatiku. Dan inilah yang kubaca:


                   “Nilai kasih sayang yang mengalir dalam semua tindakannya tidak bisa ditandingi dengan apa pun. Nilai kehangatan yang tersusun dari setiap gerakannya tidak dapat ditukar dengan apa pun. Dan, nilai keikhlasan yang melekat dalam seluruh sentuhannya adalah harga termahal yang tak sanggup dibeli oleh apa pun. Maka, Tuhan meletakkan surga di telapak kakinya sebagai gambaran betapa luar biasa harga seorang perempuan yang melahirkan kita.”1

                   “..... Terlepas dari apa yang pernah mereka lakukan, mereka adalah manusia yang telah melahirkan, merawat, dan menyayangimu. Mereka telah mengawanimu dengan cinta. Dan cinta mereka tidak bisa ditukar dengan apapun bahkan dengan kesalahan mereka.”2


Benih-benih penyesalan mulai bermekaran di hatiku. Menyesal karena aku jarang sekali bersyukur untuk satu karunia Tuhan yang begitu sempurna. Tuhan telah mengirimku pada sosok malaikat tanpa sayap yang menyayangiku dengan jalannya yang sempurna.

Dan tulisan ini hanya mewakili sepenggal perasaan sesal. Aku tak mampu mengatakan lebih banyak lagi tentang ibu, karena alunan kata terlalu sederhana untuk mengungkap semua.
             

Aku menyayangimu, Ibu. Dan semoga Tuhan memberimu kebahagiaan tanpa batasan waktu. –Nina Kurnia Dewi-

_______
1 Zhaenal Fanani, Bulan di Langit Athena (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), hlm. 501.
2 Ibid. hlm. 502.
Wisuda SMP :') *kebayanya yang buat ibu*



81 komentar:

  1. Tentang Ibu,, hmmmm, mari kita berdoa untuk semua Ibu di dunia,.

    BalasHapus
  2. oke, gua udah baca sampe tuntas buat artikel ini.. elu enggak jauh sama gua, gua juga pernah ngerasa "ngedumel" kalo ibu lagi lebih mentingin adik gua.
    ibu memang is the best, dari mulai masakannya sampe kasih sayangnya (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah baca :D ya emang begitulah anak. Hanya iri tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi :)
      Ibu = wanita terhebat sepanjang masa.

      Hapus
    2. iyap... namanya juga anak muda, pasti yg jelek dari orang lain yg keliatan

      Hapus
  3. serius dalem banget tulisannya.
    keinget mama, yang malem ini sedang tak dirumah.

    terimakasih sudah mengajakku berfikir lewat lantunan kata-kata ini. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini hayalah sebuah tulisan yang sarat akan kehampaan :')

      Sama-sama kakak :D mari kita bahagiakan ibu *apa pun sebutannya* kita

      Hapus
  4. Ibu memang malaikat yang paling deket ama kita... ;')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jgn pake sebutan dia nin , ga sopan -,

      Hapus
    2. Sopan atau tidak bukan bergantung pada sebutan apa yang kita berikan padanya. Tapi cara kita memperlakukan dan menghormatinya. Percuma kalau kita menyebut 'beliau' tapi kita tidak pernah memulyakannya.

      Hapus
    3. Iya tapi dengan kita menyebut namanya saja udah menandakan bahwa kita menghormatinya.

      Oke contoh :
      #beda topik di luar ibu.

      *diswalayan versi gak sopan*
      kasir : semua belanjanya 158500 ! (tanpa sebutan panggilan)

      *diswalayan versi sopan*
      kasir : semuanya 158500 ya bu, atau paak atau maas , ada lagi yg bisa saya bantu?

      Beda kan?

      Hapus
    4. Iya sih iya. Tapi gue rasa kalo panggil ibu dengan beliau, gue ngerasa kayak ada jarak. Jadi, yang penting gak nyeleweng dari kesopanan, it's okay :)

      Hapus
  5. Ih, masa sampe merinding aku bacanya (~.~")
    bikin inget beberapa hal.....
    Yah, setuju banget deh pokoknya :D suka iri gak jelas ke adek X))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai orang normal, iri adalah hal yang wajar :D

      Hapus
  6. sebuah post penggugah hati yang ditulis berdasarkan masalah klasik bagi para manusia yang ditakdirkan untuk tidak menjadi anak tunggal... tapi ibu selalu adil, meskipun terkadang kita merasa iri kepada saudara :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan saya bahagia karena saya bukan anak tunggal :')
      Ibu tidak pernah tidak adil :)

      Hapus
  7. entah kenapa pas gue baca bagian ini "Sudahkah aku membuatnya tersenyum bangga? Belum. Lalu berapa kalikah aku mengecewakannya? Tak terhitung" gue langsung merinding. Gue iya-iya ini, kalo gue juga kayak gitu -___-

    BalasHapus
  8. pernah suatu ketika saya membaca tulisan : kini ibu telah tiada.. seadainya ia masih ada, maka aku masih ingin dimarahi hingga berjam - jam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan saya pernah mengalami hal serupa :'( saat ibu sakit, dan saya merindukan omelannya

      Hapus
  9. merinding dan terharu bacanya.. :'(

    saya ampe nangis beneran lah..
    di warnet pula.. T,T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sensasi sesaknya berasa banget waktu nulis :')

      Hapus
  10. ibu , punchline penggugah hati yang sangat sangat 'ngena' .
    Ibu , maafkan aku :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata maaf harus diiringi sebuah perubahan :D

      Hapus
  11. Skrg gk prlu ge pnysalan, skrg yg ad kta brusha mmbuatnya bhgia dan mndoakan yg trbaik utknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya :') kata sesal tak mengubah segalanya

      Hapus
  12. wah terharu saya, apalagi qutoe nya mbak nina kurnia itu, ;)

    BalasHapus
  13. jadi pengen balik pulang :p
    ahihihihihi

    BalasHapus
  14. you're such a good daughter :)

    sudah dikasi liat ke ibunya, tulisan ini? she's gonna smile and cry at the same time :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tidak sebaik itu.
      Gamau kasih liat ke ibu :X

      Hapus
  15. mirip banget mbak sama ibunyaa :)

    BalasHapus
  16. dek ninaa fotonya ajiib banget, mirip ibumu :D

    BalasHapus
  17. Meh nangis aku mocone ;( akeh intropeksi mbarsi aku teko artikelmu :( ya walaupun kadang ada sikap ibu yang nggak kita suka tp itu demi kebaikan kita. Setiap ibu punya cara tersendiri bagaimana menyayangi anaknya :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ojo nangis kek :)) makanya, jangan membeda-bedakan ibu kita dengan ibu orang lain :D

      Hapus
  18. hmmmmm ibu ya memang gitu lah, kadang sayangnya diwujudkan sesuatu yg kita gak suka, kayak obat meski gak enak kan tetep buat kita sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya begitulah ibu :) ibu itu obat termanjur dari segala obat.

      Hapus
    2. kalo suntik aja gak pakek obat apa donk hehe

      Hapus
  19. pulang dari blog ini gw langsung meluk mama a :')

    BalasHapus
  20. wah mantap ceritanya..
    jadi terharu..:'(

    BalasHapus
  21. emak eh maksudnya mama, mungkin pernah diriku merasa di duakan dengan adikku namun aku sadar mungkin karena dahulu aku sendiri sekarang sudah ada saudara kandung yang baru di duakan mungkin tidak hanya kasih sayang yang terbagi saja

    BalasHapus
  22. Ahh , punchline ibu lagi . saya selalu terharu :((((

    BalasHapus
  23. Nanya , nih ya .
    templatenya bikin sendiri ya ?

    gila, kebawa suasana nih breww, mantap
    nih ,cerita bikin sendiri ?

    ente , ranjer pink juga yaa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini template editan sendiri bang :)

      Makasih :') iyalah ceritanya bikin sendiri. Gue bukan plagiat kali bang -_-

      Gue bukan ranger pink, tapi pink itu warna gue.

      Hapus
  24. Sumpah, gue terenyuh baca postingan lo. DIksi yang lo gunakan bisa menembus sanubari gue. GUe bukan lebay.

    Gue juga jarang sukuri semua kebaikan yg pernah berikan Ibu ke gue, mlah sepertoi yg lo bilang, kesalahan yg gue buat tak dapat dihitung :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang makasih :')

      Dan mari kita ubah itu semua dengan membahagiakan ibu kita :)

      Hapus
  25. dalem banget nulisnya neng :')

    BalasHapus
  26. Kalo lo yg nulis pasti kata2 nya selalu asik ..
    Gaul deh ..

    Kali ini, jauh lebih keren karena lo nulis tentang ibu...
    Saat2 workshop itu kaya filem banget yah ..
    Bilang ga dateng terakhirannya dateng .. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bang :))

      Iya, gue juga gak nyangka bakalan kayak pilem gitu :')

      Hapus
  27. Saya terharu :') itu kebaya buatan ibu kamu sendiri wah hebat :-bd

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Ibuku kan konveksi kebaya hehe :)

      Hapus
  28. Sempet wah melihat semua koment dibales, tapi ternyata.... but doesn't matter cos i am still postive thinking

    Kurang satu lagi ya mbak malaikatnya, cos kita punya sepasang. Suami...

    @rizalarable

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua komentar insyaallah dibales kok bang :))

      Saya belom punya suami -_- punyanya ayah

      Hapus
  29. wajar kok kalo kadang ngedumel, asal jangan sering2 aja :)

    BalasHapus
  30. salam kenal folbek ya.., makasih *smile

    BalasHapus
  31. cantik banget kebayanya Nin..
    *eh orangnya juga pastinya :D

    BalasHapus
  32. begitu sangat terharu membacanya

    BalasHapus

Back to Top