Selasa, 07 Agustus 2012

Segurat Senyum

Segurat Senyum
By: Nina Kurnia Dewi



"Dewi!!" seru Gita yang tengah duduk di sampingku.

"Apa?" tanyaku datar.

"Kak Rio, Wi!! Kak Rio! Dia senyum ke elo!" jawabnya lantang.

Segera kubekap mulutnya. Hal bodoh apa yang tengah terbesit di otanknya hingga berteriak selantang itu di hadapan umum!

"Dia lagi ada di gazebo depan kita!" bisikku tegas.

Gadis berkacamata itu hanya tersenyum tanpa arti. Kembali kufokoskan diriku pada sebuah novel yang berada  di tanaganku.

"Sumpah Wi! Dari tadi dia mandangin lo terus senyum-senyum gitu!" katanya ikut berbisik.

"Apa sih!"

"Liat aja sendiri!"

"Ogah!"

"Serah lo!" kata Gita membungkam mulutku.

Aku mendesah pelan. Kucoba untuk tidak menghiraukan ucapannya.

***

Jantungku seakan kehilangan denyutnya. Otot-ototnya serasa mengeras. Kaku. Tak mampu memompa sel-sel darah. Paru-paruku juga merasakan hal yang sama. Tak lagi bekerja. Nafasku tercekat di tenggorokan. Oh, ayolah! Haruskah aku mati seperti ini? Kala mata elang itu menatap lekat dua bola mataku?

Deg!! Nyatakah ini Tuhan? Derap langkah itu makin mendekatiku. Aku diam. Bulir-bulir keringat merembes keluar melalui pori-poriku. Dekat, makin mendekat. Ingin rasanya kutarik bibirku, lantas kulambaikan tanganku dan menyapanya. Tapi semua terasa kaku.

"Wi, lo nggak papa kan?" tanya seorang gadis yang berhasil menyadarkanku.

"Eh, Git? Iya nggak papa," jawabku.

Seketika, kuputar tubuhku, mencari sosok rupawan yang melayangkan senyumnya kepadaku.

"Nyari siapa Wi?" tanya Gita kemudian.

"Tadi Kak Rio lewat di depan gue kan?"

"Iya. Kenapa?"

"Terus sekarang dia dimana? Masa udah ngilang?"

"Masuk ke kelasnya Kak Yuna. Kenapa lo nyariin dia?"

"Nggak papa. Lupakan!" jawabku seraya berbalik dan meninggalkanya.

"Eh tunggu Wi! Lo mau kemana? Main nylonong aja!" hardik Gita seraya menarik lengan kiriku.

"Ke toilet! Udah nggak tahan!"

Kulepaskan paksa cengkraman lembut itu. Aku segera berlari menjauhi Gita. Tidak, bukan Gita. Namun keramaian. Langkah kakiku tertuju pada sebuah gazebo di belakang sekolah. Aku tak ingin seorangpun melihat air mataku. Menyaksikan kerapuhan jiwaku.

Tak kupedulikan isakanku yang makin menjadi. Tak akan ada yang mendengarnya. Tempat ini terlalu sepi. Sangan jarang ada manusia yang berkenan memijakka kakinya di sini.

"Kenapa nangis? Lo sakit?" sebuah suara yang tak asing bagiku bergema nyaring.

Dengan sedikit keraguan, kuputar kepalaku. Mencari pemilik suara itu.

"Bisa berhenti bikin gue khawatir gak?" tanyanya tajam.

Aku ternganga mendengar pertanyaannya.

"Kemaren lusa, hampir maghrib lo baru pulang! Kemaren muka lo kusut banget! Sekarang lo nangis! Gue heran! Semenjak gue lihat lo masuk di SMA ini, gue nggak pernah lihat lo tersenyum dari hati! Padahal menurut gue, senyum lo itu seindah bias tujuh warna pelangi," katanya panjang lebar. Masih bernada tajam.

Aku hanya diam. Otakku berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

"Dewi!" katanya lembut menyebut namaku.

"Gi... gimana Kak Rio tahu itu semua?" tanyaku histeris.

Air mata ini mengalir semakin deras. Aku tak peduli.

"Dewi Maharani, aku mengenalmu lebih dari yang kamu tahu," suaranya mengalir lembut.

Jemari kokohnya mengusap tiap bulir air mata yang mengalir di pipiku.

"Bagaimana bisa?" tanyaku sangsi.

"Karena aku pengagum rahasiamu. Sama seperti dirimu bukan? Tuhan menciptakan kita untuk saling mengagumi. Tuhan merajut rasa itu di hati kita. Dan aku percaya, Tuhan ingin kita bersama," kataya seraya menggenggam erat tanganku.

Aku tak sanggup berkata. Segurat senyum samar terbit di bibirku.

***END***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top