Minggu, 01 Juli 2012

Bertahan


Bertahan
By: Nina Kurnia Dewi


Bertahan...
Berdiri di kesunyian
Membesitkan luka dan harapan

**

Ini tentangnya dan masih tentang dirinya. Tentang aku dan dia. Tentang rasa indah yang samar-samar tumbuh lebih dari yang kumau. Rasa yang menikam nurani. Melukai lubuk hati. Bersemanyam di dasar jiwa. Membesitkan sejuta harapan dan lara. Teramat menyesakkan dada.

Aku tak pernah tahu alasanku bertahan. Mempertahankan rasa ini. Tetap bertahan di balik hatinya yang beku. Yang tak pernah tahu bahwasanya aku menunggu dirinya dalam diamku. Dalam sepi aku memujanya. Tanpa kata, namun menggetarkan jiwa.

Kusebut namanya dalam doa. Tak pernah lupa, selalu kutitipkan pesan tatkala aku bercengkrama dengan bintang-bintang. Bukan pesan yang puitis atau romantis. Hanya lantunan kata yang realistis.

Aku bukan penyair yang mampu merangkai kata menjadi puisi indah untuk dirinya. Bukan cerpenis yang handal mengolah kata-kata menjadi sebuah cerita. Bukan pula pianis yang mampu menciptakan melodi-melodi sempurna untuk dia dengar. Aku adalah aku. Seorang gadis biasa yang tak pernah sempurna. Tak punya apa-apa. Yang kupunya hanya segenggam keyakinan untuk bertahan diatas luka yang dia goreskan.

Tak pernah kupedulikan dia mengabaikanku. Aku tetap mencintainya tanpa sebab. Biarpun dia tak pernah sekalipun membalasnya, aku akan tetap tersenyum. Karena di singgasana-Nya, Tuhan selalu mencintaiku tanpa syarat.

***

Bertahan...
Berdiri seorang diri
Di tengah gelapnya malam dan teriknya siang
Tak peduli sekeras apapun angin berhembus
Sekuat apapun ombak menerjang

**

Kutatap sosok sawo matang itu dari tempatku. Wajahnya yang rupawan selalu membuatku tak kuasa mengalihkan pandangan darinya. Alisnya yang tebal, senyumnya yang menawan, membiusku. Membuai jiwaku dan mengajaknya terbang. Lantas menghempaskannya di atas tebing terjal. Membiarkan luka tanpa darah ini terbuka, dihempas angin dan ombak. Membiarkan jiwaku merasakan lara tanpa obat penawar.

Aku mendesah pelan. Terlalu lama kuamati sosok rupawan itu. Segera kualihkan pandanganku darinya. Aku tak pernah ingin dia tahu apa yang berkecamuk di hatiku karena dirinya. Bagaimana rasa ini tumbuh menerjang batas normal. Menyiksa jiwaku. Membelenggu batinku. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum dan bahagia, walau senyuman itu bukan tercipta karena aku.

“Eh permisi Dek, bisa tolong difotoin gak?” suara lembut itu mengalun tiba-tiba.

Aku tersentak saat mengetahui pemiliknya. Seorang gadis berparas cantik, primadona Nusantara High School yang tinggal di XII IPA 3. Jemarinya yang lentik menyodorkan sebuah Black Berry kepadaku. Hatiku berdebar tak karuan. Bukan karena statusnya sebgai kakak kelasku. Bukan pula karena label primadona yang melekat padanya. Namun pemuda rupawan yang berada disampingnya. Sosok yang sedang mengulun senyum sempurna yang tertangkap lensa kamera handphone di tanganku. Pemuda penghuni XII IPA 2 yang selama ini menyita separuh hatiku. Mario Aditya.

Aku ikut tersenyum melihat guratan senyum di bibir pemuda itu. Walau senyumku bukan senyum bahagia. Hanya segurat senyum palsu yang menyesakkan dada. Yang mampu mengupas untaian luka.

“Makasih banyak,” kata gadis bernama Dewi itu seraya tersenyum manis.

Aku hanya mengangguk kecil.

“Aku balik ke kelas dulu Kak,” kataku sembari berlalu dari hadapannya.

Gadis itu mengangguk mengiyakan.

“Ify!!”

Suara baritone itu terdengar sangat jelas. Menembus gendang telingaku. Mengalir lewat desiran darahku. Mendebarkan hati terdalamku. Tanpa kata, aku berbalik. Manik mataku berusaha menatap mata elang pemilik suara itu. Namun tertahan. Sinar matanya teramat menyilaukan.

“Iya Kak?” kataku ragu.

“Kamu Alyssa Saufika kelas XI IPA 1 kan?”

“Iya Kak,” jawabku linglung.

Bagaimana mungkin dia mengetahui hal itu sedang teramat jarang orang yang tahu nama asliku?

“Oh iya. Makasih,”

“Sama-sama,” kataku hampir bergumam.

Segera kuputar tubuhku. Kuadu lagi sol sepatuku dengan lantai marmer, meninggalkan sosok yang mampu mendebarkan hatiku.

***

Aku berjalan gontai menyusuri trotoar. Satu kilometer lagi, aku sampai di istana kecilku. Tempat bernaungku bersama keluarga tercintaku. Sang surya termat bersemangat mengalirkan hawa panas ke bumi siang ini. Peluhku mengucur deras. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin segera tiba di rumah.

“Ify?” pekik sebuah suara tiba-tiba.

Aku tersentak. Kuhentikan langkahku. Manik mataku mengikuti desiran angin yang membawa suara itu.

“Kak Rio?” ucapku kaget.

Pemuda itu tersenyum tipis.

“Kok jalan kaki?”

“Iya Kak. Gak ada jemputan,”

“Masih jauh kan rumah kamu?”

“Iya..” lirihku.

Sosok sawo matang itu kembali memamerkan senyumnya.

“Ayo aku antar,” katanya yang cukup membuatku tersentak.

“Tapi...”

“Udah ayo cepetan,” katanya otoriter seraya memberi isyarat kepadaku untuk menaiki Ninja putihnya.

Aku hanya diam. Dia sungguh membuatku berdebar-debar.

***

Siang berganti malam. Bulan berganti wajah. Aku mengenalnya. Dia mengenalku. Hanya sebatas teman. Namun ada kata ‘istimewa’ yang melingkarinya. Atau mungkin ‘teramat istimewa’ bagiku.

Ditemani cahaya rembulan dan kerlip bintang. Aku bertukar pesan singkat dengan dirinya. Aku tahu Tuhan punya rencana. Dan rencana itu akan indah pada waktunya.

Aku tersenyum. Jemari mengetikkan deretan alfabet dengan rapi. Menekan tombol send, menunggu balasan darinya. Membalasnya lagi. Dan terus berputar. Tak pernah sedikitpun aku merasa bosan.

From: Mario Aditya

Good night dear. Udah malam. Tidur duluan sayang :*

Aku tercekat saat membacanya. Nafasku tertahan di tenggorokan. Bulir-bulir keringat dingin merembes lewat pori-pori telapak tangan dan kakiku. Aku terdiam. Ritme itu kembali terdengar. Debaran segumpal daging kecil yang bernama hati. Selalu seperti ini. Ini tentang dirinya.

***

Bertahan...
Menepis luka
Menyembunyikan lara
Menahan air mata

**

“Eh Fy, denger-denger nih, Kak Dewi taken sama Kak Rio lho,” suara lembut teman sebangkuku itu nyaris memekakkan telingaku.

Aku terdiam beberapa saat. Membiarkan otakku mencerna informasi yang baru saja didapatkannya.

“Oh, kapan?” tanyaku santai. Berusaha menepis luka yang perlahan mulai terbuka.

I don’t know exactly. Maybe yesterday,” jawabnya sadar.

Gadis bernama Sivia itu tak pernah tahu dan tak akan kubiarkan mengetahui perasaanku pada Tuan Mario. Cukuplah Tuhan, aku, dan bintang malam yang mengetahuinya.

“Baguslah. Kan serasi,” timpalku.

“Wah.. Kak Dewi beruntung banget ya,”

I think so,” kuulun senyum paksa.

Aku tahu, batinku tersiksa. Hatiku teriris. Jiwaku kehilangan kendali. Namun sekalipun, aku tak akan pernah menumpahkan air mata ini di depan siapapun. Cukup Tuhan tempatku mengadu. Cukup bintang yang melihat tangis kepedihanku.

“Tapi entahlah Fy. Gue juga gatau pasti. Cuma kabar yang beredar kayak gitu,” kata Sivia tiba-tiba.

 Segera aku menatapnya.

“Bukan urusan kita lagi Vi. Gak usah dipikirin,” tukasku segera.

Sivia bungkam. Nampaknya gadis itu heran mendapati perubahan raut wajahku.

“Yadeh. Lo bener,”

***


Penghujung Juni tanpa bintang, 2012


Bintang, entah kenapa kau juga ikut menghilang saat banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tentang betapa bahagianya aku saat dirinya mengetahui nama asliku, saat dia tersenyum padaku. Saat dia mengantarku pulang.

Bintang, tahukah kau? Dia membuatku berdebar-debar. Saat jarak antara aku dengan dirinya hanya tinggal beberapa senti saja? Tahukah kau betapa bahagianya aku?

Bintang? Apakah dia tahu aku selalu mengabadiakn momen istimewaku dengannya? Tahukah dia jika aku tak pernah menghapus pesan singkat darinya? Bintang!!!

Bintang? Tahukah dia betapa hancur hati ini saat mengetahui kenyataan pahit itu? Saat tahu orang lain memilikinya lebih dahulu!! Mengapa rasa ini harus ada bintang? Mengapa? Jawab aku bintang!!

***

Bertahan...
Tetap tegar
Tetap percaya
Keajaiban Tuhan akan datang

**

“Ify!!” panggil suara itu.

Aku tersenyum simpul, seperti biasa.

“Mau kasih peje Kak?” godaku kemudian.

Nampak Kak Rio terbelalak kaget.

“Peje?”

“Sama Kak Dewi kan?”

“Fy.. kok...” kalimatnya terpotong.

Aku tahu lanjutannya.

“Semua udah tau kok. Gak gentle nih main backstreet. Gak ngomong juga. Payah ah Kak,” kataku seraya berusaha mengulun senyuman.

Dua ujung bibirku terangkat perlahan. Namun, tombak itu menikam hatiku kian dalam. Meninggalkan luka tanpa darah.

“Ya... maaf Fy,” timpalnya kemudian.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Fy, cerpen kamu bagus,” katanya samar.

Aku menoleh dan menatapnya lekat.

“Ya makasih udah mau baca,”

“Buat siapa?” tanyanya sigap.

Aku terdiam beberapa detik. Kuhela nafas panjang lantas kubuka bibirku.

“Cerpen “Bertahan” kan? Itu untuk seorang teman ‘istimewa’ yang kukagumi dalam diam. Yang namanya selalu kusebut saat tiap aku bersujud pada Tuhan. Yang selalu kubicarakan dengan bintang malam,” jawabku tanpa memandangnya.

“Siapa Fy?”

“Kakak nggak perlu tahu,”

“Tapi dia harus tahu,”

“Kalau dia punya hati dan perasaan. Kalau dia manusia, nggak perlu aku ungkapinpun, dia tahu siapa....” lirihku menahan air mata.

Aku berani bertaruh jika wajahku sudah merah padam. Hatiku terasa sesak menahan rinai kepedihan ini.

“Fy....”

“Aku ke kelas dulu kak. Langgeng ya sama Kak Dewi,” kataku tanpa mempedulikannya.

Tiap langkahku terasa begitu berat. Seberat hatiku berusaha melupakannya. Seberat mencabut tombak lara itu dari lubuk hatiku. Tapi tidak!! Aku tak akan pernah melupakannya. Aku akan bertahan di sini. Di tempatku. Dalam diam dan sepi.

***

Bertahan...
Berdiri sendiri
Menunggu kepastian
Mengulun senyuman
Bersandar pada kepercayaan
Percaya pada keajaiban
Yang indah pada waktunya
Pasti akan datang

**

***END***

6 komentar:

  1. BAGUS banget ceritanya :) wahh...follback aku ya sai :) thx. aku dah follback kamu

    BalasHapus
  2. sama seperti dongengku :')

    BalasHapus
  3. abith: hehe :') thx for visit ya

    BalasHapus
  4. 'tombak itu menikam hatiku kian dalam' rasanya jleb banget nin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha kan gue suka banget sama jleb momen :p wkwk

      Hapus

Back to Top