Selasa, 17 Juli 2012

Dalam Diam

Dalam Diam
By: Nina Kurnia Dewi



Aku tersenyum samar melihat senyum yang mengembang di bibir pemuda itu. Senyuman sempurna yang begitu mempesona. Membuncahkan kebahagiaan tiada tara, meski bukan aku yang menciptanya. Tentulah! Memang siapa aku hingga mampu mencipta senyum di bibirnya? Sedang dia tak pernah mengenalku.

Jiwaku tergelitik saat terbesit kata mengenal di otakku. Bagaimana bisa? Menatapku saja begitu jarang dilakukannya. Jika pun dia menatapku, bukan tak mungkin hanya sebuah ketidaksengajaan. Sekali lagi, aku tersenyum. Bukan senyuman bahagia melainkan senyuman dengan sejuta luka.

"Dewi?" alunan suara itu membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh. Kudapati seorang gadis berkaca mata berdiri di hadapanku.

"Ya?"

"Temenin ke perpus," rengeknya seperti biasa.

"Yelah! Gue lagi mager Nona Gita!"

Gadis itu mengernyit. Manik matanya mengikuti sorot mataku tertuju.

"Bukan mager. Cuma lagi keasyikan mandangin kakak kelas XII," godanya kemudian.

Aku hanya menatapnya lekat.

"Udah deh! Temenin gue!" katanya otoriter seraya menarik lenganku.

Aku tak bisa menolak.

***

Ritme itu kembali terdengar. Makin jelas dan meyakinkan. Tahun kedua aku melangkahkan kaki di Sekolah Menengah Atas ini, tak ada hal yang mampu menarik perhatianku. Kecuali satu, pemuda itu, Rio Nathan Aditya. Pemuda rupawan dengan tubuh atletisnya yang bermarkas di XII IPA 3.

Aku mengenalnya sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kala itu, aku duduk di kelas VII. Dan entah apa rencana Tuhan, Dia mengrahkan sorot mataku kepada seorang siswa baru penghuni kelas VIII. Sorot mataku bertemu dengan mata elangnya. Dan perlahan, ritme itu mengalun lembut, tanpa diiringi untaian kata.

Pengecut. Memang, aku pengecut. Sekali pun aku tak pernah mengungkapkan perasaanku. Biar rasa ini tersimpan rapi dan rapat di dasar hatiku. Cukuplah aku memuji dan mengaguminya dalam diam. Aku rela menunggu, hingga dia menyadari pesan rinduku tersimpan di tiap bulir oksigen yang merasuk di keping-keping darah merahnya. Hingga cerita yang dituliskan Tuhan sampai kepada titik bahagia.

***

Diam...
Menunggu...
Untuk hal yang indah pada waktunya.

**

Aku tak pernah takut bermimpi, sekalipun terlalu tinggi. Dan andai suatu saat aku terjatuh, maka aku akan berdiri kembali, dan meniti tangga ke puncak mimpi itu lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga suatu hari, mimpi itu tak lagi menjadi mimpi.

Layaknya hari ini. Pemuda yang kukagumi bercengkrama mesra dengan seorang gadis. Entahlah. Kekasihnya mungkin, atau hanya sekedar teman. Atau bahkan memang hanya "teman". Aku tersenyum getir. Satu persatu harapanku memudar. Harapan untuk bersanding dengan pemuda itu, harapan untuk bisa bercengkrama dengannya, dan harapan-harapan lain yang begitu lama kurajut. Aku juga ingin bersamanya.

Sakit? Sudah pasti. Tak ada satupun manusia yang tak merasakan sakit kala terjatuh. Mrintih dalam diam, satu perkara bodoh yang kerap kulakukan. Aku memang bodoh. Dan mungkin teramat bodoh. Namun keyakinan dalam hatiku tertancap tegap. Hatiku ingin mempertahankannya. Rasa itu. Biarlah ia bersemi. Dan aku akan menunggu dia memetik ranumnya. Tanpa kata. Dalam diam, dalam kelam. Hingga Tuhan menyalakan lentera kebahagiaan.

***END***

Serpihan Cahaya Bintang>>

Rabu, 11 Juli 2012

Pengagum Rahasia


Pengagum Rahasia
By: Nina Kurnia Dewi



Tiga puluh menit, dan aku masih saja duduk terpaku di sini, gazebo taman belakang sekolah. Seiring berhembusnya angin sore, sosok pemuda rupawan itu kembali hadir memenuhi seluruh rongga kepalaku. Menyisakan setetes kepedihan yang begitu kelam. Teramat menyesakkan.

"Wi!!" suara itu mengalun begitu saja. Membuyarkan anganku tentangnya.

"Eh, Gita? Ada apa?" tanyaku datar.

Gadis manis berkacamata itu duduk tepat di sampingku.

"Harusnya gue yang tanya ngapain lo di sini? Sendirian lagi!" katanya ketus.

Aku tersenyum tipis.

"Gak papa kok. Belom niat pulang aja,"

"Hah? Lo gila Wi? Udah jam lima ini Wi!!" serunya seraya menunjuk sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Aku tak berkata. Hanya menanggapi celoteh gadis itu dengan senyuman samar.

"Lo mikirin dia lagi kan?"

"Dia siapa?" aku balik bertanya.

"Gak usah menafik Nona Dewi! Gue bukan bayi yang bisa lo tipu!" katanya sedikit membentak.

Aku diam. Hatiku membenarkan ucapan gadis manis yang sudah menjadi sahabatku sejak lima tahun lalu itu.

"Lo pengecut Wi!"

"Bukan urusan lo!"

"Jelas urusan gue! Lo pikir gue tahan melihat sahabat gue nahan rasa sakit gara-gara dia nggak mau ngugkapin apa yang ada di hatinya. Gara-gara dia cuma jadi pengagum rahasia di balik topeng dan nggak pernah mau menunjukkan wujud aslinya!" kata Gita panjang lebar.

Aku hanya diam. Tak menanggapi perkataannya.

"Dewi! Lo nggak bisa kayak gini terus," katanya memohon.

Hanya kutundukkan kepalaku. Memandangi ujung sepatuku yang nampak kotor.

"Dia harus tau Wi! Lo harus bilang ke dia!" ujar gita menggebu-gebu.

"Gue gak bisa!" sergahku cepat.

"Kenapa?"

"Menyalahi kodrat!"

"Nggak Wi! Ini wajar!"

"Wajar buat lo!"

"Gue nggak mau kehilangan lo Wi! Kehilangan senyum lo yang selalu bisa bikin gue bahagia," ratap Gita.

Aku terenyuh.

"Maaf Git," balasku singkat.

"Lo harus berani!"

"Itu kelemahan gue,"

"Kalo gitu lo harus buang rasa itu!"

"Yang itu juga," kataku seraya menatap mata sipitnya.

"Gita! Biarin gue mengikuti alur yang ditulis Tuhan. Gue percaya takdir Git. Gue mohon. Ini yang gue pilih. Maaf kalo gue ngecewain lo. Gue balik dulu," kataku mendiamkannya seraya beranjak dari hadapan gadis itu.

Kutinggalkan dia begitu saja di tempatnya. Tiap langkahku terasa begitu berat. Aku terus berjalan dalam diam, mengikuti alur cerita Tuhan.

***

Diam...
Tak berkata
Pasrah...
Menerima...
Tiap alur cerita yang dituliskan Tuhan

**

Rasa sesak mendiamkanku di sudut ruang pribadiku. Aku mendesah pelan. Selalu seperti ini tiap bayangan pemuda itu hadir. Lima tahun, sejak kali pertama aku menatap mata elangnya, hingga detik ini, aku masih menjadi pengagum rahasianya. Sungguh miris.

Aku membenarkan perkataan Gita kemarin sore. Aku memang pengecut. Aku memang hanya mampu mengaguminya di balik topeng. Mencuri tiap informasi tentangnya. Menyebut namanya dalam sujudku tiap lima waktu, tanpa pernah sekalipun dia mengetahuinya. Namun biarlah. Aku bahagia melakukannya. Meski tak hanya setetes air mata yang kujatuhkan.

***END***

Serpihan Cahaya Bintang>>

Rabu, 04 Juli 2012

Tombak Lara

Tombak tertancap tegap
Menikam relung hati
Melukai nurani

Kian dalam...
Memicu lara jiwa
Mencipta rintihan nestapa
Menyulut bara tangis sengsara

Dalam...
Lebih dalam dan teramat dalam
Ujung tanpa dosa
Menyibak tirai kegetiran
Mengupas lapis-lapis kekecewaan

Lara hati
Tersimpan dalam bisu
Mengalirkan rinai kepekatan
Menyayat segumpal daging pengendali sukma

Kian jauh dan dalam
Menerjang batas akhir
Meluluh lantakkan puing-puing harapan
Mengacuhkan tangis kesakitan

Membutakan
Menulikan
Menbisukan

Tombak ditikamkan
Bara api dinyalakan
Menyongsong bagaskara pulang
Ratu malam tersenyum samar
Kepalsuan terbongkar
Menorehkan sejuta lara tanpa obat penawar
Serpihan Cahaya Bintang>>

Minggu, 01 Juli 2012

Bertahan


Bertahan
By: Nina Kurnia Dewi


Bertahan...
Berdiri di kesunyian
Membesitkan luka dan harapan

**

Ini tentangnya dan masih tentang dirinya. Tentang aku dan dia. Tentang rasa indah yang samar-samar tumbuh lebih dari yang kumau. Rasa yang menikam nurani. Melukai lubuk hati. Bersemanyam di dasar jiwa. Membesitkan sejuta harapan dan lara. Teramat menyesakkan dada.

Aku tak pernah tahu alasanku bertahan. Mempertahankan rasa ini. Tetap bertahan di balik hatinya yang beku. Yang tak pernah tahu bahwasanya aku menunggu dirinya dalam diamku. Dalam sepi aku memujanya. Tanpa kata, namun menggetarkan jiwa.

Kusebut namanya dalam doa. Tak pernah lupa, selalu kutitipkan pesan tatkala aku bercengkrama dengan bintang-bintang. Bukan pesan yang puitis atau romantis. Hanya lantunan kata yang realistis.

Aku bukan penyair yang mampu merangkai kata menjadi puisi indah untuk dirinya. Bukan cerpenis yang handal mengolah kata-kata menjadi sebuah cerita. Bukan pula pianis yang mampu menciptakan melodi-melodi sempurna untuk dia dengar. Aku adalah aku. Seorang gadis biasa yang tak pernah sempurna. Tak punya apa-apa. Yang kupunya hanya segenggam keyakinan untuk bertahan diatas luka yang dia goreskan.

Tak pernah kupedulikan dia mengabaikanku. Aku tetap mencintainya tanpa sebab. Biarpun dia tak pernah sekalipun membalasnya, aku akan tetap tersenyum. Karena di singgasana-Nya, Tuhan selalu mencintaiku tanpa syarat.

***

Bertahan...
Berdiri seorang diri
Di tengah gelapnya malam dan teriknya siang
Tak peduli sekeras apapun angin berhembus
Sekuat apapun ombak menerjang

**

Kutatap sosok sawo matang itu dari tempatku. Wajahnya yang rupawan selalu membuatku tak kuasa mengalihkan pandangan darinya. Alisnya yang tebal, senyumnya yang menawan, membiusku. Membuai jiwaku dan mengajaknya terbang. Lantas menghempaskannya di atas tebing terjal. Membiarkan luka tanpa darah ini terbuka, dihempas angin dan ombak. Membiarkan jiwaku merasakan lara tanpa obat penawar.

Aku mendesah pelan. Terlalu lama kuamati sosok rupawan itu. Segera kualihkan pandanganku darinya. Aku tak pernah ingin dia tahu apa yang berkecamuk di hatiku karena dirinya. Bagaimana rasa ini tumbuh menerjang batas normal. Menyiksa jiwaku. Membelenggu batinku. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum dan bahagia, walau senyuman itu bukan tercipta karena aku.

“Eh permisi Dek, bisa tolong difotoin gak?” suara lembut itu mengalun tiba-tiba.

Aku tersentak saat mengetahui pemiliknya. Seorang gadis berparas cantik, primadona Nusantara High School yang tinggal di XII IPA 3. Jemarinya yang lentik menyodorkan sebuah Black Berry kepadaku. Hatiku berdebar tak karuan. Bukan karena statusnya sebgai kakak kelasku. Bukan pula karena label primadona yang melekat padanya. Namun pemuda rupawan yang berada disampingnya. Sosok yang sedang mengulun senyum sempurna yang tertangkap lensa kamera handphone di tanganku. Pemuda penghuni XII IPA 2 yang selama ini menyita separuh hatiku. Mario Aditya.

Aku ikut tersenyum melihat guratan senyum di bibir pemuda itu. Walau senyumku bukan senyum bahagia. Hanya segurat senyum palsu yang menyesakkan dada. Yang mampu mengupas untaian luka.

“Makasih banyak,” kata gadis bernama Dewi itu seraya tersenyum manis.

Aku hanya mengangguk kecil.

“Aku balik ke kelas dulu Kak,” kataku sembari berlalu dari hadapannya.

Gadis itu mengangguk mengiyakan.

“Ify!!”

Suara baritone itu terdengar sangat jelas. Menembus gendang telingaku. Mengalir lewat desiran darahku. Mendebarkan hati terdalamku. Tanpa kata, aku berbalik. Manik mataku berusaha menatap mata elang pemilik suara itu. Namun tertahan. Sinar matanya teramat menyilaukan.

“Iya Kak?” kataku ragu.

“Kamu Alyssa Saufika kelas XI IPA 1 kan?”

“Iya Kak,” jawabku linglung.

Bagaimana mungkin dia mengetahui hal itu sedang teramat jarang orang yang tahu nama asliku?

“Oh iya. Makasih,”

“Sama-sama,” kataku hampir bergumam.

Segera kuputar tubuhku. Kuadu lagi sol sepatuku dengan lantai marmer, meninggalkan sosok yang mampu mendebarkan hatiku.

***

Aku berjalan gontai menyusuri trotoar. Satu kilometer lagi, aku sampai di istana kecilku. Tempat bernaungku bersama keluarga tercintaku. Sang surya termat bersemangat mengalirkan hawa panas ke bumi siang ini. Peluhku mengucur deras. Tak kupedulikan. Aku hanya ingin segera tiba di rumah.

“Ify?” pekik sebuah suara tiba-tiba.

Aku tersentak. Kuhentikan langkahku. Manik mataku mengikuti desiran angin yang membawa suara itu.

“Kak Rio?” ucapku kaget.

Pemuda itu tersenyum tipis.

“Kok jalan kaki?”

“Iya Kak. Gak ada jemputan,”

“Masih jauh kan rumah kamu?”

“Iya..” lirihku.

Sosok sawo matang itu kembali memamerkan senyumnya.

“Ayo aku antar,” katanya yang cukup membuatku tersentak.

“Tapi...”

“Udah ayo cepetan,” katanya otoriter seraya memberi isyarat kepadaku untuk menaiki Ninja putihnya.

Aku hanya diam. Dia sungguh membuatku berdebar-debar.

***

Siang berganti malam. Bulan berganti wajah. Aku mengenalnya. Dia mengenalku. Hanya sebatas teman. Namun ada kata ‘istimewa’ yang melingkarinya. Atau mungkin ‘teramat istimewa’ bagiku.

Ditemani cahaya rembulan dan kerlip bintang. Aku bertukar pesan singkat dengan dirinya. Aku tahu Tuhan punya rencana. Dan rencana itu akan indah pada waktunya.

Aku tersenyum. Jemari mengetikkan deretan alfabet dengan rapi. Menekan tombol send, menunggu balasan darinya. Membalasnya lagi. Dan terus berputar. Tak pernah sedikitpun aku merasa bosan.

From: Mario Aditya

Good night dear. Udah malam. Tidur duluan sayang :*

Aku tercekat saat membacanya. Nafasku tertahan di tenggorokan. Bulir-bulir keringat dingin merembes lewat pori-pori telapak tangan dan kakiku. Aku terdiam. Ritme itu kembali terdengar. Debaran segumpal daging kecil yang bernama hati. Selalu seperti ini. Ini tentang dirinya.

***

Bertahan...
Menepis luka
Menyembunyikan lara
Menahan air mata

**

“Eh Fy, denger-denger nih, Kak Dewi taken sama Kak Rio lho,” suara lembut teman sebangkuku itu nyaris memekakkan telingaku.

Aku terdiam beberapa saat. Membiarkan otakku mencerna informasi yang baru saja didapatkannya.

“Oh, kapan?” tanyaku santai. Berusaha menepis luka yang perlahan mulai terbuka.

I don’t know exactly. Maybe yesterday,” jawabnya sadar.

Gadis bernama Sivia itu tak pernah tahu dan tak akan kubiarkan mengetahui perasaanku pada Tuan Mario. Cukuplah Tuhan, aku, dan bintang malam yang mengetahuinya.

“Baguslah. Kan serasi,” timpalku.

“Wah.. Kak Dewi beruntung banget ya,”

I think so,” kuulun senyum paksa.

Aku tahu, batinku tersiksa. Hatiku teriris. Jiwaku kehilangan kendali. Namun sekalipun, aku tak akan pernah menumpahkan air mata ini di depan siapapun. Cukup Tuhan tempatku mengadu. Cukup bintang yang melihat tangis kepedihanku.

“Tapi entahlah Fy. Gue juga gatau pasti. Cuma kabar yang beredar kayak gitu,” kata Sivia tiba-tiba.

 Segera aku menatapnya.

“Bukan urusan kita lagi Vi. Gak usah dipikirin,” tukasku segera.

Sivia bungkam. Nampaknya gadis itu heran mendapati perubahan raut wajahku.

“Yadeh. Lo bener,”

***


Penghujung Juni tanpa bintang, 2012


Bintang, entah kenapa kau juga ikut menghilang saat banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tentang betapa bahagianya aku saat dirinya mengetahui nama asliku, saat dia tersenyum padaku. Saat dia mengantarku pulang.

Bintang, tahukah kau? Dia membuatku berdebar-debar. Saat jarak antara aku dengan dirinya hanya tinggal beberapa senti saja? Tahukah kau betapa bahagianya aku?

Bintang? Apakah dia tahu aku selalu mengabadiakn momen istimewaku dengannya? Tahukah dia jika aku tak pernah menghapus pesan singkat darinya? Bintang!!!

Bintang? Tahukah dia betapa hancur hati ini saat mengetahui kenyataan pahit itu? Saat tahu orang lain memilikinya lebih dahulu!! Mengapa rasa ini harus ada bintang? Mengapa? Jawab aku bintang!!

***

Bertahan...
Tetap tegar
Tetap percaya
Keajaiban Tuhan akan datang

**

“Ify!!” panggil suara itu.

Aku tersenyum simpul, seperti biasa.

“Mau kasih peje Kak?” godaku kemudian.

Nampak Kak Rio terbelalak kaget.

“Peje?”

“Sama Kak Dewi kan?”

“Fy.. kok...” kalimatnya terpotong.

Aku tahu lanjutannya.

“Semua udah tau kok. Gak gentle nih main backstreet. Gak ngomong juga. Payah ah Kak,” kataku seraya berusaha mengulun senyuman.

Dua ujung bibirku terangkat perlahan. Namun, tombak itu menikam hatiku kian dalam. Meninggalkan luka tanpa darah.

“Ya... maaf Fy,” timpalnya kemudian.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Fy, cerpen kamu bagus,” katanya samar.

Aku menoleh dan menatapnya lekat.

“Ya makasih udah mau baca,”

“Buat siapa?” tanyanya sigap.

Aku terdiam beberapa detik. Kuhela nafas panjang lantas kubuka bibirku.

“Cerpen “Bertahan” kan? Itu untuk seorang teman ‘istimewa’ yang kukagumi dalam diam. Yang namanya selalu kusebut saat tiap aku bersujud pada Tuhan. Yang selalu kubicarakan dengan bintang malam,” jawabku tanpa memandangnya.

“Siapa Fy?”

“Kakak nggak perlu tahu,”

“Tapi dia harus tahu,”

“Kalau dia punya hati dan perasaan. Kalau dia manusia, nggak perlu aku ungkapinpun, dia tahu siapa....” lirihku menahan air mata.

Aku berani bertaruh jika wajahku sudah merah padam. Hatiku terasa sesak menahan rinai kepedihan ini.

“Fy....”

“Aku ke kelas dulu kak. Langgeng ya sama Kak Dewi,” kataku tanpa mempedulikannya.

Tiap langkahku terasa begitu berat. Seberat hatiku berusaha melupakannya. Seberat mencabut tombak lara itu dari lubuk hatiku. Tapi tidak!! Aku tak akan pernah melupakannya. Aku akan bertahan di sini. Di tempatku. Dalam diam dan sepi.

***

Bertahan...
Berdiri sendiri
Menunggu kepastian
Mengulun senyuman
Bersandar pada kepercayaan
Percaya pada keajaiban
Yang indah pada waktunya
Pasti akan datang

**

***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Ungkapan dari Hati

Awal Juli yang kelam, 2012
di pojok ruang itu




Sekedar mengungkapkan apa yang berkecamuk di kepalaku. 

Berawal dari sebuah perkenalan dengan dirimu yang tak pernah kuduga, rasa itu tumbuh begitu saja.  Menerjang batas-batas tak terjamah. Menorehkan berjuta harapan dan kelaraan hati yang teramat dalam.  Sebuah perasaan bodoh yang harusnya tak pernah kumiliki. Sangat bodoh!! Karena perasaan ini, aku rela membuang waktuku yang berharga hanya untuk memikirkanmu. Hanya untuk memandang senyuman palsumu yang tak pernah kau tujukan kepadaku.


Rasa itu tumbuh kian dalam. Menikam sanubari. Tertancap tegap di dasar hati. Tak urung jua pergi, walau kerap ku maki-maki. Aku heran. Entahlah... rasa ini kian dalam. Bahkan saat aku tahu kamu tak pernah ada untukku, aku tak pernah berniat melepas rasa ini.


Keherananku kian menjadi. Tiap kali aku berusaha membenci dan menghapusmu, membenci dan menghapus rasa itu, tikamannya semakin dalam. Sangat dalam. Sangat menyakitkan. Walau tak ada tetes-tetes yang darah keluar.


Inginku, melupakanmu. Membuang rasa itu. Namun nampaknya Tuhan tak pernah menghendakinya. Dia ingin aku menyimpan rasa itu dilubuk hatiku. Walau Dia sangat tahu jika rasa itu melukaiku. Membelengguku. Aku tak akan pernah menyalahkan Tuhan. Dia Maha Benar. Tak pernah salah sedikitpun. Akulah yang salah karena terlalu ceroboh meletakkan hatiku di balik hatimu yang beku. 


Mungkin kau tak pernah tahu jika namamu selalu kusebut tiap kali aku mengadu, bersujud kepada Tuhan tiap lima waktu. Meminta-Nya membuka hatimu agar sekejap saja mau menatapku. Agar sedetik saja mau mengingatku. Namamu juga selalu menjadi topik utama saat aku berdialog dengan bintang-bintang penghias langit malam. Selalu saja kutitipkan pesan untukmu pada mereka. Terkesan aneh... atau bahkan benar-benar gila. Namun inilah aku. Pengagum rahasiamu yang begitu pengecut dan tak pernah mampu mengungkapkan 'rasa di hatinya' kepadamu.


Kau bintangku... Aku tak pernah tahu alasanku mengagumimu. Namun kau menyimpan beribu alasan untuk tetap kukagumi.


Aku akan menunggumu, hingga tak ada lagi alasan bagiku untuk mengagumi apapun. 



Layaknya bintang yang bersinar di tiap sudut langit malam... Kau hanya mampu kutatap dan kukagumi. Tak pernah mampu kumiliki.
Serpihan Cahaya Bintang>>
Back to Top