Minggu, 01 Juli 2012

Ungkapan dari Hati

Awal Juli yang kelam, 2012
di pojok ruang itu




Sekedar mengungkapkan apa yang berkecamuk di kepalaku. 

Berawal dari sebuah perkenalan dengan dirimu yang tak pernah kuduga, rasa itu tumbuh begitu saja.  Menerjang batas-batas tak terjamah. Menorehkan berjuta harapan dan kelaraan hati yang teramat dalam.  Sebuah perasaan bodoh yang harusnya tak pernah kumiliki. Sangat bodoh!! Karena perasaan ini, aku rela membuang waktuku yang berharga hanya untuk memikirkanmu. Hanya untuk memandang senyuman palsumu yang tak pernah kau tujukan kepadaku.


Rasa itu tumbuh kian dalam. Menikam sanubari. Tertancap tegap di dasar hati. Tak urung jua pergi, walau kerap ku maki-maki. Aku heran. Entahlah... rasa ini kian dalam. Bahkan saat aku tahu kamu tak pernah ada untukku, aku tak pernah berniat melepas rasa ini.


Keherananku kian menjadi. Tiap kali aku berusaha membenci dan menghapusmu, membenci dan menghapus rasa itu, tikamannya semakin dalam. Sangat dalam. Sangat menyakitkan. Walau tak ada tetes-tetes yang darah keluar.


Inginku, melupakanmu. Membuang rasa itu. Namun nampaknya Tuhan tak pernah menghendakinya. Dia ingin aku menyimpan rasa itu dilubuk hatiku. Walau Dia sangat tahu jika rasa itu melukaiku. Membelengguku. Aku tak akan pernah menyalahkan Tuhan. Dia Maha Benar. Tak pernah salah sedikitpun. Akulah yang salah karena terlalu ceroboh meletakkan hatiku di balik hatimu yang beku. 


Mungkin kau tak pernah tahu jika namamu selalu kusebut tiap kali aku mengadu, bersujud kepada Tuhan tiap lima waktu. Meminta-Nya membuka hatimu agar sekejap saja mau menatapku. Agar sedetik saja mau mengingatku. Namamu juga selalu menjadi topik utama saat aku berdialog dengan bintang-bintang penghias langit malam. Selalu saja kutitipkan pesan untukmu pada mereka. Terkesan aneh... atau bahkan benar-benar gila. Namun inilah aku. Pengagum rahasiamu yang begitu pengecut dan tak pernah mampu mengungkapkan 'rasa di hatinya' kepadamu.


Kau bintangku... Aku tak pernah tahu alasanku mengagumimu. Namun kau menyimpan beribu alasan untuk tetap kukagumi.


Aku akan menunggumu, hingga tak ada lagi alasan bagiku untuk mengagumi apapun. 



Layaknya bintang yang bersinar di tiap sudut langit malam... Kau hanya mampu kutatap dan kukagumi. Tak pernah mampu kumiliki.

1 komentar:

Back to Top