Minggu, 17 Juni 2012

Setegar Batu Karang

Setegar Batu Karang
By: Nina Kurnia Dewi

Sesederhana pertemuan tak terduga, dia hadir dengan kesederhanaannya. Sosok malaikat tanpa sayap.
**
Manik mataku tertuju pada hamparan hijaunya lapangan sepakbola di hadapanku. Berharap menemukan sosok itu diantara dua puluh satu orang lain yang tengah memperebutkan sebuah bola. Segurat senyum terbit di bibirku saat menemukan sosok itu. Begitu menawan. Membuatku terpana, hingga aku tak menyadari tinggalah aku seorang diri di bangku penonton.


Aku tersenyum hambar saat handphoneku bergetar. Sebuah pesan dari Mama yang memintaku segera pulang. Kutatap nanar cakrawala yang menaungiku. Gurat-gurat jingga terlihat jelas disudut-sudutnya. Aku mendengus pasrah. Ini memang sudah sore. Tak lama lagi mentari akan kembali keperaduan.


Kulangkahkan kakiku menuruni bangku berundak-undak ini. Kulayangkan tatapan dan senyum perpisahan kearah lapangan, berharap angin sore membiskkan pesan ‘sampai jumpa’ kepadanya. Namun tak lama, senyuman itu segera pudar. Sosok itu masih asyik menggiring, menendang, dan mengoper bola. Terlalu sibuk untuk sekedar menghiraukan desiran angin sore yang membawa pesanku.


Aku segera berbalik. Kuadu lagi sol sepatuku dengan lantai ubin menuju pintu keluar. Tetapi ada sesuatu yang kembali menahanku. Sebuah benda keras nampaknya baru saja menghantam punggungku.


“Aw....” pekikku seraya berbalik.


Sebuah bola yang baru saja mengenaiku menggelinding bebas dilantai. Aku meringis menahan rasa sakit.


“Kamu nggak papa?” seru pemuda yang berlari menghampiriku.


Jantungku seakan berhenti berdetak saat menatap mata sipitnya. Malaikat tanpa sayap itu kini tengah berdiri di hadapanku.


“Eh, iya Kak. Aku nggak papa,” jawabku gelagapan sesaat kemudian.


Pemuda itu mengulun senyuman manisnya.


Sorry ya? Aku nggak sengaja,” katanya seraya menepuk-nepuk pundakku. Membuat darahku berdesir lebih capat.


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya, tak kuasa untuk sekedar menjawab pertanyaannya lewat lantunan kata-kata.


“Vin cepetan!!” seru salah seorang pemuda dari tengah lapangan.


Sekali lagi, sosok rupawan itu tersenyum ke arahku. Lalu segera dia berbalik. Jemarinya yang kokoh memungut bola yang teronggok di lantai lantas melemparnya kembali kelapangan. Aku masih mematung di tempatku. Mengamati sosok itu sekali lagi. Perlakuannya sungguh membuatku terkesima. Kuulun senyuman tipis, lantas kembali kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar.
*****
Entahlah apa ini. Yang kutahu... aku hanya mengaguminya.
**
Hampir satu jam aku berdiri di depan pintu gerbang Sekolah Menengah Atas ini. Menunggu sopir pribadiku menjemput. Berkali-kali kuseka peluh yang mengucur di pelipisku. Rasanya matahari begitu bersemangat membakar bumi siang ini. Bahkan pohon yang menaungiku tak cukup untuk menetralisir hawa panasnya. Aku mendengus kesal, merutuki sopirku yang tak kunjung datang.


“Awas aja!! Gue nggak bakalan mau dijemput lagi sama lo Pak! Jamuran nungguinnya,” desahku pelan.


Memang beginilah tabiat sopirku, tak pernah tepat waktu. Itulah sebabnya aku selalu merasa enggan diantar jemput. Lebih baik membawa mobil sendiri, dari pada harus menunggu selama ini.


“Via...” sapa sebuah suara tiba-tiba yang membuatku terperanjat.


Segera kuputar tubuhku. Mecari sosok yang menyebut namaku.


“Kak... Kak Alvin?” seruku tak percaya.


Sungguhkah malaikat ini yang menyapaku? Manik mataku tak kuasa beralih dari sosok rupawan yang tengah menuntun sepeda itu.


“Kamu Sivia adiknya Rio kan?” tanyanya yang membuatku semakin terperanjat.


“Kok Kakak bisa tau?”


“Salah memang? Bukannya kamu juga sudah mengenalku?” katanya balik bertanya. Aku terkekeh pelan.


“Memang siapa yang nggak kenal sama sosok se-famous kakak? kapten tim sepak bola sekolah,” jawabku menahan tawa.


“Berlebihan kamu,” sergahnya.


Aku hanya tertawa pelan. Kualihkan pandanganku darinya. Suasana hening sesaat merayap, menyelimuti kami berdua hingga hanya terdengar derum mesin-mesin kendaraan yang lalu lalang di hadapan kami.


“Kamu belum dijemput?” tanyanya memecahkan keheningan. Kembali kuarahkan tatapanku kepadanya.


“Belum Kak. Bentar lagi mungkin,” jawabku pasrah.


“Hmmm...... Kalo gitu aku duluan ya? Sorry gak bisa nemenin kamu,”


“Haha... nggak papa kok Kak. Bentar lagi juga datang. Silakan aja Kakak duluan,”


“Hati-hati ya! Kalo perlu kamu tunggu didalam,”


“Iya Kak, makasih,” balasku mengulun senyuman kepadanya.


“Oke Vi.. duluan,” katanya seraya mengayuh sepedanya menjauhiku.


Aku tersenyum tipis melihat kepergiannya. Sungguh sosok yang rupawan, namun sederhana. Aku tak habis pikir bagaimana Kak Alvin mau mengendarai sepeda yang begitu usang itu untuk bersekolah. Tak merasa malu sedikitpun bahkan saat berjajar dengan teman-temannya yang mengendarai motor dan mobil bermerk. Kurasa dia benar-benar memiliki mental baja di balik sosoknya yang bergitu sederhana. Keserhanaan yang menumbuhkan rasa kagumku padanya.
*****
Ibarat batu karang yang tak pernah merintih walau ribuan kali digulung ombak lautan, seperti itulah dia.
**
Segera kuhentikan mobilku di salah satu bahu jalan saat manik mataku menangkap bayangan malaikat tanpa sayap itu sedang menjajakan koran di lampu merah. Tanpa pikir panjang aku lantas keluar dan menemuinya.


“Kak Alvin!” panggilku sesaat setelah berada di dekatnya.


Kulihat mata sipit pemuda jakung berkulit putih itu sejenak mengamatiku dari tempatnya.


“Via? Ada apa?” tanyanya kemudian seraya menghampiriku.


“Harusnya aku yang tanya. Ngapain kakak di sini?”


“Via.. Via.. ke sana yuk! Jangan panas-panasan di sini,” katanya lembut.


Jemari kokohnya menuntunku ke sepetak tanah lapang tak bertuan. Sebuah pohon beringin yang tumbuh diatasnya membuatnya nampak lebih teduh dibanding jalanan beraspal yang terbakar sinar matahari.


Tanpa banyak bicara malaikat tanpa sayap itu duduk mendahuluiku di sebuah bangku usang. Menghempaskan rasa penatnya. Dia meletakkan koran-koran itu di pangkuannya. Aku hanya tersenyum samar lantas duduk di sebelahnya.


“Kakak belum jawab,” kataku kemudian tanpa memandangnya.


“Nggak perlu aku jawab kamu juga udah tau kan! Aku lagi jualan,” timpalnya datar.


Aku mengernyit. Kata terakhir di kalimatnya membuatku terperanjat.


“Jualan?” tanyaku hampir tak percaya.


“Memang kamu kira aku lagi ngapain di sini?” katanya balik bertanya.


Aku terdiam. Tak mampu melantunkan sepatah katapun.


“Terkadang kenyataan yang dirasakan seseorang tak seindah yang dibayangkan orang lain memang,” katanya setengah berbisik.


Aku tak bergeming. Manik mataku menatap ujung sepatuku yang rupanya nampak kotor.


“Ayahku berpulang kepada-Nya setahun yang lalu. Dan penghasilan ibuku yang hanya penjual makanan tak cukup untuk membiayai aku dan dua adikku. Jadi, mau nggak mau, malu nggak malu, aku harus ikut membantu beliau. Ya setidaknya dengan berjualan koran ini aku bisa sedikit mengurangi beban keluarga,” Kak Alvin melanjutkan monolognya.


Aku masih diam tanpa kata.


“Tapi aku tetap yakin, semua akan indah pada waktunya. Tuhan punya rencana. Dan rencana Tuhan tak pernah salah,” lantunya lembut


“Mungkin.... aku juga harus berterimakasih kepada kamu Via,”


“Untuk apa?” tanyaku segera.


Pemuda itu tersenyum damai, lantas menatap lekat manik mataku.


“Karena ada donatur seperti orang tua kamu, pihak sekolah mau memberi beasiswa kepadaku. Tanpa beasiswa itu... jelas! Aku nggak akan pernah bisa menginjakkan kaki di sekolah berlabel international school itu,” jawabnya sembari tersenyum.


“Jadi...” kugantungkan perkataanku. Kubuang tatapanku darinya. Menerawang cakrawala dengan mega putih bersih di sudut-sudutnya.


“Inilah aku Vi. Aku nggak pernah menutupi fakta ini dari siapapun. Aku nggak peduli andai harus mendapat ejekan atau cercaan. Tapi aku nggak pernah mau menutupi ini atau mengarang cerita bohong tentang kehidupan pribadiku,”


Aku tersenyum simpul mendengar perkataannya. Bayang-bayang air terbentuk di sudut-sudut bola mataku. Ternyata malaikat tanpa sayap ini lebih tegar dari yang semula kubayangkan.


“Seisi sekolah pasti bangga banget punya sosok seperti Kakak di tengah-tengah mereka,”


“Kamu berlebihan Via,”


“Nggak juga Kak. Aku nggak pernah main-main sama pujian,” kataku seraya menatap mata elangnya.


“Kakak tahu? Sejak kali pertama aku bertemu dengan Kakak, banyak alasan yang membuatku mengagumi Kakak. Kakak berbeda dari yang lain. Kakak aktif di bidang non akademik, tapi juga berprestasi di akademik. Kakak nggak pernah membuat keributan di sekolah. Kakak siswa yang disiplin walau Kakak juga bergaul dengan anak-anak trouble maker. Dan terlepas dari siapa Kakak, Kakak tetap menyimpan sejuta alasan untuk kukagumi,” kataku sedikit terisak.


Butir-butir air mata haru itu luruh begitu saja dari tempatnya.


“Via....” lirihnya.


Kuulun sesungging senyuman tulus. Aku segera berdiri dan menatapnya lekat.


“Kak Alvin, aku pulang dulu. Sorry udah ganggu Kakak,” kataku kemudian berlalu dari hadapannya.


Kuadu sol sepatuku dengan trotoar yang terbakar panas sang surya. Aku berlari menuju mobil. Air mata haru ini tumpah tanpa bisa kutahan.


“Kamu punya sejuta alasan yang membuatku tetap mengagumimu sampai kapanpun!”
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Sabtu, 16 Juni 2012

Tak Perlu Diucapkan

Tak Perlu Diucapkan
By: Nina Kurnia Dewi

Kujatuhkan diriku diantara rerumputan yang tumbuh liar di bukit ini. Air mataku mengalir tanpa dapat dibendung. Dadaku terasa teramat sesak. Aku tak mampu menahannya lebih lama lagi. Kubiarkan rinai kepedihan itu menyisakan bekas di pipiku.


“Egois!! Egois!! Benar-benar egois!!” teriakku.


Tanganku mencabut rerumputan yang kupijak dengan asal. Kulemparkan mereka begitu saja.


“Tuhan? Tak benarkah jika aku mengeluhkan hal semacam ini? Dosakah Tuhan?” kataku parau.


Isakan kecilku makin menjadi.


“Tuhan nggak suka orang yang mudah mengeluh Vi,” suara baritone itu mengalun lembut. Membuatku terdiam dan menoleh ke arahnya.


“Kak Alvin?” kataku lemah.


Manik mataku menatap lekat mata sipit pemuda jakung berkulit putih itu.


“Vi, Tuhan punya rencana. Kita sebagai makhluk hanya bisa menurutinya,” katanya seraya mengelus puncak kepalaku.


Aku terdiam mendengar perkataannya. Memang benar. Namun sering kali rencana Tuhan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.


“Via, aku tahu. Orang tua kamu over protective. Tapi nggak pernahkah kamu berpikir jika mereka sayang sama kamu? Orang tua mana yang ingin anaknya celaka? Mereka cuma ingin yang terbaik buat kamu Via,” katanya lembut.


Aku terbelalak mendengar perkataannya. Sorot mataku menatap tajam pemuda itu. Aku baru mengenalnya dua bulan yang lalu, setelah dia pindah di rumah bibinya yang berada di depan rumahku. Walau aku mengenalnya tak cukup lama, namun aku merasa nyaman berada di dekatnya. Tak jarang aku dan Kak Alvin bertukar cerita. Tapi kali ini darahku berdesr lebih deras mendengar perkataannya. Dia tak mengerti apa yang kurasakan saat ini.


“Lo tau apa Kak? Lo tau apa yang gue rasain? Emang enak kalo lo gini dilarang, gitu dilarang? Tau apa lo tentang keluarga gue? Tentang orang tua gue yang over protective itu? Tau apa lo Kak?” tanyaku bertubi-tubi penuh emosi. Bahkan aku lupa jika kami tak terbiasa ber-gue-lo.


Kulihat pemuda itu tersenyum tipis mendengar pertanyaanku.


“Mungkin aku nggak tau tentang apa yang kamu rasain Via. Tapi bagaimanapun itu, kamu harus bersyukur. Kamu punya orang tua lengkap yang menyayangi kamu,”


“Sayang? Kayak gitu lo bilang sayang kak?”


“Vi, kamu nggak akan pernah tau betapa berutungnya kamu punya orang tua seperti mereka sebelum kamu kehilangan satu aja diantaranya,” katanya seraya menatap lekat manik mataku.


Aku terdiam. Membenarkan apa yang diucapkannya. Sejenak tercipta suasana hening diantara kami.


“Kamu tau Vi alasan aku pindah kesini?” tanyanya tiba-tiba memecahkan kesunyian.


Aku hanya menggeleng lemah.


“Karena sekarang hanya cinta kasih dari Paman dan Bibiku yang bisa kuharapkan,” katanya lagi seraya mengulun senyuman hambar.


Aku mengernyit. Berusaha mencerna apa yang baru saja dikatannya.


“Maksud kakak?” tanyaku pelan.


Sekali lagi  kulihat pemuda itu mengulun senyuman hambar.


“Kenapa aku bilang kamu sangat beruntung Via? Karena kamu punya dua orang tua yang sayang dan perhatian sama kamu. Mungkin kamu terganggu dengan sikap mereka yang over protective. Tapi kamu tau? Mereka melakukan itu semata-mata kerena mereka sayang sama kamu. Mereka gak mau ada hal buruk terjadi sama kamu. Apalagi kamu anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki. Jadi wajar jika mereka memperlakukan kamu berbeda dari saudaramu yang lain,” katanya panjang lebar.


“Coba sekarang kamu lihat aku. Papaku ninggalin aku dan mama sejak aku masih kecil. Tanpa alasan yang jelas. Bahakan aku hampir gak ingat seperti apa wajahnya. Dan kamu tau? Dua bulan yang lalu, Tuhan memanggil Mama. Sedih udah pasti. Tapi aku coba untuk sabar. Karena aku yakin Tuhan punya rencana, dan semua akan indah pada waktunya,” lanjutnya kemudian seraya menoleh ke arahku.


“Jadi Kakak....” kataku menggantung. Kualihkan tatapanku darinya.


Bayang-bayang air terbentuk di dua bola mataku. Aku tak pernah menyangka jika itu yang membuatnya pindah.


“Iya Via, kamu udah tau kan sekarang? Gimana beruntungnya kamu? Orang tua over protective karena mereka sayang sama kamu,” katanya lembut.


“Mulai sekarang kamu harus janji, jangan pernah seperti ini lagi. Kasihan Mama Papa kamu khawatir,” lanjutnya.


“Iya Kak. Makasih ya,” bisikku parau.


Pemuda itu kembali membelai puncak kepalaku. Aku tersenyum damai. Terimakasih Tuhan, Kau memberiku dua orang tua yang teramat menyayangiku. Maaf jika aku tak pernah bersyukur untuk karunia terindahmu ini.
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Yang Tak Teraba

Yang Tak Teraba
By: Nina Kurnia Dewi

Aku berjalan gontai menuju kamar. Ruang kecil yang selalu mejadi saksi bisu suka dukaku. Aku tersenyum miris. Keanehan yang sedari kemarin kurasakan kembali terjadi. Entah apa itu. Aku bahkan tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata.


Sungguh aneh. Walau ini bukan kali pertama aku mengalaminya, namun tetap saja membuatku gusar. Bagaimana tidak? Aku merasakan dua puluh lima persen otakku bekerja dibawah sadar. Memintaku melakukan hal-hal diluar yang aku inginkan. Bahkan tangan dan mataku terasa lemas. Seakan tak mampu menerima perintah dari otakku yang kukendalikan secara sadar.


Aku hanya duduk tak berdaya. Sesekali kupandangi ruangan lain dari pintu yang kubiarkan terbuka. Tiba-tiba saja rumah ini terasa begitu luas untuk kutinggali sendiri. Dan lagi, bulu romanku tiba-tiba saja berdiri. Segera kuraih handphoneku. Kuhubungi Ayah dan Bunda yang sedang berada entah dimana. Namun aneh, tak ada jawaban dari mereka.


“Mungkin lagi sibuk,” gumamku.


Aku segera bangkit. Berjalan keluar kamar menuju kulkas, mengambil kue kering dan segera kembali ke kamar. Aneh. Itu yang mampu kukatakan. Kakiku terasa sangat ringan namun berat untuk digerakkan.


Aku mendesah pelan. Kusebut asma Tuhan berulang kali, saat tiba-tiba bayangan-bayangan alam lain hadir menghantuiku. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanga kiriku.


“Jam lima sore. Mama sama Papa kemana sih?” desahku mulai khawatir.


Tiba-tiba saja aura ganjil itu terasa lagi. Dan kini, aku hampir tak dapat menguasai otakku. Ragaku terasa semakin ringan. Makin ringan. Manik mataku mengangkap sebuah bayangan gadis kecil yang melambai kepadaku. 


“Kamu siapa?” tanyaku lemah.


Kulangkahkan kakiku menghampiri gadis itu. Namun aku tak mampu menguasainya. Aku jatuh tersungkur. Pandanganku buram. Kulihat gadis itu menyeringai lebar dan menghilang menjauhiku. Kupegang kepalaku yang terasa berat. Bak dihantam godam. Dan lagi, dadaku terasa semakin sesak. Aku hanya merintih, namun sangat lemah. Suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Dan bibirku terasa kaku.


Aku harus bekerja ekstrim untuk mengatur nafasku yang terasa semakin berat. Belum lagi pandanganku semakin kabur. Semakin kukerapkan mengucap asma Tuhan di dalam hati. Ingin kuteriakkan, namun tak bisa.


“Ya Allah.... Ya Rab.... lindungilah... hamba,” lirihku terbata.


Kukerjapkan mataku berulang kali. Pandanganku semakin buram.


“Mungkinkah lampu-lampu itu kehilangan pendarnya?” gumamku dalam hati.


“Tidak. Tapi aku yang kini tengah berada di alam bawah sadar,”
***END***
   


Serpihan Cahaya Bintang>>

Coretan Tak Berguna

Coretan Tak Berguna
By: Nina Kurnia Dewi
           

Aku terduduk di kursi kayu tua ini, sendiri, di taman belakang rumah. Entah apa yang terbesit di otakku sehingga hampir setiap hari aku melamun di tempat ini. Aku mendengus pelan. Kukeluarkan buku kecil dari sakuku serta sebuah pena mungil yang selalu menemaniku. Kubuka buku itu, kububuhkan tanggal di pojok kiri atas.


16 Juni 2012

Ini bukan sekedar tentang harapan. Namun ini juga tentang hati dan perasaan. Mungkin suatu hari nanti aku bisa membedakan mana suka mana cinta. Mana kagum mana sayang. Mungkin, jika aku mampu melakukannya dengan benar, tak akan ada lagi air mata yang keluar untuk semua kebodohan ini.

Orang jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino. Cinta itu tumbuh karena telah terbiasa. Namun biasa juga butuh proses. Butuh waktu. Dan tentu itu tak semudah membalikkan telapak tangan..

Untuk biasa juga diperlukan usaha. Usaha keras tentunya. Dan mungin jika usaha itu tak kunjung berhasil, kita harus bisa membalikkannya 180o. Jika awalnya cinta, mungkin tak perlu benci. Cukup melupakannya.

Dan mungkin dari sini akan muncul pepatah baru. Mungkin orang jawa lain akan berkata lali jalaran soko kulino nglali. Lupa karena terbiasa melupa. Dan tetntu itu juga butuh proses, butuh waktu. Kembali lagi, tak semudah membalikkan telapak tangan.

Nanti jika waktunya tiba, mungkin aku tak lagi merindukan dia. Tak lagi mengharapkan dia, atau sebaliknya, jika aku terus berpegang pada pepatah pertama.

Mungkin suatu saat aku juga perlu belajar suatu hal penting lain, jangan mudah menaruh hati pada seseorang. Karena jika tak terbalaskan rasa sesaklah yang merambah.

Aku benci kata ‘mungkin’ sebenarnya. Kata itu tak pernah menyiratkan sebuah keyakinan. Hanya menyiratkan harapan. Dan aku juga benci harapan, jika ujung-ujungnya tidak tersampaiakan.

Dan mungkin nanti, aku bisa menghilangkan kata ‘mungkin’.

Aku tersenyum tipis. Kubaca sekilas tulisan itu sebelum aku menutupnya. Terkesan sangat bodoh. Lagi-lagi coretan tak berguna itu tercipta. Manik mataku menerawang jauh ke cakrawala.


“Awan, andai kau bisa membawa rasa ini pergi dai hatiku sekarang. Mungkin aku tak lagi mengharapkan dia. Matahari, andai kau bisa menampar dan menyadarkanku, jika dia tidak pernah diciptakan untukku,” bisikku pelan.


Setetes air mata terjatuh dari pelupuk mataku.


“Tuhan, bilakah Kau sadarkan aku? Bilakah Kau bawa rasa ini pergi dari hatiku? Aku muak dengan ini. Aku benci dengan semua harapan palsu yang ditorehkannya diatas hatiku,” lanjutku lemah.
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>
Back to Top