Sabtu, 25 Februari 2012

Overboard (Icil Version)


OVERBOARD
(Icil Version)
By: Nina Kurnia Dewi

Sang surya bergerak perlahan menyusuri ufuk timur, bersiap menghangatkan bumi, memberikan senyuman, keceriaan, dan seberkas harapan. Menggerser dinginnya malam yang kelam. Aku masih duduk terpaku di sudut kamarku. Kubiarkan rambut panjangku terurai tak karuan. Kutatap nanar cermin disebelahku, mataku bengkak. Rinai kepedihan itu tak henti-hentinya mengalir. Mengalirkan kepekatan pedihnya dongeng lama yang tak pernah bisa kusudahi. Yang kubenci, sangat kubenci.
**********
“Ify, sarapan dulu,” kata wanita paruh baya yang tiba-tiba saja berdiri dihadapanku. Kedua tangannya memegang sebuah baki, yang dari analisa penciumanku kutangkap aroma roti panggang dan segelas susu. Aku hanya menatapnya sekilas, lantas meninggalkannya keluar menuju balkon.


“Fy, kamu tidak akan selamanya begini. Ini bukan jiwamu yang mama kenal sayang. Kamu bukan Ify yang selama ini....” kudengar tuturan lembut dari bibirnya yang kuabaikan begitu saja. Tak perlu mendengar akhir kalimatnya. Aku kembali beranjak meninggalkannya. Kamar mandi disudut utara kamarku menjadi pilihan pelarianku.


“Sarapan kamu mama taruh dimeja sayang. Mama mau ke kantor. Baik-baik dirumah. Kalau mau keluar, mobilnya sudah mama siapkan dihalaman depan,” katanya yang samar-samar kudengar sebelum akhirnya dia meninggalkan kamarku. Tak kubuka bibirku bahkan hanya sekedar untuk meng-iya-kan perkataannya. Aku tahu, semua yang diucapkannya tentangku adalah benar. Aku bukan aku yang dulu. Aku kini berbeda dan aku menyadarinya. Mungkin ragaku tetap sama. Nama yang kusandang juga, Alyssa Saufika Umari atau yang kerap disapa Ify. Itu juga masih sama. Tak ada yang berubah. Namun jiwa yang bersarang diraga rapuhku ini, telah terganti. Dan tentu bukan tanpa alasan. Lara yang tertoreh dihati ini, seakan menjadi pemicu segalanya. Segala yang tak pernah ingin kupunya.
**********
Ragaku kembali terasa segar setelah buliran-buliran air tadi kupersilakan mengalir menyapu kulitku. Segera kubalutkan dress abu-abu ditubuhku. Kutata rambutku sejenak dan kupoleskan bedak tipis untuk menutupi lingkar hitam dibawah mataku. Kuraih sebuah tas selempang yang tergeletak bebas diatas meja kecil yang menjadi pengisi ruanganku. Kulihat pula setangkup roti dan segelas susu disampingnya. Tanpa berpikir panjang, segera kuambil keduanya dan membawanya kesalah satu sudut kamarku. Dimana sebuah tempat sampah sedang meganga menunggu barang-barang tak berguna yang tak lagi dibutuhkan manusia, termasuk dua benda yag kini ada ditanganku.


Seakan tak mempedulikan pesan wanita tadi, aku membuang roti dan susu itu tanpa beban. Segurat senyum kecut tergurat dibibirku. Kulangkahkan kakiku meninggalkan ruangan ini, kamarku yang terlalu banyak menyimpan duka. Kuhela nafas panjang sebelum akhirnya kuturuni juga tangga yang ada dihadapanku. Cukup melelahkan bagi jiwaku yang sudah teramat letih. Kulihat sebuah jazz merah telah menungguku dihalaman depan. Kuhentikan sejenak langkahku seraya menatap tajam mobil yang tak ada kesan mewahnya bagi kalangan atas itu. Hatiku merutuki wanita tadi, mamaku. Bagaimana bisa dia menyiapkan mobil tersederhananya untukku, sedang masih ada banyak mobil mewah yang bertengger digarasinya? Ah sudahlah, tak ada pilihan lain. Dengan penuh keengganan akhirnya kunaiki juga benda besi.
**********


Manik mataku tertuju pada sebuah bangku kecil disalah sudut taman kota ini. Dengan gamang aku melangkah kearahnya. Bayang-banyang air itu kembali terbentuk dimataku saat kenangan itu tiba-tiba saja hadir. Kutumpukan beban diriku pada bangku putih itu. Kenangan itu terasa begitu nyata. Dan andai saja bisa, akan kutukar segala yang kupunya asal aku bisa kembali ke masa itu.
**
“Fy,” pemuda itu akhirnya membuka suaranya untuk pertama kali setelah hampir empat puluh menit dia mendiamkanku.


“Apa Yo?” tanyaku santai seraya mengedarkan pandanganku ke penjuru taman kota yang mulai sepi. Pemuda bernama lengkap Mario Stevano Aditya Haling itu mentapa lekat manik mataku. Tangannya yang kokoh meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Seakan ingin menyampaikan sesuatu lewat desiran darahnya.


“Gue sayang sama lo,” katanya yang membuatku terperanjat. Seketika dia meraih tubuh mungilku dan merengkuhnya erat. Aku diam. Tak percaya dengan kalimat yang baru saja dia lontarkan.


“Gue sayang sama lo Fy,” ulangnya membisikkan kata-kata itu. Aku masih saja diam. Tak tahu harus mengatakan apa untuk menimpali kalimatnya.

“Lima tahun Fy, cukup gue menjadi sahabat lo. Dan sekarang tolong izinin gue untuk mengisi kekosongan hati lo. Untuk menemani kesendirian lo,” bisiknya lagi masih menahanku dipelukannya. Buliran air mata itu tiba-tiba hadir menghiasi kedua bola mataku. Aku menarik diriku dari rengkuhannya.


“Fy...” lirihnya saat melihat cairan bening itu mengalir dipipiku.


“Lo kenapa nangis? Gue cuma....”


“Gue juga sayang sama lo,” kataku memotong kalimatnya. Dengan sigap dia kembali menarik diriku dalam rengkuhannya.


“Lo izinin gue menjadi pengisi hati lo?” tanyanya lagi. Aku tersenyum lebar.


“Tentu Tuan Mario,” jawabku penuh keyakinan. Kurasakan dia memelukku semakin erat.


“Makasih Fy,”
**********
Kukerjapkan mataku saat kurasakan setetes air jatuh dilengan kananku. Tangisan langit itu membawaku kembali kedunia nyata setelah bermenit-menit terenyuh dalam indahnya memori masa laluku. Dengan lari kecil aku segera menuju mobilku dan memacunya membelah jalanan yang perlahan mulai basah oleh guyuran hujan. Hatiku sedikit merutuki buliran air tak bernyawa itu karena turun disaat yang tidak tepat. Disaat kenangan diriku dan dirinya kembali tumbuh, menyejukkan hatiku yang lara, menyegarkan jiwaku yang letih.


Kukurangi kecepatanku saat dua bola mataku menangkap sebuah bangunan international high school yang berdiri kokoh di hadapanku.  Tanpa pikir panjang, segera kuhentikan mobilku dan memarkirkannya disalah satu bahu jalan. Kuraih payung disampingku dan segera kujejakkan kaki menuju bangunan megah itu. Langkahku terhenti didepan pintu gerbang utamanya. Dengan cermat mataku mengamati seluruh pemandangan didalamnya. Tak banyak berubah.


“Saya bisa masuk kedalam?” tanyaku kepada seorang satpam yang sedang bertugas diposnya. Lelaki itu memandangku sejenak lantas beranjak menghampiriku.
            
“Mbak Ify?” katanya dengan logat jawa kental yang masih kukenal. Aku tersenyum tipis.
            
“Iya. Bapak masih ingat aja sama saya?”
            
“Tentulah. Masa saya lupa dengan murid berprestasi seperti Mbak Ify ini,” jawabnya terkesan memuji.
            
“Boleh saya masuk?” kuulang pertanyaanku. Aku tak ingin berbasa-basi lebih lama dengan laki-laki ini.
            
“Oh, iya mbak, silakan,” katanya sedikit membungkuk. Aku hanya tersenyum saat melewatinya. Tangisan langit menemaniku menyusuri kembali memori masa laluku. Segurat senyum pahit terbentuk dibibirku saat kakiku sampai ditepi sebuah lapangan basket yang membentang luas dihadapanku. Seakan tiada letihnya, waktu kembali mengajakku singgah disalah satu periodenya. Menyuguhkan beribu kenangan manis, yang kini berubah menjadi kelam. Sekelam mega mendung yang siap menghancurkan puing-puing kehidupan.
**
“Rio!!” panggilku kepada pemuda yang tengah asyik dengan bola basket ditangannya. Seketika, pemuda itu menghentikan aktivitasnya saat mendengar panggilanku, membuang bola basketnya, dan beranjak menemuiku.
            
“Sainganku nggak pernah berubah ya? Tetap aja benda bundar jelek itu,” ujarku ketika dia tiba dihadapanku. Kikian khas keluar dari bibirnya saat mendengar ucapanku.
            
“Maaf, maaf. Ada apa tuan puteri?” rayunya. Aku tersenyum lebar. Hasratku untuk memelukanya tak bisa kutahan.
            
“Aku bahagia,” bisikku pelan. Dia menarik tubuhku perlahan dari pelukannya.
           
“Aku tahu. Oh ya, aku belum ngucapin selamatkan buat kamu?” katanya kemudian.
          
]“Untuk?” tanyaku kikuk. Dia kembali terkikik.
            
“Ratu hebatku ini kan jadi juara umum, selamat ya sayang,” jawabnya sembari membelai lembut rambut panjangku yang kubiarkan terurai.
            
“Makasih, tapi ada yang lebih penting lagi,”
            
“Apa?” tanyanya penasaran. Aku tersenyum jahil. Kutarik tubuhnya hingga telinga kirinya kini berada tepat didepan bibirku.
            
“Aku diterima di Harvard,” bisikku tepat ditelinganya. Dia melepaskan cengkeramanku dan menatap manik mataku tak percaya.
            
“Serius?” tanyanya kemudian.
            
“Wajahku meragukan ya?” aku balik bertanya. Tawanya meledak.
            
“Enggaklah sayang. Selamat ya,” katanya seraya merengkuh tubuh kecilku kedalam pelukannya yang selalu terasa hangat.
            
“Sama-sama, kamu sendiri gimana?” tanyaku saat tersadar jika pangeranku ini juga tengah mengejar sebuah bangku di universitas termasyur didunia.
            
“Oxford,” jawabnya singkat. Segera kutarik diriku dari rengkuhannya.
            
“Ox-ford?” tanyaku mengulang kalimatnya. Dia mengangguk kecil.
            
“Kok kelihatannya nggak senang gitu? Bukannya cita-cita kamu sudah terwujud?” tanyaku bingung melihat ekspresinya. Dia menatapku lekat.
            
“Artinya aku nggak akan bisa melihat bidadari cantik ini setiap hari lagi,” katanya lirih. Aku menatapnya heran.
            
“Hei, ayolah! Jangan jadikan aku penghalang masa depanmu. Selamanya kita akan tetap ada. Walau tak saling bertatap muka,” kataku lembut berusaha meyakinkannya. Kami terdiam beberapa saat.
            
“Tiga tahun hanya serasa tiga hari ya? Kayaknya baru kemarin kita mengenakan putih abu-abu,” katanya kemudian. Aku tersenyum lembut.
            
“Dan terimakasih untuk semua kehangatan yang kamu berikan selama ini,” bisikku. Dia tersenyum, lantas kembali memelukku.
**********
I always needed time on my own
I never thought I'd need you there when I cried
And the days feel like years when I'm alone
And the bed where you lie
Is made up on your side

When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
All the words I need to hear to always get me through the day
And make it OK
I miss you

I've never felt this way before
Everything that I do
Reminds me of you
And the clothes you left
they lie on my floor
And they smell just like you
I love the things that you do

When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?

When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
And when you're gone
The words I need to hear to always get me through the day
And make it OK
I miss you

We were made for each other
Out here forever
I know we were
Yeah Yeah

All I ever wanted was for you to know
Everything I do I give my heart and soul
I can hardly breathe, I need to feel you here with me
Yeah

When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear will always get me through the day
And make it OK
I miss you 
*Avril Lavigne-When You’re Gone*
            Prok prok prok prok prok......
            
Riuh suara tepuk tangan penonton menghiasi bumi sore setelah pengamen cilik itu membawakan lagu When You’re Gone dengan sangat apik. Lembaran rupiah seketika mengisi kotak kecil dihadapannya. Aku tersenyum tipis lantas turut menghampirinya seperti yang lain.
            
“Hei, suaramu bagus,” kataku setelah memasukkan selembar rupiah dikotak kecil lusuhnya itu. Dia menatapku lekat, seperti seseorang yang mengamati wajah teman lama yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak dijumpainya. Dan seakan menemukan sesuatu hal yang mengerikan dalam diriku, dia segera mengemasi kotak kecilnya dan berlari menjauhiku. Tanpa banyak kata, aku segera mengejarnya, menyusuri gang-gang sempit diantara gedung-gedung pencakar langit hingga tiba didepan sebuah gubuk kumuh kecil.
            
“Kak!! Kak Iyel!!” teriaknya saat sampai dipelataran gubuk itu. Aku hanya mengamatinya dari luar dalam diam. Tak lama, sesosok pemuda jakung berkulit sawo matang keluar dari bangunan kumuh itu. Pakaiannya terkesan mewah untuk mereka yang berdomisili disekitarnya. Dan mataku terbelalak saat mengetahui siapa dia. Gabriel Stevent Damanik Haling, sahabatku, sekaligus pengobat laraku selama ini, saat jiwanya pergi meninggalkanku begitu saja.
            
“Ify, lo udah pulang?” tanyanya saat sampai dihadapanku. Aku masih diam dalam keterkejutanku.
            
“Eh, iya. Lo ngapain disini Yel?” jawabku beberapa saat kemudian. Kulihat dia tersenyum tipis.
            
“Duduk disana aja yuk? Kelihatannya lo capek,” katanya lagi. Aku menghela nafas panjang.
            
“Gue nggak punya waktu banyak Yel. Mobil gue juga masih diparkiran Mall,” aku sedikit mendesah. Lagi-lagi kulihat senyuman itu terbit dibibirnya.
            
“Sebentar aja, bisa? Nanti gue anter lo balik deh,” katanya meyakinkanku. Aku hanya mengangguk lemah, meng-iyakan permintaannya. Tanpa banyak bicara, dia segera menuntunku kesebuah bangku kayu tua dibawah sebuah pohon mangga.
            
“Lo ngapain disini?” tanyaku kemudian.
            
“Hampir tiap hari gue kesini, berbagi ilmu atau apalah yang gue punya sama anak-anak yang kurang beruntung itu,” terangnya. Aku hanya tersenyum lantas mengalihkan pandanganku ke gubuk tua itu.
            
“Pulang kok nggak ngomong sih?” ujarnya lirih. Aku tersenyum hambar.
            
“Aku nggak ingin pulang. Mama yang paksa aku,” jawabku kecewa. Dia memandangku beberapa saat, sebelum akhirnya memusatkan perhatiannya pada ujung sepatunya.
            
“Kamu nggak ingin lari dari kenyataan kan?” tanyanya seolah mengerti kemana jalan pikiranku. Aku tersentak dan terdiam beberapa saat. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, semetara sorot matanya justru menatapu tajam.
            
“Lari? Gue nggak pernah ingin lari. Cuma kenyataan aja yang semakin menjauh dari apa yang gue inginkan,” sangkalku. Dia menarik salah satu ujung bibirnya.
            
“Tapi itu kenyataannya Fy, yang harus lo jalani,” katanya lagi. Aku memilih diam dan tak menanggapi kalimatnya.
            
“Tiga tahun Fy, gue nggak menyalahkan Rio kalo dia berubah gitu aja. Itu bukan kehendaknya, tapi lo? Lo nggak boleh berubah Fy! Lo harus tetap berpegang teguh pada jiwa lo yang dulu. Semua udah sedih saat kehilangan jiwanya, dan sekarang lo juga maksa jiwa lain untuk mengisi raga lo? Apa lo nggak kasihan melihat orang-orang disekitar lo yang nggak mau lo berubah juga?” ujarnya terkesan memprotes kebijakan yang kubuat. Aku hanya menatapnya sinis. Dia tak mengerti apa yang kurasakan. Bagaimana sakitnya kehilangan dia yang kau cintai. Tanpa kusadari dan kuminta, cairan bening itu hadir dipelupuk mataku. Cairan yang selalu menggambarkan betapa rapuhnya aku.
            
“Fy....” katanya lagi prihatin. Tak kupedulikan dia. Ingatanku kembali menerawang jauh ke detik-detik itu. Detik-detik yang sangat kubenci dan mungkin patut untuk dicaci-maki. Aku merutuki diriku sendiri. Betapa kebodohan yang kubuat itu telah begitu saja merenggut yang kupunya. Bahkan jiwanya!
            
“Gue Ify Yo!!” teriakku parau untuk yang kesekian kalinya. Dan tetap, dia tak menoleh kearahku sedikitpun.
            
“Yo, ini gue, Ify,” kataku lagi, kali ini aku berlutut dihadapannya seraya meraih kedua tangannya yang kokoh. Dia tak menggubrisku. Hanya duduk mematung dikursi rodanya.
            
“Yo....” bisikku. Dia masih mendiamkanku.
            
“Gue nggak kenal sama lo!!” hardiknya tajam. Aku terdiam. Cukup lama. Kutatap kekosongan disorot matanya.
            
“Yo, tapi.........”
            
“Pergi dari sini!!” tukasnya cepat. Lagi-lagi aku dibuatnya diam.
            
“Pergi!!” katanya lagi. Segera aku bangkit. Kaca-kaca itu kembali terbentuk dipelupuk mataku. Tanpa banyak berkata, aku segera beranjak dari hadapannya. Berlari meninggalkannya. Mungkin memang inilah ganjaran yang diberikan Tuhan karena keegoisanku. Dan mungkin inilah saatnya Tuhan memberiku kesempatan merasakan bagaimana rasanya tidak dipedulikan. Bagaimana rasanya diacuhkan. Selama ini memang Rio-lah yang lebih banyak memperhatikanku tanpa terpikir olehku untuk membalas perhatiannya dengan hal yang setimpal. Aku lebih banya mengacuhkannya, hanya karena menganggap aku perempuan dan aku yang harus diperhatikan. Dan sekaranglah mungkin saatnya bagiku untuk menyesal. Menyesali segala kebodohanku yang tiada tara. Aku memang bodoh.
            
“Fy.....” lirih seseorang dibelakangku. Aku segera berbalik.
            
“Gabriel....” kataku parau seraya memeluk pemuda yang sedang berdiri dihadapanku. Kurasakan kaca-kaca itu perlahan luruh menuruni peupuk mataku. Gabriel mendekapku semakin erat. Kutangkap sorot ketidak nyamanan dari orang-orang disekitar kami. Namun, tak kupedulikan. Aku membutuhkannya.
            
“Rio masih sayang sama lo,” lirihnya lagi. Terasa begitu miris diulu hatiku. Isakanku makin menjadi.
            
“Gue yakin. Rio masih sayang sama lo. Dia bakalan terus menyayangi lo,” katanya berusaha menenangkanku. Namun nyatanya tak berdampak apapun. Air mataku tak kunjung mengering.
            
“Gue nggak yakin Yel. Dia nggak inget gue,” bisikku parau. Gabriel melepaskan peukannya. Ditatapnya tajam kedua bola mataku.
            
“Lo harus percaya Fy,” katanya seraya membelai puncak kepalaku. Aku hanya diam. Mengingat kembali apa yang telah kulakukan kepada Rio sebelum kecelakaan bodoh itu merenggut ingatannya.
            
“Fy, besok aku tanding. Nontonkan?” katanya bersemangat diujung sana.
            
“Rio, minggu depan aku berangkat ke USA. Aku harus siap-siap!!”
            
Tapi Fy, ini pertandingan terakhirku sebelum pindah, kita bisa berangkat sama-sama kan?” pintanya terdengar memelas. Aku hanya mendengus kesal.
            
“Nggak bisa Yo!! Aku harus siap-siap. Lagian aku juga udah sering lihat pertandingan kamu kan? Pasti hasilnya sama aja. Tim kamu menang, kamu yang memcetak skor terbanyak dan jadi man of the match. Gitu-gitu aja kan selama ini?” hardikku kepadanya.
            
“Tapi Fy...”
            
“Udah deh. Cukup kabari gimana hasilnya, aku udah senang,” ketusku seraya mematikan hubungan telepon kami dan kembali memfokuskan konsentrasiku ke jalan raya. Tak ada rasa menyesal dihatiku saat itu. Dan isakanku semakin menjadi tatkala mengingat kalimat Gabriel beberapa jam yang lalu. Tepat berselang dua jam setelah dia menelfonku dan memintaku menonton pertandingannya.
            
“Fy, lo dimana? Cepat datang ke RSUD. Rio kecelakaan,” katanya tanpa memperhatikan tanda baca. Tetntu aku tesentak mendengarnya.
            
“Tapi dia baru aja telfon aku,” kataku tak percaya.
            
“Baru lima belas menit yang lalu gue dihubungi pihak kepolisian. Gue udah di rumah sakit. Lo cepat kesini ya? Kondisinya parah,” jelas Gabriel. Aliran darahku serasa berhenti. Bagaimana mungkin? Perlahan rasa bersalah itu merayap dihatiku.
            
“Iya-iya gue segera kesana,” tukasku seraya mematikan telepon. Segera kuraih kunci mobilku dan memacunya membelah pekatnya jalan kota yang gelap dan sepi. Aku ingin segera sampai di rumah sakit dan melihat sendiri bagaimana keadaan Rio.
            
“Tuhan, beri dia keselamatan,” bisiskku ketika berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Pintu UGD terbentang dihadapanku. Kulihat sesosok pemuda berdiri dihadapannya. Raut kegelisahan nampak jelas diwajahnya.
            
“Belum bisa ditemui Fy,” lirih pemuda itu. Aku mendesah pelan. Perasaan bersalahku makin membesar. Asaku seakan memudar karena genap seminggu dia belum juga siuman. Dan sekarang, saat benih kelegaan mulai tumbuh dihatiku, harus kembali layu karena dia tak mengenalku sama sekali. Amnesia. Dia kehilangan ingatannya, terutama tentangku.
            
“Udahlah Fy, dia juga lupa sama gue. Lupa sama Mama, sama Papa, tapi gue yakin, cintanya buat elo akan selalu ada,” kata Gabriel kembali ingin menenangkanku.
            
“Gue nggak bisa pergi kalau kondisinya masih kayak gini,” lirihku.
            
“Lo harus pergi. Gue yang akan jaga dia. Lo harus menyelesaikan apa yang telah lo mulai. Ingat Fy, kesempatan nggak datang dua kali. Lo udah nunda keberangkatan lo ke Amrik empat hari. Besok lo harus berangkat. Jangan sia-siain kesempatan,” tutur Gabriel seraya menepuk-nepuk pundakku. Aku hanya diam.
            
“Percaya sama gue Fy,” katanya lagi. Mau tidak mau kali ini aku menarik salah satu ujung bibirku.
            
“Gue abangnya. Gue pasti bisa jaga dia,” sambungnya. Aku menatapnya lekat. Kali ini aku dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar sulit. Aku ingin mengejar impianku namun tak tega rasanya jika aku harus meninggalkan sosok Rio sedang kondisinya benar-benar buruk. Aku hanya mampu menghela nafas panjang.
            
“Udah malem, gue antar lo pulang ya?” tawarnya. Aku hanya menganggu lemah. Gabriel menuntunku menuju mobilnya. Begitu miris saat kenangan itu kembali menyita ingatanku. Aku hanya tersenyum hambar dan tanpa ku inginkan, cairan kelemahan itu begitu saja menuruni pelupuk mataku. Membuat basah sudut-sudutnya, dan tentu menggambarkan betapa lemahnya aku.
            
“Fy, lo nggak papa?” suara berat itu lagi-lagi mendengung ditelingaku. Membuyarkan seluruh anganku tentangnya.
            
“Iya Yel. Nggak papa kok,” kataku berbohong. Memang nyatanya kadang ada masalah dibalik kata “tidak apa-apa”. Pemuda itu menatapku lekat.
            
“Ada apa?” tanyanya lagi memaksa.
            
“Nggak papa Yel. Gue... gue bisa ketemu Rio?” kataku balik bertanya. Kutangkap keterkejutan diraut wajah Gabriel saat aku mendengar permintaanku.
            
“Lo mau ngantar gue ketemu dia kan?” ulangku. Dia terdiam sejenak lantas menatap manik mataku lekat.
            
“Ya udah jika itu mau lo. Lagi pula gue rasa udah saatnya lo tau yang sebenarnya,” katanya datar seraya bangkit dan berdiri dihadapanku.
            
“Tau apa Yel?” kataku seraya berdiri disampingnya.
            
“Gue nggak bisa cerita. Lo harus lihat sendiri,” jawabnya. Aku mengernyit.
            
“Antar gue ambil mobil dulu,” ujarku.
            
“Pake mobil gue aja dulu,” katanya seraya berjalan mendahuluiku. Aku mendengus kesal lantas berjalan mengikutinya.
**********
“Lo yakin mau ketemu Rio?” tanya Gabriel saat mobilnya berhenti dipelataran rumah keluarga Haling. Aku mengangguk yakin. Dia segera turun dan membukakan pintu mobilnya untukku. Aku tersenyum dan segera keluar dari mobilnya. Mataku mengamati setiap detil lekuk bangunan dihadapanku. Tak ada yang berubah.
            
“Yuk Fy,” katanya ragu dan berjalan mendahuliku. Aku menguntitnya dibelakang.
            
“Rio...” panggilku kepada seorang pemuda yang tengah berdiri mematung dihadapanku.
            
“Ya?” katanya mendengar namanya kesebut seraya memandangku. Kusungingkan sebuah senyuman ragu.
            
“Yo, gue...”
            
“Lo siapa?” potongnya cepat. Namun kali ini terdengar sedikit lebih sopan dibanding saat di rumah sakit kala itu. Asaku seakan memudar mendengar kalimatnya. Ternyata dia masih tak mengenaliku.
            
“Gue Ify,” bisikku pelan. Bayang-bayang kesedihan itu kembali hadir dipelupuk mataku. Gabriel mengelus pundakku bermaksud menenagangkanku.
            
“Ify? Ify siapa?” tanyanya lagi. Air mataku tumpah.
            
“Gu... gue.. gue...” ingin aku menjawab jika aku kekasihnya. Namun lidahku tiba-tiba terasa kelu. Sangat berat untuk mengucapkan kalimat sesingkat itu.
            
“Sore Yo,” kata sebuah suara perempuan tiba-tiba. Refleks, aku, Gabriel, dan Rio memandang arah datangnya suara. Seorang gadis tomboy berjalan mendekati kami.
            
“Sore dear, kok nggak sms dulu,” Rio menyambut mesra kehadiran gadis itu. Aku tersentak. Mataku tebelalak.
            
“Oh ya. Kenalin, ini Agni. Cewek gue,” kata Rio yang kurasa ditujukan kepadaku. Aku tak menanggapinya. Segera kutatap Gabriel yang berdiri disebelahku. Dia hanya menekuk mukanya saat mengetahui maksud tatapanku.
            
“Ada apa?” tanya gadis bernama Agni tersebut. Aku segera menatapnya tak percaya.
            
“Nggak.... nggak mungkin,” kataku parau. Tangisku kembali pecah. Dan kakiku tiba-tiba saja mengajakku berlari meninggalkan mereka.
            
“Ify, lo mau kemana?” kata Gabriel berusaha menahanku. Tak kupedulikan dia. Kudengar derap langkahnya berlari menyusulku.
            
“Fy... tunggu gue,” katanya meraih tanganku saat kami berada di pelatarn rumahnya. Aku berhenti lantas menatap murka kedua bola matanya.
            
“Kenapa lo nggak cerita? Kenapa lo biarin gue berharap? Kenapa lo bilang Rio masih sayang sama gue?” tanyaku bertubi-tubi kepadanya. Seketika wajahnya memucat mendengar pertanyaan yang kulontarkan.
            
“Maafin gue Fy, gue nggak tau harus ngomong apa ke elo,” katanya menyesal. Ku buang mukaku darinya.
            
“Cewek itu anak dokter yang merawat Rio. Hampir tiap hari mereka bertemu. Aku juga gak bisa berbuat apa-apa, karena Agni selalu bisa mengembalikan keceriaan Rio. Maafin gue Fy. Gue nggak bisa menjaga hatinya buat lo. Sorry..” terangnya lemah.
            
“Gue bodoh, gue yang bodoh,” bisikku merutuki diriku sendiri.
            
“Fy...?” bisik Gabriel seraya merengkuh tubuh mungilku. Isakanku makin menjadi. Hatiku bak dihantam palu godam ribuan kilogram saat melihat dan mengetahui kekasih yang selalu ku nanti telah memiliki tambatan hati lain. Selain aku. Yang masih menunggunya dan berharap dia menjemputku ditengah rapuhnya jiwaku. Mungkin Gabriel benar, kesempatan hanya datang sekali. Kalaupun datang yang kedua, pasti takkan sama. Rasa sesalah yang kini merambah dipenjuru hatiku. Menyesal karena telah menyia-nyiakannya saat dia masih berpihak kepadaku.
***END***


1 komentar:

Back to Top