Rabu, 01 Februari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 6

Lihat dengan Hatimu
Part 6
By: Nina Kurnia Dewi
               
                “Kok kamu pindah kesini Vin?” tanya Via kepada Alvin yang sudah duduk disampingnya.
                “Aku mana tega lihat kamu sendirian tiap hari,” jawab Alvin santai. Namun, ketegangan justru dirasakan Via. Berulang kali dia melirik kearah Ify yang tengah asyik bercanda dengan Gabriel.
                “Ify..” ujar Via lirih seraya menatap Alvin. Alvin menghela nafas dalam. Dia paham apa yang tengah dirasakan gadis itu.
                “Sampai kapan kita backstreet terus? Udah satu bulan lebih. Tak lama lagi dia pasti juga bakal tau,” kata Alvin setengah berbisik. Via menatap pemuda yang baru bulan lalu menjadi kekasihnya itu dengan pasrah.
                “Aku nggak mau melukai perasaannya lebih dalam lagi,” lirih Via. Alvin tersenyum datar.
                “Dia bahagia,” ujar Alvin seraya memandang Ify. Senyuman gadis itu kini telah kembali lagi setelah dua bulan yang lalu hampir menghilang.
                “Tapi kejadian dua bulan yang lalu nggak akan semudah itu dilupakannya Vin!” seru Via. Alvin menatapnya tajam.
                “Jangan bahas masalah itu. Biar aja berlalu. Aku nggak suka,” kata Alvin memalingkan wajahnya. Via terdiam.
                “Sorry, I didn’t mean to hurt you,” bisik Via yang merasa bersalah. Alvin segera menoleh kearahnya.
                “Jangan diulangi ya,” pinta Alvin lembut. Senyum manis tergurat dibibir gadisnya.
                “Belum ngerti Yel...” rengek Ify –lagi-  kepada Gabriel yang tengah asyik bergelut dengan soal-soal fisika yang diberikan Ma’am Farah. Sejenak pemuda itu menghentikan aktivitasnya dan menatap gadis disampingnya itu.
                “Pasti bisa. Masukin aja semua angkanya,” kata Gabriel meyakinkan Ify untuk yang kesekian kalinya.
                “Tau ah!! Capek!! Dari tadi nggak ketemu hasilnya!” seru Ify seraya menutup bukunya, tak mau ambil pusing. Gabriel tersenyum datar melihat polah gadis itu.
                “Kamu kan pintar matematika Fy, masa gak bisa ngerjain soal macam ini? Mudah lagi!” ujar Gabriel kemudian. Ify meliriknya tajam.
                “Bedalah!! Matematika itu angkanya pasti. Rumusnya juga. Sederhana!!” seru Ify bertahan pada pendapatnya.
                “Sama aja, fisika angkanya juga pasti, rumusnya juga,”
                “Tapi matematika nggak serumit ini!!”
                “Itu karena kamu menyukainya. Coba kalo kamu juga suka fisika, serumit apapun pasti juga kamu bilang sederhana. Rumit atau sederhana itu relatif Fy, coba deh, kamu kerjain. Pasti ketemu,” bujuk Gabriel. Namun Ify tetap menggeleng kuat.
                “Cukup Yel. Aku capek,” katanya setengah mendesah. Gabriel hanya mampu tersenyum –lagi- melihat kedongkolan hati Ify. Sepertinya dia sudah kalah telak membujuk gadis itu. Dia mengacak-acak rambutnya seraya melepas kacamata tebal yang selalu menghiasi matanya itu lantas mengelapnya.
                “Terserah anda saja kalau begitu, Tuan Puteri,” kata Gabriel seraya memandang Ify, tanpa kacamatanya. Dan betapa terkejutnya gadis itu tatkala menatap sosok yang ada disampingnya kini. Berbeda, sungguh berbeda. Bahkan dia ragu jika itu adalah pemuda yang dikenalnya selama ini.
                ‘Gabriel?’ seru Ify dalam hati. Manik matanya hampir tak bisa lepas dari sosok Gabriel detik ini. Pemuda lugu itu tiba-tiba saja berubah menjadi sosok pangeran tampan dari negeri dongeng yang sering Ify dengar.
                “Ada apa Fy?” tanya Gabriel membuyarkan lamunan Ify.
                “Eng.. eng.. nggak papa Yel,” jawab Ify gelagapan. Pipinya merona. Ini kali pertama dia merasa salah tingkah saat berada disamping Gabriel. Sebelumnya, pemuda lugu itu tak pernah sekalipun mampu mengguratkan rasa itu dihatinya. Gabriel menarik kedua ujung bibirnya. Dibenahinya lagi tatanan rambutnya seraya mengenakan kembali kacamatanya. Sementara Ify masih terpukau dibuatnya.
                ‘Tuhan, apakah yang kulewatkan selama ini hingga aku tak sadar jika seorang pangeran yang rupawan sedang duduk disebelahku?’ gumamnya dalam hati. Ekor matanya masih mengamati karya sempurna Tuhan disebelahnya itu.
                “Attention please,” kata Ma’am Farah ditengah hiruk pikuknya suasana kelas. Serentak semua bibir mengatup memenuhi perintah sang guru.
                “I think you’ll have a new friend, because there is a new student in this class. Okay Raissa, come here please,” lanjut wanita muda itu. Sesosok gadis mungil melangkah perlahan memasuki ruang kelas. Segurat senyum dilayangkannya kepada seluruh pasang mata yang kini menatapnya.
                “Introduce your self to your new friends please,” kata Ma’am Farah. Gadis itu mengangguk kecil.
                “Hi guys, my name is Raissa Arif Jasmine, you can call me Acha. I’m from Singapore. I hope I can be your friend, thank you,” katanya seraya mengulun senyum.
                “Okay, I think you can sit beside Deva,
                “Thank you Ma’am,” kata Acha lantas melangkah menuju bangku kosong disebelah Deva.
                “Ada apa Yel?” tanya Ify saat tersadar dia menemukan keanehan dikelasnya. Gabriel mengulun senyum khasnya.
                “Dari mana aja sih Fy?” pemuda itu balik bertanya. Ify haya celingukan setelah aksi melamunnya tertangkap basah oleh Gabriel.
                “Ada murid baru. Namanya Acha. Pindahan dari Singapura,” jelas Gabriel tanpa menunggu Ify mengulang pertanyaannya.
                “Mana mana?”
                “Itu disamping Deva,” Gabriel menunjuk seorang gadis yang duduk tepat disamping Deva. Ify mengerutkan kening. Wajah baru dikelasnya itu nampak tak asing lagi baginya.
                “Pindahan dari mana tadi Yel kamu bilang?” tanya Ify lagi. Gabriel mengelus dadanya melihat betapa anehnya gadis disebelahnya hari ini.
                “Dari Singapura Nona Ify,” jawab Gabriel mulai gemas. Ify hanya terkikik pelan.
                “See you next week class. Don’t forget to do your assignment,” kata Ma’am Farah setelah berdentingnya lonceng penanda berakhirnya KBM di NRIS siang itu. Ify bernafas lega dan segera beranjak menemui Acha ‘teman barunya’.
                “Acha!!” pekik Ify. Si pemilik namapun seketika menoleh mendengar namanya disebut. Ify tak mampu menahan keterkejutannya saat mendapati seseorang yang ada dihadapannya adalah teman lamanya sepuluh tahun lalu di Singapura.
                “Ternyata benar lo Cha!”
                “Ify? Lo Ify kan?”
                “A.... gue kangen banget sama lo,” dua gadis itupun saling berpelukan melepas rindu yang terbelenggu setelah hampir sepuluh tahun tak bertatap muka.
                “Lo tambah cantik aja Fy,” puji Acha mendapati banyak perubahan pada temannya lamanya itu.
                “Lo juga Cha,”
                “Oh iya, gue dengar Alvin juga sekolah disini?” tanya Acha. Ify tersenyum tipis.
                “Dari tadi gue duduk disini Cha,” sahut Alvin mendengar namanya disebut. Seketika Acha menoleh mendengar jawaban yang baru saja didengarnya.
                “Lo Alvin? Serius?” pekik Acha tak percaya.
                “Lo kira siapa?” Alvin terkekeh. Acha masih menatapnya tak percaya.
                “Guenya yang pikun atau kaliannya yang berubah jadi sosok puteri dan pangeran sih?” cerocos Acha asal. Ify dan Alvin hanya tersenyum dan tak menanggapi perkataan Acha.
                “Eh, cinta-cintaan kalian masih lanjut gak tuh?” goda Acha kepada dua teman lamanya itu. Senyum yang sempat merekah dibibir Ify seketika layu saat mendengar kalimat itu.
                “We just friend,” jawab Ify ketus.
                “Masa?” cibir Acha merasa tak percaya dengan ucapan Ify. Ify dan Alvin hanya diam, tak suka masa lalunya diungkit kembali.
                “The girl sitting beside him is his new girl-friend,” sahut Deva tiba-tiba. Acha mengerutkan kening.
                “Ooo... sorry deh kalo gitu,” kata Acha seraya menatap Via, gadis yang disebutkan Deva. Via hanya tersenyum tipis.
                “Eh, emang lo duduk dimana Fy? Daritadi kok gue gak lihat?” tanya Acha lagi mengalihkan pembicaraan.
                “Tu, dipojok belakang sebelah Mr. Einstein,” jawab Ify seraya menunjuk bangku kosong disebelah Gabriel.
                “Mr. Einstein? Who is him?” tanya Acha setelah sempat memandang sekilas sosok Gabriel.
                “Kenalan sendiri dong!” goda Ify.
                “Pelit banget sih lo,” Acha mencibir. Ify hanya terkekeh pelan.
                “Siapa sih dia? Mau-maunya sebangku sama lo?” lanjut Acha.
                “Kenapa? Lo gak berani? Kegenitan lo hilang?” goda Ify lagi. Acha hanya menjulurkan lidahnya lantas beranjak menemui Gabriel.
                “Hai, boleh kenalan? Aku Acha,” kata Acha seraya mengulurkan tangan kepada Gabriel. Gabriel memandang gadis itu sekilas lantas tersenyum datar.
                “Boleh, aku Gabriel,” Gabriel membalas uluran lembut tangan Acha. Pandangan Adam-Hawa itu sesaat beradu, dan nampak tak ada yang ingin memulai untuk mengakhirinya lebih dahulu. Senyum lembut Gabriel terasa begitu hangat bagi Acha. Sementara disisi lain, wajah Ify yang tadinya putih bersih perlahan mulai berubah menjadi merah padam menyaksikan penggalan adegan tersebut. Seakan tersemat hawa panas disetiap tetes darah yang mengalir ditubuhnya, dan sadar atau tidak api cemburu itu telah menyulut relung hatinya. Deva yang berada disampingnya tersenyum ganjil saat menangkap maksud raut wajah gadis diampingnya itu.
                “Jangan lama-lama Cha, temen lo ada yang panas nih!” cerocos Deva asal seraya menunjuk Ify. Acha segera menarik tangannya tersadar akan ucapan Deva.
                “Ify?” tanyanya kemudian. Tatapan tak bersahabat dilayangkan Ify untuk Deva.
                “Apaan sih lo Dev. Asal nyeplos aja!” sergah Ify.
                “Fakta kan? Tuh wajah lo merah,” kata Deva santai. Ify menatapnya semakin lekat. Tak suka dengan ‘fakta’ yang baru saja dikemukakan pemuda itu.
                “Udahlah Cha, nggak usah lo dengerin. Eh, lo nggak mau main kerumah gue nih?” Ify mengalihkan alur pembicaraan mereka seraya menghampiri si teman lama.
                “Mau pulang sekarang?”
                “Nggak!! Tahun depan!!” seru Ify. Acha hanya tersenyum kikuk dan baru menyadari jika tinggal mereka berenam diruangan itu.
                “Gue beres-beres dulu,” kata Acha dan serega berlari ke bangkunya. Ify hanya mengangguk, meng-iyakan Acha.
                “Aku duluan Gab,” kata Ify seraya meraih tasnya.
                “Hati-hati,” balas Gabriel singkat. Namun tatapan matanya menyiratkan hal lain yang lebih bermakna. Dan tak perlu waktu lama, ‘sesuatu’ itu tumbuh karena tatapan Adam-Hawa itu tak kunjung beralih, namun, Ify belum menyadarinya.
                “Ify!!” teriak Acha yang sukses memekakan telinga pendengarnya.
                “Eh, eh, iya, iya.  Duluan Yel,” kata Ify mulai salah tingkah. Gabriel hanya tersenyum datar melihat gadis itu berjalan meninggalkannya dan menghilang dibalik pintu.
**********
                “Ngapain lo kesini?” gertak pemuda jakung berkulit sawo matang itu saat Alvin menghampirinya diteras paviliun rumahnya.
                “Kak, lo masih marah sama gue? Tega banget lo sama adik sendiri!” ujar Alvin melihat kedongkolan hati saudara tirinya tersebut. Pemuda itu menatap Alvin tajam, seolah tak suka dengan panggilan ‘kak’ yang dipakai Alivin untuknya.
                “Gue bukan kakak lo!!” sergahnya sedikit membentak.
                “Gue minta maaf kalo kesalahan gue belum bisa lo maafin. Gue nggak pernah punya niatan buat nyakitin Ify,” ujar Alvin polos. Saudara tirinya itu menatapnya sekilas lanatas kembali membuang muka.
                “Kak, lo nggak mau maafin gue?” kata Alvin memelas. Lawan bicaranya itu tak menggubrisnya.
                “Gue minta maaf,” pinta Alvin lagi. Namun pemuda lawan bicaranya itu justru beranjak pergi meninggalkannya.
                “Jawab gue dulu,” kata Alvin menahan langkah pemuda itu.
                “Perlu?” tanya saudara tirinya ketus. Alvin mengangguk yakin.
                “Kalo masalah Ify, gue maafin asal dia juga maafin lo. Tapi...” pemuda itu menggantungkan kalimatnya.
                “Apa?”
                “Ada satu hal yang nggak pernah bisa gue terima,”
                “Apa? Katakan aja,”
                “Gue iri sama lo,”
                “Gue rasa apa yang diberikan papa untuk gue ataupun lo gak ada bedanya,” Alvin mengerutkan kening.
                “Gue iri karena lo punya orang tua yang selalu sayang sama lo, yang selalu memperhatikan lo,” ujar pemuda itu setengah berbisik. Alvin tersentak mendengar jawaban saudara tirinya itu.
                “Lo juga punya orang tua yang lengkap,” ralat Alvin.
                “Dan mereka juga sayang dan selalu memperhatikan lo,” lanjutnya.
                “Nggak!! Lo salah!! Mereka bukan orang tua gue. Mereka orang tua lo!!” sanggah pemuda itu cepat.
                “Mereka juga orang tu....”
                “Orang tua gue cuma mendiang mama gue. Dan nggak akan terganti,” potong pemuda itu cepat.
                “Tapi setidaknya papa itu, papa kandung lo juga!” protes Alvin tak terima dengan perkataan saudara tirinya.
                “Orang tua tapi nggak pernah memenuhi kewajibannya kepada anaknya,” jelas pemuda itu lagi. Alvin terdiam. Bagaimanapun, selama ini papanya memang selalu memperhatikannya lebih daripada saudara tirinya. Dia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan pemuda itu. Dulu, mungkin masih ada mamanya yang menyayanginya. Tapi sekarang? Bahkan papanya sendiripun tak pernah menanyakan keadaannya.
                “Bagaimanapun, dia juga papa lo kak? Lo juga punya mama. Mama gue juga mama lo,” ujar Alvin pelan. Pemuda itu menatapnya tajam –lagi-.
                “Tau apa lo? Lo bisa ngomong gitu karena lo masih punya orang tua lengkap. Belum merasakan gimana rasanya kehilangan salah sau aja dari mereka. Apa lagi setelah satunya hilang, yang lain juga turut menghilang,” kata pemuda itu sedikit berseru. Alvin hanya mampu diam dan membiarkan saudara tirinya itu meninggalkannya yang masih berdiri mematung.
**********
                Empat bulan berlalu. Ify tersenyum lega. Dia mengedarkan pandangannya di ruang ‘kecil’ miliknya. Keadaan disekitarnya lambat laun kembali ke posisi normal. Walau sekarang skenario kehidupannya berubah drastis. Pemuda yang dulu bersamanya, membelainya, memberinya kecupan hangat, menghapus air matanya, memberinya senyuman, kini tak mungkin melakukan itu untuknya. Tentu saja, pemuda itu sekarang bukan pangerannya. Bukan lagi miliknya.
                Sedikit menyakitkan mungkin baginya untuk mengakui bahwa pemuda itu sekarang dimiliki oleh sahabatnya. Namun, itu faktanya. Fakta yang harus dia terima, walau memang menyakitkan hatinya. Karena Ify sendirilah yang memintanya dan dia juga yang pada awalnya bersikukuh untuk mengganti skenario, yang awalnya memang tertulis disitu jika dialah yang harusnya bersama pemuda itu sekarang, bahkan mungkin hingga akhir hidupnya nanti. Namun seperti yang sudah dia katakan diawal kisahnya: Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan. Dan tentu dia tak ingin membuat Alvin –pemuda yang pernah dicintainya- itu merasakan keduanya jika dia terus memaksakan hubungan mereka. Memang terasa menyesakkan diawal, namun segalanya pasti akan terasa biasa jika sudah terbiasa. Dan itulah yang tengah dirasakan gadis ini, terlebih sekarang nampaknya ada seseorang yang mulai menyematkan benih sakura dihatinya.
                “Aku bukan Mr. Einstein Yel!!” kata Ify saat dirinya dan Gabriel kembali dipertemukan dalam debat kecil soal fisika. Gabriel terkikik pelan.
                “But you can be Mrs. Einstein,” bisik pemuda itu. Ify segera menatapnya memastikan jika dirinya tak salah dengar.
                “Apa Yel?” tanya Ify ragu.
                “Nggak papa kok, kamu pintar,” ujar Gabriel. Ify mendengus kesal saat Gabriel tak memberikan jawaban yang diinginkannya.
                Lamunan Ify tiba-tiba terhenti oleh suara derum mobil yang memasuki area rumahnya. Dengan sedikit berjinjit dia menegok keluar jendela yang juga berfungsi sebagai pintu penghubung kamarnya dengan balkon. Tampak sebuah mobil dari  jenis yang sepertinya dia kenal. Samar-samar dia melihat tulisan AC yang menginisialkan Arya Corp di platnya. Ify mengerutkan kening, dengan lari kecil, dia menuju balkon untuk mengintip siapa yang datang.
                “AC 2?” bisik Ify ragu. Jelas itu bukan mobil yang biasa dikendarai Alvin ataupun Ayahnya.
                “Kalo nggak salah, kata Alvin AC 2 dipakai pewaris utama Arya Corp. Tapi siapa?” bisik Ify lagi.
                “Tau ah,” lanjut Ify seraya beranjak masuk ke kamarnya.
                “Non Ify?” panggil seseorang dari luar kamarnya. Ify mendesah pelan lantas membuka pintunya dengan malas.
                “Iya Bi, ada apa?” tanya Ify ketus kepada wanita paruh baya yang ada dihadapannya.
                “Itu Non, ada yang nyariin Non,” jawabnya seraya menunjuk arah ruang tamu. Ify mengernyit.
                “Siapa?” tanya Ify lagi.
                “Saya nggak tahu Non,” jawab wanita itu polos. Ify mendesah, seolah baru menyadari jika wanita itu baru bekerja untuknya dua hari yang lalu menggantikan pembantu lamanya yang sudah pensiun.
                “Ya udah, bibi suruh nunggu dulu,” kata Ify seraya menutup pintu kamarnya.
                “Iya Non,” balas wanita itu tepat setelah Ify menutup pintu kamarnya.
                “Siapa sih?” gerutu Ify seraya membenahi tatanan rambutnya dengan asal. Dia segera beranjak turun menemui tamu misterius yang belum diketahuinya. Langkah gadis itu terhenti saat tiba di ruang tamu. Matanya membelalak, heran, tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.
                “Sore Fy,” sapa tamu itu manis. Ify masih ternganga menatap pemuda yang ada dihadapannya.
**********
*bersambung*

                               

3 komentar:

  1. part 7 mana?penasaran,ceritanya menarik hehe

    BalasHapus
  2. wah masih proses :) makasih ya hehe

    BalasHapus
  3. Hei cerbungnya bagus kenapa ga dilanjut? :) lanjutin dong ditungguin loh hehe

    BalasHapus

Back to Top