Kamis, 05 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 2


Lihat dengan Hatimu
Part 2
By: Nina Kurnia Dewi

“Gimana Fy?” tanya Via kepada Ify yang baru saja datang dan duduk disebelahnya.
                “Gimana apanya?” kata Ify balik bertanya seraya memandang sahabatnya itu dengan ekor matanya sebelum akhirnya dia benar-benar menatap Via.
                “Dinner,” jawab Via datar.
                “Oh dinner! Eh, tapi kok lo bisa tau?” kata Ify dengan ekspresi linglungnya.
                “Kemarin lusa kan lo cerita sama gue!” kata Via yang mulai gemas dengan polah sahabatnya yang satu ini.
                “Oh iya gue lupa!” cengir Ify.
                “Tapi apanya yang gimana?” lanjut Ify.
                “Ada berita bagus?” tanya Via kembali mendatarkan ekspresinya. Ify tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Namun rona merah dan binar-binar diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.
                “Fy!” seru Via dengan nada cemas melihat lawan bicaranya tersenyum-senyum tanpa sebab.
“Gue...” Ify menggantungkan kalimatnya.
“Iya? Lo kenapa?” tanya Via penasaran.
“Gu... gue...ehmm.. gue... gue mau tunangan sama Alvin,” jawab Ify dengan sekali tarikan nafas yang membuat Via tercekat.
“Lo mau tunangan sama Alvin?” kata Via mengulang perkataan sahabatnya. Ify hanya mengangguk.
“Serius lo?” tanyanya lagi.
“Iya. Tapi itu masih rencana orang tua kami,” jawab Ify dengan senyumnya yang hambar. Via tak mampu berkata lagi. Hatinya bak dihantam palu godam ribuan kilogram mendengar pengakuan tulus dari bibir Ify. Sedikit perasaan bersalah tertoreh dihatinya. Penyesalan yang kini dirasakannya karena dia telah berani menaruh hati kepada kekasih sahabatnya.
“Selamat deh kalo gitu,” kata Via berusaha tersenyum menyembunyikan luka yang terselip dihatinya. Ify tersenyum mendengar ucapan sahabatnya yang mendukungnya walau dia tidak mengetahui bahwasanya sang sahabat kini sedang berusaha menepis luka yang tergores dihatinya.
Morning dear, kok udah datang?” kata seseorang tiba-tiba setelah memasuki kelas. Ify dan Via segera menatap arah datangnya suara.
“Alvin?” seru Ify dengan senyuman yang merekah dibibirnya. Alvin mendekati Ify dan membelai lembut rambutnya. Mengalirkan kasih sayang dari jemari tangannya. Dua sejoli ini larut dalam kemesraan tanpa mempedulikan Via yang sejak tadi hanya mampu memendam kedongkolannya. Alvin semakin frontal. Perlahan dia mendekatkan wajahnya kepada Ify. Sebuah kecupan hampir mendarat dipipi kiri Ify andai Via tak mencegahnya.
“Ehm.. ehm.. kok gue jadi disuguhin adegan terenovela gini?” celetuk Via yang tidak ingin melihat adegan yang lebih frontal lagi didepannya. Yang akan semakin menghancurkan hatinya.
“Gue lupa ada lo disitu Vi!” kata Alvin datar sembari mengedarkan pandangan kesekitarnya. Hanya ada dia, Ify, dan Via diruangan itu.
“Ya udah deh kalo gitu. Gue mau cari angin dulu. Daripada disini jadi obat nyamuk,” kata Via sembari melenggang pergi meninggalkan dua sejoli itu dalam kemesraan. Sebuah senyuman hambar dilayangkannya kepada Ify sesaat sebelum dia melangkah pergi. Senyuman yang menandakan dukungannya kepada sahabatnya itu dan juga sebagai pelampiasan rasa sesal. Sesal yang begitu mendalam yang kini tengah dia rasakan.
**********
Sinar jingga matahari senja menghiasi danau buatan milik Arya Corp. Seorang pemuda dengan manja menyandarkan kepalanya diatas pangkuan seorang gadis. Gadis itu mengacak-acak lembut rambut pemuda yang berada dipangkuannya. Binar kebahagiaan dan kedamaian terpancar dari wajah keduanya.
“Damai banget disini Vin,” kata sang gadis kepada sang pemuda.
“Jadi betah berlama-lama disini,” lanjutya kemudian. Pemuda itu hanya tersenyum lantas bengun dan duduk disamping gadisnya.
“Kamu tahu Fy? Bagiku berada dimana saja akan tersa damai asal bisa bersanding dengan bidadari secantik kamu,” ujar pemuda yang tak lain adalah Alvin sembari menggenggam dan mengecup mesra punggung tangan gadisnya, Ify. Ify hanya tersenyum melihat perlakuan Alvin kepadanya. Dia merasa sangat beruntung bisa memiliki pengeran setampan dan seperhatian Alvin. Walaupun satu hal yang membuatnya heran hingga saat ini. Dia tidak pernah sekalipun merasakan degup jantungnya berdetak melebihi frekuensi normal ketika bersama Alvin. Sama sekali tidak pernah.
“Udah sore Vin. Pulang yuk?” kata Ify memecahkan keheningan.
“Tadi katanya betah berlama-lama disini,” cibir Alvin. Lagi-lagi Ify hanya tersenyum.
“Ya udah kalau kamu nggak mau ngantar pulang! Aku pulang sendiri!” kata Ify ketus seraya beranjak dari tempatnya dan melangkah meninggalkan Alvin. Alvin hanya tersenyum melihat polah gadisnya. Dia tahu jika Ify tidak benar-benar marah.
“Tapi aku masih ingin berdua dengan kamu disini Fy,” kata Alvin yang masih berada diposisinya. Ify menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Alvin. Sebuah senyuman merekah dibibirnya.
But, first you must take me from my parents,” goda Ify. Tawa Alvin meledak saat mendengar ucapan gadisnya. Dia segera beranjak menuju tempat gadisnya sedang berdiri.
Of course I’ll do it princess. But, not now,” bisik Alvin saat dia sudah berdiri dihadapan Ify. Ify hanya menjulurkan lidahnya kemudian berlari meninggalkan Alvin. Sementara Alvin yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan segera mengejar Ify dan merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.
I wanna you to be mine, girl,” bisiknya tepat ditelinga Ify yang sedang berada dalam dekapannya.
**********
Seorang pemuda jakung berkulit sawo matang duduk termenung ditepi tempat tidurnya. Tatapan kosong di arahkannya ke lantai tempatnya berpijak sekarang. Suara derum mobil yang memasuki area rumahnya terdengar hingga kamarnya.
“Lo baru pulang Vin?” lirihnya yang sudah bisa menebak bahwa itu suara mobil Alvin sembari tersenyum hambar. Pemuda itu menghela nafas. Mencoba merenungi kisahnya. Mencoba mencerna kata-kata Alvin, saudara tirinya dua hari yang lalu.
“Lo boleh bilang gue pengecut Vin. Tapi rasa gue ke Ify tulus. Dan lo akan lihat itu,” katanya lagi seolah-olah Alvin sedang bersamanya. Sebuah senyum kecut terbentuk dibibirnya saat dia kembali teringat hal-hal yang terjadi antara dia dan Alvin sebulan terakhir ini. Pertengkaran, adu mulut, hingga perkelahian sudah akrab menyapa mereka berdua. Rasa sesal perlahan-lahan menyelimuti hati pemuda itu. Bukan sesal karena kenyataan yang mengatakan jika gadis yang dipujanya adalah milik saudara tirinya. Namun rasa sesal yang tercipta karena hubungannya yang semakin merenggang dengan Alvin. Awalnya tak pernah seperti ini. Walaupun mereka saudara tiri, namun ikatan yang terbentuk diantara mereka cukup kuat. Dan kini ikatan itu seakan sirna karena dia dan Alvin mencintai gadis yang sama.
                Pemuda itu meraih sebuah pigura dari atas meja kecil disudut kamarnya. Gambar seorang wanita paruh baya dan seorang gadis berparas manis tersimpan rapi didalamnya.
                “Mama, Shilla, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya kepada gambar kedua kaum hawa yang sekarang berada dalam dekapannya.
**********
                Seorang gadis berkacamata berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang. Dia hampir tidak mempedulikan apa-apa yang dilaluinya. Pikirannya sedang terfokus pada satu hal. Sampai digerbang sekolah secepatnya sebelum dia tidak bisa menemukan taksi untuk mengantarnya pulang karena sopir pribadinya tidak dapat menjemputnya.
                “Aw...,” teriak gadis yang tak lain adalah Via ketika seseorang tanpa sengaja menabraknya.
                “Sorry Via, gue nggak sengaja,” kata si penabrak sembari membatu Via berdiri. Via merasa ada sesuatu yang hilang darinya. Kacamatanya. Yang membuat pemandangan sekitarnya kini tampak suram olehnya. Namun tiba-tiba dia tercekat. Walau tanpa kacamata desiran darahnya telah memberitahu dirinya siapa orang yang sekarang sedang berdiri dihadapannya. Seorang pemuda yang dipujanya. Walau kini pemuda itu menjadi milik sahabatnya.
                “No matter Vin. Aku tadi jalannya juga nggak lihat-lihat,” kata Via menahan tingkahnya yang mulai salah.
                “Iya Vi, tapi..,” Alvin menggantungkan kalimatnya.
                “Apa Vin?” tanya Via penasaran karena pandangannya kini benar-benar suram. Alvin sedikit berlutut untuk mengambil sebuah frame kacamata yang ada dibawah kakinya dan menyodorkannya kepada Via.
                “Kacamata lo pecah Vi,” jawab Alvin dengan nada penuh sesal. Via terkejut. Kacamata itu adalah kesayangannya. Ingin sekali rasanya dia marah dan memaki-maki Alvin andai dia tidak ingat jika Alvin adalah pangeran hatinya.
                “Ehm, ya udah Vin tak apa kok,” kata Via dengan senyum yang dipaksakan. Dia menggerutu dalam hati. Memang sudah lama dia mengimpikan momen seperti ini. Bisa bercakap-cakap berdua saja dengan pangerannya. Namun kenapa ketika hal itu terwujud harus ada barang kesayangannya yang hilang darinya?
                ‘Ah sudahlah. Semua butuh pengorbanan,’ katanya dalam hati mendamaikan jiwanya.
                “Tapi ini kan kesayangan kamu Vi?” kata Alvin lagi masih dengan nada menyesal. Via kembali tercekat mendengar perkataan pujaan hatinya.
                “Eng... eng... kok kamu tahu?” tanya Via yang sudah mulai sedikit salah tingkah. Pertahanan gadis ini memang tak lebih baik dari Ify, sahabatnya.
                “Ify banyak cerita tentang kamu. Oh ya, kacamata kamu gimana?” tanya Alvin prihatin. Deg... Ify? Mendengar nama itu disebut rona kecewa tampak tergurat diwajah Via. Dia hampir melupakan satu hal. Bahwa lelaki yang sedang berada dihadapannya kini adalah kekasih Ify.
                “Nggak apa-apa Vin. Aku masih punya yang lain,” jawab Via berusaha meyakinkan Alvin agar tidak terus-menerus merasa bersalah.
                “Aku nggak enak sama kamu Vi. Ehm.. gimana kalo kita ke optik aja? Hari ini kamu diantar kan? Biar aku antar kamu pulang sekalian,” kata Alvin yang hampir lupa penggunaan tanda baca saking senangnya karena profesor yang ada dikepalanya berhasil menemukan  ide yang brilian untuk mengobati rasa bersalahnya.
                “Ke optik? Mau ngapain?” tanya Via linglung.
                “Biar aku ganti kacamata kamu,” jelas Alvin. Via mengerutkan kening.
                “Tapi..,” belum sempat Via menyelesaikan kalimatnya Alvin sudah berhasil meraih tangannya dan menuntunnya menuju mobil. Via hanya pasrah.
                “Tapi Vin, kamu nggak perlu...,”
                “Udah deh! Nggak ada tapi-tapian!” kata Alvin memotong perkataan Via sembari membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu. Via hanya bisa pasrah dan mengikuti titah Alvin. Alvin lantas masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi setelah Via berada didalam mobilnya juga. Segera dia menghidupkan mesin Honda jazz-nya itu dan melenggang pergi meninggalkan area sekolah. Via yang sekarang berada disamping pujaan hatinya (baca: dan hanya berdua) hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya. Tak bisa dipungkiri jika dia benar-benar merasa senang mendapat kesempatan seperti ini. Namun, satu hal yang tak bisa dia lupakan dan selalu menuntutnya untuk mengingat hal itu. Satu hal penting: Alvin milik Ify dan.. calon tunangannya. Via hanya mampu tersenyum hambar tanpa arti didalam hati mengetahui kenyataan yang ada padanya.
                Sementara disisi lain, sadar atau tidak, sejak meninggalkan area sekolah tadi Alvin belum bisa mengalihkan pandangannya dari sosok gadis yang berada disampingnya, Via. Walaupun hanya ekor matanya yang mengamati gadis itu karena dia harus tetap fokus dengan apa yang ada didepannya, namun dia menangkap sesuatu yang lain dari Via. Gadis itu tampak lebih cantik dan anggun dari yang biasa Alvin ketahui tanpa kacamata yang selalu melekat di matanya. Dan perlahan tapi pasti degup jantung Alvin bertambah ditiap detiknya. Hampir saja tangannya yang sedang memegang kemudi ikut bergetar jika dia tidak berusaha mati-matian untuk mengendalikannya. Setetes keringat dingin mengalir dari pelipis kirinya. Tanda jika pemuda itu sedang nervous. Dan hal itu yang menimbulkan sebuah pertanyaan besar dihati Alvin. Mengapa dia tak pernah sekalipun merasakan hal ini saat bersama Ify, gadisnya? Mengapa dia justru merasakannya saat bersama gadis lain?
                Baik Alvin maupun Via kini sedang terenyuh dipikirannya masing-masing. Sejak tiga puluh menit yag lalu tak sepatah katapun yang terdengar dari bibir keduanya. Keduannya sama-sama diam. Membisu. Sekali lagi Alvin berusaha melirik Via setelah dia sukses mengalihkan pandangannya sekitar dua puluh detik yang lalu. Sebuah senyum yang nampak janggal terbentuk dibibirnya seiring dengan munculnya lampu yang bersinar terang di atas kepalanya.
                “Masih jauh Vin?” Via memberanikan diri untuk memulai percakapan walau dia masih juga tidak berani menengok kearah lawan bicaranya. Alvin menoleh lantas tersenyum. Dipandangnya wajah gadis itu lekat-lekat kemudian dia kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya.
                “Bentar lagi juga sampai,” masih dengan senyum janggalnya. Via hanya mendengus kesal. Bagaimana tidak? Pasalnya sejak dua puluh menit yang lalu Alvin hanya mendiamkannya. Dan setelah dia memberanikan diri untuk memulai percakapan, pemuda itu hanya memberikan jawaban singkat yang menggemaskan pendengarnya. Via kembali menggerutu dalam hati dan merutuki Alvin.
                “Nah, udah sampai,” kata Alvin girang seraya mematikan mesin mobilnya setelah mereka tiba disebuah optik ternama. Segera dia turun dan berlari mengitari mobilnya. Membukakan pintu untuk Via. Via berusaha mengendalikan diri agar wajahnya tidak merona.
                “Yuk turun,” kata Alvin yang masih mempertahankan senyumannya. Via hanya menurut lalu menguntit dibelakang Alvin. Namun, Alvin justru menarik tangannya sehingga posisinya sekarang dengan pemuda itu. Beberapa optician menyambut mereka.
                “Tolong bantu teman saya ini untuk memilih softlens yang tepat untuknya,” kata Alvin ringan kepada salah satu dari mereka sembari melirik Via. Via tersentak.
                “Soft... softlens? ” tanya Via heran.
                “Iya softlens. Kan kamu bilang tadi masih punya kacamata yang lain dirumah? Buat apa beli lagi?” jawab Alvin setengah asal. Via masih juga heran dengan sikap kekasih sahabatnya ini.
                “Ta.. tapi Vin?” Via mencoba membantah. Dia belum pernah sekalipun memakai benda yang disebut softlens itu. Sebuah kengerian hebat tergambar dibenaknya.
                “Udah lah Vi. Kamu coba dulu,” kata Alvin sembari mendorong Via agar segera mengikuti si optician. Senyum kemenangan terbentuk dibibirnya setelah Via dan si optician menghilang dibalik pintu sebuah ruangan.
**********
                Alvin berdecak sembari membolak-balik sebuah katalog di ruang tunggu. Sesekali diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah tiga puluh menit. Via belum juga menampakkan batang hidungnya. Dirogohnya sebuah BBtorch dari sakunya kalau-kalau ada pesan masuk dari Ify, kekasihnya. Namun, yang didapatinya hanya layar hitam kelam karena ternyata benda elektronik itu telah kehilangan nyawa. Alvin menggerutu dalam hati.
                “Vin....,” kata seseorang dari belakang punggungnya. Dia segera berbalik. Sebuah senyum kepuasan terbentuk dibibirnya.
                “Tu kan, jadi tambah cantik!” cibir Alvin. Via hanya diam. Menutupi raut merah wajahnya. Cibiran Alvin lebih terdengar sebagai pujian baginya mendengar kata cantik terucap diakhir kalimatnya.
                “Kamu nyebelin,” balas Via yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
                “I’m really sure, Nona. You look  pretier without your glasses,” kata Alvin berusaha meyakinkan gadis yang berada didepannya itu. Via tak bereaksi apa-apa. Sudah tentu rona-rona merah sedang menghiasi wajahnya tatkala dia mendengar ucapan tulus dari pujaan hatinya itu.
                “Ya udah deh. Yuk!” kata Alvin lagi seraya menggandeng Via berjalan keluar meninggalkan optik itu.
                “Silakan naik Neng,” kata Alvin sembari membukakan pintu mobil untuk Via. Via hanya menuruti apa yang dikatakan Alvin. Alvin segera masuk ke mobil dan mengendarainya meinggalkan area optik itu. Suasana kembali lengang seperti semula. Tak sepatah katapun terucap baik dari Alvin maupun Via. Via masih menggerutu dalam hati akibat perbuatan Alvin. Walau sebagian hatinya tersenyum karena pujian Alvin namun rona kekesalan tetap tergambar jelas diwajahnya.
                “Kamu nggak percaya Vi?” kata Alvin memecahkan keheningan.
                “Apa?” tanya Via dengan nada ketus.
                “Kamu terlihat makin cantik Vi tanpa kacamata,” puji Alvin –lagi- tulus pada gadis yang berada disebelahnya.
                “Udah deh nggak usah nggombal!” balas Via seakan meragukan pujian tulus Alvin.
                “Terserah kamu percaya atau enggak. Tapi yang jelas, aku nggak pernah main-main sama pujian. Jika aku memuji, maka itu tulus dari dasar hatiku,” kata Alvin datar. Sinar ketulusan nampak jelas dimatanya. Perlahan Via mulai menyesali sikap egoisnya melihat Alvin yang nampak telah berputus asa membujuk dirinya.
                “Sorry Vin. I didn’t mean to hurt you,” kata Via akhirnya dengan penuh rasa penyesalan. Alvin hanya tersenyum datar. Dipandangnya gadis itu sekilas sebelum dia kembali memfokuskan pendangannya ke jalanan yang sedang dilaluinya.
                “No matter. You never hurt me,” balas Alvin dengan senyuman kecil. Via juga ikut tersenyum mendengar kebaikan hati dari sang pujaan hati. Sesaat dia memandang Alvin sebelum dia kembali terenyuh ke alam bawah sadarnya.
                “Vi, kita mampir ke taman dulu ya?” kata Alvin yang lagi-lagi sukses mambawa Via kembali lagi ke dunia nyata.
                “Ha? Ap.. apa Vin?” tanya Via gelagapan dengan linglunganya. Alvin terkikik melihat tingkah Via.
                “Hobi banget ngelamun sih Vi?” Alvin sedikit menahan tawa. Rona merah menyelimuti pipi Via mendengar perkataan Alvin.
                “Hahaha. Kita mampir ke taman dulu ya?” Alvin mengulang kalimatnya diiringi dengan gelak tawanya.
                “Tapi Vin? Ini kan udah sore!” Via mengutarakan keterkejutannya sembari menunjuk gelang jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
                “Aku udah terlambat pulang!” lanjutnya. Alvin tampak kecewa mendengar jawaban yang diutarakan Via.
                “Lima belas menit aja. Please..” pinta Alvin memelas. Selayang tatapan memelas juga dilayangkan mata sipitnya. Perlahan, Via mulai luluh dengan tatapan pangeran hatinya itu.
                “Ya udah. Lima belas menit!” kata Via akhirnya dengan penuh penekanan diakhir kalimatnya. Alvin tersenyum girang.
                “Siplah,” katanya sembari mengacungkan ibu jari kirinya.
**********
                Alvin menggandeng Via menuju bagian paling ujung taman. Ada sebuah bangku putih yang masih tersisa disalah satu sudutnya. Dia mendahului Via duduk di bangku itu seraya melepaskan ketegangannya hari ini. Via menyusul duduk disamping pemuda itu. Kali ini hampir tak ada jarak antara mereka. Sebuah pemandangan yang sudah tak asing lagi turut menyapa mereka. Anak-anak yang sedang asyik bermain dan para orang tua yang sedang mengawasi buah hati mereka dengan penuh kasih dan sayang. Pemandangan yang selalu mengingatkan Alvin dengan masa kanak-kanaknya.
                “Kenapa kamu ajak aku kesini Vin?” tanya Via memecahkan keheningan mereka ditengah-tengah keramaian taman kota. Lagi-lagi Alvin hanya tersenyum datar.
                “Aku senang melihat anak-anak asyik bermain Vi. Mengingatkan aku pada masa kecilku, yang menurutku merupakan masa terindah. Penuh canda tawa tanpa duka. Tanpa pertikaian, tanpa konfik, dan tanpa kesalahpahaman,” tutur Alvin bijak. Via hanya mampu diam dan diam. Meresapi setiap kata yang diucapkan oleh pangeran hatinya.
                “Iya Vin. Kamu benar,” lirih Via.
                “Tapi tetap saja Vi. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya harus melewati tahapan-tahapan tertentu. Dan kita tidak bisa memilih satu tahapan saja dalam hidup kita,” kata Alvin sembari memandang Via.
                “Kamu sering ketempat ini Vin?” tanya Via. Alvin tersenyum, namun kali ini nampak berbeda dari biasanya.
                “Semenjak aku dapet banyak masalah, aku jadi sering banget pergi kesini. Andai aku bisa jadi anak-anak lagi,” jawab Alvin menerawang. Via tercekat mendengar kata-kata ‘banyak masalah’ yang diucapkan Alvin.
                “Masalah?” tanya Via sedikit ragu. Alvin tersenyum hambar seraya menatap nanar ke bumi tempatnya berpijak.
                “Iya Vi. Tapi sudahalah, penyesalan tak akan mengubah segalanya,” Alvin mencoba tersenyum walau masih tampak kehambaran didalamnya. Via masih tampak terkejut mendengar kenyataan yang dialami pujaan hatinya.
                “Ify tahu masalah kamu?” tanya Via lagi. Alvin nampak terkejut mendengar pertanyaan Via.
                “Aku nggak mau membebani orang lain dengan memaksa mereka untuk turut merasakan apa yang aku rasakan. Apalagi orang terkasihku. Tak mungkin aku bercerita kepadanya, kepada orang lain saja tak pernah,” jawab Alvin lirih. Wajah sang kekasih tergambar jelas dibenaknya.
                “Kamu boleh cerita sama aku kok Vin. Siapa tahu aku bisa bantu,” kata Via hati-hati takut membuat ksalahan dalam kalimatnya.
                “Makasih Vi, kamu baik banget,” kata Alvin sembari mengacak-acak rambut Via.
                “Alvin!! Aku nggak bawa sisir tau!!” protes Via karena perlakuan Alvin. Dengan asal dia menata dan menyisir rambutnya dengan jemarinya.
                “Hahaha, dasar cewek!” cibir Alvin diiringi gelak tawanya. Via masih menampakkan ekspresi kesalnya.
                “Udah cantik kok. Jangan marah ya?” rayu Alvin kepada Via seraya menata poni gadis itu. Via memalingkan wajahnya dari Alvin sebelum pemuda itu melihat guratan merah dipipinya.
                “Pantesan Ify jatuh hati sama kamu. Pintar banget nggombalnya,” kata Via ditengah-tengah kekesalannya. Tawa meledak dari Alvin.
                “Enggak juga tu. Nggak pintar-pintar amat,” kata Alvin tersipu. Via hanya tersenyum datar.
                ‘Lo beruntung banget dicintai pengeran setampan dan sebaik dia Vi,” gumam Via dalam hati.
                “Vi? Kok murung gitu?” tanya Alvin khawatir melihat ekspresi Via.
                “Ehm.. nggak apa-apa kok. Eh, udah lima belas menit lebih nih!” kata Via seraya menunjuk jam tangannya.
                “Yah, aku kan masih mau disini,” protes Alvin. Via menggembungkan pipinya dan menatap Alvin dengan tatapan tak bersahabat.
                “Janji adalah hutang!” kata Via dengan dengan senyum kemenangan. Alvin hanya mampu mendengus kesal karena mengetahui dirinya kalah telak membujuk sahabat gadisnya itu.
                “Ya udah yuk,” kata Alvin akhirnya seraya bangkit dari tempat duduknya dan entah sadar atau tidak tangannya kini sedang menggenggam tangan gadis yang berjalan disampingnya. Via yang menyadari hal itu segera menghentikan langkahnya.
                “Ngapain berhenti?” Alvin mengerutkan kening.
                “Lepasin deh. Nggak enak dilihat orang,” kata Via seraya menarik tangannya dari genggaman Alvin. Alvin sendiripun nampak terkejut melihat tangan Via berada dalam genggamannya.
                “Sorry,” kata Alvin sedikit gelagapan. Via hanya tersenyum kecut. Andai pangeran yang sedang bersamanya kini bukan milik sahabatnya.
**********
*bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top