Sabtu, 21 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 5

                Lihat dengan Hatimu
Part 5
By: Nina Kurnia Dewi

                Ify merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tangannya meraih benda elektronik hasil peradaban manusia yang tergeletak bebas dimeja kecil sebelahnya. Dengan isak-isak kecil dia memainkan jemarinya diatas keypad handphonenya, mengetikkan sebuah pesan singkat kepada seseorang diseberang sana.
To: Gabriel Stevent Damanik A.
Help me _
Dia lantas menyimpan benda itu dibawah bantal selagi menunggu balasan dari Gabriel. Gadis itu menatap nanar langit-langit kamarnya. Isakannya kini terdengar makin jelas dan cairan bening itu menjadi semacam aliran sungai dipipinya.
                “Sesingkat inikah?” bisiknya parau. Sebagian hatinya memang sama sekali tak menginginkan hal ini, karena sungguh rasa cintanya kepada Alvin sama sekali belum memudar. Hanya saja dia ingin menjaga perasaan sahabatnya, Via. Samar-samar dia merasakan getaran dibawah kepalanya. Dia segera meraih sumber getaran itu.
Gabriel Stevent Damanik A. is calling
Dengan cekatan pula dia menekan tombol dan menjawab panggilan pemuda itu.
                “Halo,” kata Ify parau. Getaran disuaranya terdengar jelas oleh Gabriel.
                “Ada apa Fy?” tanya Gabriel langsung to the point tak ingin berbasa-basi.
                “Nggak papa Yel. Cuma...”
                “Udahlah, ada apa? Any problem?” dengan sigap pemuda itu memotong perkataan lawan bicaranya mengetahui jawaban yang akan diberikan oleh gadis itu tak akan sesuai dengan apa yang diinginkannya.
                “Panjang Yel ceritanya,” jawab Ify tanpa semangat. Seakan tak ingin mengungkitt kejadian yang baru saja dialaminya.
                “Tell me about it!!” Gabriel meninggikan nada bicaranya. Ify terdiam. Tak tahu dari mana harus memulai.
                “Terlalu panjang Yel. Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Ify datar. Suaranya makin bergetar seiring dengan terbentuknya kaca-kaca bening dipelupuk matanya.
                “I wanna you to tell me about it!! Dari mana saja!!” kata Gabriel menanggapi perkataan Ify. Namun Ify justru diam dan makin terisak. Dia tahu bagaimana perangai lawan bicaranya itu. Jika dia sudah mengeluarkan pernyataan semacam itu.
                “Maaf Yel,” lirih Ify. Suaranya terdengar lebih serak dengan sedikit isakan disela-selanya. Kini Gabriel yang dibuat diam oleh jawabannya itu. Walau dia tak sedang bertatap muka dengan gadis itu, mudah saja baginya untuk mengetahui jika lawan bicaranya sedang menangis. Dan dia tahu bagaimana pribadi seorang Ify. Dia adalah sosok gadis yang tegar dan tak mudah meneteskan air mata sepelik apapun masalah yang dihadapinya. Dan jika dia menangis, itu tanda bahwa masalahnya diatas batas kemampuannya.
                “Fy, are you crying?” tanya Gabriel sesaat setelah dia memahami perkataan Ify. Ify bukannya menjawab malah semakin terisak dibuatnya.
                “Fy? Are you fine? You’re crying?” Gabriel mengulang pertanyaannya.
                “Nggak papa Yel. Maaf,” jawab Ify merasa tak enak hati jika harus memaksa Gabriel turut merasakan lara dihatinya.
                “No matter Fy. Tell me about it. Maybe I can help you,” desak Gabriel meyakinkan Ify.
                “Aku bingung mulai dari mana. Semua terlalu cepat untuk kucerna,” jelas Ify. Gabriel mengerutkan  kening. Nampaknya dia tahu masalah yang dihadapi gadis tersebut.
                “Alvin?” tanya Gabriel kemudian sedikit ragu.
                “Iya,” jawab Ify singat diselingi isakannya yang kian menjadi. Tak salah lagi. Gabriel sudah menduga dari awal jika pemuda itu penyebabnya.
                “Ada apa dengan kamu dan dia?” tanya Gabriel lagi. Ify sedikit ragu untuk menjawab. Dibagian inilah dia tak tahu harus memulai ceritanya dari mana.
                “Fy?” kata Gabriel lagi karena gadis itu tak kunujung memberi jawaban.
                “Udah berakhir Yel,” jawabnya lirih. Ekor matanya menatap lekat foto seorang pemuda berkulit putih yang tersemat rapi di figura kecil diatas mejanya yang menambah lara dihatinya.
                “Berakhir katamu?” ujar Gabriel tak percaya dengan pernyataan Ify.
                “Bukankah rencana pertunaganmu dengan dia masih hangat diperbincangkan?” lanjutnya masih dengan nada tak percaya. Senyuman kecut tergurat dibibir Ify. Namun, isakannya justru makin menjadi dan berubah menjadi tangisan.
                “Kamu tahu bagaimana perangainya sebulan terakhir ini? Atau mungkin kamu juga melihat sendiri jika dia lebih memperhatikan......” Ify tak melanjutkan ucapannya. Entah mengapa tiba-tiba lidahnya seakan membeku saat hendak menyebut nama itu.
                “Via?” tebak Gabriel.
                “Iya,” jawab Ify lemah.
                “Bukankah kalian bertiga memang selalu dekat?” tanya Gabriel seraya menerawang masa lalunya.
                “Sangat malah. Tapi kali ini berbeda. Aku tak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, yang kutahu waktu itu Alvin tak sengaja menabrak Via dan memecahkan kacamatanya lantas dia mengantar Via ke optik dan menggantinya dengan softlens. Selebihnya aku tak tahu. Namun yang jelas sejak kejadian itu mereka makin akrab dan makin dekat,” kali ini Ify bercerita tanpa diminta Gabriel. Gebriel hanya mengangguk mendengar ceritanya.
                “Tapi kalian masih baik-baik saja kan waktu itu?” tanya Gabriel meyakinkan ingatannya yang mulai pudar.
                “Iya. Aku dan Alvin juga masih dekat. Bahkan sampai detik terakhir hubungan kami. Namun memang tak sedekat dulu. Alvin sering menolak saat kuminta menemaniku pergi atau sekedar jalan-jalan. Alasannya dia ada tambahan les musik. Begitu juga Via. Dia juga sering menolak permintaanku macam itu. Dia juga beralasan sama dengan Alvin. Ada tambahan les. Entah benar atau tidak, aku tak tahu dan aku juga tak pernah curiga,” ujar Ify panjang lebar. Kini isakannya sedikit lebih reda.
                “Ada indikasi lain?”
                “Ya, saat itu aku iseng membuka inbox Via. Ada satu pesan kurang lebih begini ‘Thank’s for today’’ tak ada nama pengirim. Namun aku yakin itu dari Alvin karena aku hafal nomor hpnya,” jelas Ify.
                “Dan kamu nggak pernah curiga sedikitpun?” tanya Gabriel untuk yang kesekian kalinya.
                “Ya. Karena aku yakin mereka tahu batasan sampai mana kedekatan mereka diperbolehkan,” jawab Ify yang nampak sedikit kecewa dengan kalimatnya sendiri.
                “Lalu bagaimana?”
                “Semua berjalan baik-baik saja sampai.....” lagi-lagi Ify tak menyelesaikan ucapannya.
                “Sampai apa?” tanya Gabriel polos. Ify terdiam beberapa saat. Air mata yang tadinya mulai mengering mendadak berlinangan kembali. Isakannya terdengar makin pilu. Kejadian hari ini tak keseluruhannya mampu dia cerna.
                “Tadi aku dan Alvin hendak ke ruang musik. Kami masih baik-baik saja,” jawab Ify kemudian.
                “Ya. Lalu?”
                “Terdengar alunan melodi piano didalam. Aku dan Alvin menghentikan langkah. Tak jadi masuk. Pianisnya bernyanyi dengan isakannya yang terdengar sangat pilu dari luar ruangan. Dan tak salah lagi dia Via. Dan yang lebih membuatku tercekat saat mendengar ucapannya,” tutur Ify. Air mata kini sudah menghiasi pipinya. Menambah bengkak matanya indahnya.
                “Apa yang dikatakan Via?” tanya Gabriel mulai penasaran dengan jalan cerita Ify.
                “Dia berkata ‘Kapan Vin kamu sadar jika aku lebih ada untuk kamu daripada Ify?’ ”jawab Ify. terdengar sangat berat saat dia menyebut namanya sendiri. Perkataan sahabatnya itu masih terngiang ditelinganya.
                “Lalu Alvin? Apa reaksinya?” tanya Gabriel makin penasaran. Ify lantas menceritakan semua, yang terjadi di rumah sakit, bahkan hingga yang kejadian di meja makan beberapa menit yang lalu. Kali ini dia tak dapat menyembunyikan isakan pilunya. Gabriel tahu benar apa yang dirasakan Ify saat ini.
                “Via beruntung banget bisa punya sahabat macam kamu,” ujar Gabriel diakhir cerita Ify.
                “Aku akan merasa teramat berdosa jika menjadi penghalang bagi dua insan yang benar saling mencintai,” timpal Ify. Gabriel tersenyum kecut disudut ruangannya. Hati kecilnya merutuki sikap Alvin yang dengan bodohnya telah menyia-nyiakan gadis seperti Ify. Jarang ditemui orang seperti dia sekarang ini. Bahkan jika dia berada diposisi Ify, dia tak tahu apakah mungkin akan setegar dan sebijak gadis itu.
                “Sudahlah Fy, mungkin Tuhan sudah menyiapkan orang terbaik untukmu,” ujar Gabriel yang sukses mengguratkan senyum tipis dibibir Ify.
                “Iya Yel. Makasih,” jawab Ify lirih. Hampir tak terdengar.
                “Ya udah. Udah malem. Kamu istirahat dulu. Cepetan tidur. Besok kamu cerita lagi jika masih ada yang mengganjal,” ucap Gabriel yang terkesan mengomandoi Ify.
                “Iya. Maksih sekali lagi. Sorry, ngrepotin,” kata Ify sedikit tersipu.
                “Nggak akan pernah ngrepotin kok. Ya udah. Nite ya,” balas Gabriel diiringi senyuman khasnya.
                “Nite too,” kata Ify sebelum akhirnya sambungan telepon keduanya terputus. Ify segera meletakkan handphonenya dimeja kecil tempatnya semula dan bersiap menarik selimut saat didengarnya seseorang mengetuk pintu kamarnya.
                “Masuk,” katanya tanpa semangat. Seorang wanita paruh baya segera melangkah masuk dan mendekati gadis itu.
                “Fy, kamu nggak papa sayang?” ujar wanita itu yang tak lain adalah Bu Umari, mama Ify.
                “Nggak ma. Ify baik,” jawab Ify singkat. Bukan jawaban yang diinginkan mamanya tampaknya.
                “Cerita sama mama sayang,” pinta Bu Umari. Bagaimanapun, naluri seorang ibu tidak pernah salah. Dan dia merasa ada alasan lain yan mendasari keputusan Ify tadi.
                “Ify nggak papa ma. Ya, mungkin ini kehendak Tuhan,” jawab Ify asal. Bu Umari tampak sedikit kecewa.
                “Baikalah jika kamu tak ingin bercerita sayang. Mama hanya bisa berdoa yang terbaik untuk puteri mama saja,” kata Bu Umari kemudian. Nampaknya dia tahu jika Ify tak sedang ingin membahas masalah ‘itu’ dengannya.
                “Makasih ma,” timpal Ify berusaha tersenyum.
                “Sama-sama sayang. Ya udah, kamu tidur dulu. Cerita sama mama kapanpun kamu ingin,” kata Bu Umari lagi seraya mengacak-acak rambut Ify. Ify hanya mengangguk dan membiarkan mamanya melenggang keluar dan menghilang dibalik pintu.
**********
                “Alvin, cerita sama mama apa yang sebenarnya terjadi!” pinta Bu Arya memelas untuk yang kesekian kalinya sejak meninggalkan kediaman keluarga Umari. Namun selama itu juga, tak satupun pertanyaannya yang dijawab oleh Alvin dengan jawaban yang dia inginkan.
                “Nggak ada apa-apa ma, kami hanya ingin menempuh jalan kami masing-masing,” kata Alvin tanpa semangat untuk yang kesekian kalinya pula.
                “Mama yakin ada alasan lain!” desak Bu Arya lagi.
                “Seperti yang dikatakan Ify. Nyatanya hati ini mudah dibolak-balikkan,” jawab Alvin.
                “Padahal mama sudah sangat senang saat kalian mau menerima rencana itu. Bahkan sudah puluhan kami mama bermimpi menggendong cucu dari kamu dan Ify,” kata Bu Arya mulai berkaca-kaca. Alvin memilih diam dan tak menanggapi mamanya.
                “Tapi kenapa mimpi mama itu harus sirna? Padahal mama yakin jika masih ada rasa yang tersemat dihati kalian berdua,” lanjut Bu Arya. Alvin masih saja diam. Sementara Pak Arya nampaknya telah dibuat tak berdaya oleh pengakuan Alvin dan Ify, hingga dia tak mampu mengucap kata sepatahpun.
                “Tuhan punya rencana dibalik semua ini,” kata Alvin. Sebagian hatinya memang membenarkan perkataan ibundanya. Rasa dihatinya untuk gadis itu masih ada dan akan terus dia jaga agar berada ditempatnya. Diam-diam seorang pemuda jakung berkulit sawo matang mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik tangga. Dadanya kembang kempis menahan amarahnya yang mulai memuncak tatkala mendengarkan percakapan anggota keluarganya tersebut.
**********

                “Apalagi yang lo mau dari gue?” tanya Alvin kasar kepada pemuda yang ada dihadapannya.
                BUGH!
                “Itu mau gue,” jawab pemuda itu setelah berhasil menyarangkan sebuah pukulan mentah dipipi kiri Alvin.
                “Lo nggak bisa nggak main kasar?” tanya Alvin mulai geram. Kondisi hatinya yang sedari tadi tidak nyaman membuatnya kehilangan ketenangan saat menghadapi saudara tirinya tersebut.
                “Lo pikir Ify boneka? Harusnya lo pikir dari awal sebelum lo terima tawaran itu!” bentak pemuda itu. Mendengar nama Ify disebut, wajah Alvin berubah menjadi merah padam. Dia menekuk mukanya dalam.
BUGH!
                Sebuah pukulan lagi-lagi diterima Alvin. Namun dia memilih diam. Walau tak diucapkannya, dia sungguh mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Menyakiti seorang gadis yang dulunya sangat dia cintai. Yang juga dicintai oleh lawan bicaranya kali ini.
                “Pukul gue, semau lo!” kata Alvin kemudian.
                “Lo emang pantas dapet itu,” jawab pemuda itu berapi-api.
                “Pukul gue!!” teriak Alvin dan tentu segera dikabulkan oleh pemuda itu. Wajah putih Alvin kini dihiasi oleh bekas luka yag membiru. Kedua sudut bibirnyapun mengalirkan darah segar. Namun dia tak mempermasalahkannya. Perasaan bersalahnya kepada Ify kini tumbuh jauh lebih besar mengalahkan rasa sakit yang ada. Dan dia merasa pantas mendapat ganjaran seperti ini.
                “Pengecut lo!!” bentak pemuda jakung tersebut seraya mendorong Alvin keluar dari paviliun. Alvin tak bereaksi apa-apa. Dia segera melangkah gontai menuju kamarnya. Hati kecilnya masih merutuki sikap dan perbuatannya kepada Ify.
                ‘Harusnya aku lebih bisa menjaga hati,’ lirihnya dalam hati.
**********
                Pemuda itu berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamarnya. Langkahnya sempat terhenti tatkla melihat seorang pria dan wanita di meja makan. Namun tak lama, karena dia segera meneruskan langkahnya.
                “Alvin berangkat dulu ma, pa,” katanya tanpa menoleh sedikit pun.
                “Alvin tunggu,” kata wanita yang tak lain adalah Bu Arya menghentikan langkah Alvin.
                “Apa ma?” tanya Alvin masih berada diposisinya tanpa memandang mamanya. Tanpa banyak bicara Bu Arya menarik tubuh Alvin hingga tubuh pemuda itu berhadapan dengannya.
                “Kamu kenapa nak?” tanya Bu Arya histeris melihat wajah putranya dipenuhi oleh bekas luka yang membiru. Alvin tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dalam.
                “Kamu kenapa?” Ulang Bu Arya sembari menggoncangkan tubuh Alvin.
                “Alvin nggak papa,” jawab Alvin santai seraya melepaskan cengkraman tangan ibundanya.
                “Mana saudara kamu?” tanya Pak Arya tiba-tiba berapi-api. Bu Arya menatap suaminya lekat. Tahu apa maksud kalimatnya.
                “Apa yang dia lakukan?” tanya Bu Arya kembali histeris. Alvin memilih diam.
                “Alvin! Dia yang buat kamu seperti ini? Mana dia sekarang?” tanyanya lagi penuh emosi.
                “Setelah anda berhasil menggantikan posisi mama saya sekarang anda juga ingin Alvin menggantikan posisi saya?” kata sebuah suara dari balik tangga tiba-tiba. Semua pasang mata serentak menoleh kearahnya.
                “Dan ternyata nama mama saya tak pernah sekalipun tersemat dihati anda,” lanjut pemuda itu seraya menatap lekat bola mata Pak Arya. Sorot kebencian terpancar jelas dari mata mudanya.
                “Apa maksud kamu?” Bentak Pak Arya.
                “Anda menikahi mama saya bukan lantaran cinta. Dan tanpa mempedulikan perasaannya anda memetik ranum sakura dari hati kaum hawa lain,” kata pemuda itu dengan penuh emosi.
                “Bukankah awalnya anda juga sangat mencintai mama saya? Lalu ikatan pertunangan mempersatukan anda dan beliau? Dan ternyata anda bukan penjaga hati yang setia. Lalu anda masih memaksakan hati anda untuk dipersatukan diatas ikatan suci dengan beliau walau hati anda tak lagi anda persembahkan untuknya? Tahukah anda betapa sakitnya beliau saat itu? Pernahkah anda ikut merasakannya? Dan sekarang dengan bodohnya anda meminta anak anda untuk melakukan kesalahan seperti yang pernah anda lakukan!” lanjut pemuda itu panjang lebar. Pak Arya menatapnya geram. Seakan ingin menikamnya. Namun bibirnya membeku. Rangkaian katanya tercekat ditenggorokan. Hingga membuatnya haya mampu berdiri mematung mendengar perkataan puteranya.
                “Buah jatuh memang tak pernah jauh dari pohonnya. Sama seperti anda dan anak anda. Tak pernah bisa menjaga hati orang lain. Hanya mementingkan ego sendiri,” pemuda itu masih melanjutkan orasinya. Sementara Alvin sudah kehilngan kendalinya melihat saudara tirinya itu berkata demikian kepada papanya.
                “Cukup!! Tau apa lo? Lo sendiri seorang pengecut!” bentak Alvin seraya mencekeram kerah baju saudara tirinya. Tangan kanannya mengepal kuat.
                “Alvin!! Jangan pedulikan dia nak! Jangan! Jangan Vin,” Bu Arya berusaha mencegah puteranya, namun Alvin mengabaikannya begitu saja. Cengkramannya justru semakin kuat.
                “Pukul gue kalo lo mau! Gue yakin, lo nggak bakalan putus sama Ify kalo bukan dia yang memintanya,” pemuda itu menyeringai lebar. Wajah Alvin kian merah padam.
                “Kalo Ify nggak minta, lo pasti masih mempertahankan ikatan lo itu walaupun lo udah jatuh cinta sama cewek lain, sahabat Ify,” lanjutnya santai namun cukup menusuk relung hati Alvin. Segera dia melepaskan cengkeramannya.
                “Tau apa lo?” tanya Alvin menahan getaran disuaranya.
                “Seharusnya gue yang tanya, apa lo tau persaan Ify melihat kekasihnya mendua dengan sahabatnya sendiri?” pemuda itu balik bertanya. Alvin terbelalak mendengar ucapan saudara tirinya.
                “Gue nggak pernah mendu...”
                “Kalo lo jujur dari awal!” potong pemuda itu cepat.
                “Dan lo menjatuhkan pilihan,” lanjutnya. Alvin menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Perasaan bersalah menyeruak dihatinya. Sekejam itukah dia kepada gadis yang selama ini begitu dia cintai?
                “Cinta mata tak akan pernah kuat menahan angin dan hujan. Dan itu cinta lo ke Ify,” kata pemuda itu seraya meninggalkan Alvin beserta orang tuanya.
                “Alvin...” lirih Bu Arya seraya menghampiri puteranya dan lantas memeluknya.
                “Nggak papa ma, Alvin pergi dulu,” kata Alvin sembari meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mematung.
**********
                Dengan gontai gadis berparas cantik itu melangkahkan kakinya kekelasnya. Lingkaran hitam dibawah matanya tak bisa dia sembunyikan. Peristiwa yang dialaminya kemarin sungguh telah menorehkan luka yang cukup dalam dihatinya walau sebisa mungkin dia tak menyebut itu luka. Hanya pengorbanan yang tak perlu menjadi sebuah penyesalan.
                “Pagi,” kata Ify kepada Via dan Alvin yang tengah asyik bercakap.
                “Fy, kamu...” kata Via terbata.
                “Kamu kenapa Vin?” tanya Ify sedikit ragu melihat luka lebam di wajah pemuda itu.
                “Nggak papa. Kemarin aku jatuh,” jawab Alvin berbohong seraya mengulun senyum datar. Ify segera duduk dikursinya. Tak dipedulikannya Alvin dan Via yang sedari tadi seakan menjaga sikap kepadanya. Dia memilih untuk sibuk dengan setumpuk buku tebal yang sekalipun belum pernah dibacanya.
                “PR lo udah?” tanya Ify kepada Via saat Ma’am Niza memjejakkan kaki dikelasnya. Via hanya mengangguk lemah. Ify jelas tak suka dengan sikap sahabatnya ini.
                “Oh,” balasnya singkat lantas segera mengeluarkan bukunya.
                “Oh ya, bahan praktiknya dikumpulin besok kan?” tanya Ify lagi mencoba bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara mereka.
                “Iya Fy,” jawab Via lirih.
                “Lo kenapa sih?” Ify mulai tak tahan dengan keadaan disekitarnya.
                “Gue minta maaf Fy, Gue nggak...”
                “Yang lalu biarin berlalu. Gak usah diungkit-ungkit lagi. Gue nggak suka,” potong Ify. Via kembali dibuatnya diam.
                “Maaf Fy,” lirihnya kemudian.
                “Fy, aku...” kata Alvin tiba-tiba.
                “Apa?”
                “Maaf,” lirih Alvin. Ify tersenyum lebar.
                “Maaf buat apa sih? Kalian berdua aneh banget hari ini. Kesambet apaan?” celetuk Ify asal. Alvin dan Via kembali diam. Keheningan lantas menyelimuti mereka.
                “Sepi banget ya? Gue kayak penjual kacang goreng yang nggak laku gini,” ujar Ify lagi asal. Alvin dan Via tidak juga menanggapi perkatannya. Ify mencibir.
                “Duduk disamping Gabriel kayaknya lebih rame tuh,” kata Ify lagi seraya mengemasi buku-bukunya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
                “Mau kemana Fy?” cegah Via dan Alvin hampir bersamaan. Namun Ify tak menghiraukannya dan segera menuju bangku Gabriel.
                “Can I sit here Sir?” tanyanya kepada si empunya bangku.
                “Of course Miss, please,” jawab Gabriel lembut. Ify segera duduk dan menyimpan tasnya dilaci.
                “Kenapa Fy?” tanya Gabriel sesaat kemudian. Ify hanya tersenyum hambar.
                “Nggak usah dipikirin. Everything happen for a reason,” lanjutnya. Kali ini berhasil membuat Ify tersenyum tulus.
                “Makasih Yel. Kamu selalu bisa mendamaikan aku,” puji Ify tulus. Gabriel sedikit tersipu dibuatnya.
                “Ify, any problem so you moved here?” tanya Ma’am Niza tiba-tiba saat Ify dan Gabriel tengah asyik bercakap-cakap.
                “Oh, no Ma’am. I just wanna accompany Mr. Einstein,” jawab Ify seraya melingkarkan tanganya dilengan Gabriel. Gabriel hanya menahan tawa dalam hati.
                “Okay no matter. A nice couple I think,” ujar Ma’am Niza seraya mengedipkan sebelah bola matanya.
                “Hahaha,” Ify tertawa lepas. Dilihatnya juga semburat merah dipipi Gabriel.
**********
*bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top