Rabu, 11 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 4


Lihat dengan Hatimu
Part 4
By: Nina Kurnia Dewi

Alvin modar-mandir didepan UGD. Sesekali mata sipitnya memandang pintu ruangan yang belum terbuka sejak sejam yang lalu itu. Kegundahan yang amat sangat menyelimuti hatinya. Sementara Ify hanya duduk terpaku dikursi tunggu seraya mengamati polah pemuda itu. Perkataan sahabatnya masih terngiang ditelinganya. Dan melihat tingkah Alvin, tentu dia tak dapat menepis dugaan bahwa.....
“Vin,” katanya lirih sembari mengerjapkan matanya untuk menahan luruhnya kaca-kaca bening yang mulai terbentuk di bola matanya. Alvin menghentikan langkahnya lantas duduk disamping gadis itu dan menatapnya.
“Iya Fy?” katanya kepada gadis itu. Terdengar getaran disuaranya. Dan gurat kekhawatiran itu, bisa dipastikan semua orang mampu melihatnya.
“Perkatan Via tadi...” Ify menggantungkan kalimatnya.
“Apa kamu juga?” lanjutnya dengan penuh penekanan dikata terakhirnya. Dia memalingkan wajahnya dari Alvin. Setetes air mata tak kuasa dia tahan agar tetap berada ditempatnya semula. Alvin tersentak mendengar pertanyaan kekasihnya. Tenggorokannya terasa kering hingga dia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana penuh maksud yang dikemukakan gadisnya.
“Vin?” kata Ify lagi karena Alvin masih saja diam.
Please answer me!!” katanya seraya menarik lengan sang kekasih.
“Fy... ak.. aku..”
Answer it! Yes or no?” kata Ify yang sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Tetes-tetes air mata kini menghiasi pipinya. Alvin menundukkan kepalanya dalam. Ify masih memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
“Maafin aku Fy,” bisik Alvin.
“Maaf Fy,” katanya lagi seraya merengkuh Ify.
“Nggak perlu minta maaf Vin,” kata Ify menarik dirinya dari rengkuhan Alvin. Tentu dia mengerti maksud ucapan pemuda itu.
“Fy, ak... aku..”
“Hustttt!!!”Ify meletakkan telunjuknya dibibir Alvin.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Karena memang rasa itu bisa datang kepada siapa saja,” kata Ify berusaha membentuk senyum dibibirnya walau dirasanya sakit yang teramat tatkala dia menarik kedua ujung bibirnya.
“Dan aku tidak akan pernah menyalahkan kamu jika ternyata kamu memiliki perasaan itu kepada Via, atau sebaliknya,” lanjut Ify berusaha meredam getaran hebat dihatinya.
“Fy, aku nggak pernah bermaksud untuk itu,” bisik Alvin sembari merengkuh tubuh kecil Ify. Cukup lama. Tatapan sinis dari orang-orang disekitarnya tak mereka pedulikan. Memang apa yang mereka mengerti?
“Aku boleh minta sesuatu?” pinta Ify lirih. Alvin melepas pelukannya.
“Apa Fy?” tanyanya lembut seraya mengangkat wajah gadisnya.
“Vin, mari kita akhiri sketsa tentang kita...... dengan sebuah senyuman,” lirih Ify seraya meraih tangan Alvin dan menggenggamnya. Walau samar, namun kesungguhan terdengar dari kalimatnya.
“Fy, ta... Apa maksud kamu?” tanya Alvin yang tentu saja terkejut mendengar perkataan gadisnya.
“Kamu tidak bisa memilih aku dan Via. Tapi kamu harus memilih aku atau Via,” kata Ify dengan senyum tanpa arti. Alvin masih tampak terkejut mendengar perkataan gadisnya. Mengakhiri sketsa antara dirinya dan Ify sama dengan mengakhiri hubungan keluarga mereka.
“Dan aku tidak akan memberikan kamu pilihan, tetapi sebuah keputusan,” lanjut Ify lirih.
“Fy, tapi..”
Please!! Pahami keadaan kita Vin! Apa kamu tahu? Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan!” hardik Ify. Alvin terdiam.
“Aku tahu apa yang ada dipikiran kamu. Orang tua kita, rencana pertunangan kita, tapi persahabatan bisa jadi mengalahkan itu semua!” Ify menatap lekat bola mata Alvin. Namun pemuda itu masih saja terdiam.
“Aku yakin semua akan baik-baik saja jika kita mampu menjelaskan pada mereka,” Ify melanjutkan monolognya yang membuat Alvin semakin membeku.
“Vin,” katanya lagi seraya meraih kedua tangan pemuda itu dan menggenggamnya.
“Tolong hargai keputusanku. Demi aku, kamu, dan dia,” lanjutnya lirih.
But, I still love you!” protes Alvin.
“Jangan berbohong Vin. Mata kamu tidak bisa menyembunyikan segalanya,” tutur Ify. Alvin menekuk wajahnya. Dia tampak hendak mengutarakan sesuatu.
“Berpisah bukan berarti berakhir. Kita masih bisa menjadi sahabat,” lanjut Ify mendahului Alvin.
“Kamu kira aku berbohong?” kata Alvin kemudian.
“Aku mengenal kamu sekian tahun Vin. Aku tahu mana kamu yang bohong dan tidak. Jangan jadikan dirimu seorang pengecut karena tak berani menceritakan sebuah kebenaran,” sergah Ify. Alvin kembali terdiam, teringat kisah-kisah manisnya dengan gadis itu. Haruskah berakhir sesingkat ini? Padahal ‘rasa’ untuk Ify belum sepenuhnya kandas dari hatinya. Namun dia juga tak bisa memungkiri jika ‘rasa’ itu mulai mengering saat hadirnya sosok lain dihatinya. Sosok yang mampu menggetarkan hatinya. Dan perkataan Ify tadi,”Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan.” Itu berarti keduanya sama-sama sakit. Dan dia sungguh sedang terperangkap dikeduanya. Lalu ucapan Ify tentang,”Jangan jadikan dirimu seorang pengecut,” tentu sulit untuk dia terima. Dia selalu menyematkan predikat itu kepada saudara tirinya. Lalu apakah saat ini dia telah menjadi seorang pengecut juga?
‘Tuhan, apa yang harus kulakukan dan mana yang harus kupilih?’ rintihnya dalam hati.
“Vin,” kata Ify seraya membelai wajah pemuda itu. Alvin menoleh.
“Terkadang cinta bisa mengubah seseorang. Tapi aku mengenalmu. Kamu adalah pribadi yang tegas! Dan aku tak pernah ingin cinta mengambilnya darimu,” tutur Ify.
“Jadi tolong, terima keputusanku. Mari kita akhiri semuanya dengan sebuah senyuman. Bukan berakhir seperti yang lain. Hanya berganti skenario,” lanjut Ify dengan senyum samar. Alvin meraih tangan gadis itu lantas mengecupnya.
“Kamu memberiku keputusan yang sulit,” lirih Alvin. Ify berusaha tersenyum.
“Tapi benar. Dan aku tidak memberimu pilihan,” sambung Ify. Alvin kembali dibuatnya diam.
“Jadi?” tanya Ify. Alvin tak menjawab. Dia menghela nafas panjang. Dengan senyum yang sedikit dipaksa, Ify menunggu jawaban pemuda itu.
“Aku tak akan menjawab iya atau tidak. Namun jika itu keputusanmu....” Alvin berhenti sejenak.
“Akan kucoba untuk menerimanya dengan lapang dada, walau aku tak pernah ingin melepasmu,” lanjut Alvin. Getaran disuaranya tak dapat dia sembunyikan. Ify tersenyum lega.
Thank’s. Udah mau mengerti aku,” lirih Ify. Alvin meraih tubuh gadis itu. Memeluknya erat, untuk kali terakhir. Sebuah kecupan mendarat dikening sang gadis. Ify tak menolak.
“Maaf dan terimakasih untuk segalanya,” bisik Alvin. Ify tersenyum.
“Sama-sama Vin. Dan kamu tahu apa yag harus kamu katakan kepada orang tua kita nanti malam,” balasnya seraya mengusap air matanya. Keheningan lantas menyelimuti keduanya. Tak sepatah katapun terucap sejak saat itu hingga sosok berjas putih menampakkan dirinya dari balik pintu UGD. Sosok yang mereka nantikan. Alvin dan Ify beranjak menghampirinya.
“Bagaimana kondisi Via dok?” tanya Alvin sedikit menggebu.
“Maaf, tapi anda siapanya pasien?” dokter itu balik bertanya.
“Saya sahabatnya dan saya yang bertanggung jawab atas dia,” jawab Alvin.
“Baiklah. Ehm, kondisi pasien sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja stress yang sedang dialaminya membuat daya tahan tubuhnya menurun juga pola makan yang tidak teratur memicu penyakit maagnya kambuh. Dan untuk saat ini kondisinya sudah mulai memulih,” jelas sang dokter.
“Kami boleh menemuinya?” tanya Ify.
“Tentu, kebetulan dia juga sudah siuman,” jawab dokter tersebut sembari mengulun senyum.
“Terimakasih dok,” kata Alvin dan Ify hampir bersamaan.
“Sama-sama,” balas si dokter. Alvin dan Ify segera beranjak menuju UGD. Ify menahan jarak beberapa langkah dibelakang Alvin.
“Vin, tunggu!!” seru Ify seraya menarik lengan Alvin. Alvin menghentikan langkahnya.
“Iya Fy?” tanya Alvin. Ify tersenyum.
“Apapun yag terjadi didalam nanti, jangan pernah mengejarku. Jaga Via untuk aku!” kata Ify dengan tatapan sayunya. Alvin kembali terdiam.
“Janji?” kata Ify mengikat Alvin sebelum pemuda itu memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Dia mengacungkan kelingking kanannya.
“Jika itu mau kamu,” kata Alvin pasrah seraya melingkarkan kelingking kanannya dikelingking Ify.
“Makasih,” Ify tersenyum lembut. Alvin mendahuluinya memasuki ruangan bernuansa putih tersebut.
“Via!!” pekik Alvin ketika memasuki ruangan dan melihat gadis mungil itu terbaring tak berdaya disalah satu sisinya.
“Alvin,” Via balik berseru. Tentu dia merasa terkejut melihat Alvin yang tiba-tiba hadir dihadapannya. Dia mencoba untuk bangkit, namun Alvin telah lebih dulu menahannya.
“Husstt!! Kamu istirahat dulu,” kata Alvin setengah berbisik.
“Kamu... yang bawa aku kesini?” tanya Via sedikit ragu. Alvin mengangguk kecil.
“Jangan buat aku khawatir,” tutur Alvin seraya membelai rambut Via. Via hanya tersenyum dan membiarkan pujaan hatinya itu memberinya belaian lembut.
“Iya Vin. Maaf,” katanya kemudian.
“Permisi,” kata sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu dan sukses membuat Via tersentak.
“Ify?” pekik Via tak prcaya melihat sosok gadis yang kini berada dihadapannya. Gadis itu tersenyum dan melangkah gontai mendekati sahabatnya yang sedang terbaring lemah.
“Kamu pintar banget buat aku khawatir,” kata Ify dengan sbuah senyum yang terkesan dipaksakan. Via masih tak mampu berkata.
“Harusnya kamu bilang dari dulu, jadi aku tahu lebih awal,” katanya lagi seraya mengacak-acak poni sahabatnya. Kaca-kaca bening terbentuk dimatanya.
“Aku keluar dulu,” kata Ify tiba-tiba sembari berlari meninggalkan dua sahabatnya. Bukan karena apa, hanya saja kini air mata telah membasahi pipiya. Dan dia tak mungkin memperlihatkan itu kepada mereka terlebih kepada Alvin mengingat kalimat yang belum lama dia lontarkan. Akhiri semua dengan senyuman. Bukan tangisan.
“Ify!!” jerit Via bermaksud menahan sahabatnya, namun sia-sia. Ify sama sekali tak menoleh kepadaya.
“Kenapa kamu nggak kejar Ify Vin?” tanya Via yang sudah bangkit dari tidurnya seraya menarik-narik kemeja Alvin karena pemuda itu hanya diam melihat kekasihnya berlari keluar.
“Ini permintaannya Vi,” lirih Alvin. Lagi-lagi Via dibuatnya tersentak.
“Apa maksud kamu?” tanya Via.
“Semua udah berakhir Vi,” jawab Alvin dengan nada bersalahnya. Jelas jawabannya kali ini sukses membuat Via terkejut tingkat dewa.
“Tapi kenapa? Katakan kalau kamu bohong Vin!” seru Via yang tak percaya mendengar fakta yang baru saja dikemukakan oleh pemuda yang ada dihadapannya. Dia tahu benar maksud kata ‘berakhir’ dikalimatnya.
“Ini semua salahku. Arrgghh!!!” erang Alvin. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Via. Dia masih tak percaya dengan semua yang baru saja didengarnya.
“Kamu sungguh Vin?” tanyanya lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Bisakah aku berbohong dalam keadaan seperti ini?” Alvin balik bertanya. Via menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tak menampik tuduhan jika semua ini terjadi karena dirinya juga.
“Vin,” bisiknya seraya merobohkan dirinya kepelukan pangerannya.
“Bukan salah kamu, tapi salah kita,” katanya lagi meralat ucapan Alvin. Alvin mengelus pundak gadis itu. Kemeja depannya turut basah oleh air mata sang gadis.
“Kita semua hanya ingin menuruti apa yag diyakini oleh hati nurani kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ini semua terjadi juga tak luput dari kesalahanku,” lanjutanya seraya terisak.
**********
                “Non Ify...” kata seseorang dibalik pintu kamarnya. Ify segera beranjak dari tempat duduknya menuju arah datangnya suara.
                “Ada apa bi?” tanyanya sedikit ketus kepada wanita paruh baya dihadapannya.
                “Itu, Non Ify sudah ditunggu sama Tuan dan Nyonya juga para tamu,” jawab wanita yang tak lain adalah pesuruh dirumah Ify dengan sedikit terbungkuk-bungkuk.
                “Iya bentar lagi aku turun,” jawab Ify asal seraya menutup pintu kamarnya tanpa mempedulikan wanita yag menjadi lawan bicaranya.
                “God, give me a little more strength to through this problem,” rintih Ify. Setetes air mata jatuh bebas dari pelupuk matanya. Ditatapnya pantulan bayangan wajahnya dari cermin. Cekungan hitam dimatanya tak dapat dia sembunyikan. Kemudian, dengan asal dia memainkan kosmetik diwajahnya dan menata rambutnya dengan asal juga. Malam ini tak ada gairahnya untuk tampil sempurna dihadapan keluarga Arya. Semua sudah berakhir berganti skenario. Skenario yang dia pilih untuk hidupnya, atau mungkin lebih tepat untuk hidup mereka. Segurat senyum hambar terbentuk dibibir gadis itu. Ekor matanya menatap pintu putih diujung ruangannya.
                “Ayolah Fy! Bukankah kamu yang memilih ini?” katanya meyakinkan dirinya sendiri. Lalu dengan gontai dia melangkah menuju ujung ruangan itu. Dibukanya pintu putih itu seakan tanpa tenaga. Dia menghela nafas panjang seraya mengerjapkan matanya.
                “Kuharap dibawah nanti aku bisa lebih tegar dan cairan kelemahan ini tak keluar,” bisiknya lantas dia segera menuju tangga dan dengan enggan dia menuruninya, seperti ada yang menahan langkahnya. Samar-samar dia melihat sosok-sosok yang begitu dikenalnya, dan seorang pemuda dengan balutan jas hitam yang telah menorehkan sedikit luka dihatinya. Luka yang berusaha dia tepis dan dia berharap agar tak ada sebutan luka baginya.
                “Maaf saya terlambat,” kata Ify parau setelah sampai dimeja makan. Memang tak sopan membuat orang lain menunggu, apalagi mereka yang lebih tua daripada kita.
                “Tak apa sayang, silakan duduk,” kata Bu Umari dengan senyumnya yang tetap terkesan berwibawa. Ify hanya mengangguk kecil lantas duduk disamping Alvin, mantan kekasihnya. Dia nampaknya menjaga jarak dengan pemuda itu mengingat statusnya yang kini bukan lagi kekasihnya.
                “Nah, Alvin, Ify, bagaimana dengan rencana pertunangan kalian?” kata pak Umari membuka percakapan, tepatnya langsung menuju pokok masalah. Alvin dan Ify tentu terkejut mendengar pertanyaan itu. Mereka berpandangan beberapa saat namun akhirnya mereka juga tetap diam.
                “Alvin?” kata Pak Arya ketika melihat reaksi puteranya.
                “Katakan Vin!” bisik Ify sembari melirik tajam kearah pemuda itu.
                “Tapi Fy...” kata Alvin hendak menyergah Ify.
                “Katakan sekarang!” bisik Ify setengah berseru. Alvin hanya menghela nafas panjang. Tak bisa dibayangkannya bagaimana reaksi orang tuanya juga orang tua Ify jika nanti mendengar pernyataannya.
                “Vin!” gertak Ify yang hanya dibalas anggukan oleh si pemilik nama.
                “Pa, ma, om, dan tante....” kata Alvin akhirnya menuruti permintaan Ify.
                “Sebelumnya Alvin minta maaf, juga Ify,” lanjutnya.
                “Iya Vin, ada apa?” Bu Arya mengerutkan kening. Alvin mendengus. Dia seakan kehilangan kosa katanya untuk mengatakan apa yang harusnya dia katakan. Dia menatap Ify, berharap gadis itu bisa membantunya.
                “No matter Vin, say it now!” bisik Ify sekali lagi.
                “Begini ma, pa, tapi sebelumnya Alvin harap papa sama mama, juga om dan tante bisa menerima keputusan Alvin dan Ify,” kata Alvin. Dia berhenti sejenak. Mencoba menormalkan detak jantungnya.
                “Sepertinya....” Alvin menggantungkan kalimatnya. Semua yang ada diruangan itu mengerutkan kening kecuali dirinya dan Ify.
                “Sepertinya, Alvin dan Ify tidak bisa memenuhi dan menjalankan rencana papa, mama, om, dan tante,” lanjut Alvin hati-hati takut membuar kesalahan dikalimatnya.
                “Apa maksud kamu Vin?” tanya Pak Arya sedikit membentak. Pernyataan Alvin jelas membuatnya tersentak.
                “Maaf om, karena nyatanya hati memang mudah dibolak-balikkan,” sela Ify berharap pendengarnya bisa menangkap maksud tersirat dari kalimatnya.
                “Apa yang sebenarnya terjadi Fy? Bukankah kalian masih baik-baik saja?” protes Pak Umari yang juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
                “Apakah harus ada masalah disetiap akhir dari kisah percintaan?” Ify balik bertanya dengan kalimat lugas dan jelas.
                “Jadi kalian? Putus begitu maksudnya?” Bu Arya angkat bicara.
                “Iya ma, maaf sebelumnya,” jawab Alvin lirih.
                “Ify, Alvin, sungguh kalia tak ada masalah?” tanya Bu Umari prihatin seraya menatap lekat puteri kesayangannya. Ify menggeleng kuat.
                “Kami tidak ada masalah tante,” kata Alvin menerjemahkan gelengan kepala Ify walaupun hatinya tak menyangkal jika ada tuduhan bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya.
                “Tolong hargai keputusan kami pa, ma, om, tante,” kata Ify. Semua mata kini tertuju padanya.
                “Bukankah pertunangan itu jalan menuju pernikahan? Dan bukankah pernikahan itu harus didasari dengan perasaan cinta? Lalu bagaimana jadinya jika dua insan yang tidak saling mencintai dipersatukan kedalam ikatan pernikahan yang disebut sebagian orang sebagai hal yang sakral? Tentu papa, mama, om, dan juga tante sudah merasakan hal itu. Papa, mama, om, dan tante tentu sudah tahu apa itu arti pernikahan. Dan bagaimana rasanya jika kita harus menikah dengan orang yang tidak kita inginkan? apakah kami harus mengalami kegagalan? Bukankah itu nantinya hanya akan menodai arti pernikahan?” kata Ify panjang lebar tak peduli dengan konteks kalimat yang digunakannya.
                “Tapi Fy!” kata Bu Arya hendak menyergah.
                “Tolong hargai keputusan kami! Kami mohon! Kerjasama antara Umari dan Arya Corp tak harus dikukuhkan dengan sebuah pernikahan. Bukankah hal yang seperti itu sudah menjadi cerita lama? Umari dan Arya Corp pasti bisa bersatu tanpa harus mempersatukan kami!” kata Ify setengah berteriak berusaha meyakinkan semua orang tuanya juga orang tua Alvin walau ada sebagian hatinya yang juga turut tak bisa menerima perkataannya. Ruangan yang tadinya penuh celoteh kini mendadak menjedi hening.
                “Kalian serius?” tanya Bu Umari memecahkan keheningan. Ify menatap Alvin dan memberi isyarat agar pemuda itu menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan mamanya.
                “Iya Tante. Kami serius. Dan kami berjanji untuk tetap menjadi sahabat,” kata Alvin seraya menatap Ify. Ify tersenyum mengiyakan perkataan Alvin.
                “Sudahlah pa kalau begitu. Kita turuti saja kemauan anak-anak,” kata Bu Arya kepada suaminya dengan nada menyerah. Pak Arya dan Pak Umari bertatapan beberapa saat. Sepertinya mereka juga ikut menyerah dan memilih untuk menuruti permintaan buah hatinya.
                “Baiklah jika itu mau kalian. Papa hormati! Asal memang benar tidak terjadi masalah diantara kalian yang nantinya bisa menimbulkan perpecahan Umari dan Arya Corp,” kata pak Umari akhirnya dengan berat hati. Ify tersenyum lega sementara Alvin nampaknya masih sulit menerika keputusannya sendiri.
                “Makasih pa, ma, om, tante. Ify juga berharap, jika ini bukan akhir dari segalanya, kerjasama yag sudah kita bentuk sekian tahu lamanya,” kata Ify. Dia menggigit bibir bawahnya tahu jika cairan bening itu akan mengalir.
                “Permisi, Ify ke kamar dulu,” kata Ify lagi dan tanpa menunggu izin dari mereka yang ada di meja makan, Ify segera berlari menuju kamarnya. Sebenarnya dia tahu jika meninggalkan meja makan sebelum acara makan berakhir bukanlah hal sopan. Namun dia tak memiliki pilihan lain agar mereka tak melihat cairan bening itu luruh dari pelupuk matanya.
**********
*bersambung*




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top