Rabu, 11 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 3

Lihat dengan Hatimu
Part 3
By: Nina Kurnia Dewi

Via berjalan sedikit tergesa-gesa menuju kelasnya. Dia tidak pernah datang sesiang ini sebelumnya. Namun langkahnya terhenti diambang pintu kelasnya ketika melihat dua sejoli sedang larut dalam kemesraan. Kaca-kaca bening samar-samar terbentuk dimatanya melihat adegan mesra yang diperankan oleh sahabatnya dan pengeran hatinya, Ify dan Alvin. Dia menyembunyikan dirinya dibalik pintu agar tak terlihat oleh mereka berdua. Mata indahnya manatap lekat pemandangan didepannya. Dengan mesra Alvin membelai rambut Ify lantas mengecup kening gadis itu.
I will be here to be yours dear,” katanya sembari merengkuh Ify.
Thank’s for all, you’re the best man I’ve ever known,” lirih Ify. Alvin tersenyum mendengar perkataan gadisnya. Sementara setetes air mata jatuh bebas dari pelupuk mata Via tatkala melihat dan mendengarnya. Dengan lari kecil Via meninggalkan tempatnya berpijak. Tetes-tetes air matanya kini berubah menjadi aliran sungai yang mengalir makin deras. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan mengunci dirinya disana.
“Tuhan, kenapa hingga sekarang aku masih belum bisa menerima kenyataan itu? Mengapa air mata ini harus ada? Mengapa tak Kau sadarkan aku untuk tidak berharap lebih kepada Alvin?” katanya ditengah tangisnya yang pilu. Ditatapnya cermin yang berada dimukanya. Dia memainkan jemarinya diatas cermin itu mengikuti lekuk-lekuk wajahnya.
“Karena Ify lebih sempurna daripada aku,” lirihnya dengan senyuman kecut. Diambilnya selembar tissue dari tasnya lantas diusapnya sisa-sisa air dipipinya.
“Biarkan mereka bahagia Vi,” katanya lagi pada dirinya sendiri. Dia menghela nafas panjang dan setelah yakin dirinya benar-benar tenang, dia melangkah meninggalkan tempat itu menuju kelasnya seraya berharap agar dia mampu menerima kenyataan yang ada.
**********
“Permisi Non,” kata seorang wanita paruh baya sembari mengetuk pintu kamar Via. Dengan malas si empunya kamar membukakan pintu untuknya.
“Ada apa bi?” tanyanya ketus karena mersa tidur siangnya terganggu.
“Ada teman Non didepan. Nyariin Non,” jawab wanita itu sambil sedikit membungkuk.
“Siapa? Laki-laki atau perempuan?” Via mengerutkan kening.
“Laki-laki Non. Tapi maaf, saya ndak tahu,” kata perempuan itu dengan logat jawanya yang kental.
“Ya udah. Bibi suruh nunggu dulu. Via mau ganti baju,”
“Iya Non. Permisi,” katanya seraya beranjak pergi. Dengan asal Via mengganti baju tidurnya dan membenahi tatanan rambutnya yang semrawut.
“Siapa sih? Mau kesini nggak ngomong dulu,” gurutunya sembari menyisir rambutnya. Setelah dirasanya cukup rapi, dia segera beranjak keluar menuju lantai dasar rumahnya dan alangkah terkejutnya dia mendapati siapa yang bertamu kerumahnya. Seorang pemuda yang sangat dia kenal yang membuat jantungnya berdegup melebihi frekuensi normal.
“Alvin...” katanya sedikit ragu. Si pemilik nama segera berbalik mendengar namanya disebut.
“Eh, Via. Ehm.. aku ganggu kamu ya?” tanya Alvin melihat wajah Via yang sedikit kusut.
“Enggak kok,” jawab Via berusaha membentuk senyuman dibibirnya. Alvin mengerutkan kening. Nampak betul lingkar hitam dibawah mata Via.
“Kamu baru tidur?” tanya Alvin lagi dengan nada sedikit ragu. Perasaan bersalah tiba-tiba menyelimuti hatinya.
“Engg... enggak kok Vin,” jawab Via berusaha menutupi fakta yang baru saja dikemukakan Alvin.
“Aku pasti ganggu tidur siang kamu ya?” kata Alvin tak menggubris kalimat Via.
“Enggak kok Vin nggak papa. Oh ya, ada perlu apa?” sergah Via berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Yakin nggak apa-apa? Kamu boleh meneruskan tidur kamu lho kalau kamu masih ingin,” celetuk Alvin menanggapi sergahan Via.
“Udah deh. Lagian kan kamu udah jauh-jauh datang kesini. Percuma kalau maksud kamu nggak kesampaian,” kata Via berusaha meyakinkan Alvin. Alvin hanya mampu tersenyum mendengar pernyataan Via.
“Sebenarnya aku mau mengajak kamu keluar,” kata Alvin akhirnya langsung to the point. Via sedikit tersentak mendengar perkataan Alvin lantas dia menengok ke arah jam dinding.
“Kemana?”
“Ke taman. Sebentar aja kok. Nggak lama. Ya?” kata Alvin dengan senyum menggoda. Via hanya mampu menghela nafas panjang dan meng-iya-kan permintaan  lawan bicaranya. Dengan senyum kemenangan, Alvin menuntun Via menuju mobilnya.
**********
Alvin menyandarkan tubuhnya di bangku taman kota seraya menatap kagum singgasana megah Sang Maha Pencipta. Ekor matanya dengan cermat memeperhatikan gadis yang sedang duduk disebelahnya. Gadis itu terlihat jauh lebih cantik dari yang semula dia kenal. Bukan hanya fisiknya, melainkan juga hatinya.
“Kamu berapa bersaudara Vi?” tanya alvin memulai percakapan. Via segera menoleh kearah datangnya suara.
“Aku anak tunggal Vin,” jawabnya dengan senyuman hambar seakan merasa tidak senang dengan apa yang baru saja dia katakan. Hati kecilnya memang menginginkan agar predikat itu segera hilang darinya.
“Kok kayaknya nggak senang gitu?” tanya Alvin heran melihat ekspresi muram Via.
“Aku ingin mempunyai... ya paling tidak seorang adiklah. Walaupun aku akan lebih senang jika bisa mempunyai seorang kakak,” lirih Via berusaha megeluarkan uneg-unegnya.
“Kenapa? Bukannya enak jadi anak tunggal? Nggak perlu bersaing untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan?” tanya Alvin bertubi-tubi. Sekali lagi Via tersenyum, namun senyumannya kali ini terlihat lebih berarti.
“Karena jika kita memiliki saudara, paling tidak kita mempunyai tempat untuk berbagi. Dan hidup memang akan bermakna jika kita bisa berbagi. Kadang aku merasa heran kepada mereka yang tidak bisa menghargai arti sebuah persaudaraan. Terlebih jika berujung kesebuah pertikaian. Sangatlah bodoh menurutku mereka yang melakukan itu,” tutur Via lembut yang sukses membuat Alvin terdiam. Dua kalimat terakhirnya mengingakan dia kepada sosok saudara tirinya.
‘Bodohkah aku yang telah merusak ikatan persaudaraanku dengan pengecut itu karena aku dan dia mencintai sosok gadis yang sama?’ tanya Alvin pada dirinya sendiri. Via sedikit heran melihat sikap Alvin. Sangat jarang dia menemukan pangeran hatinya ini tengah terenyuh kedalam pikirannya.
“Kenapa Vin?” tanya Via membuyarkan lamunan Alvin.
“Oh... ehm.. nggak papa kok. Kamu mau ice cream?” kata Alvin sedikit gelagapan namun dia segera berusaha mengalihkan perhatian Via. Via menangguk kecil.
“Tunggu ya?” kata Alvin sembari beranjak dari tempat duduknya menuju kedai ice cream di pojok taman yang tengah ramai dikerumuni anak-anak.
“Kamu.... sempurna,” gumam Via seraya terus mengamati sosok pujaan hatinya dari kejauhan. Seperti apapun penampilannya dia selalu terlihat menawan dimata Via. Terlebih jika dia sedang menggiring bola di lapangan hijau.
“Pesonanya melebihi Christian Ronaldo,” gumam Via suatu hari dipojok kamarnya usai meonton pertandingan perdana Alvin di NRIS.
Namun, bukan itu yang menyebabkan dia menaruh hati pada kekasih sahabatnya itu. Bukan pula karena pemuda itu memiliki perangai yang baik atau apa. Namun karena sebuah alasan yang hingga saat ini Via belum mampu menemukan apa ‘itu’.
“Nih Non,” kata Alvin tiba-tiba seraya menyodorkan sebuah cone ice cream kepada Via. Via menerimanya tanpa ekspresi karena merasa sedikit terkejut oleh kedatangan Alvin yang tiba-tiba ditengah lamunannya.
“Makasih,” katanya sesaat kemudian. Alvin mengangguk ringan. Ekor mata Via smar-samar mengamati Alvin. Tak ubahnya seperti Alvin yang biasanya dimata Via, gayanya pun ketika makan ice cream tetap terlihat begitu menawan dimata gadis itu.
“Via.. Via,” kata Alvin tiba-tiba diiringi dengan kikikannya yang khas.
“Ada apa?” tanya Via heran melihat polah tingkah pangerannya.
“Ternyata benar ya kata Ify. Kamu kalau makan ice cream nggak pernah bisa rapi,” kata Alvin disela-sela tawanya. Via hanya melongo mendengar ucapan Alvin. Kemudian dengan sigap Alvin mengeluarkan selembar tissue dari saku kemejanya dan mengusap lembut bibir Via. Tentu Via merasa terkejut dengan sikap Alvin. Ini kali pertamanya pemuda itu menyentuh dirinya. Perlahan namun pasti, jantung Via mulai berdegup melebihi frekuensi normalnya, membuat dia mati kata dan hanya mampu menurut kepada sang pangeran hatinya.
“Dah, gini dong cantik,” kata Alvin sembari mengacak-acak rambut Via. Via hanya mampu memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah yang tergurat jelas dipipinya.
“Udah cantik kok,” goda Alvin. Via lantas menatap Alvin dengan tatapan menggoda pula. Tawa renyah tercipta dari mereka berdua. Dan tanpa mereka sadari, benih-benih merah jambu sang sakura tersemat dihati mereka berdua.
**********
Perasaan heran masih menyelimuti hati Via. Bagaimana tidak? Pasalnya hari ini pangeran hatinya benar-benar bertingkah diluar kebiasaan. Sejak kejadian di koridor sekolah sebulan yang lalu, sejak itu pula Alvin selalu mengajak Via pergi ke taman kota baik untuk berbagi cerita maupun hanya sedekar untuk tertawa bersama. Dan hari ini tiba-tiba saja Alvin menunjukkan sikap anehnya. Pertama, dia tidak pernah mengajak Via pergi dimalam hari seperti hari ini. Dan kedua, Alvin selalu membawa mobil. Bukannya membawa sepeda motor seperti hari ini.
“Mobil kamu mana Vin?” tanya Via saat Alvin tiba dirumahnya.
“Aku bawa motor Non,” jawab pemuda itu dengan senyum khasnya. Via hanya mampu menutupi mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya.
“Kenapa? Kamu nggak takut naik motor kan?” Alvin mengangkat sebelah alisnya.
“Iya... iya.. enggak,” kata Via yang masih keheranan.
“Via? Ada apa?” tanya Alvin tiba-tiba yang sukses membuyarkan lamunan Via.
“Eh, eng.. enggak kok. Nggak ada apa-apa. Cuma heran aja hari ini nggak ada bintang yang tampak,” jawab Via seraya memanang langit yang memang tampak lebih gelap dari malam-malam biasanya itu.
“Iya Vi. Oh ya, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Alvin lagi. Via hanya mengangguk.
“Kamu pernah jatuh cinta?” tanya Alvin sedikit ragu.
“Ya pernahlah,” jawab Via spontan seraya menahan tawanya yang mulai pecah.
“Apakah kamu akan menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta?” tanya Alvin lagi tak mempedulikan tawa Via yang mulai lepas.
“Ya enggaklah Vin. Diundang-undang juga nggak ada larangan jatuh cinta kan?” jawab Via berusaha melucu.
“Tapi.....” Alvin menggantungkan kalimatnya dan menatap Via makin lekat.
“Apa?” tanya Via yang telah berhasil meredam tawanya.
“Bagaimana jika kamu jatuh cinta dengan sahabat dari kekasihmu?” tanya Alvin serius dengan penuh penekanan pada kata-kata terakhirnya. Kali ini Via benar-benar terdiam matanya ikut menatap mata sipit lawan bicaranya. Tak ada tawa yang keluar dari bibirnya. Tak percaya dengan apa yang diucapkan Alvin. Apapun itu, hati kecilnya sebagai seorang perempuan tetap tak bisa menepis persaan bahwa orang yang dimaksud Alvin adalah..... (baca: dia). Dan tiba-tiba perkataan sahabatnya terlintas dipikirannya.
“Via, kamu tahu? Sepanjang perjalanan hidupku aku tak pernah mencintai seorang laki-laki seperti aku mencintai Alvin. Karena dialah satu-satunya orang yang telah berhasil mengambil seluruh hati dan pikiranku,” kata Ify dengan sebuah senyuman tulus. Via juga ikut tersenyum mendengarnya, walau sebagian hatinya telah dibuatnya menangis.
“Via,” kata Alvin sedikit bergumam seraya meraih tangan Via dan menggenggamnya erat.
“Vin... hujan!!” seru Via saat merasakan titik-titik air jatuh mengenainya. Tanpa bayak bicara Alvin segera menuntun Via berlari menuju tempat yang teduh. Hujan kali ini datang disaat yang tepat bagi Via. Hati kecilnya tersenyum walaupun kegalauan masih menyelimutinya.
“Seharusnya gue tadi bawa mobil!!” Alvin merutuki dirinya sendiri, namun Via nampak tak mempedulikannya. Dia merasakan dingin menyelimuti tubuhnya. Bibirnya mulai memutih.
“Vi... Via?” kata Alvin dengan nada khawatir melihat gadis itu menggigil. Dia segera melepas jaketnya dan membalutkannya ketubuh Via.
“Kamu nggak papa?” tanya Alvin masih khawatir. Via mengangguk lemah. Dan entah apa yang terlintas dipikiran Alvin, dia segera merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Tubuhnya lebih hangat daripada tubuh Via, mungkin itu akan sedikit membantu, pikirnya. Via tak mampu menolak pelukan Alvin walau ada sebagian kecil dari hatinya yang memberontak. Apapun itu, dia membutuhkannya. Samar-samar, Alvin merasakan irama jantungnya berubah. Tak seperti biasanya, begitu pula dengan gadis yang berada didalam dekapannya.
“Tolong lepasin aku Vin,” kata Via sembari menarik tubuhnya dari rengkuhan Alvin karena pemuda itu memeluknya terlalu erat dan membuatnya sedikit kesulitan bernafas.
“Maaf,” kata Alvin seraya melepaskan pelukannya. Via segera beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa apakah hujan sudah reda.
“Vin, pulang yuk? Udah malam,” tanya Via samar-samar.
“Tapi masih hujan Vi?” protes Alvin karena hujan memang belum sepenuhnya reda.
Please...” pinta Via memelas. Tatapan sayu dilayangkannya kepada Alvin dengan harapan agar pemuda itu segera menuruti permintaannya.
“Ya udah deh, kalau kamu maksa,” kata Alvin akhirnya dengan berat hati. Dia lalu menuntun Via menuju tempat parkir sepeda motornya.
“Pelan-pelan aja Vin,” pinta Via yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Alvin, namun tak dihiraukannya.
“Vi, tangan kamu,” kata Alvin seraya mengulurkan tangan kirinya dan meraih tangan kanan Via lantas melingkarkan tangan gadis itu dipinggangnya. Via tak menolak, tahu apa yang akan dilakukan Alvin. Menambah kecepatan tentu saja. Namun dia tak berkomentar sama sekali. Perkataan kedua orang terdekatnya sedang berkecamuk dipikarnnya. Menimbulkan konflik tersendiri dihati kecilnya.
Via menghela nafas lega saat sepeda motor Alvin memasuki halaman rumahnya.
“Makasih Vin. Ini jaket kamu,” kata Via setelah memijakkan kakinya dibumi.
“Maaf ya, aku jadi buat kamu kehujanan,” kata Alvin merasa bersalah. Via hanya tersenyum mendengar permintaan maaf pemuda itu.
“Nggak papa kok Vin. Kamu nggak perlu minta maaf,” kata Via menyergah ucapan Alvin.
“Ya udah. Aku pulang dulu ya?” kata Alvin yang sudah merasa bahwa gadis itu tidak akan mempersilakannya mampir kerumahnya. Namun, andai dia tetap melakukannya, Alvin juga pasti akan menolak. Dan benar saja, Via hanya mengangguk dan tersenyum melepas kepergian Alvin bersama CBR150-nya. Via segera berlari menuju kamarnya setelah deru motor Alvin tak terdengar lagi dan mengunci dirinya di ruang pribadi miliknya itu. Konflik batin sedang dialaminya. Seriuskah ucapan Alvin tadi? Benarkah orang yang dimaksud adalah dirinya? Lalu bagaimana dengan Ify -sahabatnya- yang jelas-jelas sangat mencintai pemuda itu?
**********
Alvin dan Ify berjalan bersama menuju music room, tempat favorit mereka disekolah ini. Canda tawa terdengar dari keduanya. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata sang gadis. Dia bergelayut mesra dilengan kekasihnya seakan tak ingin pemuda itu lepas darinya.
“Vin, tunggu!!”  kata Ify tepat ketika mereka hendak menjejakkan kaki dibibir pintu ruangan yang mereka tuju. Sayup-sayup terdengar alunan tuts-tuts piano diruangan itu. Rupanya seseorang telah terlebih dahulu memakainya sebelum mereka. Terdengar isakan-isakan kecil disela-sela melodi yang dimainkannya, dan itulah yang membuat Alvin dan Ify menghentikan langkahnya.
Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku
Seorang gadis bersenandung seraya memainkan jemarinya diantara tuts-tuts piano dengan iringan air mata yang mulai luruh dari pelupuk matanya. Terdengar begitu miris olaeh dua orang audiencenya yang berada diluar ruangan itu. Rasa sakit akibat penyakit gastritisnya yang kambuh semenjak dua hari lalu perlahan mulai menguras tenaganya. Apalagi sejak hari itu juga belum sesendok nasi ataupn seteguk air yang masuk kedalam tubuhnya. Namun tampaknya hal itu tak mengurungkan niatnya untuk bermain piano sedikitpun. Karena rupanya dia bukan hanya sekedar bermain, melainkan ingin mengutarakan isi hatinya. Dia sedang mengalami konflik batin yang banyak memberi dampak negatif baginya.
“Via?” tanya Alvin sedikit ragu. Ify hanya mengangguk tanpa arti. Gurat kecemasan nampak jelas diwajah mereka.
“Kapan Vin kamu sadar jika aku lebih ada untuk kamu..... daripada Ify?” kata Via terisak ditengah-tengah alunan melodi yang dimainkannya. Dua audiencenya sukses dibuat terkejut olah perkataan sang pianis, terlebih Ify. dia hanya mampu menatap Alvin dengan tatapan penuh tanya namun Alvin hanya memandangnya sekilas lantas membuang muka darinya.
“A... aku.. uhuk...uhuk...” lanjut gadis itu tebata-bata. Tangan kirinya memegangi perutnya yang terasa sangat perih bagai ditusuk ribuan jarum. BRUKKK!!!
“Vi.. Via..” teriak Alvin tiba-tiba seraya berlari masuk keruangan itu. Ify tak mampu berkata, dia hanya mengikuti Alvin dan memilih menjadi tokoh pasif.
“Via!!” jerit Alvin histeris melihat gadis itu tengah tersungkur dan tak sadarkan diri dikaki-kaki meja piano. Darah segar mengalir dari bibirnya.
“Vi... kamu kenapa?” katanya lagi seraya mengusap darah dibibir gadis itu dengan jemarinya.
“Kita bawa Via ke rumah sakit Fy,” kata Alvin seraya mengagkat tubuh Via. Ify hanya mengangguk dan mengikuti kekasihnya yag berlari didepannya.
“Kamu temenin Via dibelakang,” titah Alvin. Lagi-lagi Ify hanya mengangguk. Alvin segera duduk dibelakang kemudi dan menghidupka mesin mobilya. Pemuda itu mengemudikan mobilnya membelah jalan raya diatas batas kecepatan yang diizinkan. Tak dihiraukannya makian dan umpatan dari pengguna jalan lain. Misinya hanya satu: membawa Via ke rumah sakit tepat waktu sebelum hal yang lebih buruk terjadi pada gadis itu. Sementara Ify masih tak mampu berkata-kata. Apalagi melihat sikap sang kekasih. Dilihatnya sesekali kekasihnya itu menoleh kebelakang. Namun, tak untuk melihat dirinya, melainkan gadis yang kini ada dipangkuannya.
**********
*bersambung*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top