Selasa, 03 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 1


Lihat dengan Hatimu
Part 1
By: Nina Kurnia Dewi

      Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera melangkah menuju area sekolahnya. Pintu gerbang utama berukuran 3X8 meter dengan tulisan “Welcome to Nusantara Raya International School” yang berada disudut atasnya menyambut gadis itu dengan diikuti oleh puluhan pasang mata yang seketika langsung memandangnya tepat setelah dia memasuki pintu gerbang. Alyssa Saufika Umari. Pemilik paras cantik dan tubuh yang ideal. Juga yang tak kalah penting, pemilik nama belakang Umari yang secara lugas menegaskan bahwa dia merupakan bagian dari klan Umari. Pemilik kerajaan bisnis ternama di negeri ini.
Gadis paling dipuja se-NRIS itu melangkah ringan tanpa memperdulikan mereka yang memandangnya sedikitpun menuju kekelasnya yang terletak sejajar dengan pintu gerbang utama.
                “Pagi Fy!” Kata sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya ketika dia memasuki ruang kelasnya yang masih sepi penghuni itu.
                “Pagi juga Vin!” Balasnya sembari mengulun senyuman termanisnya kepada pemuda jakung berkulit putih yang sedang duduk manis dibangkunya. Alvin Jonathan Sindunata Arya. Putra mahkota ‘Arya Corp’. Raksasa bisnis kedua setelah ‘Umari Corp’ yang merupakan mitra kerjanya. Wajah yang tampan, kapasitas otak yang menujang, segudang prestasi didunia persepak bolaan, nama belakang keluarga yang sudah termasyur, dan ditunjang dengan sifat ramah yang selalu dipamerkan kepada setiap orang membuat pemuda ini tampak begitu istimewa dan selalu menduduki grade teratas dihati kaum hawa di NRIS. Pemuda yang merupakan teman masa kecil Ify –Alyssa Saufika- dan entah apa rencana Tuhan mempertemukan mereka kembali di sekolah ini.
                Ify menyudahi perhatiannya kepada Alvin. Dia melangkah menuju pojok ruangan dimana sedang duduk seorang pemuda jakung berkulit sawo matang dengan kaca mata tebal yang selalu menghiasi matanya. Gabriel Stevent Damanik A. Seseorang yang mungkin bisa dikatakan satu-satunya siswa yang berpenampilan paling sederhana di sekolah ini mengingat status International School yang disandangnya. Sesosok pemuda sederhana dengan kapasitas otak yang -mungkin bisa dikatakan -mirip dengan Einstein. Seseorang yang selalu mampu membius Ify dengan setiap rangkaian kata yang diucapkannya. Seseorang yang selalu menjadi tempat pelarian Ify ketika mendapat masalah karena dia selalu berhasil mendamaikan hati Ify.
                “Pagi Yel!” Sapa Ify kepada Gabriel. Lalu dengan santai dia duduk dibangku tepat didepan Gabriel lantas kemudian dia menatap mata Gabriel lekat-lekat. Mencoba menguak seluruh rahasia yang tersembunyi dibalik kacamata tebal dan rambut klimis pemuda itu. Rahasia yang hingga detik ini mungkin hanya Gabriel dan orang-orang yang berperan didalamnyalah yang mengetahuinya. Ify mengenal Gabriel cukup dekat selama dua tahun terakhir ini. Namun rupanya Ify belum mampu menyibak identitas lengkapnya. Identitas yang menyembunyikan banyak rahasia yang akan sangat mudah diketahui andai Ify bisa mengetahui nama belakang yang disandang pemuda itu. Nama belakang yang tidak pernah digembar-gemborkan kepada siapapun. Karena Gabriel lebih suka memakai inisial ‘A’ untuk nama belakangnya. Sebenarnya Ify tak pernah memperdulikan siapa Gabriel maupun orang-orang yang dia kenal. Namun sepertinya Gabriel menyimpan sebuah rahasia besar didalam dirinya yang menarik untuk diketahui.
                “Tumben pagi-pagi udah datang Fy,” celetuk Gabriel yang seketika langsung membuyarkan lamunan Ify.
                “Emang nggak boleh Alyssa Saufika datang pagi?” jawab Ify dengan nada sedikit gelagapan namun dia segera berusaha menguasai dirinya dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
                “Bolehlah. Justru itu lebih bagus,” respon Gabriel. Ify hanya tersenyum. Dia segera beranjak menuju ke bangkunya meninggalkan Gabriel.
                “Oh iya. Hampir aja gue lupa,” kata Ify seraya menepuk jidat setelah dia meletakkan tasnya ke dalam laci.
                “Pagi nona Via,” goda Ify kepada teman sebangkunya yang sedari tadi hanya memajukan bibirnya saja. Sivia Azizah. Sosok gadis manis yang selalu menghias mata indahnya dengan kaca mata pink yang merupakan sahabat Ify sejak duduk di bangku kelas VI sekolah dasar. Seseorang yang mampu memberikan warna-warna indah pada hari-hari Ify. Yang selalu membuat Ify tersenyum dan tegar menghadapi liku-liku kehidupannya. Namun hari ini dia tampak berbeda. Tidak seperti Via yang biasanya. Tampak kusut dan lesu. Bukan hanya itu, bahkan kali ini dia tidak merespon Ify  -sahabatnya- sama sekali. Justru dia menutupi wajah manisnya dengan buku tebal yang sedang dibacanya. Raut heran tergurat jelas diwajah Ify. Namun dia tampak tidak mempermasalahkan sikap sahabatnya kali ini. Dia memilih untuk mengalah. Mengobrol dengan Alvin untuk mengalihkan perhatiannya.
**********
                Sejak lima menit yang lalu Alvin belum mengalihkan pandangannya dari Ify. Dia tampak sedang mengagumi karya sempurna Tuhan yang sedang berada didepannya. Sementara Ify mulai kehilangan pertahannya. Sudah dua puluh coretan tip-x tergores dibuku catatanya. Alvin mulai membuatnya salah tingkah. Namun sebisa mungkin dia berusaha menutupinya.
                “Lo boleh kedip kok Vin! Gue jamin wajah Ify nggak akan berubah!” cerocos Deva, teman sebangku Alvin yang hanya dibalas sebuah senyuman datar oleh si pemilik nama.
                “Gue lagi natap seorang bidadari bro,” balas Alvin yang kali ini sudah mengalihkan pandangannya kearah Deva. Ify menundukkan kepalanya semakin dalam. Menyembunyikan  rona merah yang tergurat dipipinya.
                “Okay class, see you next week with a new lesson spirit! Bye,” kata Ma’am Lena diiringi bel istirahat yang menandakan berakhirnya jam ke-4 hari itu. Ify bernafas lega. Melepaskan ketegangannya.
                “Do you mind to go to the canteen with me miss?” tanya Alvin kepada Ify sembari mengulurkan tangannya.
                “No. Do you wanna go with us?” Ify melemparkan pertanyaan kepada Via disusul dengan sebuah senyuman sempurna. Namun Via hanya menggeleng. Tanda dia menolak.
                “Really?” kata Ify yang tidak yakin dengan sikap sahabatnya.
                “Gue lagi nggak mood!” balas Via yang sukses membuat Ify tercengang.
                “Udah Fy. Via-nya nggak mau tuh. Jangan dipaksa,” kata Alvin mendamaikan kedua sahabat itu. Namun, terlihat lebih memihak Ify.
                “Gue pergi dulu Vi,” kata Ify yang sama sekali tidak direspon oleh Via. Via hanya menyembunyikan kedongkolan hatinya saat dia melihat dua sejoli yang rupa-rupanya sedang dimabuk cinta itu bergandengan tangan meninggalkan kelas yang semakin lengang.
**********
                “Kamu diantar kan Fy?” tanya Alvin sesaat setelah bel pulang berbunyi.
                “Iya Vin. Ada apa?” jawab Ify dengan seyum yang merekah dibibirnya.
                “Do you mind if I take you home?” kata Alvin kemudian.
                “No, I don’t. But...” Ify melirik Via beberapa saat mengingat mereka selalu pulang bersama. Kemudian dia kembali menatap Alvin dengan senyuman ragu.
                “Kamu mau pulang bareng kita juga Via?” tanya Alvin yang sudah paham dengan apa yang dimaksudkan Ify. Via menggeleng kuat.
“Makasih. Tapi aku udah dijemput,” jawab Via dengan senyum kecil.
“Yah, kok lo gitu sih!” gerutu Ify.
“Nggak apa-apa kok. Lagian aku kan nggak mau mengganggu kalian,” Via tersenyum sinis.
“Udah, aku duluan,” katanya lagi kemudian melenggang pergi. Alvin hanya tersenyum melihat tingkah Via. Sementara Ify tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa dan hanya menatap kosong kepergian sahabatnya. Suasana hening sesaat menyelimuti Alvin dan Ify hingga hanya terdengar deru nafas mereka berdua di ruang kelas yang sudah kosong itu.
“Pulang sekarang Fy?” tanya Alvin berusaha mencairkan suasana.
“Iya iya,” jawab Ify sedikit gelagapan setelah kembali dari alam bawah sadarnya.
Okay my princess. This is the way,” kata Alvin sembari menggandeng tangan Ify dan menuntunnya meninggalkan kelas.
**********
Suara merdu Avril Lavigne lewat lagunya Wish You Were Here terdengar sayup-sayup melalui MP3 dimobil Alvin. Liriknya yang begitu menyayat hati berhasil membuat Ify membisu. Meresapi dan menghayati setiap untaian yang dialunkan penyanyi favoritnya.
“Fy,” kata Alvin yang membawanya kembali ke alam sadarnya.
“Iya Vin?”
Do you know?
What?” tanya Ify penasaran.
You don’t have to wish I was here. Because I will always be here. In your heart,” jawab Alvin dengan tatapan seriusnya yang mengarah kepada Ify. Dan sekali lagi, Alvin sukses membuat Ify melayang dengan segala kata-kata manisnya.
“Udah Vin, gak usah gombal,” cibir Ify seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alvin. Namun, sungguh, dia hanya ingin menutupi euforianya.
I’m really sure dear,” bisik Alvin tepat ditelinga Ify. Ify hanya menunduk dalam. Menyembunyikan rona merah pipinya dibalik rambut panjangnya yang terurai bebas.
“Kok dimatikan?” protes Ify ketika Alvin mematikan MP3. Alvin tak menjawab. Diraihnya tangan kanan dari gadis yang sedang duduk disebelahnya. Digenggamnya erat dengan tangan kirinya sementara yang lain tetap fokus memegang kemudi. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Namun, dia ingin meyakinkan gadis itu jika telah terbentuk sebuah ikatan diantara mereka. Ikatan yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata. Cukup hati yang mengetahui dan merasakannya.
You needn’t say it. I’ve felt it,” lirih Ify seakan mengerti untaian kata yang tersusun di hati Alvin.
Thanks dear,” Alvin mendaratkan sebuah kecupan  di punggung tangan gadis yang sedang digenggamnya.
“Udah Vin. Fokus nyetir dong!” kata Ify seraya menarik tangannya dari genggaman Alvin. Tak ingin menambah guratan merah yang sudah terbentuk di pipinya akibat perlakuan Alvin kepadanya. Alvin hanya tersenyum datar melihat reaksi gadisnya. Apa? Gadisnya? Ya. Ikatan yang tak perlu diucapkan. Yang sudah tertaman subur dihati keduanya. Tinggal menunggu ranum untuk memetiknya.
“Udah sampai Nona,” kata Alvin setelah sampai didepan istana klan Umari.
Thanks Vin. Kamu nggak mampir?” tawar Ify sebelum turun.
                “Makasih dear,” jawab Alvin yang lebih mengarah ke penolakan.
                “Aku turun dulu ya?” pamit Ify  seraya membuka pintu mobil sebelum Alvin melakukan itu untuknya yang akan membuatnya merona untuk keseribu kalinya.
                “Okay. Eh kamu nggak lupa kan?” tanya Alvin mengangkat sebelah alisnya menahan yang Ify untuk turun.
                “Apa?” jawab Ify linglung. Lagi-lagi Alvin hanya tersenyum.
                “We will have dinner with our parents tonight dear,” jawab Alvin ditengah-tengah senyumannya.
                “Oh, I nearly forget it!” seru Ify seraya menepuk jidatnya.
                “No matter dear. Yang penting sekarang udah ingat kan?” kata Alvin merayu.
                “Iya iya. Udah aku turun dulu. Makasih,”
                “Urwel. Titip salam ke om dan tante ya,” kata Alvin sembari membelai rambut Ify. Ify segera beranjak turun dari mobil Alvin. Melepas Alvin dengan senyum manis yang merekah dibibirnya. Kemudian dia segera melangkah santai memasuki istananya setelah mobil Alvin menghilang.
                “Wah, putri mama sudah pulang,” celetuk seorang perempuan paruh baya ketika Ify hendak meniti tangga menuju kamarnya.
                “Siang ma. Mama dirumah?” tanya Ify heran melihat Bu Umari -mamanya- berada dirumah. Biasanya beliau masih berada di butiknya.
                “Iya sayang. Mama pulang lebih awal. Kamu diantar Alvin?” tanya mamanya yang sudah bisa membaca euforia yang tergurat diwajah putrinya.
                “Iya ma. Hehehe,” jawab Ify cengengesan.
                “Kok Alvinnya nggak disuruh mampir dulu?”
                “Dianya nggak mau ma,” jawab Ify dengan wajah kecewa.
                “Ya sudah. Sekarang kamu mandi dan istirahat. Biar nanti malam kamu fit lagi,” nasihat mamanya.
                “Oke ma,” jawab Ify seraya mengacungkan kedua jempolnya dan segera berlari menuju kamarnya.
**********
                “Ify, kamu sudah siap?” teriak Bu Umari dari lantai dasar.
                “Iya ma, lima menit lagi,” jawab Ify yang tengah membenahi tatanan rambutnya yang belum sesuai. Dia ingin terlihat sempurna malam ini. Namun spertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak kepadanya. Sudah berulang kali Ify menata rambut panjangnya namun belum ada yang sesuai.
                “Argghhhh!!!” teriak Ify yang sudah tak bisa membendung emosinya.
                “Tenang Ify. Tenang. Tenang. Tenang. Mari kita mulai dari awal,” kata Ify menenangkan dirinya sendiri.
                “Masih belum sayang?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
                “Ini ma,” kata Ify dengan nada manja seperti biasanya seraya menunjuk rambutnya yang masih semrawut. Bu Arya, mamanya dengan tenang memainkan jari-jarinya diatas mahkota putrinya. Tak sampai lima menit, tercipta karya sempurna dari tangannya. Ify tersenyum lega.
                “Ayo cepat. Papa udah nunggu,” kata Bu Arya sembari menggandeng tangan Ify meninggalkan kamarnya.
**********
                Diamond Restaurant. Restoran termegah di kota ini menyambut Ify beserta kedua orang tuanya. Kerlip lampu dan gemericik air mancur menyambut Ify dengan segala kemewahan yang ada didalamnya. Ify berjalan santai dibelakan papa-mamanya walau terselip persaan nervous di dalam hatinya. Samar-samar Ify mulai melihat tiga sosok yang sudah tak asing lagi baginya. Dan sekarang dia sudah bisa melihat dengan jelas sosok-sosok tersebut. Seorang pemuda yang begitu dikenalnya tampak lebih gagah dan berwibawa malam ini dengan jas hitam yang membalutnya. Ify tak mampu menyembunyikan senyuman manisnya.
                “Selamat malam Bapak Arya. Maaf membuat anda dan keluarga menunggu,” kata Pak Umari, papa Ify sembari menyalami dan merangkul Pak Arya, papa Alvin.
                “Tak apa Pak Umari. Kami belum menunggu lama,” balas Pak Arya berbasa-basi. Kemudian kedua keluarga itu bersalam-salaman satu dengan yang lain. Dan segera duduk sambil mengobrol usai mengakhiri basa-basinya.
                “You look like an angel dear,” bisik Alvin kepada Ify yang duduk tepat disampingnya. Ify memang tampak begitu mempesona malam ini dengan gaun ungu muda minimalis, higheels, dan accessories yang senada. Membuat Alvin hampir tak mampu melepaskan pandangan darinya.
                “Thanks,” jawab Ify dengan guratan merah yang tak bisa disembunyikannya lagi dari pipinya.
                “Wah, ternyata kalian berdua memang cocok ya?” celetuk Bu Arya, mama Alvin yang menambah rona merah di wajah Ify.
                “Makasih ma,” jawab Alvin sembari melingkarkan tangan kanannya di pinggang Ify. Perlakuan spontan dari Alvin yang membuat Ify harus mengatur ulang nafasnya yang kian memburu. Terselip rasa tidak nyaman dihati Ify. Namun, dia tak kuasa menolaknya karena hati kecilnya menginginkan hal itu. Tawa lepas terdengar dari pasangan Arya dan Umari melihat polah tingkah putra-putrinya yang mulai beranjak dewasa itu.
                “Alvin Ify, kalian tahu maksud makan malam hari ini?” kata Pak Arya membuka percakapan. Ify menggeleng ragu. Sementara Alvin hanya tersenyum.
                “Kalian sama-sama tahu jika Umari dan Arya Corp sudah bekerjasama lebih dari lima tahun terakhir ini,” lanjut Pak Arya.
                “Dan untuk itu, Alvin, Ify, kami ingin mempertunangkan kalian, untuk mengokohkan kerjasama kami. Apalagi papa rasa, kalian adalah teman masa kecil yang pernah menjalin cinta monyet. Dan rupanya cinta itu sekarang sedang tumbuh kembali,” lanjut Pak Umari langsung to the point yang berhasil membuat Ify tercekat.
                ‘Apa? Tunangan?’ teriak Ify dalam hati. Benar-benar tak pernah terpikirkan oleh Ify sebelumnya. Dia benar-benar terkejut dengan pernyataan papanya. Namun, dia juga tak dapat menyembunyikan euforianya.
                “Sure?” tanyanya ragu kepaada Alvin.
                “Kamu keberatan dear?” Alvin balik bertanya. Ify tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya dari Alvin yang pasti sudah bisa melihat rona merah yang merekah dipipinya. Memang siapa yang tidak ingin hidup berdampingan dengan orang terkasihnya?
                “Kalian tidak keberatan kan dengan rencana ini?” tanya Pak Arya kepada Alvin dan Ify.
                “Nggak kan dear?” tanya Alvin ke Ify sembari membelai lembut rambut gadisnya itu. Ify hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
                “Syukurlah kalau begitu,” kata Pak Arya dan Pak Umari bersamaan. Suasana Bahagia menyelimuti  kedua keluarga itu. Alvin menggenggam erat tangan Ify. Membiarkan gadis itu meraskan ketulusan yang ada padanya.
**********
                Tok........ tok....... tok.......
                Seseorang mengetuk pintu kamar Alvin dengan kasar setelah dia melepas jas yang dipakainya. Segera dia membuka pintu kamarnya setelah berhasil menebak siapa orang yang berada dibaliknya.
                “Ikut gue sekarang!” seru seorang pemuda seumuran Alvin setelah dia membuka pintu kamarnya. Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, Alvin segera mengikuti pemuda itu menuruni tangga menuju lantai dasar rumahnya. Pemuda itu membawa Alvin menuju paviliun. Bagian rumahnya yang jarang sekali dia jamah.
                BRAAKK!!
                Pemuda itu menutup pintu paviliun dengan kasar setelah dirinya dan Alvin berada didalamnya.
                “Apa mau lo?” tanya Alvin yang tidak ingin berbasa-basi. Pemuda itu menatap lekat kedua bola mata Alvin. Mendekatinya selangkah demi selangkah. Kemudian tanpa rasa belas kasihan dia mencengkram kuat kerah baju Alvin. Alvin tak berontak sama sekali. Dia sudah mengetahui perangai lawan bicaranya itu dengan baik.
                “Jangan jadi pengecut lo! Cuma bisa main kasar! Katakan apa mau lo!” hardik Alvin yang tak mengubah sikap si pemuda sama sekali.
                “Lo terima tawaran papa?” tanya pemuda itu sinis sembari mendekatkan wajahnya kepada Alvin. Alvin mengerutkan kening. Profesor yang ada dikepalanya sedang mencoba menganalisis arah pembicaraan pemuda itu.
                “Pertunangan gue sama Ify?” kata Alvin balik bertanya dengan senyum lepas setelah berhasil menangkap meksud pemuda yang sedang mencengkrem kerah bajunya itu.
                “Lo terima?” tanya pemuda itu lagi. Kali ini dia mengepalkan tangan kirinya.
                “Ya,” jawab Alvin datar.
                BUUGHH!!
                Sebuah pukulan mentah bersarang dipipi kanan Alvin. Menyisakan bekas membiru dan setetes darah segar yang mengalir disudut bibir kanannya.
                “Kenapa?” tanya Alvin seakan baru menyadari jika lawan bicara yang sedang berdiri didepannya itu juga menaruh hati kepada sang bidadari.
                “Ify bebas! Bukan milik lo! Dia mau sama gue dan dia juga menerima tawaran itu. Bukan Cuma lo yang bisa jatuh hati sama bidadari secantik dia!” kata Alvin baalas menggertak. Pemuda itu mendelik.
                “Lo pengecut! Jangan Cuma bisa main kasar! Pakai otak lo! Jangan Cuma lo jadiin pajangan aja!” kata Alvin dengan senyum kemenangan. Pemuda itu kembali melekatkan pendangannya kepada Alvin.
                “Keluar lo!” kata pemuda itu seraya mendorong tubuh Alvin setelah dia membuka pintu. Alvin tersungkur dibibir pintu. Namun dia memilih mengalah dan berdamai dengan keadaan.
                “Lo bawa gue kesini cuma buat nunjukin kekuatan fisik lo! Tapi nyali lo bahkan nggak lebih bagus dari gue!” maki Alvin kepada pemuda itu. Namun.... BRAAKK!! Makian Alvin hanya dibalas dengan bantingan pintu. Samar-samar terdengar pemuda tadi juga memaki-maki Alvin dari dalam paviliun. Alvin hanya tersenyum datar. Dia segera beranjak dari tempat itu sebelum orang tuanya mengetahui hal yang telah terjadi antara dia dan pemuda itu, saudara tirinya.
**********
*bersambung*

2 komentar:

  1. mbar... font judulnya di laptop ane gede banget O.O blm instal kali ya gue-_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu fontnya padahal udah gue kunci lho -_-" entar aja deh gue reparasi *eh

      Hapus

Back to Top