Senin, 23 Januari 2012

Selayang Surat Untukmu yang Pernah Mengisi Hatiku

Aku disini.... sendiri. Namun tak benar-benar sendiri. Rasa itu, menemaniku disini. Rasa kagumku kepadamu, yang kian lama berubah menjadi benci.

Sebenarnya bukan benci. Namun, harus kupaksa nuraniku untuk menyebutnya demikian, agar aku mampu melupakanmu.

Dulu... aku hampir saja berhasil melakukannya. Hampir, ya, hampir saja. Kala itu aku tak lagi merindukan pesa singkat darimu. Bahkan lebih dari itu, aku mampu mengacuhkanmu.

Lalu kau kembali datang, saat sanubariku sedang bimbang. Menghadapi problematika kehidupan.

Kau datang saat aku tak mempunyai pilihan lain selain menjadikanmu tempat pelarian. Dan lagi-lagi aku harus terbiasa menjalani hari dengan bayang-bayangmu yang bergelanyut dibenakku.

Dan seperti biasanya, sekali lagi kau menghilang tanpa jejak. Meninggalkanku tanpa permisi.

Dan tentu aku kembali merindukanmu. Namun aku harus melupakanmu. Kurasa cukup mudah kali ini, karena aku pernah melakukannya, dan sekarang aku hanya perlu mengulanginya.

Dan aku berhasil *hampir*, ya, aku hampir berhasil mengacuhkanmu -lagi-. Namun anehnya, rasa itu bukannya pergi justru kian membelengguku. Tapi TIDAK. Sekeras apapun itu akan kucoba. Berhenti mengagumimu, berhenti merindukanmu, dan berhenti berharap padamu.

Dan kau perlu tahu, mulai detik ini aku TAK LAGI menjadi pengagum rahasiamu. Jika kau ingin kita seperti dulu, mulailah dari awal dan jangan melakukan kebodohan yang sama.

Aku lelah, menjadi bagian tak berarti dalam kisahmu.

Untukmu,
yang pernah
mengisi hatiku,
dan tentu pernah
menggoreskan luka
diatasnya.
Serpihan Cahaya Bintang>>

Sabtu, 21 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 5

                Lihat dengan Hatimu
Part 5
By: Nina Kurnia Dewi

                Ify merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Tangannya meraih benda elektronik hasil peradaban manusia yang tergeletak bebas dimeja kecil sebelahnya. Dengan isak-isak kecil dia memainkan jemarinya diatas keypad handphonenya, mengetikkan sebuah pesan singkat kepada seseorang diseberang sana.
To: Gabriel Stevent Damanik A.
Help me _
Dia lantas menyimpan benda itu dibawah bantal selagi menunggu balasan dari Gabriel. Gadis itu menatap nanar langit-langit kamarnya. Isakannya kini terdengar makin jelas dan cairan bening itu menjadi semacam aliran sungai dipipinya.
                “Sesingkat inikah?” bisiknya parau. Sebagian hatinya memang sama sekali tak menginginkan hal ini, karena sungguh rasa cintanya kepada Alvin sama sekali belum memudar. Hanya saja dia ingin menjaga perasaan sahabatnya, Via. Samar-samar dia merasakan getaran dibawah kepalanya. Dia segera meraih sumber getaran itu.
Gabriel Stevent Damanik A. is calling
Dengan cekatan pula dia menekan tombol dan menjawab panggilan pemuda itu.
                “Halo,” kata Ify parau. Getaran disuaranya terdengar jelas oleh Gabriel.
                “Ada apa Fy?” tanya Gabriel langsung to the point tak ingin berbasa-basi.
                “Nggak papa Yel. Cuma...”
                “Udahlah, ada apa? Any problem?” dengan sigap pemuda itu memotong perkataan lawan bicaranya mengetahui jawaban yang akan diberikan oleh gadis itu tak akan sesuai dengan apa yang diinginkannya.
                “Panjang Yel ceritanya,” jawab Ify tanpa semangat. Seakan tak ingin mengungkitt kejadian yang baru saja dialaminya.
                “Tell me about it!!” Gabriel meninggikan nada bicaranya. Ify terdiam. Tak tahu dari mana harus memulai.
                “Terlalu panjang Yel. Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Ify datar. Suaranya makin bergetar seiring dengan terbentuknya kaca-kaca bening dipelupuk matanya.
                “I wanna you to tell me about it!! Dari mana saja!!” kata Gabriel menanggapi perkataan Ify. Namun Ify justru diam dan makin terisak. Dia tahu bagaimana perangai lawan bicaranya itu. Jika dia sudah mengeluarkan pernyataan semacam itu.
                “Maaf Yel,” lirih Ify. Suaranya terdengar lebih serak dengan sedikit isakan disela-selanya. Kini Gabriel yang dibuat diam oleh jawabannya itu. Walau dia tak sedang bertatap muka dengan gadis itu, mudah saja baginya untuk mengetahui jika lawan bicaranya sedang menangis. Dan dia tahu bagaimana pribadi seorang Ify. Dia adalah sosok gadis yang tegar dan tak mudah meneteskan air mata sepelik apapun masalah yang dihadapinya. Dan jika dia menangis, itu tanda bahwa masalahnya diatas batas kemampuannya.
                “Fy, are you crying?” tanya Gabriel sesaat setelah dia memahami perkataan Ify. Ify bukannya menjawab malah semakin terisak dibuatnya.
                “Fy? Are you fine? You’re crying?” Gabriel mengulang pertanyaannya.
                “Nggak papa Yel. Maaf,” jawab Ify merasa tak enak hati jika harus memaksa Gabriel turut merasakan lara dihatinya.
                “No matter Fy. Tell me about it. Maybe I can help you,” desak Gabriel meyakinkan Ify.
                “Aku bingung mulai dari mana. Semua terlalu cepat untuk kucerna,” jelas Ify. Gabriel mengerutkan  kening. Nampaknya dia tahu masalah yang dihadapi gadis tersebut.
                “Alvin?” tanya Gabriel kemudian sedikit ragu.
                “Iya,” jawab Ify singat diselingi isakannya yang kian menjadi. Tak salah lagi. Gabriel sudah menduga dari awal jika pemuda itu penyebabnya.
                “Ada apa dengan kamu dan dia?” tanya Gabriel lagi. Ify sedikit ragu untuk menjawab. Dibagian inilah dia tak tahu harus memulai ceritanya dari mana.
                “Fy?” kata Gabriel lagi karena gadis itu tak kunujung memberi jawaban.
                “Udah berakhir Yel,” jawabnya lirih. Ekor matanya menatap lekat foto seorang pemuda berkulit putih yang tersemat rapi di figura kecil diatas mejanya yang menambah lara dihatinya.
                “Berakhir katamu?” ujar Gabriel tak percaya dengan pernyataan Ify.
                “Bukankah rencana pertunaganmu dengan dia masih hangat diperbincangkan?” lanjutnya masih dengan nada tak percaya. Senyuman kecut tergurat dibibir Ify. Namun, isakannya justru makin menjadi dan berubah menjadi tangisan.
                “Kamu tahu bagaimana perangainya sebulan terakhir ini? Atau mungkin kamu juga melihat sendiri jika dia lebih memperhatikan......” Ify tak melanjutkan ucapannya. Entah mengapa tiba-tiba lidahnya seakan membeku saat hendak menyebut nama itu.
                “Via?” tebak Gabriel.
                “Iya,” jawab Ify lemah.
                “Bukankah kalian bertiga memang selalu dekat?” tanya Gabriel seraya menerawang masa lalunya.
                “Sangat malah. Tapi kali ini berbeda. Aku tak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, yang kutahu waktu itu Alvin tak sengaja menabrak Via dan memecahkan kacamatanya lantas dia mengantar Via ke optik dan menggantinya dengan softlens. Selebihnya aku tak tahu. Namun yang jelas sejak kejadian itu mereka makin akrab dan makin dekat,” kali ini Ify bercerita tanpa diminta Gabriel. Gebriel hanya mengangguk mendengar ceritanya.
                “Tapi kalian masih baik-baik saja kan waktu itu?” tanya Gabriel meyakinkan ingatannya yang mulai pudar.
                “Iya. Aku dan Alvin juga masih dekat. Bahkan sampai detik terakhir hubungan kami. Namun memang tak sedekat dulu. Alvin sering menolak saat kuminta menemaniku pergi atau sekedar jalan-jalan. Alasannya dia ada tambahan les musik. Begitu juga Via. Dia juga sering menolak permintaanku macam itu. Dia juga beralasan sama dengan Alvin. Ada tambahan les. Entah benar atau tidak, aku tak tahu dan aku juga tak pernah curiga,” ujar Ify panjang lebar. Kini isakannya sedikit lebih reda.
                “Ada indikasi lain?”
                “Ya, saat itu aku iseng membuka inbox Via. Ada satu pesan kurang lebih begini ‘Thank’s for today’’ tak ada nama pengirim. Namun aku yakin itu dari Alvin karena aku hafal nomor hpnya,” jelas Ify.
                “Dan kamu nggak pernah curiga sedikitpun?” tanya Gabriel untuk yang kesekian kalinya.
                “Ya. Karena aku yakin mereka tahu batasan sampai mana kedekatan mereka diperbolehkan,” jawab Ify yang nampak sedikit kecewa dengan kalimatnya sendiri.
                “Lalu bagaimana?”
                “Semua berjalan baik-baik saja sampai.....” lagi-lagi Ify tak menyelesaikan ucapannya.
                “Sampai apa?” tanya Gabriel polos. Ify terdiam beberapa saat. Air mata yang tadinya mulai mengering mendadak berlinangan kembali. Isakannya terdengar makin pilu. Kejadian hari ini tak keseluruhannya mampu dia cerna.
                “Tadi aku dan Alvin hendak ke ruang musik. Kami masih baik-baik saja,” jawab Ify kemudian.
                “Ya. Lalu?”
                “Terdengar alunan melodi piano didalam. Aku dan Alvin menghentikan langkah. Tak jadi masuk. Pianisnya bernyanyi dengan isakannya yang terdengar sangat pilu dari luar ruangan. Dan tak salah lagi dia Via. Dan yang lebih membuatku tercekat saat mendengar ucapannya,” tutur Ify. Air mata kini sudah menghiasi pipinya. Menambah bengkak matanya indahnya.
                “Apa yang dikatakan Via?” tanya Gabriel mulai penasaran dengan jalan cerita Ify.
                “Dia berkata ‘Kapan Vin kamu sadar jika aku lebih ada untuk kamu daripada Ify?’ ”jawab Ify. terdengar sangat berat saat dia menyebut namanya sendiri. Perkataan sahabatnya itu masih terngiang ditelinganya.
                “Lalu Alvin? Apa reaksinya?” tanya Gabriel makin penasaran. Ify lantas menceritakan semua, yang terjadi di rumah sakit, bahkan hingga yang kejadian di meja makan beberapa menit yang lalu. Kali ini dia tak dapat menyembunyikan isakan pilunya. Gabriel tahu benar apa yang dirasakan Ify saat ini.
                “Via beruntung banget bisa punya sahabat macam kamu,” ujar Gabriel diakhir cerita Ify.
                “Aku akan merasa teramat berdosa jika menjadi penghalang bagi dua insan yang benar saling mencintai,” timpal Ify. Gabriel tersenyum kecut disudut ruangannya. Hati kecilnya merutuki sikap Alvin yang dengan bodohnya telah menyia-nyiakan gadis seperti Ify. Jarang ditemui orang seperti dia sekarang ini. Bahkan jika dia berada diposisi Ify, dia tak tahu apakah mungkin akan setegar dan sebijak gadis itu.
                “Sudahlah Fy, mungkin Tuhan sudah menyiapkan orang terbaik untukmu,” ujar Gabriel yang sukses mengguratkan senyum tipis dibibir Ify.
                “Iya Yel. Makasih,” jawab Ify lirih. Hampir tak terdengar.
                “Ya udah. Udah malem. Kamu istirahat dulu. Cepetan tidur. Besok kamu cerita lagi jika masih ada yang mengganjal,” ucap Gabriel yang terkesan mengomandoi Ify.
                “Iya. Maksih sekali lagi. Sorry, ngrepotin,” kata Ify sedikit tersipu.
                “Nggak akan pernah ngrepotin kok. Ya udah. Nite ya,” balas Gabriel diiringi senyuman khasnya.
                “Nite too,” kata Ify sebelum akhirnya sambungan telepon keduanya terputus. Ify segera meletakkan handphonenya dimeja kecil tempatnya semula dan bersiap menarik selimut saat didengarnya seseorang mengetuk pintu kamarnya.
                “Masuk,” katanya tanpa semangat. Seorang wanita paruh baya segera melangkah masuk dan mendekati gadis itu.
                “Fy, kamu nggak papa sayang?” ujar wanita itu yang tak lain adalah Bu Umari, mama Ify.
                “Nggak ma. Ify baik,” jawab Ify singkat. Bukan jawaban yang diinginkan mamanya tampaknya.
                “Cerita sama mama sayang,” pinta Bu Umari. Bagaimanapun, naluri seorang ibu tidak pernah salah. Dan dia merasa ada alasan lain yan mendasari keputusan Ify tadi.
                “Ify nggak papa ma. Ya, mungkin ini kehendak Tuhan,” jawab Ify asal. Bu Umari tampak sedikit kecewa.
                “Baikalah jika kamu tak ingin bercerita sayang. Mama hanya bisa berdoa yang terbaik untuk puteri mama saja,” kata Bu Umari kemudian. Nampaknya dia tahu jika Ify tak sedang ingin membahas masalah ‘itu’ dengannya.
                “Makasih ma,” timpal Ify berusaha tersenyum.
                “Sama-sama sayang. Ya udah, kamu tidur dulu. Cerita sama mama kapanpun kamu ingin,” kata Bu Umari lagi seraya mengacak-acak rambut Ify. Ify hanya mengangguk dan membiarkan mamanya melenggang keluar dan menghilang dibalik pintu.
**********
                “Alvin, cerita sama mama apa yang sebenarnya terjadi!” pinta Bu Arya memelas untuk yang kesekian kalinya sejak meninggalkan kediaman keluarga Umari. Namun selama itu juga, tak satupun pertanyaannya yang dijawab oleh Alvin dengan jawaban yang dia inginkan.
                “Nggak ada apa-apa ma, kami hanya ingin menempuh jalan kami masing-masing,” kata Alvin tanpa semangat untuk yang kesekian kalinya pula.
                “Mama yakin ada alasan lain!” desak Bu Arya lagi.
                “Seperti yang dikatakan Ify. Nyatanya hati ini mudah dibolak-balikkan,” jawab Alvin.
                “Padahal mama sudah sangat senang saat kalian mau menerima rencana itu. Bahkan sudah puluhan kami mama bermimpi menggendong cucu dari kamu dan Ify,” kata Bu Arya mulai berkaca-kaca. Alvin memilih diam dan tak menanggapi mamanya.
                “Tapi kenapa mimpi mama itu harus sirna? Padahal mama yakin jika masih ada rasa yang tersemat dihati kalian berdua,” lanjut Bu Arya. Alvin masih saja diam. Sementara Pak Arya nampaknya telah dibuat tak berdaya oleh pengakuan Alvin dan Ify, hingga dia tak mampu mengucap kata sepatahpun.
                “Tuhan punya rencana dibalik semua ini,” kata Alvin. Sebagian hatinya memang membenarkan perkataan ibundanya. Rasa dihatinya untuk gadis itu masih ada dan akan terus dia jaga agar berada ditempatnya. Diam-diam seorang pemuda jakung berkulit sawo matang mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik tangga. Dadanya kembang kempis menahan amarahnya yang mulai memuncak tatkala mendengarkan percakapan anggota keluarganya tersebut.
**********

                “Apalagi yang lo mau dari gue?” tanya Alvin kasar kepada pemuda yang ada dihadapannya.
                BUGH!
                “Itu mau gue,” jawab pemuda itu setelah berhasil menyarangkan sebuah pukulan mentah dipipi kiri Alvin.
                “Lo nggak bisa nggak main kasar?” tanya Alvin mulai geram. Kondisi hatinya yang sedari tadi tidak nyaman membuatnya kehilangan ketenangan saat menghadapi saudara tirinya tersebut.
                “Lo pikir Ify boneka? Harusnya lo pikir dari awal sebelum lo terima tawaran itu!” bentak pemuda itu. Mendengar nama Ify disebut, wajah Alvin berubah menjadi merah padam. Dia menekuk mukanya dalam.
BUGH!
                Sebuah pukulan lagi-lagi diterima Alvin. Namun dia memilih diam. Walau tak diucapkannya, dia sungguh mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Menyakiti seorang gadis yang dulunya sangat dia cintai. Yang juga dicintai oleh lawan bicaranya kali ini.
                “Pukul gue, semau lo!” kata Alvin kemudian.
                “Lo emang pantas dapet itu,” jawab pemuda itu berapi-api.
                “Pukul gue!!” teriak Alvin dan tentu segera dikabulkan oleh pemuda itu. Wajah putih Alvin kini dihiasi oleh bekas luka yag membiru. Kedua sudut bibirnyapun mengalirkan darah segar. Namun dia tak mempermasalahkannya. Perasaan bersalahnya kepada Ify kini tumbuh jauh lebih besar mengalahkan rasa sakit yang ada. Dan dia merasa pantas mendapat ganjaran seperti ini.
                “Pengecut lo!!” bentak pemuda jakung tersebut seraya mendorong Alvin keluar dari paviliun. Alvin tak bereaksi apa-apa. Dia segera melangkah gontai menuju kamarnya. Hati kecilnya masih merutuki sikap dan perbuatannya kepada Ify.
                ‘Harusnya aku lebih bisa menjaga hati,’ lirihnya dalam hati.
**********
                Pemuda itu berjalan tergesa-gesa meninggalkan kamarnya. Langkahnya sempat terhenti tatkla melihat seorang pria dan wanita di meja makan. Namun tak lama, karena dia segera meneruskan langkahnya.
                “Alvin berangkat dulu ma, pa,” katanya tanpa menoleh sedikit pun.
                “Alvin tunggu,” kata wanita yang tak lain adalah Bu Arya menghentikan langkah Alvin.
                “Apa ma?” tanya Alvin masih berada diposisinya tanpa memandang mamanya. Tanpa banyak bicara Bu Arya menarik tubuh Alvin hingga tubuh pemuda itu berhadapan dengannya.
                “Kamu kenapa nak?” tanya Bu Arya histeris melihat wajah putranya dipenuhi oleh bekas luka yang membiru. Alvin tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dalam.
                “Kamu kenapa?” Ulang Bu Arya sembari menggoncangkan tubuh Alvin.
                “Alvin nggak papa,” jawab Alvin santai seraya melepaskan cengkraman tangan ibundanya.
                “Mana saudara kamu?” tanya Pak Arya tiba-tiba berapi-api. Bu Arya menatap suaminya lekat. Tahu apa maksud kalimatnya.
                “Apa yang dia lakukan?” tanya Bu Arya kembali histeris. Alvin memilih diam.
                “Alvin! Dia yang buat kamu seperti ini? Mana dia sekarang?” tanyanya lagi penuh emosi.
                “Setelah anda berhasil menggantikan posisi mama saya sekarang anda juga ingin Alvin menggantikan posisi saya?” kata sebuah suara dari balik tangga tiba-tiba. Semua pasang mata serentak menoleh kearahnya.
                “Dan ternyata nama mama saya tak pernah sekalipun tersemat dihati anda,” lanjut pemuda itu seraya menatap lekat bola mata Pak Arya. Sorot kebencian terpancar jelas dari mata mudanya.
                “Apa maksud kamu?” Bentak Pak Arya.
                “Anda menikahi mama saya bukan lantaran cinta. Dan tanpa mempedulikan perasaannya anda memetik ranum sakura dari hati kaum hawa lain,” kata pemuda itu dengan penuh emosi.
                “Bukankah awalnya anda juga sangat mencintai mama saya? Lalu ikatan pertunangan mempersatukan anda dan beliau? Dan ternyata anda bukan penjaga hati yang setia. Lalu anda masih memaksakan hati anda untuk dipersatukan diatas ikatan suci dengan beliau walau hati anda tak lagi anda persembahkan untuknya? Tahukah anda betapa sakitnya beliau saat itu? Pernahkah anda ikut merasakannya? Dan sekarang dengan bodohnya anda meminta anak anda untuk melakukan kesalahan seperti yang pernah anda lakukan!” lanjut pemuda itu panjang lebar. Pak Arya menatapnya geram. Seakan ingin menikamnya. Namun bibirnya membeku. Rangkaian katanya tercekat ditenggorokan. Hingga membuatnya haya mampu berdiri mematung mendengar perkataan puteranya.
                “Buah jatuh memang tak pernah jauh dari pohonnya. Sama seperti anda dan anak anda. Tak pernah bisa menjaga hati orang lain. Hanya mementingkan ego sendiri,” pemuda itu masih melanjutkan orasinya. Sementara Alvin sudah kehilngan kendalinya melihat saudara tirinya itu berkata demikian kepada papanya.
                “Cukup!! Tau apa lo? Lo sendiri seorang pengecut!” bentak Alvin seraya mencekeram kerah baju saudara tirinya. Tangan kanannya mengepal kuat.
                “Alvin!! Jangan pedulikan dia nak! Jangan! Jangan Vin,” Bu Arya berusaha mencegah puteranya, namun Alvin mengabaikannya begitu saja. Cengkramannya justru semakin kuat.
                “Pukul gue kalo lo mau! Gue yakin, lo nggak bakalan putus sama Ify kalo bukan dia yang memintanya,” pemuda itu menyeringai lebar. Wajah Alvin kian merah padam.
                “Kalo Ify nggak minta, lo pasti masih mempertahankan ikatan lo itu walaupun lo udah jatuh cinta sama cewek lain, sahabat Ify,” lanjutnya santai namun cukup menusuk relung hati Alvin. Segera dia melepaskan cengkeramannya.
                “Tau apa lo?” tanya Alvin menahan getaran disuaranya.
                “Seharusnya gue yang tanya, apa lo tau persaan Ify melihat kekasihnya mendua dengan sahabatnya sendiri?” pemuda itu balik bertanya. Alvin terbelalak mendengar ucapan saudara tirinya.
                “Gue nggak pernah mendu...”
                “Kalo lo jujur dari awal!” potong pemuda itu cepat.
                “Dan lo menjatuhkan pilihan,” lanjutnya. Alvin menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Perasaan bersalah menyeruak dihatinya. Sekejam itukah dia kepada gadis yang selama ini begitu dia cintai?
                “Cinta mata tak akan pernah kuat menahan angin dan hujan. Dan itu cinta lo ke Ify,” kata pemuda itu seraya meninggalkan Alvin beserta orang tuanya.
                “Alvin...” lirih Bu Arya seraya menghampiri puteranya dan lantas memeluknya.
                “Nggak papa ma, Alvin pergi dulu,” kata Alvin sembari meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mematung.
**********
                Dengan gontai gadis berparas cantik itu melangkahkan kakinya kekelasnya. Lingkaran hitam dibawah matanya tak bisa dia sembunyikan. Peristiwa yang dialaminya kemarin sungguh telah menorehkan luka yang cukup dalam dihatinya walau sebisa mungkin dia tak menyebut itu luka. Hanya pengorbanan yang tak perlu menjadi sebuah penyesalan.
                “Pagi,” kata Ify kepada Via dan Alvin yang tengah asyik bercakap.
                “Fy, kamu...” kata Via terbata.
                “Kamu kenapa Vin?” tanya Ify sedikit ragu melihat luka lebam di wajah pemuda itu.
                “Nggak papa. Kemarin aku jatuh,” jawab Alvin berbohong seraya mengulun senyum datar. Ify segera duduk dikursinya. Tak dipedulikannya Alvin dan Via yang sedari tadi seakan menjaga sikap kepadanya. Dia memilih untuk sibuk dengan setumpuk buku tebal yang sekalipun belum pernah dibacanya.
                “PR lo udah?” tanya Ify kepada Via saat Ma’am Niza memjejakkan kaki dikelasnya. Via hanya mengangguk lemah. Ify jelas tak suka dengan sikap sahabatnya ini.
                “Oh,” balasnya singkat lantas segera mengeluarkan bukunya.
                “Oh ya, bahan praktiknya dikumpulin besok kan?” tanya Ify lagi mencoba bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara mereka.
                “Iya Fy,” jawab Via lirih.
                “Lo kenapa sih?” Ify mulai tak tahan dengan keadaan disekitarnya.
                “Gue minta maaf Fy, Gue nggak...”
                “Yang lalu biarin berlalu. Gak usah diungkit-ungkit lagi. Gue nggak suka,” potong Ify. Via kembali dibuatnya diam.
                “Maaf Fy,” lirihnya kemudian.
                “Fy, aku...” kata Alvin tiba-tiba.
                “Apa?”
                “Maaf,” lirih Alvin. Ify tersenyum lebar.
                “Maaf buat apa sih? Kalian berdua aneh banget hari ini. Kesambet apaan?” celetuk Ify asal. Alvin dan Via kembali diam. Keheningan lantas menyelimuti mereka.
                “Sepi banget ya? Gue kayak penjual kacang goreng yang nggak laku gini,” ujar Ify lagi asal. Alvin dan Via tidak juga menanggapi perkatannya. Ify mencibir.
                “Duduk disamping Gabriel kayaknya lebih rame tuh,” kata Ify lagi seraya mengemasi buku-bukunya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
                “Mau kemana Fy?” cegah Via dan Alvin hampir bersamaan. Namun Ify tak menghiraukannya dan segera menuju bangku Gabriel.
                “Can I sit here Sir?” tanyanya kepada si empunya bangku.
                “Of course Miss, please,” jawab Gabriel lembut. Ify segera duduk dan menyimpan tasnya dilaci.
                “Kenapa Fy?” tanya Gabriel sesaat kemudian. Ify hanya tersenyum hambar.
                “Nggak usah dipikirin. Everything happen for a reason,” lanjutnya. Kali ini berhasil membuat Ify tersenyum tulus.
                “Makasih Yel. Kamu selalu bisa mendamaikan aku,” puji Ify tulus. Gabriel sedikit tersipu dibuatnya.
                “Ify, any problem so you moved here?” tanya Ma’am Niza tiba-tiba saat Ify dan Gabriel tengah asyik bercakap-cakap.
                “Oh, no Ma’am. I just wanna accompany Mr. Einstein,” jawab Ify seraya melingkarkan tanganya dilengan Gabriel. Gabriel hanya menahan tawa dalam hati.
                “Okay no matter. A nice couple I think,” ujar Ma’am Niza seraya mengedipkan sebelah bola matanya.
                “Hahaha,” Ify tertawa lepas. Dilihatnya juga semburat merah dipipi Gabriel.
**********
*bersambung*

Serpihan Cahaya Bintang>>

Rabu, 11 Januari 2012

Lihat dengan Hatimu Part 4


Lihat dengan Hatimu
Part 4
By: Nina Kurnia Dewi

Alvin modar-mandir didepan UGD. Sesekali mata sipitnya memandang pintu ruangan yang belum terbuka sejak sejam yang lalu itu. Kegundahan yang amat sangat menyelimuti hatinya. Sementara Ify hanya duduk terpaku dikursi tunggu seraya mengamati polah pemuda itu. Perkataan sahabatnya masih terngiang ditelinganya. Dan melihat tingkah Alvin, tentu dia tak dapat menepis dugaan bahwa.....
“Vin,” katanya lirih sembari mengerjapkan matanya untuk menahan luruhnya kaca-kaca bening yang mulai terbentuk di bola matanya. Alvin menghentikan langkahnya lantas duduk disamping gadis itu dan menatapnya.
“Iya Fy?” katanya kepada gadis itu. Terdengar getaran disuaranya. Dan gurat kekhawatiran itu, bisa dipastikan semua orang mampu melihatnya.
“Perkatan Via tadi...” Ify menggantungkan kalimatnya.
“Apa kamu juga?” lanjutnya dengan penuh penekanan dikata terakhirnya. Dia memalingkan wajahnya dari Alvin. Setetes air mata tak kuasa dia tahan agar tetap berada ditempatnya semula. Alvin tersentak mendengar pertanyaan kekasihnya. Tenggorokannya terasa kering hingga dia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana penuh maksud yang dikemukakan gadisnya.
“Vin?” kata Ify lagi karena Alvin masih saja diam.
Please answer me!!” katanya seraya menarik lengan sang kekasih.
“Fy... ak.. aku..”
Answer it! Yes or no?” kata Ify yang sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Tetes-tetes air mata kini menghiasi pipinya. Alvin menundukkan kepalanya dalam. Ify masih memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
“Maafin aku Fy,” bisik Alvin.
“Maaf Fy,” katanya lagi seraya merengkuh Ify.
“Nggak perlu minta maaf Vin,” kata Ify menarik dirinya dari rengkuhan Alvin. Tentu dia mengerti maksud ucapan pemuda itu.
“Fy, ak... aku..”
“Hustttt!!!”Ify meletakkan telunjuknya dibibir Alvin.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Karena memang rasa itu bisa datang kepada siapa saja,” kata Ify berusaha membentuk senyum dibibirnya walau dirasanya sakit yang teramat tatkala dia menarik kedua ujung bibirnya.
“Dan aku tidak akan pernah menyalahkan kamu jika ternyata kamu memiliki perasaan itu kepada Via, atau sebaliknya,” lanjut Ify berusaha meredam getaran hebat dihatinya.
“Fy, aku nggak pernah bermaksud untuk itu,” bisik Alvin sembari merengkuh tubuh kecil Ify. Cukup lama. Tatapan sinis dari orang-orang disekitarnya tak mereka pedulikan. Memang apa yang mereka mengerti?
“Aku boleh minta sesuatu?” pinta Ify lirih. Alvin melepas pelukannya.
“Apa Fy?” tanyanya lembut seraya mengangkat wajah gadisnya.
“Vin, mari kita akhiri sketsa tentang kita...... dengan sebuah senyuman,” lirih Ify seraya meraih tangan Alvin dan menggenggamnya. Walau samar, namun kesungguhan terdengar dari kalimatnya.
“Fy, ta... Apa maksud kamu?” tanya Alvin yang tentu saja terkejut mendengar perkataan gadisnya.
“Kamu tidak bisa memilih aku dan Via. Tapi kamu harus memilih aku atau Via,” kata Ify dengan senyum tanpa arti. Alvin masih tampak terkejut mendengar perkataan gadisnya. Mengakhiri sketsa antara dirinya dan Ify sama dengan mengakhiri hubungan keluarga mereka.
“Dan aku tidak akan memberikan kamu pilihan, tetapi sebuah keputusan,” lanjut Ify lirih.
“Fy, tapi..”
Please!! Pahami keadaan kita Vin! Apa kamu tahu? Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan!” hardik Ify. Alvin terdiam.
“Aku tahu apa yang ada dipikiran kamu. Orang tua kita, rencana pertunangan kita, tapi persahabatan bisa jadi mengalahkan itu semua!” Ify menatap lekat bola mata Alvin. Namun pemuda itu masih saja terdiam.
“Aku yakin semua akan baik-baik saja jika kita mampu menjelaskan pada mereka,” Ify melanjutkan monolognya yang membuat Alvin semakin membeku.
“Vin,” katanya lagi seraya meraih kedua tangan pemuda itu dan menggenggamnya.
“Tolong hargai keputusanku. Demi aku, kamu, dan dia,” lanjutnya lirih.
But, I still love you!” protes Alvin.
“Jangan berbohong Vin. Mata kamu tidak bisa menyembunyikan segalanya,” tutur Ify. Alvin menekuk wajahnya. Dia tampak hendak mengutarakan sesuatu.
“Berpisah bukan berarti berakhir. Kita masih bisa menjadi sahabat,” lanjut Ify mendahului Alvin.
“Kamu kira aku berbohong?” kata Alvin kemudian.
“Aku mengenal kamu sekian tahun Vin. Aku tahu mana kamu yang bohong dan tidak. Jangan jadikan dirimu seorang pengecut karena tak berani menceritakan sebuah kebenaran,” sergah Ify. Alvin kembali terdiam, teringat kisah-kisah manisnya dengan gadis itu. Haruskah berakhir sesingkat ini? Padahal ‘rasa’ untuk Ify belum sepenuhnya kandas dari hatinya. Namun dia juga tak bisa memungkiri jika ‘rasa’ itu mulai mengering saat hadirnya sosok lain dihatinya. Sosok yang mampu menggetarkan hatinya. Dan perkataan Ify tadi,”Memiliki ikatan tanpa cinta lebih menyakitkan daripada memiliki cinta tanpa ikatan.” Itu berarti keduanya sama-sama sakit. Dan dia sungguh sedang terperangkap dikeduanya. Lalu ucapan Ify tentang,”Jangan jadikan dirimu seorang pengecut,” tentu sulit untuk dia terima. Dia selalu menyematkan predikat itu kepada saudara tirinya. Lalu apakah saat ini dia telah menjadi seorang pengecut juga?
‘Tuhan, apa yang harus kulakukan dan mana yang harus kupilih?’ rintihnya dalam hati.
“Vin,” kata Ify seraya membelai wajah pemuda itu. Alvin menoleh.
“Terkadang cinta bisa mengubah seseorang. Tapi aku mengenalmu. Kamu adalah pribadi yang tegas! Dan aku tak pernah ingin cinta mengambilnya darimu,” tutur Ify.
“Jadi tolong, terima keputusanku. Mari kita akhiri semuanya dengan sebuah senyuman. Bukan berakhir seperti yang lain. Hanya berganti skenario,” lanjut Ify dengan senyum samar. Alvin meraih tangan gadis itu lantas mengecupnya.
“Kamu memberiku keputusan yang sulit,” lirih Alvin. Ify berusaha tersenyum.
“Tapi benar. Dan aku tidak memberimu pilihan,” sambung Ify. Alvin kembali dibuatnya diam.
“Jadi?” tanya Ify. Alvin tak menjawab. Dia menghela nafas panjang. Dengan senyum yang sedikit dipaksa, Ify menunggu jawaban pemuda itu.
“Aku tak akan menjawab iya atau tidak. Namun jika itu keputusanmu....” Alvin berhenti sejenak.
“Akan kucoba untuk menerimanya dengan lapang dada, walau aku tak pernah ingin melepasmu,” lanjut Alvin. Getaran disuaranya tak dapat dia sembunyikan. Ify tersenyum lega.
Thank’s. Udah mau mengerti aku,” lirih Ify. Alvin meraih tubuh gadis itu. Memeluknya erat, untuk kali terakhir. Sebuah kecupan mendarat dikening sang gadis. Ify tak menolak.
“Maaf dan terimakasih untuk segalanya,” bisik Alvin. Ify tersenyum.
“Sama-sama Vin. Dan kamu tahu apa yag harus kamu katakan kepada orang tua kita nanti malam,” balasnya seraya mengusap air matanya. Keheningan lantas menyelimuti keduanya. Tak sepatah katapun terucap sejak saat itu hingga sosok berjas putih menampakkan dirinya dari balik pintu UGD. Sosok yang mereka nantikan. Alvin dan Ify beranjak menghampirinya.
“Bagaimana kondisi Via dok?” tanya Alvin sedikit menggebu.
“Maaf, tapi anda siapanya pasien?” dokter itu balik bertanya.
“Saya sahabatnya dan saya yang bertanggung jawab atas dia,” jawab Alvin.
“Baiklah. Ehm, kondisi pasien sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya saja stress yang sedang dialaminya membuat daya tahan tubuhnya menurun juga pola makan yang tidak teratur memicu penyakit maagnya kambuh. Dan untuk saat ini kondisinya sudah mulai memulih,” jelas sang dokter.
“Kami boleh menemuinya?” tanya Ify.
“Tentu, kebetulan dia juga sudah siuman,” jawab dokter tersebut sembari mengulun senyum.
“Terimakasih dok,” kata Alvin dan Ify hampir bersamaan.
“Sama-sama,” balas si dokter. Alvin dan Ify segera beranjak menuju UGD. Ify menahan jarak beberapa langkah dibelakang Alvin.
“Vin, tunggu!!” seru Ify seraya menarik lengan Alvin. Alvin menghentikan langkahnya.
“Iya Fy?” tanya Alvin. Ify tersenyum.
“Apapun yag terjadi didalam nanti, jangan pernah mengejarku. Jaga Via untuk aku!” kata Ify dengan tatapan sayunya. Alvin kembali terdiam.
“Janji?” kata Ify mengikat Alvin sebelum pemuda itu memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Dia mengacungkan kelingking kanannya.
“Jika itu mau kamu,” kata Alvin pasrah seraya melingkarkan kelingking kanannya dikelingking Ify.
“Makasih,” Ify tersenyum lembut. Alvin mendahuluinya memasuki ruangan bernuansa putih tersebut.
“Via!!” pekik Alvin ketika memasuki ruangan dan melihat gadis mungil itu terbaring tak berdaya disalah satu sisinya.
“Alvin,” Via balik berseru. Tentu dia merasa terkejut melihat Alvin yang tiba-tiba hadir dihadapannya. Dia mencoba untuk bangkit, namun Alvin telah lebih dulu menahannya.
“Husstt!! Kamu istirahat dulu,” kata Alvin setengah berbisik.
“Kamu... yang bawa aku kesini?” tanya Via sedikit ragu. Alvin mengangguk kecil.
“Jangan buat aku khawatir,” tutur Alvin seraya membelai rambut Via. Via hanya tersenyum dan membiarkan pujaan hatinya itu memberinya belaian lembut.
“Iya Vin. Maaf,” katanya kemudian.
“Permisi,” kata sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu dan sukses membuat Via tersentak.
“Ify?” pekik Via tak prcaya melihat sosok gadis yang kini berada dihadapannya. Gadis itu tersenyum dan melangkah gontai mendekati sahabatnya yang sedang terbaring lemah.
“Kamu pintar banget buat aku khawatir,” kata Ify dengan sbuah senyum yang terkesan dipaksakan. Via masih tak mampu berkata.
“Harusnya kamu bilang dari dulu, jadi aku tahu lebih awal,” katanya lagi seraya mengacak-acak poni sahabatnya. Kaca-kaca bening terbentuk dimatanya.
“Aku keluar dulu,” kata Ify tiba-tiba sembari berlari meninggalkan dua sahabatnya. Bukan karena apa, hanya saja kini air mata telah membasahi pipiya. Dan dia tak mungkin memperlihatkan itu kepada mereka terlebih kepada Alvin mengingat kalimat yang belum lama dia lontarkan. Akhiri semua dengan senyuman. Bukan tangisan.
“Ify!!” jerit Via bermaksud menahan sahabatnya, namun sia-sia. Ify sama sekali tak menoleh kepadaya.
“Kenapa kamu nggak kejar Ify Vin?” tanya Via yang sudah bangkit dari tidurnya seraya menarik-narik kemeja Alvin karena pemuda itu hanya diam melihat kekasihnya berlari keluar.
“Ini permintaannya Vi,” lirih Alvin. Lagi-lagi Via dibuatnya tersentak.
“Apa maksud kamu?” tanya Via.
“Semua udah berakhir Vi,” jawab Alvin dengan nada bersalahnya. Jelas jawabannya kali ini sukses membuat Via terkejut tingkat dewa.
“Tapi kenapa? Katakan kalau kamu bohong Vin!” seru Via yang tak percaya mendengar fakta yang baru saja dikemukakan oleh pemuda yang ada dihadapannya. Dia tahu benar maksud kata ‘berakhir’ dikalimatnya.
“Ini semua salahku. Arrgghh!!!” erang Alvin. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Via. Dia masih tak percaya dengan semua yang baru saja didengarnya.
“Kamu sungguh Vin?” tanyanya lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Bisakah aku berbohong dalam keadaan seperti ini?” Alvin balik bertanya. Via menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tak menampik tuduhan jika semua ini terjadi karena dirinya juga.
“Vin,” bisiknya seraya merobohkan dirinya kepelukan pangerannya.
“Bukan salah kamu, tapi salah kita,” katanya lagi meralat ucapan Alvin. Alvin mengelus pundak gadis itu. Kemeja depannya turut basah oleh air mata sang gadis.
“Kita semua hanya ingin menuruti apa yag diyakini oleh hati nurani kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ini semua terjadi juga tak luput dari kesalahanku,” lanjutanya seraya terisak.
**********
                “Non Ify...” kata seseorang dibalik pintu kamarnya. Ify segera beranjak dari tempat duduknya menuju arah datangnya suara.
                “Ada apa bi?” tanyanya sedikit ketus kepada wanita paruh baya dihadapannya.
                “Itu, Non Ify sudah ditunggu sama Tuan dan Nyonya juga para tamu,” jawab wanita yang tak lain adalah pesuruh dirumah Ify dengan sedikit terbungkuk-bungkuk.
                “Iya bentar lagi aku turun,” jawab Ify asal seraya menutup pintu kamarnya tanpa mempedulikan wanita yag menjadi lawan bicaranya.
                “God, give me a little more strength to through this problem,” rintih Ify. Setetes air mata jatuh bebas dari pelupuk matanya. Ditatapnya pantulan bayangan wajahnya dari cermin. Cekungan hitam dimatanya tak dapat dia sembunyikan. Kemudian, dengan asal dia memainkan kosmetik diwajahnya dan menata rambutnya dengan asal juga. Malam ini tak ada gairahnya untuk tampil sempurna dihadapan keluarga Arya. Semua sudah berakhir berganti skenario. Skenario yang dia pilih untuk hidupnya, atau mungkin lebih tepat untuk hidup mereka. Segurat senyum hambar terbentuk dibibir gadis itu. Ekor matanya menatap pintu putih diujung ruangannya.
                “Ayolah Fy! Bukankah kamu yang memilih ini?” katanya meyakinkan dirinya sendiri. Lalu dengan gontai dia melangkah menuju ujung ruangan itu. Dibukanya pintu putih itu seakan tanpa tenaga. Dia menghela nafas panjang seraya mengerjapkan matanya.
                “Kuharap dibawah nanti aku bisa lebih tegar dan cairan kelemahan ini tak keluar,” bisiknya lantas dia segera menuju tangga dan dengan enggan dia menuruninya, seperti ada yang menahan langkahnya. Samar-samar dia melihat sosok-sosok yang begitu dikenalnya, dan seorang pemuda dengan balutan jas hitam yang telah menorehkan sedikit luka dihatinya. Luka yang berusaha dia tepis dan dia berharap agar tak ada sebutan luka baginya.
                “Maaf saya terlambat,” kata Ify parau setelah sampai dimeja makan. Memang tak sopan membuat orang lain menunggu, apalagi mereka yang lebih tua daripada kita.
                “Tak apa sayang, silakan duduk,” kata Bu Umari dengan senyumnya yang tetap terkesan berwibawa. Ify hanya mengangguk kecil lantas duduk disamping Alvin, mantan kekasihnya. Dia nampaknya menjaga jarak dengan pemuda itu mengingat statusnya yang kini bukan lagi kekasihnya.
                “Nah, Alvin, Ify, bagaimana dengan rencana pertunangan kalian?” kata pak Umari membuka percakapan, tepatnya langsung menuju pokok masalah. Alvin dan Ify tentu terkejut mendengar pertanyaan itu. Mereka berpandangan beberapa saat namun akhirnya mereka juga tetap diam.
                “Alvin?” kata Pak Arya ketika melihat reaksi puteranya.
                “Katakan Vin!” bisik Ify sembari melirik tajam kearah pemuda itu.
                “Tapi Fy...” kata Alvin hendak menyergah Ify.
                “Katakan sekarang!” bisik Ify setengah berseru. Alvin hanya menghela nafas panjang. Tak bisa dibayangkannya bagaimana reaksi orang tuanya juga orang tua Ify jika nanti mendengar pernyataannya.
                “Vin!” gertak Ify yang hanya dibalas anggukan oleh si pemilik nama.
                “Pa, ma, om, dan tante....” kata Alvin akhirnya menuruti permintaan Ify.
                “Sebelumnya Alvin minta maaf, juga Ify,” lanjutnya.
                “Iya Vin, ada apa?” Bu Arya mengerutkan kening. Alvin mendengus. Dia seakan kehilangan kosa katanya untuk mengatakan apa yang harusnya dia katakan. Dia menatap Ify, berharap gadis itu bisa membantunya.
                “No matter Vin, say it now!” bisik Ify sekali lagi.
                “Begini ma, pa, tapi sebelumnya Alvin harap papa sama mama, juga om dan tante bisa menerima keputusan Alvin dan Ify,” kata Alvin. Dia berhenti sejenak. Mencoba menormalkan detak jantungnya.
                “Sepertinya....” Alvin menggantungkan kalimatnya. Semua yang ada diruangan itu mengerutkan kening kecuali dirinya dan Ify.
                “Sepertinya, Alvin dan Ify tidak bisa memenuhi dan menjalankan rencana papa, mama, om, dan tante,” lanjut Alvin hati-hati takut membuar kesalahan dikalimatnya.
                “Apa maksud kamu Vin?” tanya Pak Arya sedikit membentak. Pernyataan Alvin jelas membuatnya tersentak.
                “Maaf om, karena nyatanya hati memang mudah dibolak-balikkan,” sela Ify berharap pendengarnya bisa menangkap maksud tersirat dari kalimatnya.
                “Apa yang sebenarnya terjadi Fy? Bukankah kalian masih baik-baik saja?” protes Pak Umari yang juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
                “Apakah harus ada masalah disetiap akhir dari kisah percintaan?” Ify balik bertanya dengan kalimat lugas dan jelas.
                “Jadi kalian? Putus begitu maksudnya?” Bu Arya angkat bicara.
                “Iya ma, maaf sebelumnya,” jawab Alvin lirih.
                “Ify, Alvin, sungguh kalia tak ada masalah?” tanya Bu Umari prihatin seraya menatap lekat puteri kesayangannya. Ify menggeleng kuat.
                “Kami tidak ada masalah tante,” kata Alvin menerjemahkan gelengan kepala Ify walaupun hatinya tak menyangkal jika ada tuduhan bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya.
                “Tolong hargai keputusan kami pa, ma, om, tante,” kata Ify. Semua mata kini tertuju padanya.
                “Bukankah pertunangan itu jalan menuju pernikahan? Dan bukankah pernikahan itu harus didasari dengan perasaan cinta? Lalu bagaimana jadinya jika dua insan yang tidak saling mencintai dipersatukan kedalam ikatan pernikahan yang disebut sebagian orang sebagai hal yang sakral? Tentu papa, mama, om, dan juga tante sudah merasakan hal itu. Papa, mama, om, dan tante tentu sudah tahu apa itu arti pernikahan. Dan bagaimana rasanya jika kita harus menikah dengan orang yang tidak kita inginkan? apakah kami harus mengalami kegagalan? Bukankah itu nantinya hanya akan menodai arti pernikahan?” kata Ify panjang lebar tak peduli dengan konteks kalimat yang digunakannya.
                “Tapi Fy!” kata Bu Arya hendak menyergah.
                “Tolong hargai keputusan kami! Kami mohon! Kerjasama antara Umari dan Arya Corp tak harus dikukuhkan dengan sebuah pernikahan. Bukankah hal yang seperti itu sudah menjadi cerita lama? Umari dan Arya Corp pasti bisa bersatu tanpa harus mempersatukan kami!” kata Ify setengah berteriak berusaha meyakinkan semua orang tuanya juga orang tua Alvin walau ada sebagian hatinya yang juga turut tak bisa menerima perkataannya. Ruangan yang tadinya penuh celoteh kini mendadak menjedi hening.
                “Kalian serius?” tanya Bu Umari memecahkan keheningan. Ify menatap Alvin dan memberi isyarat agar pemuda itu menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan mamanya.
                “Iya Tante. Kami serius. Dan kami berjanji untuk tetap menjadi sahabat,” kata Alvin seraya menatap Ify. Ify tersenyum mengiyakan perkataan Alvin.
                “Sudahlah pa kalau begitu. Kita turuti saja kemauan anak-anak,” kata Bu Arya kepada suaminya dengan nada menyerah. Pak Arya dan Pak Umari bertatapan beberapa saat. Sepertinya mereka juga ikut menyerah dan memilih untuk menuruti permintaan buah hatinya.
                “Baiklah jika itu mau kalian. Papa hormati! Asal memang benar tidak terjadi masalah diantara kalian yang nantinya bisa menimbulkan perpecahan Umari dan Arya Corp,” kata pak Umari akhirnya dengan berat hati. Ify tersenyum lega sementara Alvin nampaknya masih sulit menerika keputusannya sendiri.
                “Makasih pa, ma, om, tante. Ify juga berharap, jika ini bukan akhir dari segalanya, kerjasama yag sudah kita bentuk sekian tahu lamanya,” kata Ify. Dia menggigit bibir bawahnya tahu jika cairan bening itu akan mengalir.
                “Permisi, Ify ke kamar dulu,” kata Ify lagi dan tanpa menunggu izin dari mereka yang ada di meja makan, Ify segera berlari menuju kamarnya. Sebenarnya dia tahu jika meninggalkan meja makan sebelum acara makan berakhir bukanlah hal sopan. Namun dia tak memiliki pilihan lain agar mereka tak melihat cairan bening itu luruh dari pelupuk matanya.
**********
*bersambung*




Serpihan Cahaya Bintang>>
Back to Top