Sabtu, 15 Desember 2012

Sebuah Pengakuan


Dan dialah yang mengajariku hakikat ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ yang sebenarnya.


Entahlah sudah berapa lama aku tak meneteskan air mata. Sensasi sesaknya sedikit asing bagiku saat ini. Hatiku terpilin. Aku ingin menangis. Namun air mata ini seperti mengering. Menguap. Dan rasa sesak itu menyeruak semakin dalam. Menggores dinding sanubari. Mengukir lara. Mengunci segenap indra.

Aku bisa melihat dia tersenyum di sana. Dan air mata ini memberontak, ingin keluar dari pesembunyiannya. Namun lagi-lagi seonggok karang menghadang alirannya. Dan aku terdiam di sini.

Kuadu jemariku dengan tuts laptop. Mengadukan apa yang kurasakan. Aku tak peduli diksi atau majas apa pun yang kugunaan. Aku hanya ingin bercerita tentang apa yang kurasa. Tentang dia, seorang wanita. Biarlah ini menjadi rajutan kata tanpa makna. Biarlah ini menjadi sebuah cerita yang sarat akan kehampaan. Karena alunan kalimat ini tak akan pernah mampu melukiskan kesucian jiwanya.

Wanita itu berdiri tegak di sana. Dengan segenap keyakinan dan ketegaran. Dia wanita yang begitu kuat. Penuh rasa sabar. Ketangguhan mengalir di tiap keping darah merahnya, berhembus bersama tiap oksigen yang dia hela. Dia adalah wanita terhebat sepanjang masa yang pernah kutemui.

Kupandang diriku. Aku merasa berdiri di kegelapan tanpa pegangan. Sudahkah aku membuatnya sedikit saja merasa bahagia? Belum. Sudahkah aku membuatnya tersenyum bangga? Belum. Lalu berapa kalikah aku mengecewakannya? Tak terhitung.

Ingatanku berputar. Penggalan masa itu hadir. Aku ingat saat itu air mata ini mengalir tanpa dapat dibendung. Saat itu, seorang guru datang terlambat ke kelasku. Dan dia memutarkan sebuah video singkat. Aku tak mengingat apa pun selain penggal-penggal kalimat ini:

Tuhan menitipkan kita kepada seorang malaikat yang berhati mulia.
Malaikat itulah yang akan merawat kita.
Dia yang akan melindungi kita dari panas serta hujan.
Dia yang akan berdiri di samping kita, kala kita susah maupun senang.
Malaikat itulah yang akan mempertaruhkan jiwanya untuk kita.
Dia yang akan mengajari kita mengenal Tuhan.
Dan malaikat itu adalah “IBU”

Sekiranya begitulah yang kuingat. Dan air mata itu mengucur. Ada yang berkata, bila air mata hanyalah sebuah simbol. Simbol dari rasa bersalah. Dan rasa bersalah bersalah tumbuh dari sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan, dan akan kuralat menjadi beribu kesalahan. Aku tak mengelak. Kesalahanku pada wanita itu memang tak dapat terhitung. Entah berapa kali aku membuatnya kecewa, berapa kali aku membuatnya meneteskan air mata, tak pernah sekalipun aku menghitungnya.

Aku kembali mengingat, saat aku menghadiri sebuah seminar emotional & spiritual building. Aku datang bersama sepupu perempuanku yang merupakan salah seorang panitia acara itu. Sesi terakhir acara itu adalah pertemuan orang tua. Dan orang tuaku sudah mengatakan bahwa mereka tidak dapat hadir karena ibuku sedang sakit. Rasa kecewa itu datang dan mengendap di dasar hatiku. Aku masih mengingatnya. Kala itu aku sedang memeluk seorang teman baruku. Kulihat beberapa wanita dan pria paruh baya melangkah pelan menuju ruang seminar. Sorot mata mereka nampak sedang mencari sesuatu. Dan aku tahu apa yang sedang mereka cari. Mereka mencari permata hati mereka. Dan setelah mereka menemukannya, mereka memeluknya, menangis bersama anak-anak mereka.

Dan saat itulah kekecewaanku memudar, berganti binar-binar kebahagiaan serta keharuan. Ibuku hadir. Aku menangis di pelukannya. Sejenak dia berhenti memelukku. Pandangannya beralih pada dua orang gadis yang tengah berpelukan. Seperti yang kuduga, orang tua mereka tak dapat hadir. Lantas, satu hal yang membuatku iri namun juga bangga, ibuku memeluk mereka satu per satu. Mengalirkan kehangatan seorang ibu pada mereka, dan kembali memelukku.

Kasih sayangnya tak ternilai, tak akan terbalaskan oleh apa pun. Seperti yang dikatakannya pada suatu hari saat aku duduk di sampingnya, “Kasih sayang seorang ibu dan segala pengorbanannya, tak dapat dibayar oleh apa pun. Walaupun kamu berbakti kepadanya dari kamu lahir sampai ibu meninggal.”

Dia adalah wanita yang mengajariku sesuatu yang sangat berharga. Dia mengajariku makna kehidupan. Dan dialah yang mengajariku hakikat ‘maaf’ dan ‘terimakasih’ yang sebenarnya. Dia tak pernah mengharapkan aku datang kepadanya, lantas meminta maaf bila aku melakukan sebuah kesalahan. Baginya, kata maaf tak berarti lebih bila tak diiringi dengan suatu perubahan. Kata maaf akan sia-sia bila kesalahan yang sama masih dilakukan. Dan dia, ibuku, akan lebih menghargai bila aku sadar dan berubah setelah melakukan kesalahan, daripada meminta maaf kepadanya dan hanya sekedar ‘maaf’.

Dia yang mengajariku hakikat kehidupan. Untuk apa kita hidup di dunia. Dia selalu berkata bila kehidupan dunia hanyalah sarana yang menentukan nasib kita kelak. Apakah Firdaus akan berpihak pada kita, atau justru Jahannam-lah yang menyambut kita dengan nyala apinya. Dan dia tak akan pernah tinggal diam bila aku meninggalkan kewajiban lima waktuku untuk bersujud kepada-Nya.

Dia yang selalu mengingatkanku untuk selalu berusaha dan menerima. Berusaha dengan segenap kemampuan kita, dan selanjutnya menerima apa pun yang Tuhan berikan pada kita. Dia tak pernah bosan mengingatkanku, bila hidup hari ini adalah persiapan untuk kehidupan esok hari. Apa pun yang kita lakukan hari ini harus memberi manfaat di esok hari.

Aku kembali termenung di sudut ruangan. Aku sadar, aku bukan replika dirinya semasa muda. Aku tak memiliki ketegaran dan kekuatan yang cukup hanya sekedar untuk menjadi imitasi dirinya. Aku selalu tersentuh bila mengingat semuanya. Semua yang dilakukannya, yang diraihnya hingga saat ini hanya untuk satu tujuan. Dia tak ingin anak-anaknya merasakan pahitnya hidup yang pernah dirasakannya dulu. Dan perlahan, aku mulai merasa tak pantas. Aku selalu mengecewakannya. Banyak harapan yang digantungkannya kepadaku dan masih janji yang kuberikan kepadanya. Bahkan nyatanya semua fasilitas yang diberikannya kepadaku kerap membuatku melupakan apa yang seharusnya aku lakukan.

Ada satu hari yang selalu kubenci namun juga kurindukan kehadirannya. Tanggal satu Syawal, hari kemengangan umat Islam. Sebuah hari yang memang selalu kutunggu, namun ada beberapa bagian yang tidak pernah kusukai. Aku selalu mengangis. Air mata itu selalu saja merobohkan pertahanan diriku setiap pagi seusai Shalat Ied. Tak pernah ada kata maaf yang terucap setiap aku sungkem kepadanya. Hanya kucuran air mata yang membasahi pipiku dan dia selalu paham apa maksudnya. Namun aku benci hal itu. Menangis di hadapan orang tua terutama Ibu. Karena aku tak pernah ingin terlihat lemah di hadapannya. Aku ingin mereka melihatku sebagai seorang pribadi yang tegar dan kuat.

Aku sadar, tak jarang aku mengeluhkan sikap ibu kepadaku. Dia adalah pribadi yang memegang teguh pendiriannya. Tak mudah memaksakan pendapat kepadanya, tak mudah untuk membuat dia menyetujui apa yang aku mau. Sosok pribadi yang protective. Namun dia juga seorang penyayang. Di balik larangannya, selalu ada maksud tersembunyi yang dilandasi oleh kekhawatiran. Dan naluri keibuannya tak pernah salah.

Aku menertawai diriku sendiri. Dulu, saat pemikiranku masih dangkal. Saat rasa iri atas sikap ibu yang kadang membedakan antara aku dan adikku kubiarkan menguasai sanubariku, kerap aku menagis sendu di kamar hanya karena sikap ibu yang kurasakan sebagai kesalahan. Kurasa akulah yang benar. Dulu aku pasti merasa tertekan. Aku merutuki sikap ibu seakan-akan aku bisa hidup tanpa dia. Dan justru akulah yang melakukan kesalahan besar.

 Aku pernah membaca sebuah buku, dan ada potongan kalimat yang mengusik hatiku. Dalam dialog antar tokohnya, si Penulis berhasil membuat rasa sesak bersarang di hatiku. Dan inilah yang kubaca:


                   “Nilai kasih sayang yang mengalir dalam semua tindakannya tidak bisa ditandingi dengan apa pun. Nilai kehangatan yang tersusun dari setiap gerakannya tidak dapat ditukar dengan apa pun. Dan, nilai keikhlasan yang melekat dalam seluruh sentuhannya adalah harga termahal yang tak sanggup dibeli oleh apa pun. Maka, Tuhan meletakkan surga di telapak kakinya sebagai gambaran betapa luar biasa harga seorang perempuan yang melahirkan kita.”1

                   “..... Terlepas dari apa yang pernah mereka lakukan, mereka adalah manusia yang telah melahirkan, merawat, dan menyayangimu. Mereka telah mengawanimu dengan cinta. Dan cinta mereka tidak bisa ditukar dengan apapun bahkan dengan kesalahan mereka.”2


Benih-benih penyesalan mulai bermekaran di hatiku. Menyesal karena aku jarang sekali bersyukur untuk satu karunia Tuhan yang begitu sempurna. Tuhan telah mengirimku pada sosok malaikat tanpa sayap yang menyayangiku dengan jalannya yang sempurna.

Dan tulisan ini hanya mewakili sepenggal perasaan sesal. Aku tak mampu mengatakan lebih banyak lagi tentang ibu, karena alunan kata terlalu sederhana untuk mengungkap semua.
             

Aku menyayangimu, Ibu. Dan semoga Tuhan memberimu kebahagiaan tanpa batasan waktu. –Nina Kurnia Dewi-

_______
1 Zhaenal Fanani, Bulan di Langit Athena (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), hlm. 501.
2 Ibid. hlm. 502.
Wisuda SMP :') *kebayanya yang buat ibu*



Serpihan Cahaya Bintang>>

Jumat, 30 November 2012

Pelangi Semu -Story for The Night Prince #3

Rintik hujan masih saja menjadi panorama hariku. Alurnya yang selalu sama, masih saja mengajakku mengingat wajah rupawan dirinya. Aku mendesah pelan. Aku lelah dengan semua ini. Dengan ingatan tentang dirinya yang justru semakin nyata. Bayang dirinya hadir tiap aku memejamkan mata. Senyum hangatnya, terasa begitu nyata dan seolah ditujukannya kepadaku. Tiap sentuhannya....... tidak, itu bukan dirinya. Hanya sebuah angan tentang dirinya. Tapi mengapa? Mengapa semua terasa begitu nyata?

Aku lelah. Aku bosan. Aku mulai muak dengan semua ini. Kucoba untuk memejamkan mata. Meninggalkan segalanya. Namun tetap bayangan dirinya yang kudapati singgah di sana. Aku mendengus saat penggalan-penggalan kisah itu hadir. Saat pertama kali kisah itu tercipta, aku melupakan dirinya, hingga kini, aku kembali mengaguminya.

Baiklah, aku menyerah. Nampaknya penggal-penggal senyumnya tetap berusaha menyeruak ke dalam otakku. Baiklah, aku akan mengingatnya.

Mentari baru naik sepenggalan. Kulihat dia berjalan bersama kawan-kawannya dengan percakapan yang tak dapat kudengar. Aku hanya mengulun segurat senyuman dalam diam. Kulihat sepenggal senyum terbit dari bibirnya, tetapi itu bukan senyum yang kukenal. Ada sesuatu yang mengusikku di balik senyumannya. Senyumnya hari ini tak seindah bias tujuh warna pelangi. Hanya sebuah lekukan bibir tanpa arti. Entah apa penyebabnya. Yang jelas itu bukan senyum yang ingin kulihat.

***

Aku berselancar di internet saat nuraniku terusik untuk mencari tahu tentang dirinya. Beberapa kali kucoba untuk menahan hasrat itu, namun akhirnya aku menyerah. Kutelusuri tiap situs yang dapat memeberiku apa-apa yang kuinginkan. Aku tercekat saat mendapati sebuah kenyataan. Dan aku tak tahu apakah itu yang mengusik dirinya dan merubah senyumnya akhir-akhir ini. 

Tetapi segurat senyum justru terbit di bibirku. Aku bahkan tersentak mendapati diriku tersenyum. Bagaimana bisa aku tersenyum di atas duka yang meruang di hatinya? Aku merutuki diriku. Aku hanyalah seorang pegagum rahasia. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum, bukan melihatnya terluka.

***

Pandanganku fokus pada jalan raya yang kulintasi, namun pikiranku berkelana liar. Bahkan aku tak bisa melihat wajah pengendara lain. Hanya bayang dirinya yang tiba-tiba memenuhi seluruh rongga pikiranku. Tanpa tersadar aku menggumamkan sebuah kalimat yang mebuatku tercengang. 'Aku ingin berjumpa dengannya.' Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa aku menduganya.

Aku tersentak dan hampir tercengang. Tuhan mendengar apa yang kukatakan. Sebuah motor melesat di hadapanku dengan pengendaranya yang sangat kukenal. Pangeran Malam.

***

Kekasihmu tak mencintai dirimu sepenuh hati
Dia selalu pergi meninggalkan kau sendiri
Mengapa kau mempertahankan cinta pedih menyakitkan
Kau masih saja membutuhkan dia, membutuhkan dia

Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku

Kau tak pantas tuk disakiti
Kau pantas tuk dicintai
Bodohnya dia yang meninggalkanmu (meninggalkanmu)
Demi cinta yang tak pasti

Kau harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku

-Terry 'Harusnya Kau Pilih Aku'-

***

Nuraniku berkata jika dirinya masih berpihak pada putri yang telah meninggalkannya. Aku hanya tersenyum samar. Hanya saja entah mengapa aku tak ingin berhenti mengaguminya. Meski nuraniku lelah, hatiku bosan. Terus-menerus menjadi pengagum rahasia yang tak diketahuinya.


Pengagum Bintang


Cerita sebelumnya baca di sini
Serpihan Cahaya Bintang>>

Minggu, 25 November 2012

Malam, Bintang, dan Hujan -Story for The Night Prince #2

Sebuah cerita dari pengagum bintang untuk pangeran malam di tengah rinai hujan......


Mega mendung perlahan mulai bergelayut di sisi-sisi langit, menepikan sinar matahari ke sisi lain. Butiran-butiran air turun dari singgasana terbesarnya. Mengusir kegersangan yang telah bersarang. Aku kembali menyibukkan diri dengan pena dan kertas. Mencari kata yang masih tersisa di otakku, merangkainya, sembari mendengarkan irama hujan yang mendamaikan berbaur dengan raungan mesin kendaraan yang lalu lalang.

Aku menyukai hujan. Namun, tak seperti aku mengagumi bintang. Karena nyatanya, terkadang kerap terdengar keluhan dari bibir ini kala hujan turun. Tak seperti bintang yang selalu membuatku tersenyum saat melihat kehadirannya.

Segurat senyum terbit di bibirku. Ketenangan yang disuguhkan hujan nampaknya ingin mengajakku singgah ke saat itu. Hujan ingin aku mengingatnya kembali. Kala aku tanpa sengaja menatap mata bening itu, dan senyumnya yang begitu menawan yang telah lama tak kupandang merekah di hadapanku. Jiwaku seakan terangkat. Beban yang menggelayuti pikiranku menguap entah kemana. Namun, hanya sesaat. Karena senyuman itu bukan untuk diriku.

Tetapi, entah bagaimana aku tak pernah kecewa kala melihat pelangi yang terbit di bibirnya, pun itu bukan untukku. Karena aku membutuhkannya. Meskipun aku tak berhak menikmatinya, karena orang lain yang memilikinya.

Aku tersenyum samar. Rasa sesak itu menyeruak tiba-tiba. Bagaimana mungkin aku mengagumi dan berharap pada seorang pangeran yang telah memiliki seorang putri dalam hatinya. Bahkan putri itu benar-benar sempurna dan aku tak akan sedikit pun bisa menyamainya.

Kuusap sebutir air yang terjatuh bebas di pipiku. Tak ingin menangisi hal serupa ini. Biarlah kisah ini mengalun tanpa air mata. Cukup dengan derai tawa. 

Untukmu Pangeran Malam, aku tak akan berharap lebih. Kehadiranmu di tiap mimpi di malam-malamku sudah lebih dari apa yang kuinginkan. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Sesederhana itu.

Pengagum Bintang 

Cerita sebelumnya baca di sini
Serpihan Cahaya Bintang>>

Jumat, 23 November 2012

The Truth -Story for The Night Prince #1

I'm still here. Waiting for you in the silence. Although I've known that you'll go on and never look me back even for awhile. I don't know why I wanna do it. I wonder why I can wait for you, hope that you'll see me here, whereas I know that you have a special person in your heart. Maybe this is the most foolish thing that I've ever done.

Waiting for you, without any reason. Just standing here and smile, or maybe exactly fake a smile. Hope that you'll look me and understand what I feel. Hope that one day, you will feel what I feel.

For me, look you every day from my side is a happiest moment. When I look your smile, I feel the world stop rotate. Hear your voice, can make me smile all day long.

For you, The Night Prince,
Did you know that my special feeling to you hasn't faded? Since I looked you at the first time until now. But, I never wanna you to know it. I'll bury this feeling in my deepest heart. I will lock my heart for everyone. And I'll open it, if you knock it. I'll keep my feeling to you. And please, let me admire you. Let me look you. Let me love you. And don't make me let you go.

If come the time, I won't ask you to do anything. Just look me here. 
Serpihan Cahaya Bintang>>

Sabtu, 17 November 2012

Hilang

Kupandangi lagi sosok itu. Semakin dalam, pesona itu kian memudar. Tak berbekas, bahkan meninggalkan kebencian yang memuakkan. Aku mengernyit. Mengingat-ingat lagi bagaimana caraku jatuh cinta kepada pemuda yang sekarang tampak menjijikkan di mataku itu.

Kulihat tangannya yang rapuh melepas kaca mata yang menutupi keburukan rupanya. Benda bodoh yang membuatku sempat jatuh hati kepada pemiliknya, tanpa memikirkan apa yang ada di dalam dirinya. Oh, bagaimana bisa? Bahkan sekarang dia benar-benar memuakkan. 

Bagaimana bisa dia melupakan semuanya? Lantas dianggap apa aku ini? Hanya karena sebuah kata yang terlontar dari bibir orang lain, dia mempercayainya begitu saja? 

Aku tersenyum miris. Yang kutahu hatiku tak lagi ada untukknya. Rasa itu mengering dan memudar.


-Untuk seorang pecundang
di seberang sana-
Serpihan Cahaya Bintang>>

Jumat, 16 November 2012

Ini Tentang Dia dan Hanya Dia

Ini tentang dia
Tentang sebuah pertemuan tak terduga
Mengubah jalanan berliku yang biasa kutapaki

Dia...
Beruntung aku memiliknya
Dia bagai lentera yang merangi langkahku dalam kekelaman
Dia bagai bintang di angkasa yang meneduhkan
Dia bagai rintik hujan di kegersangan

Dia.. dia.. dia..
Begitu dan teramat indah
Tak teraba namun sangat nyata

Dia dan hanya tentang dia
Dia yang kubanggakan
Dia yang memberiku keberanian

Hanya dia dan dia
Dia yang mengusir sepi yang perlahan merayap
Dia yang memberiku tempat untuk bersandar

Dia...
Dengan semua yang dimilikinya
Tak terkecuali mereka yang ada dalam dirinya





*satu abad kemudian*

*krik*

*krik*

*JROOOT* 

Hahaha XD itu puisinya bener-bener kaku, kacau balau -___- maaf maaf, udah lama gak mainan kata-kata jadinya kaku banget gitu, feelnya gak dapet, diksinya acak-acakan *sungkem* tapi masih nekat aja diposting T.T

*setelahnya bingung mau ngomong apa*

Oh iya iya lupa, pertama-tama, saya ucapkan maaf dan beribu maaf yang tiada terkira, karena blog ini saya terlantarkan, saya melalaikan tugas dari Blogger Energy untuk BW alias blog walking :( itu semua terjadi karena UTS yang beberapa minggu lalu bergelantungan lantas kemudian disusul dengan pulsa modem habis, dan sekarang pun yang saya gunakan adalah pulsa colongan #sesat *ditendang ke Gurun Sahara*

Di postingan kali ini, postingan pertama setelah si empunya menghilang berabad-abad karena dia rela dijadikan istri kedua Edward Anthony Masen Cullen tugas dan masalah pribadi yang menghadang, kita ber-kamu-aku aja ya? Kan kalo kamu-aku berarti kita pacaran *garing* *krik* *ditimpuk papan tulis*

Ya. Sesuai puisi di atas, ini memang tentang dia. Tentang dirinya yang baru saja kukenal, namun sanggup memberiku perubahan yang berarti. Jangan salah sangka tentang dia. Dia bukan siapa-siapa aku karena buktinya hingga detik ini aku masih aja jomblo SINGLE. Dia bukan siapa-siapa, namun dia begitu berarti. Dan mungkin aku gak bakalan rela kehilangan dia. Aku gak akan biarin dia hilang dari kehidupanku. Dialah Blogger Energy. Sebuah grup yang telah memberikan energi bagi para membernya. Sebuah grup yang rela *entah karena terpaksa, kasian, atau senang hati* menerima blogger newbie yang mengaku sebagai penulis amatir ini :') sebuah grup yang mengedepankan kreatifitas, dan selalu mengatakan TIDAK pada segala tulisan yang berbau COPAS atau kerap disebut PLAGIAT :D

Sebelum cerita gimana sampe gabung dan diterima di BE, mau cerita dulu asal mula tujuan buat blog ini. Awalnya cuma iseng. Pengen cari tempat galau yang aman. Karena saat buat blog itu, kata GALAU lagi marak banget diperdengarkan. Jadilah sebiah blog dengan template acak-acakan karena dulu masih buta HTML. Isinya juga cuma cerpen sama puisi. Tapi itu gak COPAS. Semua cerpen dan puisi yang bergelantungan di sini murni IDE PRIBADI gue.

Awalnya, blog ini bener-bener hening. Pokoknya tiap gue aku buka, serasa lagi mangkal di kuburan tengah malem -__- sepi banget. Yang komen paling-paling juga si pesek Memet B) itupun setelah dia punya blog baru. Gue aku juga gak ada niat buat gabung sama grup-grup blogger karena faktor males, takut, dan gak ngerti.

Sampe akhirnya, si Memet yang awalnya gak tertarik blogging, dia buat blog. Yang sempet bikin aku envy, dia masih awal-awal ngeblog, tapi visitornya udah bejibun minta ampun. Yang komen udah puluhan. Terus gue lirik blog gue, eh komentarnya cuma satu, dua, tiga #miris *nangis di jamban*

Waktu itu Memet udah gabung duluan di Blogger Energy, diajak sama kak edotz B) dan keadaan waktu itu serasa berbalik. Si Memet jadi asyik banget blogging, sementara gue aku gak ada energi buat ngeblog -_- bahka blog ini pernah aku tinggal dua bulan gak diurus, gak dimandiin, gak dicebokin -_-"

Aku sih sempet kepikir sejenak buat gabung sama BE, tapi gak jadi. Takut kalo gak diterima, takut dikacangin, takut ini-itu pokoknya. Apalagi Memet bilang ada anggota yang dikick. Terus kadang dia juga histeris bilang dikick padahal kagak -_-" jadi tambah takut akunya.

Dan pada suatu hari di tengah gelapnya malam tanpa cahaya bintang, aku memberanikan diri dan menanggalkan semua pakaian rasa takut untuk buka BE, ngarahin krusor ke kata gabung terus dipencet. Sempet gak pede, apalagi waktu baca ultimatum di foto sampulnya. Mau ngurungin niat, tapi gak jadi. Gak ada salahnya nyoba kan?

Waktu berdenting, mentari berganti rembulan, rembulan tenggelam di ufuk barat, mentari merayap perlahan menyusuri horizon timur, begitu seterusnya, gue aku nungguin di depan laptop sampe beberapa hari gak tidor, ternyata belom diterima. Nyali sempet ciut dan pengen ngebatalin buat gabung. Di tengah kegalauan yang merayap itu, Memet a.k.a Awi Melatisa bilang, "Tenang aja, entar kalo belom diterima gue bilangin kak edotz B)." Ya aku cuma mangut-mangut. Terus lupa kapan tepatnya, si Memet bilang kalo aku udah diterima. Seneng, haru, sedih, sampe takut.

Seneng, karena gue aku bisa dapet teman baru. Haru, karena gatau kenapa. Sedih, karena ngebayangin entar dikacangin terus gak dianggap. Takut, takut dikick gara-gara gak sengaja melanggar, takut sama adminnya yang tadi di twitter aku panggil maman, terus beliaunya gak terima :( keliatannya sangar padahal kocak, ya walaupun emang ada admin yang paling tegas dan kadang bikin merinding *eh*.

Semenjak saat itu, blog ini lumayan rame. Banyak energi positif yang masuk. Aku jadi semangat ngeblog, jadi semagat nulis. Apalagi waktu ada member BE yang udah nulis buku terus mau terbit. Envy sumpah, tapi gue aku jadi tambah semangat.

Dan aku beruntung banget bisa kenal sama Blogger Energy. Sempet pengen gabung ke grup lain, tapi gak jadi. Karena menurut aku, menurut aku ya, ingat, MENURUT AKU, grup seperti almamater yang aku junjung tinggi dan banggakan, dan di sini, grup itu ialah Blogger Energy. Seperti almamater. Aku gak mungkin punya dua almamater yang dibela dalam waktu yang bersamaan. Gak mungkin aku terdaftar sebagai siswa di dua *atau lebih* sekolah yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, seperti itulah kira-kira aku menggambarkannya. Makanya aku gak pengen lagi gabung ke grup lain. Cuma Blogger Energy B) satu-satunya di hati.

Di mata aku, BE bener-bener berharga :') membernya udah kayak keluarga sendiri, walaupun aku belom terlalu akrab sama mereka :D

Terimakasih buat Blogger Energy yang udah memberikan energi positif buat aku. Mulai dari power rangersnya dan semua membernya yang gak bisa disebutin satu-satu saking banyaknya. Eh, ngomongin power rangers, tadi siang, Memet sempet marah *eh* gak marah, cuma ngambek *eh* tapi tadi dia bilangnya marah, gara-gara aku frontal di twitter terus ketangkep kering basah sama ranger merah dan ranger hijau -___-" sorry Met, kidding doang *piss*

Sekian ya, udah panjang banget ini, kasian yang baca matanya pada keriting -_-

Tetep semangat semua \m/

Big thaks:
Photobucket
Serpihan Cahaya Bintang>>

Kamis, 18 Oktober 2012

Secercah Harapan Untuk PLN

Tak bisa dipungkiri, kehidupan manusia moderen saat ini tak pernah terlepas dari penggunaan listrik. PLN sebagai perusahaan penyedia energi  listrik tentunya sangat berperan penting dan berjasa. Berkembangnya teknologi di segala bidang tentunya juga berkat dukungan dari PLN. Karena hampir seluruh perangkat elektronik maupun perangkat komunikasi yang kini berkembang di masyarakat membutuhkan listrik sebagai energi utamanya.

Jika selama ini kita dimanjakan dengan berbagai kemajuan teknologi, misalnya, hanya di hadapan sebilah layar kaca kita bisa melihat dunia luar yang teramat luas. Hanya dalam hitungan menit, bahkan hanya dalam beberapa detik saja kita bisa bertukan kabar dengan sanak saudara, rekan, sahabat, maupun orang terspesial yang sedang tak berada di jangkauan mata kita. Lalu, dapatkah kita melakukan itu semua tanpa listrik? Tidak bukan? Lantas siapakah yang menyediakan listrik untuk kita? PLN.

Bisa kita bayangkan, seandainya hingga detik ini tidak ada yang menyediakan listrik untuk kita, dari manakah kita bisa mendapatkan informasi teraktual? Sedang itu biasanya kita dapatkan melalui media massa elektronik, dan media massa elektronik menggunakan listrik. Seandainya tidak ada listrik, mungkinkah kita bisa menggunakan handphone, laptop, komputer, televisi, radio, dll, yang semuanya menggunakan energi listrik agar bisa digunakan? Itulah mengapa PLN menjadi bagian penting dari hidup kita yang tidak boleh kita lupakan.

PLN sebagai penyedia jasa listrik tentunya selalu ingin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Karena kepuasan pelanggan menjadi tujuan utama perusahaan milik negara itu.

Saya pribadi sebagai pelanggan PLN, merasa senang atas komitmen PLN melayani masyarakat selama ini. Dan melalui tulisan saya kali ini, saya akan menyampaian setitik harapan saya untuk PLN.

  1. Pelayanan PLN yang saya rasakan slama ini sudah cukup baik. Namun alangkah lebih baiknya lagi bila pelayanan yang sudah baik itu terus ditingkatkan, sehingga PLN mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh masyarakat Indonesia.
  2. Harapan selanjutnya, hendaknya PLN semakin memeratakan ketersediaan listrik di Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui, di pelosok-pelosok negeri ini, masih banyak daerah yang belum terjamah listrik. Alasannya bermacam-macam. Salah satunya, karena lokasinya yang terisolir. Namun, walaupun itu merupakan daerah yang terisolir, di sana juga tumbuh bibit-bibit penerus bangsa. Lantas bagaimanakah nasib generasi muda yang ada di sana bila mereka tak bisa menikmati kemudahan menggunakan listrik. Bagaimanakah kondisi mereka di malam hari? Sedangkan saya saat terjadi pemadaman listrik, sehari saja katakanlah, saya sudah menyebutnya sebagai bencana. Saya pasti akan mengeluh. Dan jujur, saya tidak kuasa membayangkan mereka, para pelajar di daerah terisolir, yang selama ini hidup tanpa listrik. Bagaimanakah mereka bisa berkonsentrasi saat mengerjakan tigas di malam hari dengan penerangan seadanya? Apakah itu tidak akan mengganggu mereka? Saat gunungan harapan disematkan ibu pertiwi pada mereka dan mereka berusaha merealisasikannya, saat mimpi-mimpi mereka yang menjulang tinggi ke angkasa terucap lewat bibir-bibir mereka, haruskah itu semua kandas di tengah jalan bila tak ada fasilitas yang memadai untuk mengenyam ilmu pengetahuan? Dan setelah hamparan harapan itu kandas, mereka yang disalahkan karena dianggap sebagai beban bagi masyarakat. Bukankah ini hal yang memilukan? Oleh karena itu. Saya berharap agar PLN bisa memeratakan penggunaan listrik. Jadi listrik bukan menjadi barang mewah bagi mereka yang ada di pedalaman. Tanpa listrik pula, generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat yang ada di sana tidak akan tersentuh teknologi. Dan itu akan menjadikan mereka semakin tertinggal.
  3. Harapan yang ketiga dari saya. Bila di negara ini ada jamkesmas, bukankah lebih menggembirakan jika diadakan pula program jamlistis (Jaminan Listrik Gratis) bagi masyarakat yang kurang mampu? Sehingga mereka bisa mengalihfungsikan biaya yang mereka anggarkan untuk pembayaran listrik, untuk membiayai hal yang lebih vital. Seperti pendidikan anak-anaknya. Jika hal ini bisa terwujud, bukan tidak mungkin, kehidupan masyarakat Indonesia aka setaraf lebih makmur dari sekarang.
  4. Saya juga berharap jika PLN lebih giat dalam melakukan promosi hemat listrik. Karena sepengetahuan saya selama ini, hanya ada satu iklan hemat listrik di televisi dan itupun sangat jarang ditayangkan. Promosi hemat listri sangat diperlukan, karena selain akan menekan biaya yang dikeluarkan pengguna listrik, perilaku hemat listrik juga akan menekan jumlah energi listrik yang berubah bentuk menjadi energi yang tidak terlalu kita butuhkan. Seperti yang dikatakan azas kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tapi energi hanya dapat berubah bentuk. Tidak menutup kemungkinan bila suatu saat nanti energi listrik akan semakin berkurang karena berubah bentuk menjadi energi yang kurang dibutuhkan manusia bila manusia tidak memanfaatkannya sebijak mungkin.
  5. Sebagai negara yang berada dalam lingkaran khatulistiwa, tentunya Tuhan memberkahi kita dengan limpahan sinar matahari yang tidak terhingga. Alangkah sangat baiknya bila PLN mampu memanfaatkan energi matahari secara optimal. Karena sebatas pengetahuan saya, penggunaan energi matahari masih kurang populer.
  6. Harapan saya lagi, PLN boleh saja melakukan pemadaman listrik. Namun lebih baik jika sebelum pemadaman di lakukan, PLN memberitahuan perihal ini kepada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa bersiap-siap. Saat melakukan pemadaman, diharapkan tidak dilakukan saat jam kerja, atau pada pagi hari di mana aktivitas baru akan dimulai. Pemadaman listrik akan lebih baik bila dilakukan pada saat-saat yang tidak menganggu aktivitas masyarakat. Bila pemadaman listrik dilakukan saat jam kerja ataupun jam sekolah, maka para pekerja yang memanfaatkan listrik sebagai sumber energi utama akan merasa kesusahan, karena pekerjaan mereka hari itu terganggu. Para pelajar juga akan merana, karena mereka tidak akan bisa menikmati fasilitas AC, LCD, dan peralatan KBM lain yang menggunakan listrik.
Kiranya cukup sekian titik-titik harapan saya untuk PLN yang mampu saya tuliskan di sini. Semoga PLN mampu mengemban amanat, sebagai lembaga yang bebas dari KKN. Terus berikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Karena PLN dan listrik, sudah menjadi bagian dari hidup kami yang tak terpisahkan.

Serpihan Cahaya Bintang>>

Selasa, 16 Oktober 2012

Pesona "Lagu Untuk Alawy"


Masih ingatkah kalian pada tragedi tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 di daerah Bulungan, Jakarta beberapa waktu silam? Tragedi miris yang menjadi gambaran “kurang berhasilnya pendidikan di Indonesia.” Dan yang paling disayangkan dari kejadian itu, nyawa seorang pelajar SMA 6 yang tak bersalah, harus terlepas dari raganya. Lagi, dia adalah seorang yang dikenal baik dan berbakat. Satu generasi muda bangsa tumbang sia-sia. Dialah Alawy Yusianto Putra.  Kematiannya sangat disayangkan. Namun bagaimanapun juga, palu Tuhan telah diketukkan. Tangisan dari Ayah-Bundanya, sahabat serta teman-temannya, kekasih terakhirnya, bahkan ucapan maaf dari bibir pembunuhnya pun tak aka mampu mengembalikan nyawa Almarhum. Jasadnya telah kembali bersama bumi, terbujur kaku.

Nama Alawy semakin tersohor pasca kematiannya. Terlebih di dunia maya. Hal ini terbukti dari pengingkatan jumlah pengikutnya di jejaring sosial twitter yang sangat signifikan. Satu hal lagi yang sangat memilukan.

Kontroversi pun tercipta. Karena setelah kematian Alawy, rekan-rekan dan kekasihnya bak menjadi artis di dunia maya. Tak sedikit pengguna twitter nasional yang mengucapkan belasungkawa pada mereka. Pengikut mereka pun meningkat drastis.

Hari berganti hari. Mulailah bermunculan cercaan pada mereka, terutama pada kekasih terakhir Alawy –sekiranya begitulah kesimpulan yang kuperoleh setelah menguntit akun twitter-nya- beberapa di antara mereka menganggap jika momen kematian Alawy dimanfaatkan gadisnya untuk merenggut perhatian masyarakat dunia maya. Sebenarnya, mereka juga orang-orang yang menyayangi Alawy, walaupun mereka belum pernah bertemu maupun mengenal Alawy semasa dia hidup. Namun mereka pantas melakukannya pada orang yang juga tak menginginkan kematian Alawy? Enatahlah, biarkan nurani mereka yang menjawabnya.

Setidaknya aku pernah beberapa kali melihat kematian. Dan setiap itu, ayahku selalu berkata, “Banyak orang yang pada awalnya tegar saat malaikat maut melaksanakan perintah Tuhan untuk menjemput orang terdekatnya. Namun, makin lama mereka akan semakin merasa kehilangan.” Dan dari perkataan itu aku berpendapat, mungkin itulah yang tengah di rasakan kekasih Alawy.

Sejenak aku terdiam dan berpikir. Sebaik itukah sosok Alawy sehingga orang-orang yang mengenalnya, bahkan mereka yang belum pernah bertemu dan mengenal dia semasa dia hidup, tak segan-segan meneteskan air mata dan melantunkan untaian doa untuk Alawy? Bahkan berita di televisi, hingga hari ini masih saja ada yang membahas perihal kematian Alawy.

Seperti yang pernah kudengar dari uztadku, bahwa orang yang dekat dengan Allah, dan dia mencintai Allah melebihi apapun, maka Allah akan mencintainya. Dan bila Allah mencintainya, maka Dia akan membuat seluruh makhluk cinta kepada orang itu. Seperti Rosullullah atau pemuka agama lain, atau mungkin pahlawan proklamator kita, walaupun mereka telah tiada, namun nama mereka masih saja harum. Banyak orang yang berziarah ke makamnya, mengirim doa pada mereka. Dan aku melihat hal itu juga dialami Alawy. Setiap tetes air mata yang keluar dari orang yang berduka atas kematiannya, menggambarkan jika Alawy adalah orang baik dan berarti bagi mereka. Lalu, sebagai penghormatan untuk Alawy pula, AUTHORION, band Alawy, membuat sebuah lagu untuk Alawy yang berjudul “Lagu Untuk Alawy”

Ini liriknya...

Kehilangan Dirimu membuatku terdiam lemah tak berdaya
Sosokmu begitu berarti didalam kehidupan kita semua
Ku tak menyangka kau pergi begitu cepat
tinggalkan dunia...
Canda tawa kan selalu tersimpan di benakku ini.

Selamat jalan kawan kisahmu kan kukenang
dan biarkan semua kan jadi kenangan
yang terindah pernah kita lewati bersama..selamanyaaa

Kini sepi diriku
Tanpa hadir dirimu disetiap hariku
Tubuhmu diam terbujur kaku
Tak kuasa diriku melihat dirimu
Ku tak menyangka kau pergi begitu cepat tngglakn dunia
Canda tawamu kan selalu tersimpan di benakku ini

Selamat jalan kawan kisahmu kan kukenang
dan biarkan semua kan jadi kenangan
 yg terindah pernah kita lewati bersama.. selamanya.. selamanya...
   
Hamparan cita-cita yang diungkapkan harus terhenti ditengah jalan
Hanya semngatmulah yangg tersisa didalam sanubariku
Akan ku ikhlaskan kepergianmu dan doaku menyertaimu
Selamat jalan kawanku ALAWY YUSIANTO PUTRA

Selamat jalan kawan kisahmu kan kukenang
dan biarkan semua kan jadi kenangan
yg terindah pernah kita lewati bersama..
Selamat jalan kawan kisahmu kan kukenang
dan biarkan semua kan jadi kenangan
yg terindah pernah kita lewati bersama.. selamanya.. selamanya...

Mengaharukan. Itulah kesan pertamaku. Kala pertama kali mendengar lagu ini, rasa sesak mebahana di relung-relung hatiku. Dan, air mata ini tak bisa kutahan untuk tetap berada di tempatnya.

Saat mendengar lagu ini, aku ingat jika kematian selalu membanyagiku. Saat teringat kematian, aku ingat jika hanya Allah tempatku kembali nanti. Hanya Dia, Dzat Yang Maha Segala-galanya. Dan saat teringat kematian, selalu terbesit di benakku, apakah jika suatu saat nanti aku menghembuskan nafas terakhir, akan ada orang yang mengucurkan air mata? Adakah orang yang berduka? Ataukah senyum bahagia justru tercipta kala mereka kehilangan aku? Apakah mereka akan selalu mengenangku? Lalu apakah bekalku untuk menyambut Izroil? Sudah siapkah diriku jika dipanggil sewaktu-waktu? Dan saat-saat seperti itulah yang selalu membuat air mata ini luruh. Inilah yang kusebut Pesona “Lagu Untuk Alawy” liriknya selalu mengingatkanku akan kematian, dan selalu sukses, membuat diri ini berderai air mata :”)

Rest In Peace: Alawy Yusianto Putra (06 juni 1997 - 24 september 2012)


Serpihan Cahaya Bintang>>

Sabtu, 13 Oktober 2012

Berdiri Sendiri

Mereka menghilang. Tanpa jejak, tanpa bekas. Tak secuil pesan pun ditinggalkan. Sepi kembali merayap, menyusuri relung-relung malam. Kisi-kisi hati ini hanya mampu meratap, saat mereka, anak cucu Adam yang dipercaya untuk selalu ada di sini, pergi begitu saja. Serpihan luka itu kembali hadir. Mencuat tanpa diminta. Jiwa ini seakan kehilangan tempat berpijak. Terasa begitu rapuh dan tak berguna.

Lalu itukah makna dari mereka yang kita banggakan? Yang kita harapkan untuk selalu berdiri sembari mengulurkan tangannya saat kepelikan hidup menerjang? Pantaskah mereka pergi bagai hujan tanpa awan? Pantaskah mereka menghilag saat tak ada lagi kebaikan dari kita yang patut dibanggakan? Atau, lebih pantaskah jika mereka menghilang karena permata baru telah mereka temukan? Saat kita kehilangan cahaya untuk bersinar? Itukah makna kebersamaan yang selama ini diidamkan tiap insan?

Tak perlu kita bertanya pada mereka. Biarlah mereka kehilangan nurani. Biarlah permata baru itu menguasai jiwa raga meraka. Apakah kita masih harus tetap peduli pada mereka yang meninggalkan kita begitu saja? Yang masih bisa tertawa kala kita merintih? Ya. Kita tak boleh kehilangan nurani, sekalipun hati ini tercabik-cabik belati. Itu bukan kesalahan meraka. Justru salah kita yang terlalu bergantung pada mereka.

Siapapun. Orang tua, sahabat, teman dekat, pasangan, berhak pergi tanpa permisi. 

Saat itulah, kau harus belajar untuk berdiri sendiri. Tanpa siapapun disampingmu, selain Tuhan.

Serpihan Cahaya Bintang>>

NEO (National English Olympiad) 2012



Yap, hari ini gue mau cerita tentang NEO 2012 yang baru aja gue ikuti hari ini tepatnya tanggal 13 Oktober 2012 :O
Tapi sebelumnya, gue mau kasih tau dulu apa itu NEO.

NEO atau National English Olympiad adalah lomba Bahasa Inggris berskala Nasional yang diadakan setiap tahunnya oleh HJM Sastra Inggris 'Legato', yang tahun ini mengambil tema 'Let Your Creation Brust'. Nah, yang istimewa dari NEO tahun ini adalah, tahun ini merupakan tahun ke-10 diselenggarakannya NEO.

NEO ini dibagi dalam 2 babak, yaitu preliminary round dan final round. Preliminary round sendiri dibagi menjadi preliminary round 1 dan preliminary round 2. Untuk babak preliminary round, diselenggarakan di masing-masing rayon. Karena Tulungagung, kota tercinta gue, merupakan bagian dari Karisidenan Kediri, maka hari ini gue ngikutin lombanya di STAIN Kediri. Lalu, untuk final round diselenggarakan di UNM (Universitas Negeri Malang).

Nah untuk tahun ini, merupakan tahun kedua gue ikut NEO. Dan pastinya kali ini lebih semangat :D walaupun peserta dari RSMABI NEGERI 1 BOYOLANGU gak sebanyak tahun lalu :( tapi tetep semangaaaat :D

Persiapan udah cukup matang sih. Belajarnya gue fokuskan buat nambah kosa kata, kebetulan baru dibeliin kamus baru :D gak lupa juga buat berdoa. Minta sama yang Diatas biar gue dapet hasil yang terbaik. Karena emang tahun ini gue berambisi lolos ke final round di Malang. Seminggu sebelum lomba, gue rajin banget minta doa. Ke Bunda, adek laki-laki gue yang masih unyu-unyu :3, ke temen-temen juga. Gue sih berharap, semoga doa dari mereka bisa mempermudah jalan gue. Kan seru tuh kalo lolos ke Malang. Bisa jalan-jalan gratisan :P

Sebenernya kalo gak salah, sejak seminggu sebelom NEO dilaksanakan, ada bimbingan tambahan dari sekolah. Cuma, karena yang kasih bimbingan Mr. Alex, guru bule baru di sekolah gue yang gak bisa berbahasa Indonesia, gue jadi males ikutan. Lagian gak ada pembimbing yang bisa berbahasa Indonesia, entar kalo mau tanya-tanya jadi ribet. Guenya juga masih dong-dong :P jadi gue gak pernah ikut bimbingan. Gue putusin buat belajar sendiri haha (y)

Sehari sebelom berangkat ke Kediri, gue kumpul bentar sama anak-anak laen yang ikutan buat nyelesein administrasi. Terus hari ini, 13 Oktober 2012, gue harus bangun pagi soalnya sebelum jam 6 harus stand by di sekolah -_- tapi ternyata gue kesiangan. Jam 05.45 WIB gue baru berangkat, diatar ayah tercintah :* setelah minta doa restu sama bunda :* gue sih udah deg-degan, takut ketinggalan bis. Eh tapi ternyata molor. Kita berangkatnya jadi jam 06.40 WIB. Sampe di Kediri, masih ribet sama presensi. ID card juga belom dibagi. Sekitar setengah jam gue ngantri buat tanda tangan sekalian ngambil ID card, dapet nomor KDR037. Sampe akhirnya tepat jam 08.00 WIB gue masuk ke ruangan *lupa namnya apa. Sebut aja aula*.

Selang beberapa menit gue sama yang laen masuk ke aula itu, acara langsung dibuka. Dilanjutin TM 1 terus lombanya langsung dimulai. Nomor peserta KDR001 sampe KDR040 disuruh ngikutin panitia buat pindah ruangan. Gak tau dah nasib yang lain. Sekitar 90 menit gue ngerjain 60 soal berbahasa Inggris. Tepat pukul 10.40 WIB gue ninggalin ruangan itu dan kembali ke aula. Nah, tahun lalu nih, sebelom kita ngerjain soal, kita diajak nge-game dulu biar gak tegang. Terus habis ngerjain soal sambil nunggu pengumuman siapa yang lolos ke preliminary round 2 juga ada game. Ada hadiahnya juga. Tapi tahun ini gak ada game. Kita cuma disuruh nonton film. Jadinya agak boring :(

Habis makan dan sholat dzuhur, pukul 01.40, diumumkan siapa aja yang lolos ke preliminary round 2. Sumpah, tadi gue nervous banget waktu nunggu pengumuman. Jantung gue kek mau copot, untung gak jadi -_- dan akhirnya, nama gue ada dalam daftar 60 peserta yang lolos. Gue masih gak percaya. Gue suruh temen gue liat, itu nama gue apa bukan -_- setelah yakin, gue baru bisa bernafas lega. Gue segera sms ayah bunda yang di rumah, minta doa biar gue lolos ke Malang.

Setelah TM 2, preliminary round 2 langsung dimulai di aula itu juga. Gue agak sebel sih, soalnya di situ gak ada meja, terus gue juga gak bawa meja dada -_- akhirnya gue ngerjain di kursi depan gue yang kosong. Untung cuma disuruh nyilang. Setelah bergelut selama 60 menit dengan 40 soal, kepala gue puyeng banget. Ngantuk. Pengen langsung pulang. Tapi gue masih harus nunggu pengumuman siapa aja yang lolos ke final round di Malang.

Singkat cerita, setelah gue harap-harap cemas, akhirnya gue GAK LOLOS. Sempet sakit hati sih. Abisnya dari tahun lalu gue cuma bisa tembus preliminary round 2. Belom bisa lolos ke Malang. Tapi ya emang gimana lagi -_- segitulah kemampuan gue. Walau kecewa gue terima juga. Gue langsung sms Bunda.

Tadi sebelom pulang sempet mampir dulu di Kediri Town Square sekitar 1 jam lebih. Terus kita pulang.. sampe rumah, jam 19.30 WIB, gue gak langsung mandi. Padahal seharian tadi gak mandi -_- gue biarin Bunda gue nyium bau parfum campur keringat gue saat gue cerita ngalor-ngidul. Sampe akhirnya jam 19.45 WIB gue disuruh mandi. Selesai mandi, gue langsung ngidupin laptop. Niatan mau curcol di blog. Tapi sama Bunda disuruh sholat isya' dulu. Akhirnya gue sholat dulu deh hehe :D

Sebenernya waktu nulis ini juga gue masih capek :| tapi ya gapapa lah~

Makasih buat yang udah mau baca postingan gue ini :) sorry ya kalo gue belom bisa nulis yang puitis :|

Buat Bunda sama Ayah, maaf ya :( aku gak bisa lolos ke final round hari ini :( semoga kalian gak kecewa :( terimakasih buat doa, dan dukungannya :* kedepan aku akan lebih baik lagi :)

Makasih juga buat temen-temen yang udah doain :* love you all

Sumber data dan gambar: http://legato.um.ac.id/?page_id=249
Serpihan Cahaya Bintang>>

Kamis, 11 Oktober 2012

Writer Block?

Hai blogger, maaf gue udah lama gak muncul hehe XD

Postingan kali ini aja dibuat dengan imajinasi setinggi-tingginya biar bisa nganggep blog ini kek twitter. Soalnya, entah kenapa gue selalu pake bahasa metafora kalo nulis di blog -_-"

Ya sebenernya hari ini gue kepengen curcol~ #plaaak
Udah sekitar sebulan keknya gue gak bisa nulis *kalo gue ngomongin nulis di sini, yang gue maksud nulis cerpen ato sejenisnya ya -_-"* Bukan karena tangan gue ilang atau apa *astaghfirullah* tapi gara-gara otak gue yang ngilang *eh* maksudnya ide di otak gue yang ngilang.

Gak tau ada faktor apa, apa mungkin writer block? Atau gara-gara ini lagi musim ulangan?

Ya emang udah lama banget gak mainan kata-kata. Mainan twitter sama blog aja jadi jarang gara-gara ulangan bergelantungan di mana-mana. Tapi... kok masih sempet-sempetnya ada yang mainin hati gue *eh* udah ah males ngomongin masalah hati -_-"

Sebenernya, kalo dipaksa buat nulis sih masih bisa, tapi diksinya itu lho~ sebenernya juga gak masalah sama diksi. Tapi yang masalah hati gue *eh* maksudnya itu, gue gak pernah srek kalo nulis *cerpen ya* diksi dan majasnya itu langsung to the point. Bukan masalah besar sebenernya, cuma kan emang tipe tiap orang beda. Ada yang suka nulis langsung to the point dengan harapan biar yang baca langsung ngerti apa yang sedang dibacanya, ada juga yang suka pake diksi dan majas yang perumpamaan-perumpamaan gitu biar yang baca bisa berimajinasi dan berpikir. Jadi yang baca tulisan itu gak bakalan jadi pembaca yang "pemalas" karena dimanjakan dengan bahasa yang to the point.

Maaf dah kalo kata-kata di atas itu menyinggung. Tapi itulah opini gue. Dan gue harap pembaca blog ini bisa memahami apa yang gue pikirin. Gue yakin kalo mindset kita beda, tapi tolong dihargai ya :D

Terus lagi, sebenernya gue bingung apakan keadaan yang gue alami saat ini itu bisa dibilang writer block apa guenya yag lagi males :| yang gue tau saat ini, gue gak bisa nulis. 

Padahal ya, niatannya gue mau ngirim naskah novel ke salah satu penerbit, tapi....... ya berhubung gak ada ide buat nulis, mau gimana lagi -_- terpaksa deh keinginannya ditunda dulu. Lagian juga gak ada yang nyupport gue buat nulis *jleb* nyesek ya? :" tapi ya itulah realitanya.

Oke blogger, sekian dulu postingan gue kali ini. Ya, yang ini mungkin beda dari postingan biasanya karena gak ada bahasa puitisnya sama sekali :) 

Maaf kalo ada yang kurang berkenan sama postingan gue kali ini :)

Salam blogwalking \m/

Serpihan Cahaya Bintang>>

Minggu, 16 September 2012

Quotes #2

Diambil dari novel "Bulan di Langit Athena"















Hidup adalah pergerakan pasti menuju kefanaan.

Dan, hidup laksana anak-anak ombak.

Dan kekecewaan terbesar adalah mausia yang tak dapat memaknai  nilai seorang ibu.

"Maka, kematian adalah hanya milik mereka yang tak mampu menoreh prestasi apa pun dalam sejarah hidupnya. Padahal, sebenarnya ia telah mati dalam kehidupannya."

"Maut hayalah sesi batasan waktu,"

"Lakukanlah sesuatu sekecil apa pun untuk kebahagiaan umat manusia agar kamu berbeda dengan mereka yang mengalami kematian dalam hidupnya."

Tapi, Tuhan tak pernah main-main dengan ciptaan-Nya.

Cinta adalah dialek ketuhanan. Tuhan bersemayam dalam cinta. Maka dalam keadaan apapun, ketika seseorang menyadari bersemayamnya Tuhan di dalamnya, pasti dia akan bahagia.
Serpihan Cahaya Bintang>>

Sabtu, 15 September 2012

Setitik Luka


Setitik Luka
By: Nina Kurnia Dewi

Rasa ini kembali hadir, mengisi kisi-kisi kekosongan hati. Membuncahkan sejagad kebahagiaan, namun tetap melejitkan setitik luka kelam dan menyesakkan. Aku menengadah. Luka yang baru saja terkatup itu perlahan kembali terbuka, di kala lentera kebahagiaan baru saja dinyalakan. Masih belum lama. Baru sedetik yang lalu.

Baru saja, ketukan samar itu mampu membuka pintu yang telah lama tertutup. Baru saja, bias tujuh warna kembali hadir setelah cukup lama menghilang. Belum lama, dan mega mendung itu mengalir tak terbendung. Seakan tak berkenan memberikan kesempatan nurani ini menghirup irama kesyahduan.

Sakit, hadir tiba-tiba, menyeruak begitu saja. Diam, tak berkata, kala godam itu meluluhlantakkan rajutan asa.

Tombak-tombak kembali ditikamkan. Samurai-samurai kembali dihunuskan. Dan pedang-pedang itu berhasil menyayat hati terdalam.

Lagi, bintang-bintang itu kembali menjadi saksi gejolak segumpal daging pemegang kendali ini. Ini tentang rasa itu. Rasa yang berusaha kupendam. Rasa yang telah terlupakan, namun rupanya benihnya masih tertinggal.

Saat benih itu tumbuh perlahan dan rona itu muncul ke permukaan, mata sebilah pisau tergerak ingin menikam. Aku berjalan menjauh. Berusaha mengabaikannya.

Apapun, dia telah mendorongku melakukan perubahan besar!
Serpihan Cahaya Bintang>>

Senin, 10 September 2012

Quotes #1

If there ever comes a day when we can't be together, keep me in your heart. I'll stay there forever -Winnie the Pooh-


Someday everything will all make perfect sense. So, for now, laugh at the confusion, smile through the tears, and keep remunding yourself that everything happens for a reason.



Good friends are like stars. You don't always see them, but you know they're always there (old saying)




Sometimes I hide all my problems behind my smile.




I just do what I want. I don't care what people are saying.


Do what makes you happy. Be with who makes you smile. Laugh as much as your breathe. Love as long as you live.



Being happy doesn't mean everything's perfect. It means that you decided to look beyound the imperfections.




Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is, not to stop questioning. -Albert Einstein.



I'm just a girl, trying to find a place in this world...



I will wait for you. Until I have no more reason to wait anymore.

Serpihan Cahaya Bintang>>

Rabu, 05 September 2012

Hijab Style

Hijaber yang belum sempurna, yang masih berusaha mencari jati dirinya. Sosok yang masih belajar untuk menjilbabi hati dan tingkah lakunya. Pengagum titik-titik terang di langit malam. Dan inilah dia dengan lapis-lapis kekurangannya. Inilah aku, Nina Kurnia Dewi :)


Hijab Free Style











School Hijab









Lebih lengkap? Baca Penulis :)

Serpihan Cahaya Bintang>>
Back to Top