Rabu, 14 Desember 2011

(Mungkin) Bahagia adalah Melupakanmu


(Mungkin) Bahagia adalah Melupakanmu
By: Nina Kurnia Dewi

          “Namun tak kau lihat
           Terkadang malaikat
           Tak bersayap
           Tak cemerlang
           Tak rupawan
           Namun kasih ini
           Silakan kau adu
           Malaikat juda tahu
           Siapa.... yang jadi.... JUARANYA”

           Suara merdu Dewi Lestari menggema memenuhi sudut-sudut ruanganku. Aku semakin terisak lembar-lembar tissue berserakan disekelilingku. Sudah kucoba untuk tidak menangisi ini, membiarkannya menjadi angin lalu. Namun rupanya aku gagal. Cairan bening ini tetap menetes dari pelupuk mataku, bahkan semakin deras, tak kunjung mengering. Walau kusadar jika ini tak berguna. Tak akan mengubah segalanya. Air mata hanya mengisyaratkan betapa lemah dan rapuhnya aku.
           Aku mmang lemah. Bukan hanya lemah, namun juga rapuh dan lapuk. Kau tahu apa penyebabnya? Satu kata, tiga huruf yang sekarang tak ada artinya lagi bagiku. KAU. Kau yang menjadikan aku begini. Aku baik-baik saja sebelum hadirmu! Sebelum kau bawa seberkas harapan itu. Harapan tak berujung yang telah membiusku dan sekarang sukses membunuhku. Menenggelamkanku dalam buaian rasa yang telah kau tinggal pergi.
           Kadang aku berpikir, sebegitu keraskah hatimu? Hingga kau sama sekali tak merasa apa yang aku rasa? Hingga kau tak pernah sadar jika aku selalu ada untukmu? Hingga kau tak menyadari rona merah jambu sang sakura telah lama tumbuh dihatiku? Dan tahukah kamu jika aku menunggumu? Menunggumu untuk memetiknya dari hatiku. Haruskah aku berkata “AKU MENCINTAIMU” agar kau sadar rasa itu sungguh ada dihatiku? Haruskah aku meneriakkan “AKU INGIN KAU DISINI” agar kau sadar sungguh ku membutuhkanmu?
           Tetes-tetes air mataku tak kunjung reda. Kubenamkan diriku diantara tumpukan bantal dan selimutku. Rambut panjangku terurai tak karuan. Tiba-tiba kurasakan getaran dicelah-celah tumpukan itu. Aku tersentak. Sebuah pesan kuterima dari dia yang tak ingin kusebut namanya. Hanya kubaca sekilas pesan itu, namun sukses membuat nyeri dan ngilu hatiku. Membuatku muak dan mual. Ku genggam erat handphoneku. Ku angkat tanganku hendak membantingnya. Namun segera kuurungkan niatku. Ku tundukkan kepalaku dalam. Hal yang paling kubnci terjadi, ketika kemarahanku berubah menjadi air mata. Cairan bening itu mengalir makin deras membasahi pipiku. Bagaimana tidak? Kau memang benar-benar tak punya hati. Kemanakah pikiranmu? Perlukah kau memberitahuku apa yang sedang kau lakukan dengan gadismu? Tidakkah kau tahu jika ini hanya menambah lukaku? Tidakkah kau tahu jika aku benci menjadi tempat pelarianmu? Aku bukan tempat sampah!! Aku manusia yang memiliki perasaan!! Bukan boneka yang bisa kau perlakukan semaumu.
********
           Kuambil lagi selembar tissue. Kucoba untuk mengeringkan bekas air itu. Namun sia-sia. Air itu terus mengalir dari sumbernya. Aku tak kuasa menahannya. Kutatap nanar layar handphoneku. Isakanku makin menjadi. Sayup-sayup kedengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Segera kumatikan MP3ku.
           “Dewi..” kata sebuah suara yang sudah akrab ditelingaku.
           “Iya Bun, silakan masuk,” jawabku parau. Seorang wanita paruh baya membuka pintu kamarku seraya melangkah masuk dan duduk ditepi tempat tidurku. Kutangkap sebuah keterkejutan dimimik wajahnya.
           “Kamu kenapa De?” tanyanya khawatir. Aku tak menjawab. Kutundukkan kepalaku.
           “Raka?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk lemah. Bunda pasti sudah paham. Dia mengetahui hubugan pelikku dengan seseorang yang namanya dia sebut. Bunda menghela nafas panjang. Ditatapnya mataku dengan penuh cinta kasih sembari membelai rambutku.
           “Dewi, buat apa kamu menangisi seseorang yang belum tentu mau meneteskan setetes air matanya saja untukmu?” kata bunda penuh nasihat. Aku tak berani menatap matanya.
           “Dewi jatuh hati Bun,” jawabku singkat.
           “Lalu untuk apa kamu jatuh hati bahkan mencintai orang yang tidak mencintaimu? Untuk apa kamu kuras hati dan pikiran kamu untuk itu? Sedang dia belum tentu melakukan hal yang sama untukmu?” kejar Bunda. Aku terdiam. Mencoba mencerna kalimatnya.
           “Kamu ingin bahagia?” tanyanya lagi.
           “Tak ada orang yang mengelak dari hadirnya Bun,” jawabku acuh. Bunda tersenyum.
           “Lupakan Raka! Kamu akan menemukan kebahagiaan,” kata Bunda. Aku terkejut. Kali ini kuberanikan diri untuk menatapnya. Bunda hanya tersenyum kemudian beranjak meninggalkanku yang masih terpaku.
           “Lupakan Raka! Kamu akan menemukan kebahagiaan,”  lirihku mengulang kalimat Bunda. Ada benarnya. Mungkin itu yang harus kulakukan. Melupakanmu. Kuusap air mataku. Kuguratkan sebuah senyuman. Aku ingin bahagia. Aku ingin bahagia. Bukan hanya menangisi dan memikirkan dirimu. Aku tak sebodoh itu. Aku ingin bahagia. Dan aku akan melupakanmu. Karena, bahagia adalah melupakanmu.
  -Aku bisa melupakanmu. Namun aku butuh waktu. Setidaknya hingga aku menemukan penggantimu. Itu hanya masalah waktu- Author
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Jumat, 09 Desember 2011

Syair Cukup tuk Aku dan Kamu


Syair Cukup tuk Aku dan Kamu
By: Nina Kurnia Dewi

Ketika aku mulai merasa,
sesuatu yang kau rasa,
dan kita sungguh benar merasa,
apa yang kusebut rasa.

Saat rasa itu ada,
dengar nyanyian getaran dada,
kita pun turut merasa ada,
meski mata tak jua lihatnya ada.

Mata takkan mampu melihatnya,
tak mampu jua merasanya,
terlebih tak mampu memilikinya,
karna hati yang menciptanya. 

Mencipta rasa indah antara kita,
seindah bias intan permata,
dengan nama seindah cinta,
meski harus tanpa kata.

Kata takkan ungkap segalanya.
makna indah dirangkaiannya,
karena kata hanya lisannya,
sedang hati yang menciptanya.

Aku takkan memintamu,
mengungkap rasa dihatimu.
simpan dala-dalam disanubarimu,
hingga yang tahu, cukup aku dan kamu.
Serpihan Cahaya Bintang>>

Cukup Aku dan Kamu


Cukup Aku dan Kamu
By: Nina Kurnia Dewi

   Kembali kubuka lembar-lembar lusuhku. Berharap sisa selembar saja untuk guratan penaku. Kumulai lagi monologku yang sebenarnya hanya aku yang boleh tahu. Merenungi segalanya. Mengupas ingatanku dan merangkainya menjadi sebuah kata. Kata lugu yang bermakana (bagiku).
   Aku kembali terdiam dan merenungi segalanya. mengapa kisah ini harus ada? Kisahku dan dirimu yang memang lama kutunggu.... namun... ah, sudahlah. Lupakan semua. Itu akan lebih baik, daripada seorang pemilik hati terluka.
   Aku tersenyum hambar. Tak habis pikir bagaimana rona merah jambu itu turut tumbuh dihatiku? Sedang aku tak memintanya. Aku juga tak pernah menginginkannya. Dan aku juga tak memiliki alasan untuknya.
   Sejenak kuberpikir, sedikit meragu tentang dirimu. Apa rasa dihatimu benar adanya? Karena lisanmu tak pernah berkata. Namun aku kembali tersadar. Lisan terlalu hina tuk ungkap semua. Rasa itu. Karena hati yang menciptanya dan dia pula yang harus menyibaknya.
   Namun aku tak ingin kau melakukannya. Menyibak semua. Memetik ranum sakura yang tubuh dihati kita. belum saatnya untuk kita berdua. Jangan memaksa! Cukup diam dan berpura-pura jikalau kita tidak merasa. Rasa indah, namun kadang menyesakkan dada. Wajahmu terngiang dibenakku. Tak ada yang istimewa. Namun tatapanmu, terasa berbeda. Walau haya saling tatap tanpa kata, getaran itu tak jua sirna. Behkan kian membara. Membelenggu jiwaku yang mulai lara.
   Kadang aku berpikir, mengapa ada yang berbeda? Setelah kita mulai merasa? Mengapa tak seperti dulu? Atau mungkinkah ini garis takdir sang Maha Pencipta? Yang juga telah mencipta rasa itu dihati kita? tak perlu kau jawab.aku sudah mengetahuinya.
   Sebenarnya aku lelah. Berpura-pura dan berpura-pura. diam dan diam. Seperti tak saling kenal. Namun apa boleh dikata, kita harus berpura-pura. berpura-pura tidak merasa, walau rasa itu menggetarkan jiwa. Mencoba diam dan mengunci rasa itu dalam-dalam didasar sanubari. Jangan kau buang! Cukup kau simpan dalam-dalam. Hingga tak ada yang mengerti. Cukup aku dan kamu.
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Senin, 05 Desember 2011

Ceritaku, kamu, dan dia (My Own Way to Love You)


Ceritaku, kamu, dan dia


(My Own Way to Love You)
By: Nina Kurnia Dewi

      Kubuka lembar-lembar bukuku. Mencari bagian kosong disela-selanya. Kutuangkan semuanya. Isi hati dan pikiranku. Segala kegundahan dan kegalauanku. Segurat senyum pahit terbentuk dibibirku ketika teringat semua. Semua tentang aku, kamu, dan dia. Yang semula baik-baik saja.
      Lembaran yang tadinya kosong kini mulai terisi oleh beberapa bagian alfabet. Lembaran tak berdosa yang kupaksa turut merasakan apa yang kurasa. Karena kurasa hanya dia yang mampu merasa apa yang aku rasa. Meski dia hidup tanpa nyawa.
      Mulai kutuangkan ceritaku. Ceritaku, kamu, dan dia. Jujur dengan sepenuh hatiku. Au merasa berdosa padamu. Teramat. Hingga kupikir saat ini aku tak pantas menerima kebaikan hatimu. Karena rasa salah itu makin membelenggu hatiku. Andai kamu tahu betapa besar penyesalanku. Dan andai kutahu seberapa dalam aku menggoreskan luka itu dihatimu. Luka yang sebenarnya tak patut kamu rasakan. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata itu telah keluar dari bibirku. Dan aku tahu, itu keluar dari hati terdalamku.
      Setetes air mata luruh dari pelupuk mataku. Menyisakan bekas air pada kertas-kertas lusuhku. Rasa sakit itu tiba-tiba ikut tumbuh dihatiku. Saat wajahmu tergambar jelas dibenakku. Tak bisa kupungkiri. Aku tidak akan pernah bisa setegar dirimu jika aku berada diposisimu. Aku bahkan tak yakin jika aku mampu tersenyum diatas luka itu. Dan aku sungguh tahu jika kamu juga merasakan hal itu. Jika kamu menyembunyikan rasa sakit luka itu dibalik senyuman manismu.
      Aku tak akan pernah marah padamu jika sekarang kamu menjaga jarak denganku. Karena aku tahu, penyebabnya adalah luka itu. Luka yang dengan tanpa dosa telah kugoreskan dihatimu. Dan kali ini ak sudah tak bisa menahan tangisku. Bukan karena dia atau apa. Tapi karenamu. Karena luka hatimu itu.
      Menyesal!!! Itu kata yang sanggup diucapkan hatiku. Bukan hanya diucapkan dan dilantunkan. Namun juga dirasakan. Dan tahukah kamu mengapa aku merasa begitu teramat menyesal? Bukan tak lain karena luka itu kini aku tak pernah sekalipun mampu mencipta sebuah pelangi dibibirmu. Selalu orang lain yang melakukannya untukmu. Tak lagi seperti dulu.
      Senyuman pahit kembali tergurat dibibirku. Membayangkan betapa luka itu kini sedang membelenggumu. Mengutuk betapa kejinya aku yang telah menorehkannya diatas hatimu. Namun maafkan aku. Aku tak ingin menjadikan itu sebagai suatu kebohongan besar yang kelak ketika kamu mengetahuinya, kamu justru akan merasakan luka yang lebih dalam daripada ini.
      Satu hal yang harus kamu tahu. Walau kini aku tak lagi mampu membuatmu tersenyum layaknya teman-temanmu, bukan berarti kini aku tak lagi menyayangimu. Hatiku masih sama seperti dulu. Masih menyayangi dan mengasihimu. Meski tak seperti yang lainnya. Because I have my own way to love you. Dan tak ada orang lain yang memberikan itu padamu.
      Aku memang tak menampakkan kasih sayangku padamu. Lagi-lagi tak seperti yang lainnya. Aku memang lebih banyak diam padamu. Karena dalam diam aku mampu memahami dan megertimu. Dan karena itu juga, kini aku lebih mengenalmu daripada kamu mengenal aku. Aku memang diam. Namun bukan hanya diam. Seperti yang orang lain kerjakan. Karena kamu tidak tahu sesuatu yang ada padaku. Yang tak ada padamu. Yang membuatku mampu menyayangimu dengan jalanku.
      Satu hal lain yang juga perlu kamu tahu. Aku tak pernah sungguh menginginkannya dalam hidupku. Dia hadir tiba-tiba tanpa kuminta. Memberiku harapan fana. Dan aku pernah sekali terbuai olehnya. Namun kini dia menghilang tiba-tiba juga. Meninggalkanku yang masih sibuk mnyelami buaian rasanya. Akupun yak tahu mengapa. Namun tetap ada rasa yang berbeda. Andai aku tak pernah mengenal dia. Mungkin rasa ini takkan pernah ada. Namun untuk satu ini aku tak ingin menyesalinya. Akan kucoba tersenyum diatasnya.
      Sebuah seyuman tulus kini tergurat dibibirku seiring dengan kututup lembaran-lembaran lusuhku. Kutarik nafas panjang seraya memejamkan mataku. Semoga ini menjadi akhir bahagia Ceritaku, kamu, dan dia :)

***END***

Ceritaku, kamu, dan dia
Memang pernah ada
Dan akan selalu ada

Namun yakinlah
Itu akan mempunyai kisah berbeda diakhirnya
Bukan seperti sekarang yang kita rasa



Serpihan Cahaya Bintang>>
Back to Top