Sabtu, 05 November 2011

OVERBOARD


OVERBOARD
By: Nina Kurnia Dewi
            
Sang surya muncul di ufuk timur bersiap menghangatkan bumi. Memberikan kehangatan, senyuman, dan seberkas harapan. Aku masih duduk terpaku di sudut kamarku. Kubiarkan rambut panjangku terurai tak karuan. Kutatap cermin disebelahku, mataku bengakak. Perasaan bersalah masih menyelimuti diriku. Ah, andai malam itu bisa kuulang.
*****
Kutinggalkan apartemenku menuju rumah mama. Aku tak menyadari berapa lama perjalananku, yang kutahu sekarang aku telah berada didepan rumah hijau besar itu. Kulangkahkan kakiku. Tak kupedulikan satpam yang memandangiku. Tanpa sepatah katapun, aku langsung meniti tangga menuju lantai dua. Dengan tatapan kosong kutatap pemandangan dieskitar rumah ini dari balkon. Kudengar suara pintu tebuka dan langkah kaki seseorang.
“Alis, sudahlah! Jangan terus seperti ini sayang, “ kata suara dibelakagku. Aku diam. Tak kupedulikan dia.
“Alis, jalan kamu masih panjang, masih banyak yang harus kamu lakukan. Jangan seperti ini, mama mohon! Masa depan menantimu nak,” lanjutnya berusaha menasihatiku. Kusunggingkan sebuah senyum. Kupandang dia. Bibirku terbuka.
“Memang apa peduliku?” kataku dengan nada ketus. Air mataku kembali menetes.
“Alis, dua tahun sudah berlalu dan kamu masih seperti ini. Seharusnya liburan kali ini mama nggak izinin kamu pulang! Setiap kamu kembali ke Indonesia selalu seperti ini. Sudahlah Alis, kamu tatap masa depanmu! Jangan kamu bawa kenangan masa lalumu! Kamu....”
“Mama tolong tinggalin Alis sendiri,” kataku memotong ucapannya.
“Mama tolong tinggalin aku sendiri atau aku kembali ke apartemen,” lanjutku.
Mama diam. Tanpa banyak bicara dia menuruti ucapanku. Aku yakin sebenarnya dia sangat memahami perasaanku. Hanya dia tidak ingin aku terlalu larut didalamnya.
*****
Kukedipkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Kepalaku terasa sedikit pening. Ah, rupanya aku tertidur.
“Alis, buka pintunya, ada yang mau ketemu sama kamu,” kata mama dari luar ruangan.


Kuraih kunci dan kubuka pintu. Tak kupedulikan penampilanku yang masih semrawut setelah bangun tidur. Deg.... bumi seakan berhenti berputar. Seseorang yang bersama mama sudah dua tahun ini tak kulihat. Sejak aku meneruskan belajarku di California.


“Silakan masuk Raya, tante tinggal dulu,” kata mama mencairkan suasana dan mempersilakan Raya masuk kekamarku. Ya, dia Raya saudara kembar Ryan.


“Kak Alis, kok lama nggak main ke Singapura? Mama sama papa nanyain terus lho,” katanya sembari duduk. Aku tak menjawab. Kupandangi wajah gadis mungil itu lekat-lekat.


“Kak? Kakak nggak papa?” tanyanya dengan nada khawatir.


“Oh iya, nggak papa. Hanya saja wajah kamu mengingatkanku sama Ryan,” kataku dengan sebuah senyum kecil.


“Kak, Ryan pasti sedih banget kalau lihat kakak sperti ini. Ryan nggak ingin kepergiannya hanya mendatangkan air mata kak! Dia ingin semua yang ditinggalkannya bahagia,” katanya sambil membelai rambutku.


Ingatanku kembali lagi ke saat mengerikan dua tahun silam. Malam itu, malam ulang tahun ke – 18 ku. Tiga jam aku menunggu di kafe yang telah kami sepakati. Aku sedikit kesal tapi aku berusaha untuk berpikiran positif. Dan sampai kesabaranku hilang dia belum juga datang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Sesaat sebelum aku masuk ke mobil aku melihat mobil Ryan datang. Tapi aku tak peduli karena memang malam itu aku sudah terlalu kesal.


Kusetir mobilku meninggalkan area kafe. Aku larut dalam kekesalanku. Hingga aku tak menyadari jika Ryan mengikutiku dibelakang. Menyetir dengan kecepatan diatas 100 km/h mamang sudah menjadi kebiasaanku jika sedang kesal. Tiba-tiba kudengar suara gemuruh dari belakang. Kuhentikan mobil dan kulihat dari kaca spion. Ada kecelakaan. Bulu romanku berdiri.


Kuberanikan diri keluar dari mobil. Kulihat sebuah mobil yang sepertinya kukenal. Body belakangnya hampir tak berbentuk tertabrak sebuah truk pengangkut pasir. Tapi aku masih dapat mengenalinya. Tiba-tiba tanpa sadar aku berlari menembus kerumunan orang didepanku.


“Ryan..!!” jeritku histeris. Tim medis menggotong tubuhnya yang tak berdaya ke ambulan. Dua jam dia tak sadarkan diri. Aku baru datang 30 menit setelah dia siuman.


“Ryan...” sebuah senyuman tersungging di bibirku. Dia membalasnya dengan senyuman lesu.


“Alis, kamu datang, aku minta maaf ya?” bisiknya lirih.


“Kamu nggak perlu minta maaf,” mataku bekaca-kaca.


“Alis....” suaranya lemah, hampir tak bisa kudengar.


“Mama, papa, Raya...” kalimatnya terputus. Dia berusaha mengatur nafas dan berkata lagi, “Aku minta maaf jika aku pernah berbuat salah selama ini. Aku sayang mama papa. Aku sayang kamu Ray. Aku sayang kamu Alis...” Suaranya semakin melemah hingga aku tak mendengar apapun lagi darinya, nafasnya bahkan detak jantungnya. Itu adalah kalimat terakhirnya. Malam itu seharusnya aku tengah merayakan kebahagiaan bersamanya. Tapi kini aku harus berbesar hati merelakan kepergiannya. Senyumanku pudar berubah jadi tangisan.


“Kak Alis?” kata Raya membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar air mataku menetes lagi. Kusunggingkan sebuah senyuman paksa.


“ Kak, udah dong....” katanya lagi.


“Oh ya kak, sebelum Ryan pergi, dia bilang supaya aku kasih ini ke kakak. Aku cari kemana-mana dan aku baru menemukan dua hari setelahnya di saku jas yang dipakainya malam itu,” Raya menyodorkan sebuah kotak kecil. Kubuka pelan-pelan.


“Cincin...” kataku lirih. Tangisku pecah.

It feels like we’ve been out at sea
So back and forth that’s how its seems
Whoa and when I want to talk
You say to me
That if its meant to be, it will be
So crazy in this thing we call love
The love that we got that we just can
t give up
I’m reaching out for you
Got me out here in the water and I
I’m overboard and I need your love
Pull me up
I can
t swim on my own
It
s to much
Feels like I’m drowning without your love
So throw yourself out to me
My life saver
Life saver
Oh life saver
My life saver
Life saver
Oh life saver oh wow


Never understand you when you say
Wanting me to me
et you half way
Felt like I was doing my part
Get bringing your coming up short
Funny how these thing change
Cause now I see

So crazy in this
thing we call love
And now that we got it
We just can’t give up
I’m reaching out for y
ou
Got me out here in the water and
I

I’m overboard
And I need your love
Pull me up (Pull me up)
I can’t swim on my own
It
s to much (It’s to much)
Feels like I’m drowning without your love
So throw yourself out to me
My life saver
It’s supposed to be some give and take I know
You only taking and not given any more
So what will I do? (So what will I do?)
Cause I still love you (Still love you Baby)
you’re the only one who can save me
I’m overboard
And I need your love
Pull me up (Pull me up)
I cant swim on my own
Its to much (Its to much)
Feels like I’m drowning (I
m drowning baby I’m drowning) without your love
So throw yourself out to me (Can’t swim)
My life saver
Life saver
Oh life saver
My life saver
(Its crazy, crazy
crazy, yeah) Life saver
Oh life saver
Oh life saver
Oh life saver
Oh life saver
Yeah
(Justin Bieber feat. Jessica Jarrel Overboard)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top