Rabu, 14 Desember 2011

(Mungkin) Bahagia adalah Melupakanmu


(Mungkin) Bahagia adalah Melupakanmu
By: Nina Kurnia Dewi

          “Namun tak kau lihat
           Terkadang malaikat
           Tak bersayap
           Tak cemerlang
           Tak rupawan
           Namun kasih ini
           Silakan kau adu
           Malaikat juda tahu
           Siapa.... yang jadi.... JUARANYA”

           Suara merdu Dewi Lestari menggema memenuhi sudut-sudut ruanganku. Aku semakin terisak lembar-lembar tissue berserakan disekelilingku. Sudah kucoba untuk tidak menangisi ini, membiarkannya menjadi angin lalu. Namun rupanya aku gagal. Cairan bening ini tetap menetes dari pelupuk mataku, bahkan semakin deras, tak kunjung mengering. Walau kusadar jika ini tak berguna. Tak akan mengubah segalanya. Air mata hanya mengisyaratkan betapa lemah dan rapuhnya aku.
           Aku mmang lemah. Bukan hanya lemah, namun juga rapuh dan lapuk. Kau tahu apa penyebabnya? Satu kata, tiga huruf yang sekarang tak ada artinya lagi bagiku. KAU. Kau yang menjadikan aku begini. Aku baik-baik saja sebelum hadirmu! Sebelum kau bawa seberkas harapan itu. Harapan tak berujung yang telah membiusku dan sekarang sukses membunuhku. Menenggelamkanku dalam buaian rasa yang telah kau tinggal pergi.
           Kadang aku berpikir, sebegitu keraskah hatimu? Hingga kau sama sekali tak merasa apa yang aku rasa? Hingga kau tak pernah sadar jika aku selalu ada untukmu? Hingga kau tak menyadari rona merah jambu sang sakura telah lama tumbuh dihatiku? Dan tahukah kamu jika aku menunggumu? Menunggumu untuk memetiknya dari hatiku. Haruskah aku berkata “AKU MENCINTAIMU” agar kau sadar rasa itu sungguh ada dihatiku? Haruskah aku meneriakkan “AKU INGIN KAU DISINI” agar kau sadar sungguh ku membutuhkanmu?
           Tetes-tetes air mataku tak kunjung reda. Kubenamkan diriku diantara tumpukan bantal dan selimutku. Rambut panjangku terurai tak karuan. Tiba-tiba kurasakan getaran dicelah-celah tumpukan itu. Aku tersentak. Sebuah pesan kuterima dari dia yang tak ingin kusebut namanya. Hanya kubaca sekilas pesan itu, namun sukses membuat nyeri dan ngilu hatiku. Membuatku muak dan mual. Ku genggam erat handphoneku. Ku angkat tanganku hendak membantingnya. Namun segera kuurungkan niatku. Ku tundukkan kepalaku dalam. Hal yang paling kubnci terjadi, ketika kemarahanku berubah menjadi air mata. Cairan bening itu mengalir makin deras membasahi pipiku. Bagaimana tidak? Kau memang benar-benar tak punya hati. Kemanakah pikiranmu? Perlukah kau memberitahuku apa yang sedang kau lakukan dengan gadismu? Tidakkah kau tahu jika ini hanya menambah lukaku? Tidakkah kau tahu jika aku benci menjadi tempat pelarianmu? Aku bukan tempat sampah!! Aku manusia yang memiliki perasaan!! Bukan boneka yang bisa kau perlakukan semaumu.
********
           Kuambil lagi selembar tissue. Kucoba untuk mengeringkan bekas air itu. Namun sia-sia. Air itu terus mengalir dari sumbernya. Aku tak kuasa menahannya. Kutatap nanar layar handphoneku. Isakanku makin menjadi. Sayup-sayup kedengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Segera kumatikan MP3ku.
           “Dewi..” kata sebuah suara yang sudah akrab ditelingaku.
           “Iya Bun, silakan masuk,” jawabku parau. Seorang wanita paruh baya membuka pintu kamarku seraya melangkah masuk dan duduk ditepi tempat tidurku. Kutangkap sebuah keterkejutan dimimik wajahnya.
           “Kamu kenapa De?” tanyanya khawatir. Aku tak menjawab. Kutundukkan kepalaku.
           “Raka?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk lemah. Bunda pasti sudah paham. Dia mengetahui hubugan pelikku dengan seseorang yang namanya dia sebut. Bunda menghela nafas panjang. Ditatapnya mataku dengan penuh cinta kasih sembari membelai rambutku.
           “Dewi, buat apa kamu menangisi seseorang yang belum tentu mau meneteskan setetes air matanya saja untukmu?” kata bunda penuh nasihat. Aku tak berani menatap matanya.
           “Dewi jatuh hati Bun,” jawabku singkat.
           “Lalu untuk apa kamu jatuh hati bahkan mencintai orang yang tidak mencintaimu? Untuk apa kamu kuras hati dan pikiran kamu untuk itu? Sedang dia belum tentu melakukan hal yang sama untukmu?” kejar Bunda. Aku terdiam. Mencoba mencerna kalimatnya.
           “Kamu ingin bahagia?” tanyanya lagi.
           “Tak ada orang yang mengelak dari hadirnya Bun,” jawabku acuh. Bunda tersenyum.
           “Lupakan Raka! Kamu akan menemukan kebahagiaan,” kata Bunda. Aku terkejut. Kali ini kuberanikan diri untuk menatapnya. Bunda hanya tersenyum kemudian beranjak meninggalkanku yang masih terpaku.
           “Lupakan Raka! Kamu akan menemukan kebahagiaan,”  lirihku mengulang kalimat Bunda. Ada benarnya. Mungkin itu yang harus kulakukan. Melupakanmu. Kuusap air mataku. Kuguratkan sebuah senyuman. Aku ingin bahagia. Aku ingin bahagia. Bukan hanya menangisi dan memikirkan dirimu. Aku tak sebodoh itu. Aku ingin bahagia. Dan aku akan melupakanmu. Karena, bahagia adalah melupakanmu.
  -Aku bisa melupakanmu. Namun aku butuh waktu. Setidaknya hingga aku menemukan penggantimu. Itu hanya masalah waktu- Author
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Jumat, 09 Desember 2011

Syair Cukup tuk Aku dan Kamu


Syair Cukup tuk Aku dan Kamu
By: Nina Kurnia Dewi

Ketika aku mulai merasa,
sesuatu yang kau rasa,
dan kita sungguh benar merasa,
apa yang kusebut rasa.

Saat rasa itu ada,
dengar nyanyian getaran dada,
kita pun turut merasa ada,
meski mata tak jua lihatnya ada.

Mata takkan mampu melihatnya,
tak mampu jua merasanya,
terlebih tak mampu memilikinya,
karna hati yang menciptanya. 

Mencipta rasa indah antara kita,
seindah bias intan permata,
dengan nama seindah cinta,
meski harus tanpa kata.

Kata takkan ungkap segalanya.
makna indah dirangkaiannya,
karena kata hanya lisannya,
sedang hati yang menciptanya.

Aku takkan memintamu,
mengungkap rasa dihatimu.
simpan dala-dalam disanubarimu,
hingga yang tahu, cukup aku dan kamu.
Serpihan Cahaya Bintang>>

Cukup Aku dan Kamu


Cukup Aku dan Kamu
By: Nina Kurnia Dewi

   Kembali kubuka lembar-lembar lusuhku. Berharap sisa selembar saja untuk guratan penaku. Kumulai lagi monologku yang sebenarnya hanya aku yang boleh tahu. Merenungi segalanya. Mengupas ingatanku dan merangkainya menjadi sebuah kata. Kata lugu yang bermakana (bagiku).
   Aku kembali terdiam dan merenungi segalanya. mengapa kisah ini harus ada? Kisahku dan dirimu yang memang lama kutunggu.... namun... ah, sudahlah. Lupakan semua. Itu akan lebih baik, daripada seorang pemilik hati terluka.
   Aku tersenyum hambar. Tak habis pikir bagaimana rona merah jambu itu turut tumbuh dihatiku? Sedang aku tak memintanya. Aku juga tak pernah menginginkannya. Dan aku juga tak memiliki alasan untuknya.
   Sejenak kuberpikir, sedikit meragu tentang dirimu. Apa rasa dihatimu benar adanya? Karena lisanmu tak pernah berkata. Namun aku kembali tersadar. Lisan terlalu hina tuk ungkap semua. Rasa itu. Karena hati yang menciptanya dan dia pula yang harus menyibaknya.
   Namun aku tak ingin kau melakukannya. Menyibak semua. Memetik ranum sakura yang tubuh dihati kita. belum saatnya untuk kita berdua. Jangan memaksa! Cukup diam dan berpura-pura jikalau kita tidak merasa. Rasa indah, namun kadang menyesakkan dada. Wajahmu terngiang dibenakku. Tak ada yang istimewa. Namun tatapanmu, terasa berbeda. Walau haya saling tatap tanpa kata, getaran itu tak jua sirna. Behkan kian membara. Membelenggu jiwaku yang mulai lara.
   Kadang aku berpikir, mengapa ada yang berbeda? Setelah kita mulai merasa? Mengapa tak seperti dulu? Atau mungkinkah ini garis takdir sang Maha Pencipta? Yang juga telah mencipta rasa itu dihati kita? tak perlu kau jawab.aku sudah mengetahuinya.
   Sebenarnya aku lelah. Berpura-pura dan berpura-pura. diam dan diam. Seperti tak saling kenal. Namun apa boleh dikata, kita harus berpura-pura. berpura-pura tidak merasa, walau rasa itu menggetarkan jiwa. Mencoba diam dan mengunci rasa itu dalam-dalam didasar sanubari. Jangan kau buang! Cukup kau simpan dalam-dalam. Hingga tak ada yang mengerti. Cukup aku dan kamu.
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>

Senin, 05 Desember 2011

Ceritaku, kamu, dan dia (My Own Way to Love You)


Ceritaku, kamu, dan dia


(My Own Way to Love You)
By: Nina Kurnia Dewi

      Kubuka lembar-lembar bukuku. Mencari bagian kosong disela-selanya. Kutuangkan semuanya. Isi hati dan pikiranku. Segala kegundahan dan kegalauanku. Segurat senyum pahit terbentuk dibibirku ketika teringat semua. Semua tentang aku, kamu, dan dia. Yang semula baik-baik saja.
      Lembaran yang tadinya kosong kini mulai terisi oleh beberapa bagian alfabet. Lembaran tak berdosa yang kupaksa turut merasakan apa yang kurasa. Karena kurasa hanya dia yang mampu merasa apa yang aku rasa. Meski dia hidup tanpa nyawa.
      Mulai kutuangkan ceritaku. Ceritaku, kamu, dan dia. Jujur dengan sepenuh hatiku. Au merasa berdosa padamu. Teramat. Hingga kupikir saat ini aku tak pantas menerima kebaikan hatimu. Karena rasa salah itu makin membelenggu hatiku. Andai kamu tahu betapa besar penyesalanku. Dan andai kutahu seberapa dalam aku menggoreskan luka itu dihatimu. Luka yang sebenarnya tak patut kamu rasakan. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata itu telah keluar dari bibirku. Dan aku tahu, itu keluar dari hati terdalamku.
      Setetes air mata luruh dari pelupuk mataku. Menyisakan bekas air pada kertas-kertas lusuhku. Rasa sakit itu tiba-tiba ikut tumbuh dihatiku. Saat wajahmu tergambar jelas dibenakku. Tak bisa kupungkiri. Aku tidak akan pernah bisa setegar dirimu jika aku berada diposisimu. Aku bahkan tak yakin jika aku mampu tersenyum diatas luka itu. Dan aku sungguh tahu jika kamu juga merasakan hal itu. Jika kamu menyembunyikan rasa sakit luka itu dibalik senyuman manismu.
      Aku tak akan pernah marah padamu jika sekarang kamu menjaga jarak denganku. Karena aku tahu, penyebabnya adalah luka itu. Luka yang dengan tanpa dosa telah kugoreskan dihatimu. Dan kali ini ak sudah tak bisa menahan tangisku. Bukan karena dia atau apa. Tapi karenamu. Karena luka hatimu itu.
      Menyesal!!! Itu kata yang sanggup diucapkan hatiku. Bukan hanya diucapkan dan dilantunkan. Namun juga dirasakan. Dan tahukah kamu mengapa aku merasa begitu teramat menyesal? Bukan tak lain karena luka itu kini aku tak pernah sekalipun mampu mencipta sebuah pelangi dibibirmu. Selalu orang lain yang melakukannya untukmu. Tak lagi seperti dulu.
      Senyuman pahit kembali tergurat dibibirku. Membayangkan betapa luka itu kini sedang membelenggumu. Mengutuk betapa kejinya aku yang telah menorehkannya diatas hatimu. Namun maafkan aku. Aku tak ingin menjadikan itu sebagai suatu kebohongan besar yang kelak ketika kamu mengetahuinya, kamu justru akan merasakan luka yang lebih dalam daripada ini.
      Satu hal yang harus kamu tahu. Walau kini aku tak lagi mampu membuatmu tersenyum layaknya teman-temanmu, bukan berarti kini aku tak lagi menyayangimu. Hatiku masih sama seperti dulu. Masih menyayangi dan mengasihimu. Meski tak seperti yang lainnya. Because I have my own way to love you. Dan tak ada orang lain yang memberikan itu padamu.
      Aku memang tak menampakkan kasih sayangku padamu. Lagi-lagi tak seperti yang lainnya. Aku memang lebih banyak diam padamu. Karena dalam diam aku mampu memahami dan megertimu. Dan karena itu juga, kini aku lebih mengenalmu daripada kamu mengenal aku. Aku memang diam. Namun bukan hanya diam. Seperti yang orang lain kerjakan. Karena kamu tidak tahu sesuatu yang ada padaku. Yang tak ada padamu. Yang membuatku mampu menyayangimu dengan jalanku.
      Satu hal lain yang juga perlu kamu tahu. Aku tak pernah sungguh menginginkannya dalam hidupku. Dia hadir tiba-tiba tanpa kuminta. Memberiku harapan fana. Dan aku pernah sekali terbuai olehnya. Namun kini dia menghilang tiba-tiba juga. Meninggalkanku yang masih sibuk mnyelami buaian rasanya. Akupun yak tahu mengapa. Namun tetap ada rasa yang berbeda. Andai aku tak pernah mengenal dia. Mungkin rasa ini takkan pernah ada. Namun untuk satu ini aku tak ingin menyesalinya. Akan kucoba tersenyum diatasnya.
      Sebuah seyuman tulus kini tergurat dibibirku seiring dengan kututup lembaran-lembaran lusuhku. Kutarik nafas panjang seraya memejamkan mataku. Semoga ini menjadi akhir bahagia Ceritaku, kamu, dan dia :)

***END***

Ceritaku, kamu, dan dia
Memang pernah ada
Dan akan selalu ada

Namun yakinlah
Itu akan mempunyai kisah berbeda diakhirnya
Bukan seperti sekarang yang kita rasa



Serpihan Cahaya Bintang>>

Minggu, 06 November 2011

My First Veil


My First Veil
By: Nina Kurnia Dewi
      
“Arrghh, it’s so hot!!” kataku seraya melepas dan melempar jilbab putih yang melekat dikepalaku. Kubaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Oh... bagaimana bisa aku melakukan ini? Bagaimana mungkin aku bisa beradaptasi dengan berbagai hal dalam waktu yang singkat? Bahkan hal ini tidak pernah kupikirkan sebelumnya!
Kulepas seragam putih abu-abuku dan segera kukenakan T-shirt dan short skirt kesayanganku. Aku ingin melepas penat dengan berjalan-jalan disekitar kompleks ini. Siapa tahu aku akan mendapat teman baru. Aku berhenti sesaat sebelum keluar kamar memandang pantulan bayanganku yang tertangkap oleh cermin disebelah pintu. Tiga puluh menit yang lalu aku adalah sosok jilbaber yang berpakaian serba panjang. Lalu bagaimana dengan sekarang? Ah apa peduliku. Memang siapa yang akan betah memakai jilbab dan berpakaian serba panjang itu disaat cuaca panas seperti ini? Kalau bukan karena permintaan Mom, pasti aku juga tidak akan memakainya.
Aku memang lemah jika sudah berhadapan dengan Mom. Aku selalu saja menuruti keinginannya. Entah aku menyukainya atau tidak. Mungkin karena itu juga aku mau diminta pindah ke Indonesia untuk menemaninya karena Dad harus pindah ke Singapura dan Mom tidak mungkin meninggalkan usahanya disini. Walaupun konsekuensinya aku harus rela meninggalkan teman-teman dan segala hal yang teramat kusayangi di London.
Aku segera menuruni tangga dan keluar dari rumah. Aku melihat tatapan terkejut dari pesuruh-pesuruh rumah ini yang sedang beristirahat di halaman depan.
“Astaghfirullah,” kata beberapa dari mereka setengah berbisik.
“Mbak Zafrina...” salah satu dari mereka memanggilku.
“Frina, just Frina,” kataku membenarkan ucapannya. Aku memang tidak pernah mau dipanggil ‘Zafrina’ selain oleh orang tuaku.
“Oh, iya, Mbak Frina,” katanya kemudian.
“Ada apa?”
“Mbak Frina mau kemana?” tanyanya ladi dengan nada sedikit gugup.
“Mau jalan-jalan,” jawabku ketus.
“Maaf mbak, tapi tadi Nyonya... Nyonya berpesan agar Mbak Frina tidak keluar rumah dulu sebelum beliau pulang,” terdengar perasaan takut dari ucapannya.
“What? Are you crazy? I must wait Mom? She’ll go home at night, won’t she?” kataku dengan nada tinggi.
“Maaf Mbak, tapi saya hanya menyampaikan pesan dari Nyonya, maaf saya tidak mengerti apa-apa,” katanya dengan wajah menunduk ketakutan.
“Damn,” kataku seraya kembali masuk kedalam rumah.
Entah kenapa aku tidak pernah bisa membantah perintah Mom. Walaupun perintahnya sering bertentangan dengan kehendakku. Ya, seperti saat ini. Tapi yang kuherankan, kenapa Mom masih saja menganggapku seperti anak kecil? I wanna be my self!
*******
          Kelas masih sepi ketika aku datang. Tanya, sosok jibaber yang merupakan teman baru sekaligus teman sebangkukupun belum terlihat. Padahal biasanya dia sudah datang sebelum aku. Aku mengitari kelas. Melihat-lihat hal-hal menarik apa sajakah yang bisa kutemui. Baru dua hari aku memijakkan kakiku dikelas ini. Jadi maklum jika aku belum sempat melihat-lihat keadaan sekitar. Bahkan aku juga belum terlalu mengenal teman-teman sekelasku kecuali Tanya. Ya, karena kupikir hanya dia yang bisa memahami keadaanku saat ini.
          “Assalamu’alaikum,” kata suara dibelakangku.
          “Wa.. wa’alaikumsalam,” jawabku sembari membalikkan badan.
          “Kamu sudah datang Fri?” tanya orang tersebut yang tak lain adalah Tanya.
          “Oh, that’s you Tanya,”
          “Sudah lama?”
          “Just now,” kulontarkan sebuah senyuman kepadanya. Tanya membalas dengan senyuman yang tak kalah manis sembari duduk dibangkunya. Akupun segera mengikutinya.
          “Tanya,” kataku sejurus kemudian.
          “Ya, ada apa?”
          “Memang sejak kapan kamu mulai memakai jilbab?”
          “Sejak kelas satu SMP,” jawabnya datar.
          “Hah? Itu berarti kamu sudah lima tahun memakai jibab! Aku heran, bagaimana kamu atau mom bisa nyaman memakai jilbab? Padahal disini kan panas benget? Don’t you fell hot?” tanyaku dengan nada heran. Tetapi Tanya hanya tersenyum.
          “Kok kamu malah tersenyum sih?” tanyaku sedikit jengkel.
“Frina, kamu nanti juga akan merasa nyaman jika sudah terbiasa. Hanya masalah waktu. Yang penting sekarang kamu ikhlas dan biasakan diri kamu untuk memakai jilbab, insyaallah kamu akan merasa nyaman dengan sendirinya,” jawabnya dengan suara lembut.
          “Yes, I know. Mom juga selalu menjawab seperti itu setiap kali aku bertanya. But, are there any reason except that?”
          “Kamu ingin aku menjawab apa? Aku rasa memang itu alasanku. Dan selain itu jibab merupakan sebuah harga diri yang harus dijaga. Jadi aku selalu merasa nyaman memakainya dimanapun dan kapanpun,” jawabnya seperti menahan tawa.
          “Harga diri? What do you mean?”
          “Jilbab adalah harga diri setiap muslimah Fri, makanya kita harus menjaganya. Jika kita mengaku sebagai seorang muslim, kita harus mengenakan jilbab. Agar orang lain bisa menghormati harga diri kita,” tutur Tanya lembut.
          “But, there are a lot of moslems don’t wear veil! Dan mereka tetap dihormati kan?”
          “Jadi kamu mau seperti mereka? Mengaku muslim tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya? Mengaku sebagai muslim tapi hanya di KTP? Mengerti jika itu tidak benar tapi tetap dijalankan?” Tanya melontarkan pertanyaan bertubi-tubi padaku.
          “Nggak juga sih,” jawabku sedikit ketus.
          “Aku tahu, kamu memakai jilbab karena permintaan orang tua kamu kan?”
          “Iya, bahkan bukan hanya sekedar permintaan melainkan sebuah paksaan. But why? I wanna be my self! Nggak boleh?”
          “Kembali ke pertanyaanku tadi? Kamu mau seperti orang-orang tersebut? Tidak kan? Kamu beruntung orang tua kamu mau mengingatkan kamu. Itu tandanya mereka menyayangi kamu. Sudahlah Fri, cobalah untuk ikhlas. Daripada kamu menyesal di kemudian hari,” kata Tanya seraya membelai kepalaku. Tidak terasa bel sudah berbunyi. Dan kelas inipun sudah penuh oleh penghuni-penghuninya. Aku mengakhiri pembicaraanku dengan Tanya sampai disini.
******
          “Mom, let’s go to the department store! I wanna shop,” kataku tiba-tiba muncul dihadapan mom yang sedang asyik membaca koran hari itu.
          “Oh, ayo Mom juga sudah lama sekali nggak keluar berdua sama kamu,” kata Mom seraya menutup koran yang dibacanya. Sejenak Mom memandangku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Perasaan tidak enak menyelimuti hatiku. Argumen-argumen aneh dan tidak masuk akal mulai memenuhi benakku. What’s up? Mom bikin nggak pede aja!
          “Kamu nggak pakai jilbab?” kata Mom nyengir. Oh my God! Benerkan! Pertanyaan yang sudah kuduga.
          “Alah Mom, this is so hot! Nggak nyaman!”
          “Baiklah! Tapi kamu tidak malu?”
          “Shy? Why?”
          “Hmm, ya sudahlah. Kita pergi sekarang?” kata Mom dengan senyum mengganjal.
          “Okay. Come on,” kataku bersemangat.
          Sekitar dua puluh menit kami tiba di department store yang terletak tidak jauh dari rumah kami. Beruntung tidak macet! Hahahaha :D. Aku segera menuju toko buku dan mencari novel yang mungkin menarik sementara mom menuju butik langganannya. Kulihat beberapa gadis yang mungkin bersekolah di SMA yang sama denganku. Terlihat mereka memandangiku. Mungkin mereka pernah melihat aku memakai jilbab disekolah. Tapi sekarang? Hahaha, tetap dengan short skirt dan T-shirt kesayanganku. Tapi memang apa peduliku?
******
          “Tanya!” seruku dengan nafas terengah-engah. Aku berusaha mengejar Tanya yang berada di depanku.
          “Frina? Ada apa?” Tanyanya seraya membalikkan badan kearahku.
          “Can you help me? I can’t wear this veil. I woke up so late this morning and my Mom has gane to her office before I asked her to help me wore this veil,” kataku memelas.
          “Of course,” katanya seraya mengambil jilbab dari tanganku dan dengan cekatan dia memakaikannya dikepalaku.
          “Nah, sudah,” katanya kemudian.
          “Okay, thank you so much,”
          “Any time,”
          “Did the bell ring?” tanyaku karena arlojiku sudah menunjukkan pukul tujuh lebih.
          “Sepertinya lima menit lagi. Cepat masuk kelas yuk!”
          “Oh, syukurlah. Ayo,” kataku memberi persetujuan dan segera melangkah mendahului Tanya.
          Perkataan Tanya benar. Tak lama setelah kami tiba dikelas bel berbunyi. Aku bersyukur tidak terlambat. Hari ini aku tidak begitu bersemangat. Mungkin karena aku sudah mulai merasa penat tinggal disini. Aku mulai merindukan teman-temanku di London. Tapi sepertinya aku harus tinggal disini dalam waktu yang cukup lama.
          Aku sangat bersyukur ketika bel pulang berbunyi. Tanya keluar kelas lebih dahulu. Aku tinggal dikelas sebentar untuk membereskan barang-barangku. Aku sedikit terkejut ketika melangkah keluar kelas. Bagaimana tidak? Aku melihat Tanya berjalan bersama seorang siswa (murid laki-laki). Aku belum pernah meihat orang itu sebelumnya. Tapi jika diperhatikan penampilannya cukup menarik. Aku mulai penasaran terlebih ketika mereka masuk ke sebuah mobil bersamaan. Siapa dia? Tanya’s boyfriend?.
          Aku tidak bermaksud untuk memata-matai Tanya. Tapi aku melihat kejadian serupa hari-hari setelahnya. Sebenarnya aku ingin bertanya. Tapi bukankah itu privacy-nya? Dan aku bukan tipe orang yang suka mengusik priacy orang lain. Karena itu adalah hak orang yang bersangkutan. Hal ini memang terkesan aneh. Karena yang kutahu biasanya orang yang sungguh-sungguh memakai jilbab bahkan menjaga jilbabnya seperti Tanya jarang (bukan berarti tidak) mau berduaan dengan orang yang bukan mukhrimnya dan Mom juga mengatakan hal yang sama kepadaku. Jadi wajarlah jika aku heran. Andai saja itu bukan gadis seperti Tanya tapi lebih sepertiku tentu aku tidak heran. Karena hal semacam itu pasti sudah biasa terjadi. Sudahlah, aku tidak ingin berburuk sangka kepada Tanya. Itu semua adalah haknya. Ya siapa tahu laki-laki itu saudara Tanya? Walaupun aku memang tidak melihat sedikit kemiripanpun dari mereka.
******
          Hari ini cuaca memang cukup panas. Walaupun aku sudah satu minggu tinggal disini tapi aku masih belum bisa beradaptasi dengan cuaca seperti ini. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah sambil menikmati lagu kesayangnku yang tedengar sayup-sayup dari headphone. Hari ini aku menolak untuk dijemput. Ya, hitung-hitung olah raga hahaha :D. Di London aku memang terbiasa jalan kaki bersama teman-teman ataupun sendirian. Karena menurutku jalan kaki lebih seru dan mengasyikan dibanding naik kendaraan.
          Tiba-tiba langkahku terhenti. Aku melihat segerombol laki-laki bertubuh kekar didepanku. Sepertinya mereka adalah preman. Tapi terlambat! Sebelum aku sempat membalikkan tubuh dan berlari menjauh, mereka sudah lebih dulu melihat dan menghampiriku.
          “Hai cantik,” kata salah satu dari mereka yang diikuti oleh tawa keras oleh yang lain. Keringat dingin mengucur dari keningku. Tubuhku gemetar. Aku langsung memberi respon penolakan ketika salah satu dari mereka menyentuhku.
          “Don’t touch me or I’ll scream!!” ancamku sedikit berteriak.
          “Bule ya? Kok nggak pernah lihat. Lagian ngomong apaan sih? Kita nggak ngerti cantik... hahahahahahahaha,” kata mereka dengan tawa terbahak-bahak.
          “Please, don’t disturb me. Aku cuma ingin lewat dan aku tidak akan mengganggu kalian,” kataku gemetar.
          “Ayolah cantik. Mau kemana sih? Nggak usah buru-buru gitu dong,” kata salah satu dari mereka sambil mendekatiku. Salah satu dari mereka menyentuhku lagi.
          “Please. Stop. No, no. Jangan mendekat. Don’t touch me atau aku teriak,” suaraku semakin bergetar menahan rasa takut. Ingin rasanya aku segera berlari. Tapi mana mungkin? Jumlah mereka jauh lebih banyak. Sekitar delapan orang. Dan mereka bertubuh kekar dengan otot-otot mereka yang menonjol keluar.
          “Teriak aja. Paling juga nggak akan ada yang dengar. Hahahahahaha,” kata yang lain juga semakin mendekat. Nafasku memburu. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi tiba-tiba....
          “Hoi, bukan begitu memperlakukan seorang perempuan. Nggak ngerti ya?” kata seseorang dari belakang. Aku langsung membalikkan tubuh menghadap kearahnya begitu juga dengan preman-preman yang mengerumuniku. Deg... lho bukannya dia...
          “Kamu cepat masuk mobil,” katanya sembari memberikan isyarat kepadaku. Aku langsung saja mengikuti apa yang diperintahkannya.
          “Oh, santai Ram. Kita nggak ngapa-ngapain kok. Cuma main-main aja,” kata salah satu preman itu. Jika kudengar dari nada bicaranya, sepertinya dia sedikit ketakutan.
          “Iya Ram, kita nggak ngapa-ngapain kok,” lanjut yang satunya lagi.
          “Kalo nggak ngapa-ngapain kenapa kalian disini?” bentak cowok asing yang mereka sebut Ram itu.
          “Oke Ram. Santai, santai bro. Kita pergi kok,” kata salah seorang preman itu dan segera memerintahkan anggotanya untuk bubar dan beranjak dari tempat itu. Cowok itu (Ram) memandang mereka sejenak kemudian segera masuk ke mobil.
          “Kamu nggak papa?” tanyanya sedikit khawatir melihat raut ketakutan diwajahku.
          “Oh, yes.. yes, I’m.. I’m fine. Thanks,” jawabku masih sedikit gemetar.
          “Syukurlah. Biar aku antar kamu pulang aja ya?” tanyanya lagi. Aku tak menjawab. Dia segera menghidupkan mobilnya dan pergi dari tempat itu. Suasana mendadak menjadi hening selama beberapa saat.
          “Oh ya, aku Rama. Kamu Zafrina teman barunya Tanya kan?” tanyanya memecahkan keheningan.
          “Ya. But just call me Frina, and you...” aku ragu untuk melanjutkan perkataanku.
          “Ya, apa?”
          “You’re Tanya’s boyfriend, aren’t you?” kataku sedikit ragu.
          “Boyfriend?” katanya sedikit tertawa.
          “Ya, boyfriend. Right?”
          “Hahaha. Bukanlah!”
          “And so?” tanyaku penasaran.
          “Tanya is my sister,” jawabnya datar.
          “Sister? Tapi kalian tidak mirip sama sekali?” kataku heran.
          “Masa sih? Padahal kita masih satu ibu lho. She’s my step siter exactly,” katanya memberi penjelasan.
          “Oh,”
          “Tapi walau begitu aku sudah menganggapnya sebagai saudara kandungku. Sebagai adikku. Dan aku sangat menyayanginya,” katanya lagi. Ternyata dugaanku selama ini salah. Tanya dan dia ternyata masih memiki ikatan persaudaraan yang cukup dekat. Tanpa sadar sebuah senyuman terbentuk dibibirku.
          “Kamu tambah manis lho if you smile like this,” katanya yang membuat pipiku sedikit memerah.
          “Oh ya? Thanks,”
          “Tanya banyak bercerita tentang kamu. Dia sangat menyukaimu. Dan ketika melihat kamu dia merasa seperti melihat dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu. Dia persis seperti kamu,” kata Rama sedikit melirikku.
          “Maksudnya?” tanyaku heran.
          “Tanya cerita jika kamu memakai jilbab karena permintaan orang tua kamu. Dan kamu merasa keberatan dengan permintaan itu. Sehingga kamu merasa terpaksa dan berat untuk memakai jilbab. Itu sama seperti Tanya beberapa tahun silam. Dia ogah-ogahan untuk memakai jilbab. Dia merasa jilbab adalah suatu beban baginya. Sampai suatu hari...” Rama tidak melanjutkan ucapannya.
          “What?”
          “Sampai suatu hari dia mengalami hal serupa yang menimpa kamu barusan. Bahkan lebih parah dari itu, preman-preman itu berusaha untuk melepas paksa jilbab Tanya. Tapi entah ada keajaiban apa, jilbab itu tidak bisa dilepas walau sudah acak-acakan,” kata Rama panjang lebar dan sepertinya aku sudah mengetahui lanjutan ucapannya.
          “Dan kamu datang menolongnya? Aku yakin kami pasti pernah menghajar preman-preman itu. Karena tidak mungkin mereka lansung ketakutan ketika melihat kamu jika sebelumnya mereka belum pernah bertemu kamu,” kataku melanjutkan ucapannya.
          “Enggak. Cuma kebetulan lewat. Seperti tadi,” sergahnya.
          “Oh ya?” tanyaku sedikit menggoda.
          “Iya, makanya setelah kejadian itu Tanya sangat menghargai jilbabnya. Karena jilbab itu harga dirinya terselamatkan.” Kata Rama yang membuatku sekarang benar-benar paham mengapa Tanya begitu menghargai jilbabnya. Aku sangat bersyukur karena preman-preman tadi tidak menyentuhku. Mungkin aku juga harus melakukan hal sama seperti Tanya. Karena jilbab, harga diriku terselamatkan. Seperti Tanya. Aku tidak sadar ketika mobil Rama tiba-tiba berhenti didepan sebuah rumah.
          “Sudah sampai,” katanya membuyarkan lamunanku.
          “Oh, apa?” tanyaku sedikit kaget.
          “Is this your house?” tanyanya.
          “Yes. Right. But....” tiba-tiba aku merasa heran.
          “Why can you know my house?” tanyaku keheranan. Rama hanya tersenyum.
          “Hello?” kataku merasa diabaikan.
          “Ya aku sering melihat kamu didepan rumah,” kata Rama dengan senyum manisnya.
          “Oh, ehmm, without my veil?” tanyaku malu. Sekali lagi Rama hanya tersenyum.
          “Sudahlah kamu cepat masuk rumah. Kamu pasti sudah terlambat pulang dan orang tua kamu pasti khawatir,” katanya mengalihkan pembicaraan.
          “Oh, yes. And once again thank you so much. You’re my life saver,” kataku sebelum keluar dari mobilnya.
          “Not me. But God, Allah,” terlihat semburat merah dipipi putihnya.
          “Okay. Thank you,” kataku seraya melempar senyum.
          “No matter,” katanya sembari membalas senyumanku.
          “Oh ya, kamu nggak mampir?”
          “Ehm, makasih. Tapi aku rasa, lain kali saja ya,”
          “Oh, iya tak apa. Aku turun dulu. Thanks,” kataku sambil membuka pintu mobil.
          “Frina!” katanya lagi yang menahanku untuk turun.
          “Yes. Why?”
          “Ehm.. ca.. can I.. I meet you.. at the school tomorrow?” kata Rama sedikit terbata. Kulihat semburat merah dipipinya lagi. Entah kenapa wajahku juga ikut merona setelah memandangnya. Astaghfirullah!
          “Oh... yes. Of course. You... can see me at my class.... if you wanna.... wanna meet me,” aku berusaha untuk bersikap datar walaupun kalimatku terbata-bata pertanda aku sedang gugup. Tanpa sengaja sekali lagi pandangan mata kami bertemu. Kami bertatapan selama beberapa saat, namun Rama segera menguasai dirinya dan merubah arah pandangnya. Dan sekali lagi wajah Rama memerah. Wajahkupun ikut merona. Jantungku berdegup kencang tidak karuan. Tetapi aku segera berusaha untuk mencairkan suasana.
          “Okay Ram. Aku turun dulu ya. Terimakasih. Assalamu’alaikum,” kataku sembari keluar dari mobilnya.
          “Wa... wa’alaiumsalam,” jawabnya singkat. Rama memandangku sekali lagi kemudian dia menghidupkan mobilnya. Aku hanya tersenyum memandang kepergiannya dan segera melangkah masuk ke rumah. Rama benar, Mom tampak khawatir dan sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu.
          “Who?” tanya Mom singkat dan tak perlu ditebak siapa yang dimaksudnya.
          “Oh, my friend. Yes, just my friend,” jawabku sedikit gugup. Mom masih tampak khawatir.
          “Oh Mom, don’t worry. I’m fine. Really fine,” kataku sembari memeluknya. Aku pikir kejadian hari ini Mom tidak perlu tahu. Karena beliau pasti akan sangat cemas. Biar hanya aku, Allah, dan Rama saja yang mengetahuinya. Ya Allah terimakasih. Engkau telah menyelamatkanku. Telah menjaga harga diriku. Dan mulai sekarang aku bertekad untuk menjaga jilbabku. Karena jilbab adalah harga diriku.
***END***
Serpihan Cahaya Bintang>>
Back to Top